Bagikan

“Project Freedom” untuk Evakuasi Kapal di Hormuz Dimulai Hari Ini

Poin Penting

AS mulai operasi “Project Freedom” evakuasi kapal sipil di Selat Hormuz
Libatkan 15.000 personel dan ratusan aset militer untuk misi kemanusiaan
Berpotensi picu eskalasi baru di tengah konflik AS-Iran dan gangguan energi global

JAKARTA, investortrust.idPemerintah Amerika Serikat (AS) bersiap meluncurkan operasi militer terbatas untuk mengevakuasi kapal-kapal sipil yang terjebak di Selat Hormuz, menyusul penutupan jalur strategis tersebut akibat konflik dengan Iran. Presiden AS Donald Trump menyebut misi ini sebagai Project Freedom dan dijadwalkan mulai berjalan hari ini, Senin (04/05/2026).

Dalam laporan CNBC yang diterbitkan pada Minggu, 3 Mei 2026 pukul 17.51 EDT (Senin pagi WIB), Trump menyatakan bahwa operasi ini bertujuan “membebaskan” kapal-kapal sipil dari negara non-konflik yang terjebak di perairan tersebut agar dapat melanjutkan aktivitas perdagangan secara normal.

Baca Juga

Trump Siapkan “Project Freedom” untuk Bebaskan Kapal di Selat Hormuz

“Saya telah menginstruksikan perwakilan kami untuk memastikan kapal dan awaknya dapat keluar dengan aman dari Selat Hormuz,” ujar Trump dalam unggahan di Truth Social. Ia menegaskan bahwa misi ini bersifat kemanusiaan dan tidak dimaksudkan sebagai operasi militer ofensif.

Namun, hingga kini Gedung Putih belum merinci secara jelas mekanisme pelaksanaan operasi maupun tingkat keterlibatan militer AS. Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut misi tersebut juga memiliki tujuan lebih luas, yakni memulihkan kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.

CENTCOM mengungkapkan bahwa operasi akan melibatkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta sekitar 15.000 personel militer. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur bagi sekitar 20–25% perdagangan minyak global, sehingga gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi dunia.

Penutupan Selat Hormuz sejak pecahnya perang telah membuat jalur tersebut nyaris tidak dapat dilalui, dengan sejumlah kapal terdampar akibat serangan dan ranjau laut yang diduga dipasang oleh Iran. Kondisi ini menyebabkan terganggunya rantai pasok global, termasuk distribusi minyak, bahan bakar, dan pupuk.

Baca Juga

Iran Ultimatum AS: Pilih Serangan "Mustahil" atau Kesepakatan Buruk

Trump menegaskan bahwa operasi ini bukan untuk membuka jalur secara penuh, melainkan sekadar memastikan kapal-kapal yang sudah terjebak dapat keluar dengan aman. Ia juga menyebut para pemilik kapal enggan kembali ke kawasan tersebut hingga situasi benar-benar aman.

Meski demikian, langkah AS ini berpotensi memicu ketegangan baru. Dalam perkembangan sebelumnya, Iran telah memperingatkan bahwa setiap intervensi militer AS di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Hal ini dilaporkan oleh Al Jazeera pada 4 Mei 2026, mengutip pernyataan pejabat Iran yang menolak kehadiran militer asing di kawasan tersebut.

Laporan senada juga disampaikan oleh Reuters dan BBC dalam beberapa hari terakhir, yang menyoroti bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik paling krusial dalam konflik AS-Iran. Iran bahkan disebut telah menembaki kapal yang mencoba melintas dan menegaskan bahwa pembukaan jalur tidak akan terjadi selama blokade AS masih berlangsung.

Baca Juga

Donald Trump Tolak Proposal Damai Baru Iran, Negosiasi Mandek Meski Harga Minyak Turun

Di tengah situasi ini, negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang masih berlangsung, meski belum menghasilkan kesepakatan konkret. Trump sebelumnya mengaku “tidak puas” dengan proposal perdamaian dari Iran, sementara kedua pihak tetap mempertahankan posisi masing-masing.

Dengan operasi Project Freedom yang segera dimulai dan sikap keras Iran terhadap intervensi asing, Selat Hormuz kini kembali berada di ambang eskalasi baru—yang tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi mengguncang pasar energi dan perekonomian global.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024