Hormuz: AS Klaim Kuasa Penuh, Iran Kunci Jalur Minyak Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kini berubah menjadi arena perebutan kendali antara Iran dan Amerika Serikat. Hingga akhir April 2026, situasi di perairan strategis ini memasuki fase “terbelah de facto”, di mana kedua negara sama-sama mengklaim kontrol, namun pada praktiknya justru menciptakan blokade ganda yang melumpuhkan lalu lintas energi global.
Laporan The Guardian yang diterbitkan Jumat (24/04/2026) mengungkap bahwa Iran sejak akhir Februari 2026 secara agresif berupaya menguasai selat tersebut melalui operasi militer oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Pasukan elite ini melakukan penyitaan kapal, menempatkan ranjau laut, serta memaksa kapal-kapal tertentu membayar biaya untuk melintas—praktik yang secara efektif menyerupai blokade terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Barat.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim Washington memiliki “kendali total” atas Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis (23/04/2026) waktu setempat, sehari sebelum laporan The Guardian diterbitkan. Trump menegaskan tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut AS.
Baca Juga
Menolak Bertemu AS diIslamabad, Iran Titip Proposal Lewat Pakistan
Namun klaim tersebut dipertanyakan, menyusul aksi komando Iran yang berhasil menyita dua kapal kontainer di selat tersebut pada hari yang sama. Bahkan, laporan militer AS yang dikutip The Washington Post menyebut pembersihan ranjau laut di kawasan itu bisa memakan waktu hingga enam bulan—menandakan bahwa kendali penuh masih jauh dari realitas.
Langkah militer AS juga meningkat. Pasukan khusus Amerika dilaporkan menyita kapal tanker tanpa kewarganegaraan di Samudra Hindia yang diduga membawa minyak Iran. Pada saat yang sama, Pentagon memerintahkan operasi penyisiran ranjau diperluas hingga tiga kali lipat, bahkan Trump menginstruksikan angkatan laut untuk “menembak tanpa ragu” kapal yang mencoba menanam ranjau di jalur pelayaran.
Situasi ini menciptakan apa yang disebut para analis sebagai “dual blockade”atau blokade ganda dari dua kekuatan besar yang saling berhadapan. AS mampu membatasi kapal keluar dari pelabuhan Iran, tetapi belum berhasil membuka akses penuh bagi kapal-kapal dari negara Teluk sekutu. Sebaliknya, Iran tetap memegang kendali fisik di perairan sempit selat tersebut, membuat risiko pelayaran melonjak tajam.
Dampaknya terasa langsung pada perdagangan global. Hingga Kamis (24/04/2026), lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan sangat terbatas, meski belum sepenuhnya terhenti. Harga minyak dunia pun bertahan tinggi di kisaran US$100 per barel, mencerminkan ketegangan pasokan energi global.
Baca Juga
Tekanan di Hormuz Meningkat, Harga Minyak Melonjak di Tengah Upaya Damai di Islamabad
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, bahkan menyebut situasi ini sebagai “ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah”, dalam wawancaranya dengan CNBC. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa konflik di Hormuz tidak hanya berdampak regional, tetapi juga sistemik terhadap ekonomi global.
Sementara itu, laporan BBC dan Al Jazeera pada periode yang sama juga menyoroti bahwa Selat Hormuz kini terlalu berbahaya bagi sebagian besar kapal komersial, dengan hanya sedikit lalu lintas yang masih berani melintas. Kedua media tersebut mencatat bahwa penggunaan kekuatan militer oleh Iran dan AS telah meningkatkan risiko eskalasi terbuka, bahkan di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung.
Dengan ranjau laut yang belum tersapu, kapal-kapal yang ditahan, serta dua kekuatan militer yang saling mengunci, Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur energi global, melainkan titik panas yang dapat menentukan arah ekonomi dunia dalam beberapa bulan ke depan.

