Menolak Bertemu AS diIslamabad, Iran Titip Proposal Lewat Pakistan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Upaya mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan telah menyampaikan “pandangan dan pertimbangan” Teheran terkait penghentian konflik dalam pertemuan tingkat tinggi di Islamabad, Pakistan, Sabtu (25/4/2026).
Namun, di tengah meningkatnya intensitas diplomasi, Iran menegaskan tidak ada agenda pertemuan langsung dengan delegasi Amerika Serikat.
Mengutip laporan BBC Live yang diperbarui Sabtu (25/04/2026), Araghchi bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan Asim Munir. Dalam forum tersebut, Iran disebut membawa proposal komprehensif yang berisi syarat dan skenario penghentian perang untuk disampaikan melalui mediator Pakistan.
Baca Juga
Koresponden BBC di Islamabad, Carrie Davies, menyebut pertemuan ini secara resmi dikategorikan sebagai pembicaraan bilateral. Namun secara substansi, agenda utamanya adalah menjembatani konflik Iran–AS, dengan Pakistan memainkan peran sebagai mediator utama. Meski demikian, belum ada indikasi konkret bahwa pembicaraan tersebut menghasilkan terobosan signifikan.
Sumber pejabat Iran kepada BBC menegaskan bahwa pertemuan langsung dengan AS tidak masuk dalam agenda Araghchi. Pernyataan ini mempertegas rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua negara, bahkan untuk sekadar menyepakati format perundingan. Di sisi lain, pemerintah AS disebut masih bersikukuh mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda melunak dalam isu program nuklir.
Informasi senada dilaporkan Al Jazeera pada Sabtu (25/4/2026). Media tersebut menyebut Araghchi telah meninggalkan Islamabad setelah menyerahkan daftar tuntutan Iran kepada pejabat Pakistan. Sementara itu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Jared Kushner dijadwalkan bertolak ke Islamabad pada hari yang sama untuk melanjutkan pembicaraan.
Namun, hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada kepastian apakah delegasi AS benar-benar telah tiba di Pakistan. Bahkan jika berangkat, mereka diperkirakan baru tiba pada Minggu (26/4/2026), memperlebar jeda koordinasi antara kedua pihak.
Baca Juga
AS-Iran Jajaki Terobosan Diplomatik Baru, Trump Utus 2 Tokoh Kunci ke Pakistan
Di tengah stagnasi diplomasi, eskalasi militer tetap berlangsung. Militer Israel mengklaim telah menewaskan empat anggota kelompok Hezbollah di Lebanon selatan, sementara Hezbollah menyatakan telah melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Israel. Insiden ini terjadi meski gencatan senjata antara kedua pihak telah diperpanjang hingga tiga minggu, menunjukkan bahwa konflik kawasan masih berada dalam fase “abu-abu” yang rawan pecah kembali.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menegaskan pasukannya memiliki “kebebasan penuh untuk bertindak” di Lebanon, sebuah sinyal bahwa gencatan senjata tidak sepenuhnya membatasi operasi militer di lapangan.
Secara keseluruhan, dinamika di Islamabad menegaskan satu hal: diplomasi belum menemukan titik temu. Iran dan AS masih “menggali parit masing-masing”, dengan posisi yang tetap keras. Washington mempertahankan tekanan ekonomi dan militer, sementara Teheran menolak kompromi strategis. Dalam kondisi seperti ini, peran Pakistan sebagai jembatan justru semakin berat, di tengah minimnya kepercayaan dan belum adanya kesepakatan dasar antara kedua pihak.

