Diplomasi Buntu di Islamabad, Iran Tolak Bertemu Utusan AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Upaya membuka kembali jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu. Pemerintah Teheran secara tegas menyatakan tidak ada rencana pertemuan langsung dengan delegasi Washington di Islamabad, meski utusan Presiden Donald Trump dijadwalkan tiba pada Sabtu (25/4/2026).
Mengutip laporan CNBC yang dipublikasikan Sabtu (25/04/2026) pukul 04.15 EDT atau sekitar pukul 15.15 WIB, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah lebih dulu tiba di Islamabad dan bertemu Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir. Pertemuan ini dikonfirmasi Kedutaan Besar Iran di Pakistan melalui pernyataan resmi di media sosial.
Namun, di tengah intensitas komunikasi tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan bahwa “tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Iran dan Amerika Serikat.” Ia menyebutkan bahwa posisi Iran akan disampaikan melalui pemerintah Pakistan sebagai mediator.
Baca Juga
AS-Iran Jajaki Terobosan Diplomatik Baru, Trump Utus 2 Tokoh Kunci ke Pakistan
Di sisi lain, Gedung Putih tetap menunjukkan optimisme. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan berangkat ke Islamabad untuk melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Iran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Leavitt mengklaim bahwa pihak Iran sebelumnya telah meminta pertemuan tatap muka. “Presiden mengirim Steve dan Jared untuk mendengar langsung apa yang ingin mereka sampaikan, dan kami berharap ini menjadi percakapan yang produktif,” ujarnya.
Meski demikian, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin putaran pertama negosiasi dua pekan lalu tidak akan hadir dalam pertemuan kali ini. Presiden Trump sendiri, dalam wawancara telepon dengan Reuters pada Jumat (24/4/2026), mengatakan bahwa Iran akan “mengajukan tawaran,” meski ia mengaku belum mengetahui detailnya. “Kita lihat saja nanti,” ujarnya.
Negosiasi Mandek
Putaran pertama perundingan yang digelar di Islamabad dua pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Sejumlah laporan dari BBC dan Al Jazeera juga menyebutkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih tinggi, terutama terkait situasi di Selat Hormuz.
Selat strategis tersebut, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia, kini nyaris lumpuh akibat ancaman Iran dan blokade laut yang diberlakukan AS. Washington menegaskan tidak akan mencabut blokade tersebut sebelum tercapai kesepakatan baru.
Baca Juga
Tekanan di Hormuz Meningkat, Harga Minyak Melonjak di Tengah Upaya Damai di Islamabad
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam wawancara dengan The Associated Press yang dipublikasikan Jumat (24/04/2026), menyatakan bahwa tidak ada minyak Iran yang keluar akibat blokade tersebut. Bahkan, dalam dua hingga tiga hari ke depan, Iran diperkirakan harus mulai menutup produksi minyaknya.
Sebagai tambahan tekanan, Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan kilang asal China, Hengli Petrochemical, karena membeli minyak Iran dalam jumlah besar.
Gencatan Senjata Rapuh
Situasi ini mempertegang gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan pada 7 April 2026. Kesepakatan tersebut sempat memberi harapan meredanya konflik, namun terus diuji oleh aksi militer dan tekanan ekonomi.
Meski Presiden Trump sempat memperpanjang gencatan senjata secara sepihak awal pekan ini, sejumlah analis yang dikutip Reuters dan BBC menilai perang kini memasuki fase “abu-abu” tidak sepenuhnya damai, namun juga belum kembali ke eskalasi penuh.
Baca Juga
AS-Iran Jajaki Terobosan Diplomatik Baru, Trump Utus 2 Tokoh Kunci ke Pakistan
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut operasi militer AS telah mencapai hasil signifikan dalam waktu singkat, berbeda dengan konflik panjang sebelumnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tanpa terobosan diplomasi yang nyata, jalur perundingan di Islamabad berisiko kembali gagal dan konflik di kawasan, khususnya di Selat Hormuz, berpotensi berlarut dengan dampak global yang semakin luas.

