Bagikan

Gencatan Senjata Diperpanjang, Trump Terjepit Batas Waktu Kongres

Poin Penting

Presiden AS memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, namun tetap melanjutkan blokade militer.
Jalur diplomasi menemui jalan buntu karena Iran menolak negosiasi selama tekanan militer terus berlangsung.
Trump terdesak tenggat waktu izin Kongres untuk operasi militer yang akan berakhir dalam satu pekan ke depan.

JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran di tengah konflik yang kian memasuki fase abu-abu (grey zone), yakni situasi tanpa deklarasi perang resmi namun tekanan militer tetap berlangsung. Perpanjangan ini menegaskan bahwa konflik belum mereda, melainkan bergeser menjadi perang berkepanjangan dengan intensitas fluktuatif.

Mengutip laporan CNBC yang dipublikasikan Selasa (21/04/2026) pukul 16.13 EDT atau Rabu (22/04/2026) dini hari WIB, Trump menyatakan gencatan senjata yang sebelumnya akan berakhir Rabu kini diperpanjang hingga Iran mampu mengajukan proposal damai yang “terpadu”.

Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang semula akan berakhir pada Rabu (22/04/2026) diperpanjang tanpa batas waktu hingga Iran mampu mengajukan proposal damai yang “terpadu dan jelas”. “Berdasarkan fakta bahwa pemerintah Iran sangat terpecah, kami diminta menahan serangan hingga para pemimpin mereka dapat menyusun proposal yang terpadu,” ujar Trump dalam pernyataan resminya, sebagaimana dikutip CNBC.

Baca Juga

Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Sebut Pemerintahan Teheran “Terpecah”

Sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS dari kelas Arleigh Burke, USS Frank E. Petersen Jr. berlayar di laut Arab dalam misi pendukung Operasi Epic Fury selama perang Iran. Foto: U.S. Navy

Ia menegaskan, meski gencatan senjata diperpanjang, militer AS tetap dalam posisi siaga penuh. Bahkan, blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran tetap dilanjutkan sebagai bentuk tekanan strategis. “Saya telah menginstruksikan militer untuk melanjutkan blokade dan tetap siap dalam segala aspek,” katanya.

Keputusan ini muncul setelah upaya diplomasi kembali menemui jalan buntu. Rencana kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan untuk melanjutkan perundingan putaran kedua dilaporkan ditunda. Di sisi lain, media pemerintah Iran, Tasnim, menyebut Teheran menolak melanjutkan negosiasi karena menganggap kehadiran dalam perundingan “hanya membuang waktu” di tengah tekanan militer AS.

Perkembangan ini diperkuat laporan terbaru Sky News pada Rabu (22/4/2026) pukul 01.16 waktu Inggris, yang menyebut Trump secara tegas menyatakan gencatan senjata diperpanjang “hingga diskusi diselesaikan”. Namun, di saat yang sama, blokade AS terhadap pelabuhan Iran tetap dipertahankan, sementara pembicaraan damai di Islamabad masih tertunda karena Washington menunggu proposal tunggal dari Teheran.

“Gencatan senjata diperpanjang sampai diskusi selesai,” demikian pernyataan Trump yang dikutip Sky News, sekaligus menegaskan bahwa langkah militer belum dihentikan sepenuhnya.

Seperti telah diperkirakan sejak pekan lalu, perpanjangan ini menandai pergeseran konflik ke skenario abu-abu yang berpotensi berlangsung cukup panjang. Dalam fase ini, perang tidak berhenti, tetapi berubah menjadi kombinasi tekanan militer terbatas, blokade ekonomi, dan diplomasi yang tersendat.

Namun, ruang gerak Trump tidak tanpa batas. Secara hukum domestik, Presiden AS menghadapi tenggat penting: izin Kongres untuk menjalankan operasi militer terbatas (special military operation) diperkirakan akan berakhir dalam waktu sekitar satu pekan ke depan. Jika konflik berlanjut melewati batas tersebut, pemerintah AS berpotensi harus meminta persetujuan penuh Kongres untuk secara resmi menyatakan perang terhadap Iran.

Situasi ini diperumit oleh aspek hukum internasional. Blokade laut yang saat ini dilakukan AS terhadap pelabuhan Iran secara luas dikategorikan sebagai “act of war” atau tindakan perang. Artinya, klaim bahwa kondisi saat ini bukan perang terbuka menjadi semakin sulit dipertahankan secara hukum maupun politik.

Peta wilayah Republik Islam Iran. Foto: Google Earth

Di sisi lain, jalur diplomasi justru menunjukkan tanda-tanda stagnasi. Media pemerintah Iran, Tasnim, menyebut Teheran menolak melanjutkan negosiasi karena menganggap proses tersebut tidak akan menghasilkan kesepakatan selama tekanan militer AS masih berlangsung.

Baca Juga

Diplomasi atau Perubahan Rezim, Pernyataan Trump Picu Kebingungan Arah Perang AS–Iran

Senada, laporan Reuters pada Selasa (21/4/2026) menyebut penasihat Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menilai perpanjangan gencatan senjata hanya taktik untuk membeli waktu sebelum serangan lanjutan. Ia bahkan menyamakan blokade AS dengan pemboman yang harus direspons secara militer.

Ketegangan tetap berpusat di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global. Laporan BBC dan Al Jazeera mengindikasikan lalu lintas kapal sempat pulih, namun kembali melambat akibat insiden keamanan dan berlanjutnya tekanan militer.

Dengan demikian, perpanjangan gencatan senjata bukanlah tanda berakhirnya konflik, melainkan fase jeda strategis dalam perang yang semakin kompleks. Washington masih membuka ruang diplomasi, tetapi tetap mempertahankan tekanan militer—menciptakan keseimbangan rapuh di zona abu-abu, yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi eskalasi terbuka, terutama jika batas waktu politik di Kongres benar-benar terlampaui.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024