Keyakinan Konsumen Februari 2026 Melemah, Masyarakat Mulai Lebih Hati-Hati
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat sedikit melemah ke level 125,2, turun dari 127,0 pada Januari 2026. Meski masih berada di zona optimistis karena tetap di atas level 100, pelemahan ini menandakan mulai munculnya kehati-hatian konsumen dalam memandang prospek ekonomi ke depan.
Laporan BRI Regular Economic Update yang dirilis Office of Chief Economist Group pada 10 Maret 2026 menunjukkan, penurunan IKK terutama dipicu oleh melemahnya komponen ekspektasi ekonomi ke depan yang turun ke 134,4 dari 138,8 pada Januari. Sebaliknya, persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini justru masih menguat, naik menjadi 115,9 dari 115,1.
Baca Juga
Kondisi ini menunjukkan adanya divergensi dalam psikologi konsumen. Di satu sisi, masyarakat masih menilai kondisi riil ekonomi saat ini relatif solid, terutama dari sisi pendapatan dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Namun di sisi lain, konsumen mulai menurunkan ekspektasi terhadap penghasilan, kegiatan usaha, dan ketersediaan lapangan kerja dalam beberapa bulan ke depan.
Pelemahan optimisme terlihat cukup jelas pada seluruh komponen ekspektasi. Ekspektasi terhadap penghasilan turun paling tajam, disusul ekspektasi terhadap kegiatan usaha dan ketersediaan lapangan kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan konsumsi jangka pendek ke depan lebih mungkin ditopang oleh realisasi pendapatan saat ini, bukan oleh keyakinan terhadap prospek ekonomi mendatang.
Berdasarkan kelas pengeluaran, IKK melemah pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta–Rp3 juta per bulan dan juga kelompok pengeluaran tertinggi, yakni di atas Rp5 juta. Pada saat yang sama, kesenjangan optimisme antara kelas menengah-bawah dan kelas atas masih lebar. Kelompok atas tetap lebih optimistis, sementara kelompok bawah masih lebih rentan terhadap tekanan ekonomi.
Meski demikian, terdapat perkembangan yang sedikit lebih positif dari sisi persepsi pendapatan dan lapangan kerja saat ini. Persepsi terhadap penghasilan saat ini membaik pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama kelas menengah. Persepsi mengenai ketersediaan lapangan kerja juga menguat di hampir semua kelompok pengeluaran, kecuali kelompok teratas. Ini memberi sinyal bahwa kondisi ekonomi riil belum melemah, walau kekhawatiran terhadap masa depan mulai meningkat.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 0,37% dan Nilai Transaksi Turun Drastis, Sebaliknya KUAS dan ALKA Melesat
Dari sisi usia, pelemahan keyakinan terutama terjadi pada kelompok usia produktif 20–50 tahun, meskipun tingkat optimisme mereka masih relatif tinggi. Sementara itu, kelompok usia 51–60 tahun justru mencatat perbaikan IKK. Temuan ini mengindikasikan bahwa kelompok usia senior non-produktif tertentu masih memandang daya tahan ekonomi secara lebih positif dibanding kelompok usia yang lebih muda.
Secara spasial, mayoritas kota mengalami pelemahan IKK pada Februari 2026. Penurunan terdalam tercatat di Bandar Lampung, sementara beberapa kota seperti Palembang, Banjarmasin, Makassar, Samarinda, Padang, Manado, dan Mataram justru masih mencatat penguatan. Meski begitu, dalam perspektif tiga bulan terakhir, mayoritas kota masih berada dalam momentum penguatan keyakinan konsumen, walau tanda-tanda pelemahan mulai terlihat di beberapa wilayah.
Perubahan perilaku keuangan rumah tangga juga semakin mencerminkan sikap berhati-hati. Porsi pendapatan yang dialokasikan untuk menabung naik menjadi 17,7% pada Februari 2026, dari 16,5% pada Januari. Sebaliknya, porsi pendapatan untuk konsumsi turun menjadi 71,6% dari 72,3%. Kenaikan porsi menabung terjadi secara merata di seluruh kelas pengeluaran, menandakan preferensi berjaga-jaga atau precautionary savings semakin meluas.
Baca Juga
Tarif Baru Trump Picu Ketidakpastian Global, Ini Dampaknya bagi Pengusaha dan Konsumen
Dalam hal pilihan aset, emas dan tabungan/deposito masih menjadi instrumen utama konsumen untuk menyimpan kelebihan pendapatan dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 41,3% responden memilih emas, sementara 37,9% memilih tabungan atau deposito. Di sisi lain, minat membeli rumah masih tertahan, dengan mayoritas responden menyatakan tidak mungkin membeli rumah dalam setahun ke depan.
Bagi sektor perbankan, perkembangan ini membawa dua implikasi sekaligus. Di satu sisi, naiknya kecenderungan menabung berpotensi menopang likuiditas perbankan dan menjaga pertumbuhan dana pihak ketiga. Namun di sisi lain, pelemahan ekspektasi konsumen ke depan mengindikasikan bahwa pemulihan kredit konsumsi kemungkinan masih berjalan bertahap dan menuntut strategi penyaluran kredit yang lebih selektif.
Secara keseluruhan, data Februari 2026 mengirimkan pesan yang cukup jelas: ekonomi rumah tangga Indonesia belum mengalami pelemahan tajam pada kondisi saat ini, tetapi konsumen mulai menahan optimisme terhadap masa depan. Dalam konteks seperti ini, daya tahan konsumsi domestik tetap ada, namun tidak lagi sekuat sebelumnya. Rumah tangga masih bergerak, tetapi dengan langkah yang lebih waspada.
Kalau Anda mau, saya bisa ubah ini menjadi versi lebih tajam dan analitis ala editorial Investortrust, dengan penekanan pada pesan: kelas menengah mulai defensif, konsumsi melambat, dan bank harus bersiap menghadapi moderasi kredit ritel.

