‘Grab It Now!’
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Anda gemar menunda-nunda pekerjaan atau terbiasa membiarkan masalah berlarut-larut? Percayalah, Anda tidak akan pernah menjadi orang sukses, sampai kapan pun. Faktanya, kesuksesan hanya milik orang-orang yang sigap, proaktif, dan responsif. Setiap ada peluang langsung dieksekusi. Setiap muncul masalah langsung diselesaikan, sampai tuntas.
Kebiasaan membiarkan pekerjaan terbengkalai atau masalah terkatung-katung bisa membuat seseorang kehilangan peluang yang mungkin hanya muncul sekali dalam hidupnya. Peluang-peluang emas itu bisa terlepas begitu saja, bahkan yang sudah ada dalam genggaman.
Filosofi inilah yang menemani Kariyanto Hardjosoemarto selama 25 tahun malang melintang di berbagai perusahaan multinasional. “Grab it now. Ambil sekarang juga, jangan tunda. Ada kesempatan, langsung eksekusi. Ada masalah, segera selesaikan,” ujar Chief Executive Officer (CEO) VinFast Indonesia itu kepada wartawan investortrust.id, Saliki Dwi Saputra, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini.
Eksekutif yang akrab dipanggil Kerry ini paling tabu menunda-nunda pekerjaan atau membiarkan masalah berlarut-larut. Ia percaya, menunda-nunda pekerjaan atau masalah adalah sifat buruk yang bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang-orang sekitar dan perusahaan.
“Menunda hanya bikin pikiran penuh dan energi habis. Lebih baik pahit sekarang daripada berlarut-larut,” kata pria kelahiran Magetan yang pernah bercita-cita menjadi polisi itu.
Filosofi Grab it now yang diterapkan Kerry selaras dengan DNA-nya. Kerry adalah pekerja tulen. Ada satu prinsip yang selalu dipegang teguh CEO yang dikenal piawai di bidang sales dan marketing ini.
“Prinsip saya satu, saya selalu ingin stand out among the crowd. Di mana pun saya bekerja, saya ingin dikenal. Saya tidak mau bekerja sebatas job description. Saya selalu ingin extra miles,” tegas Kerry yang pernah berkarier di Mercedes-Benz, Piaggio, Ford, General Motors, dan Toyota Astra Motor (TAM), sebelum menakhodai VinFast Indonesia.
Dalam kamus hidup Kerry, di mana pun ia bekerja, atasannya harus tahu siapa dirinya. Ia harus ‘dekat’ dengan pimpinan, dalam arti positif. Bukan dekat secara personal, melainkan lewat kinerja. “Cara paling aman untuk dekat dengan pimpinan adalah berprestasi dan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain,” tutur dia.
Kerry termasuk tipe pemimpin yang berupaya ngemong dan mendorong anak buahnya agar ‘bersinar’. “Saya ingin menciptakan ‘panggung’ keberhasilan bagi mereka. Misalnya saat tim saya bilang ingin resign, saya akan tanya pindah ke mana, posisi apa? Kalau ternyata pindah ke perusahaan yang lebih baik dan posisinya lebih tinggi, saya justru akan mendorong,” papar dia.
Tentu saja sukses yang dipetik Kerry bukan keberhasilan semu yang dicapai lewat jalan pintas. Ia melaluinya dengan keringat dan air mata. Maklum, ia bukan berasal dari keluarga berada. “Keluarga saya adalah keluarga petani. Bapak, ibu, kakek, nenek, semuanya petani. Nggak mungkin saya bisa kuliah tanpa beasiswa,” ujar dia.
Kerry bahkan sempat terpuruk saat ia gagal masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) Kepolisian, cikal bakal Akademi Kepolisian (Akpol) sekarang. Padahal, ia adalah tamatan SMA Taruna Nusantara, sekolah unggulan semi militer yang dikenal sebagai ‘tiket’ masuk Akabri. Itu adalah moment paling rendah dalam hidupnya.
“Begitu gagal Akabri, saya benar-benar bingung. Itu perasaan paling down. Saya sangat yakin akan lolos karena melihat kakak-kakak kelas sebelumnya. Ternyata saya tidak masuk,” ucap Kerry.
Tapi Kerry tidak larut dalam kesedihan. Ia berupaya bangkit. “Kalau terus bersedih, saya tidak akan ke mana-mana. Sementara kuliah tanpa beasiswa tidak mungkin. Jadi, saya harus cari alternatif,” kata lulusan S1 Manajemen Bisnis Universitas Pelita Harapan (UPH) itu. Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita perjalanan hidup Anda?
Saya berasal dari Sarangan, sebuah kota kecil di Magetan, Jawa Timur. Kampung saya waktu itu kecil sekali, mungkin hanya sekitar 65 rumah. Dari kecil sampai SD saya sekolah di daerah situ, lalu SMP saya lanjut ke Kota Magetan.
Keluarga saya adalah keluarga petani. Bapak, ibu, kakek, nenek, semuanya petani. Belakangan bapak saya sempat berjualan sayur ke daerah lain, tapi saya besar di lingkungan desa kecil.
Dari kampung saya, waktu itu saya termasuk satu-satunya yang berani sekolah agak jauh, ke dekat ibu kota kabupaten. Setelah SMP, saya melanjutkan SMA di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Saya angkatan ketiga, masuk tahun 1992.
Keluarga selalu mendorong saya untuk sekolah setinggi mungkin, karena di sekitar saya hampir tidak ada yang sampai kuliah. Harapannya, kalau saya sekolah tinggi, hidup saya bisa lebih maju.
Setelah melalui seleksi dari tingkat kecamatan, kabupaten, sampai provinsi, saya lolos ke SMA Taruna Nusantara. Tiga tahun hidup di asrama benar-benar membentuk saya.
Nilai-nilai yang diajarkan Taruna Nusantara?
Masa-masa di SMA Taruna Nusantara benar-benar mengubah hidup saya. Di situlah fondasi kedisiplinan, kemandirian, dan kepercayaan diri saya terbentuk.
Kami hidup di asrama, dididik semi-militer dengan disiplin yang keras. Tapi di sisi lain, kami juga sering bertemu tokoh-tokoh nasional lewat program Jumpa Tokoh Nasional. Itu sangat menginspirasi dan mendorong saya untuk bercita-cita lebih tinggi.
Sejak SMA, saya sudah berpikir setelah lulus ingin masuk Akabri. Orang tua juga sudah berpesan: SMA sudah beasiswa, kuliah juga harus cari beasiswa. Keluarga tidak mampu membiayai dua anak kuliah bersamaan, karena kakak saya sudah lebih dulu kuliah.
Saya mempersiapkan diri ikut Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), tapi ternyata tidak lolos. Waktu itu saya ingin masuk Kepolisian. Saya sempat berpikir lulusan Taruna Nusantara pasti lolos, ternyata tidak juga. Salah satunya saya.
Reaksi Anda setelah gagal masuk Akabri?
Itu adalah momen paling rendah dalam hidup saya. Saya tidak menyiapkan alternatif kuliah. Begitu gagal Akabri, saya benar-benar bingung. Itu perasaan paling down. Saya sangat yakin akan lolos karena melihat kakak-kakak kelas sebelumnya. Ternyata saya tidak masuk. Keluarga juga sempat berharap saya bisa jadi polisi atau TNI. Tapi ya sudah, itu tidak bisa diubah.
Bagaimana Anda bangkit setelah itu?
Saya pikir, kalau saya hanya bersedih, saya tidak akan ke mana-mana. Sementara kuliah tanpa beasiswa tidak mungkin. Jadi, saya harus cari alternatif. Saya percaya kalau gagal, kita harus lihat potensi lain. Sedih itu pasti, satu-dua minggu. Tapi untungnya pihak sekolah sangat membantu, guru BP (bimbingan dan penyuluhan) mencarikan berbagai opsi, sampai akhirnya ada STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) dan UPH (Universitas Pelita Harapan). Dukungan sekolah sangat besar.
Akhirnya saya mencari jalur beasiswa atau ikatan dinas, lalu mendaftar ke STPDN. Saya ikut seleksi di Semarang. Di tengah proses itu, pihak SMA Taruna Nusantara menghubungi saya. Mereka memberi tahu bahwa ada universitas baru milik Lippo Group, yaitu UPH. Mereka menawarkan beasiswa penuh bagi alumni Taruna Nusantara yang tidak mampu secara finansial.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung ambil. UPH waktu itu menerima 16 orang dari Taruna Nusantara. Karena ada delapan jurusan, kami mendapatkan kuota masing-masing dua orang. Saya memilih jurusan manajemen.
Beasiswa ini didukung Lippo Group melalui program GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) di era Presiden Soeharto. Kami disediakan rumah dan uang saku Rp 275 ribu per bulan, waktu itu terasa sangat besar. Saya bisa menabung, bahkan beli sepeda.
UPH dikenal sebagai kampus anak-anak orang berada. Tapi bagi saya, ini justru peluang networking luar biasa. Saya datang dari kampung, lalu bisa bergaul dengan mereka yang latar belakangnya jauh lebih mapan. Itu menjadi penyemangat besar bagi saya.
Tentu ada juga teman-teman yang justru minder. Tapi saya melihatnya sebagai kesempatan. Saya kuliah dengan serius karena evaluasi beasiswa sangat ketat. Kalau IPK (indeks prestasi kumulatif) turun, beasiswa bisa dikurangi atau dicabut. Alhamdulillah, saya lulus dengan baik tahun 1999.
Saat kerusuhan 1998, kami ikut menjaga kampus. Sebagai penerima beasiswa, kami berada di garda depan. Setelah lulus, saya sempat magang di Lippo Bank. Ada tawaran S2, tapi saya memilih bekerja dulu.
Perusahaan pertama yang menerima Anda?
Saya melamar ke Toyota Astra Motor dan diterima sebagai salesman di Auto2000. Dari situ saya belajar banyak, lalu dipercaya menjadi Area Manager untuk wilayah Jawa Tengah.
Mengapa Anda pilih industri otomotif?
Otomotif sebenarnya bukan pilihan pertama, tapi Toyota yang memanggil lebih dulu. Saya ingat, insentif pertama, target saya adalah mobil Kijang. Dari situ saya mulai menikmati dunia sales. Saya bekerja di Toyota selama tiga tahun, lalu pindah ke Chevrolet selama tiga tahun, dengan jenjang karier terus naik.
Pada 2006, saya bergabung dengan Ford selama enam tahun. Ford waktu itu sedang naik daun dengan produk double cabin. Akhir 2010, saya ditawari Piaggio Vespa yang ingin comeback ke Indonesia. Saya ikut sebagai tim pionir, membangun dealer dan tim dari awal, sekitar 1,5 tahun.
Akhir 2012, saya bergabung dengan Mercedes-Benz. Saat itu mereka sedang membenahi jaringan dealer. Saya berkembang dari Network Development, Sales Director, Marketing Director, hingga Sales & Marketing Director. Total 13 tahun saya di Mercedes-Benz.
Lalu pada Mei 2025, saya mendapat tawaran bergabung dengan VinFast. Sampai sekarang saya di sini.
Dari perjalanan panjang ini, apa kesimpulan Anda?
Prinsip saya satu, saya selalu ingin stand out among the crowd. Di mana pun saya bekerja, saya ingin dikenal.
Saya tidak mau bekerja sebatas job description. Saya selalu ingin extra miles. Saya justru senang ambil proyek tambahan, seperti launch produk, event nasional, apa pun. Tujuan saya jelas: atasan harus tahu siapa saya.
Di Toyota, General Motors, Ford, Piaggio, sampai Mercedes Benz, termasuk perusahaan sekarang (VinFast), saya selalu ingin ‘dekat’ dengan pimpinan. Dekat dalam arti positif, tentunya. Bukan dekat secara personal, tapi lewat kinerja. Cara paling aman adalah berprestasi dan melakukan sesuatu yang orang lain tidak lakukan.
Sebagai pemimpin, saya juga menilai tim bukan hanya dari KPI (key performance indicator) di kertas. KPI tercapai itu memang tugas. Yang saya lihat adalah kontribusi lebih, yaitu koordinasi, komunikasi, manajemen waktu. Itu terlihat saat mereka saya beri proyek.
Saya selalu dorong tim untuk tidak takut tugas tambahan. Justru dari situlah mereka akan belajar dan berkembang.
Anda banyak bekerja di perusahaan multinasional. Perbedaan budaya perusahaan Jepang, AS, Jerman, Italia, dan Vietnam?
Jepang mengajarkan saya berpikir terstruktur dan detail. Proposal harus runut, jelas, siapa pun yang membaca langsung paham. Background, masalah, solusi, KPI, dan risikonya.
Di perusahaan AS (GM dan Ford), budaya sangat terbuka. Atasan bisa ditemui kapan saja. Diskusi keras di meeting itu biasa, selesai meeting ya selesai.
Jerman, khususnya Mercedes, adalah kombinasi Jepang dan Amerika. Perencanaan matang jangka panjang, tapi eksekusi fleksibel.
Vietnam benar-benar berbeda dalam hal speed. VinFast memosisikan diri sebagai startup (perusahaan rintisan berbasis teknologi). Ide tidak harus sempurna, dijalankan dulu, diperbaiki sambil jalan. Kalau terlalu lama, idenya bisa basi.
Kecepatan ini dipagari dengan struktur berpikir yang tetap komprehensif. Itu yang menjadi kekuatan VinFast.
Anda sudah mapan di perusahaan sebelumnya, tapi menerima tawaran VinFast yang notabene pemain baru di industri otomotif. Alasan Anda?
Awalnya saya ragu. Saya beberapa kali ditawari headhunter, tapi belum tertarik. Sampai akhirnya saya bertemu Chairman Vingroup saat beliau datang ke Indonesia dan bertemu Presiden Prabowo.
Beliau menjelaskan visi besar VinFast, yaitu bukan sekadar jual mobil, tapi membangun ekosistem. Ada pabrik, taksi, charging, used car, hingga ekspansi bisnis Vingroup lainnya.
Saya melihat VinFast tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tapi sebagai basis pertumbuhan. Tren electric vehicle (EV) juga sedang naik. Kalau pindah, ya harus ke EV. Dan VinFast sangat serius.
Selain itu, setelah 13 tahun di satu perusahaan, ada kejenuhan. Saya ingin tantangan baru.
Langkah pertama Anda di VinFast Indonesia?
Secara eksternal, kami meniru keberhasilan Vietnam, yaitu membangun ekosistem. Strategi masuk kami unik. Bukan billboard, tapi direct experience lewat taksi listrik.
Dengan taksi, orang langsung merasakan produknya. Mobilnya bersih, halus, tarif kompetitif. Itu terbukti efektif meningkatkan acceptance terhadap brand VinFast.
Secara internal, saya fokus membangun VinFast Culture. Karyawan datang dari berbagai brand dengan budaya berbeda. Kalau tidak disatukan, mereka hanya pindah tempat kerja.
Saya tidak menyalin budaya Mercedes atau brand lain. VinFast harus punya caranya sendiri. Tujuan saya, suatu saat semua karyawan bangga bekerja di VinFast Indonesia.
Apa value, identitas, atau corporate culture VinFast?
Secara nilai dasar, mirip dengan brand lain, yakni produk terbaik, harga terbaik, layanan terbaik. Tapi yang membedakan adalah speed. Sesuai namanya, VinFast, bukan VinSlow, ha, ha, ha… Kecepatan ini jadi DNA. Awalnya saya kaget, tapi lama-lama terbiasa. Etos kerja di Vietnam luar biasa, dari staf sampai manajemen. Secara skill mungkin setara, tapi speed dan work ethic mereka sangat tinggi.
Dari sisi leadership, Anda lebih nyaman dengan gaya kepemimpinan seperti apa?
Saya berupaya mengayomi. Saya ingin menjaga harmoni, komunikasi, dan hubungan antarmanusia. Bagi saya, hampir semua masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
Saya berusaha menjaga keseimbangan. Nyaman bekerja, tapi tetap tegas. Tidak lembek, tapi juga tidak menciptakan konflik yang tidak perlu.
Cara Anda memotivasi tim?
Saya selalu memberikan gambaran masa depan VinFast yang besar di Indonesia. Kami punya motor listrik, nanti ada bus listrik, model akan semakin lengkap.
Saya memotivasi tim agar mereka bisa menjadi bagian dari VinFast masa depan, tapi untuk bertahan harus mencapai target dan KPI. VinFast sangat ketat dalam evaluasi KPI, karena gaya startup Vietnam memang KPI-oriented.
Kalau tidak achieve, tentu ada proses coaching. Tapi kalau tetap tidak cocok, ya mungkin memang tidak bisa jalan bersama.
Secara strategi, kami tetap fokus pada ekosistem. Saat ini kompetitor belum ada yang sekomplet kami: punya taksi sendiri, perusahaan charging sendiri, motor, mobil, bus, dan pabrik sendiri.
Itu yang selalu saya tekankan bahwa masa depan kami besar dan cerah, tapi sebelum ke sana harus fokus ke target bulan ini dan kuartal ini.
Sebagai leader, bagaimana Anda mengambil keputusan yang cepat dan strategis?
Intinya diskusi. Saya selalu melibatkan tim terkait sesuai topiknya. Misalnya soal sales, saya libatkan deputi sales, kami duduk bersama.
Saya percaya ide empat atau lima kepala lebih baik daripada ide saya sendiri. Meskipun kadang saya sudah punya gambaran keputusan, saya tetap terbuka.
Namun saya selalu memberikan deadline. Karena tuntutan kecepatan dari Vietnam, tidak bisa terlalu lama. Kalau tidak ada jawaban sampai batas waktu, saya yang akan mengambil keputusan.
Saya ingin tim merasa dilibatkan, sehingga jika keputusan dijalankan dan hasilnya tidak sesuai, tidak ada yang saling menyalahkan.
Prinsip saya yang selalu saya tekankan adalah assumption is the mother of disaster. Jangan berasumsi. Selalu konfirmasi dan follow up sampai tuntas. Banyak masalah terjadi karena asumsi dan kurang komunikasi.
Filosofi hidup Anda?
Filosofi saya adalah grab it now. Saya tidak suka menunda. Ambil sekarang juga, jangan tunda. Ada kesempatan, langsung eksekusi. Ada masalah, selesaikan sekarang. Menunda hanya bikin pikiran penuh dan energi habis. Lebih baik pahit sekarang daripada berlarut-larut.
Obsesi Anda sebagai leader?
Sebagai leader, tujuan saya sederhana, yaitu ingin tim saya berhasil. Selain itu, saya ingin menciptakan ‘panggung’ keberhasilan bagi mereka. Jadi, saat misalnya tim saya menghadap dan mengatakan ingin resign, saya akan tanya pindah ke mana, posisi apa? Kalau ternyata pindah ke perusahaan yang jelas lebih baik dan posisinya lebih tinggi, saya justru akan mendorong.
Saya tidak akan bilang, “Oh, kamu coba bertahan, nanti saya coba promote.” Tidak. Justru kalau mereka lebih tinggi dari saya, saya senang.
Banyak leader di brand lain sekarang itu dulunya tim saya. Sekarang ada yang jadi COO (Chief Operating Officer), ada yang jadi Managing Director. Saya sangat senang.
Meskipun mereka berusaha sendiri, tapi setidaknya pernah menjadi tim saya dan kami bekerja sama dengan baik. Jadi, kalau ditanya apa kepuasan tersendiri bagi saya, ya ketika tim di bawah saya berhasil.
Kegiatan Anda di akhir pekan?
Akhir pekan saya kebanyakan di rumah, karena saya baru punya bayi, sekarang usianya 15 bulan. Jadi, sekarang weekend lebih banyak saya habiskan bersama anak.
Di luar itu, saya senang berkebun. Mungkin karena jiwa desa masih terbawa. Setiap kali pindah rumah, saya selalu berusaha kalau bisa ada kebun belakang, meskipun kecil.
Setiap sudut yang bisa dimanfaatkan, saya tanami. Saya menanam mangga, pisang, alpukat, stroberi. Meskipun hanya di pot-pot, tapi saya senang.
Berkebun menurut saya juga penting untuk melatih kesabaran. Begitu pohon berbuah, misalnya pisang, dari satu tangan saya ambil dua sisir, sisanya saya bagikan ke tetangga. Proses itu menyenangkan. Begitu juga dengan mangga. Saya senang dengan prosesnya, dan kemudian saat berhasil.
Anda juga berolahraga?
Olahraga saya jarang. Paling-paling jogging, jalan pagi, atau treadmill. Karena makin bertambah umur, dokter menyarankan harus bergerak minimal 30 menit per hari. Jadi, setelah punya anak, saya jadi lebih concern pada kesehatan.
Punya benda koleksi?
Saya mengoleksi batik. Saya masih penganut aliran Jawa, khususnya Jogja dan Solo. Jumlahnya 20–25 lembar, beberapa di antaranya batik tulis.
Dari dulu saya sudah dekat dengan batik. Eyang saya dulu pedagang batik keliling di kampung. Dari kecil saya sudah banyak tahu tentang batik.
Karena Sarangan daerah wisata di telaga, dulu banyak penjual bunga dan sayur di sekeliling telaga. Eyang saya dari pihak ibu kulakan (dagang grosir, red) ke Solo. Dengan menggendong barang-barang itu, beliau berkeliling menjual batik yang pembayarannya dilakukan secara nyicil. Dari situ saya terbawa, menyenangi batik, dan akhirnya mengoleksi.
Bisa membatik juga?
Tidak. Saya hanya mengoleksi. Saya senang batik karena meskipun motifnya sama, tidak pernah ada yang 100% identik. Selalu ada perbedaan.
Kadang saat mencanting ada yang kebablasan, tapi justru itu menjadi nilai seninya. Makna batik juga sangat dalam. Setiap motif punya filosofi, seperti Truntum, Parang Kencana, dan lain-lain.
Anda penggemar mobil?
Sejak bekerja di Toyota sampai sekarang, saya belum pernah membeli mobil pribadi dari uang sendiri, he, he, he… Saya selalu menggunakan mobil kantor. Saat ini saya menggunakan VinFast VF 6.
Di Indonesia, mobil listrik dianggap mahal, menurut Anda?
Tidak juga. Yang membuat mobil listrik terlihat mahal itu kan baterainya. Karena itu, kami menawarkan opsi sewa baterai atau battery subscription.
Untuk tipe VF 3, harga termasuk baterai Rp 196 juta. Kalau membeli dengan skema sewa baterai, harga mobilnya Rp 156 juta. Baterai tetap ada di mobil, hanya secara sistem tercatat sebagai milik VinFast. Biaya sewa baterai VF 3 sekitar Rp 253 ribu per bulan, sedangkan VF 5 sekitar Rp 580 ribu per bulan.
Keuntungannya, karena baterai milik kami, risikonya tidak ada di konsumen. Jika baterai rusak, kami ganti gratis. Saat ini sekitar 90% pembeli VF 3 memilih skema sewa baterai.
Model subscription sekarang sudah umum, seperti Netflix atau Spotify. Daripada perang diskon, kami memberikan opsi. Jika mobil dijual kembali, pembeli bisa melanjutkan sewa baterai atau membeli baterainya. Tinggal menghubungi call center, semuanya dihitung dan diubah di sistem.
Arti work-life balance bagi Anda?
Kadang orang melihat work-life balance itu adalah bekerja sampai jam 5 sore, lalu santai. Kalau saya tidak melihatnya seperti itu, karena saya dasarnya senang bekerja.
Kadang bekerja di akhir pekan pun saya enjoy. Kalau saya punya ide, lalu bisa menuangkannya ke dalam proposal dan diajukan, itu sudah menjadi hiburan dan kepuasan tersendiri. Ketika ide diterima, itu kepuasan.
Bagi saya, selama kita bisa meluangkan waktu bersama keluarga dan teman, work-life balance itu sudah cukup. Tidak harus dipaksakan harus liburan ke luar negeri dan sebagainya.
Saya juga menyadari, seiring bertambah usia dan posisi semakin tinggi, lingkaran pertemanan makin kecil. Dulu, saat awal kerja, saya punya banyak teman dan hampir tiap akhir pekan ingin bertemu. Saya pernah melalui fase itu. Sekarang justru lebih menikmati lingkaran yang lebih kecil, tapi diskusinya lebih dalam.
Kalau dari pengalaman saya, di masa muda saya lebih banyak meminta tambahan pekerjaan untuk mengejar karier. Apakah itu masih berlaku sekarang? Menurut saya masih.
Mungkin nanti ketika Gen Z menjadi pimpinan, style-nya berbeda. Tapi bisa jadi, saat mereka berada di posisi tinggi, tuntutannya juga akan sama.
Peran keluarga bagi Anda?
Keluarga bagi saya justru menjadi motivasi utama. Saya berusaha memberi dukungan penuh, bukan hanya untuk keluarga inti, tapi juga keluarga besar.
Saya ingin mendorong keponakan dan saudara untuk maju, agar mereka bisa berkecukupan, baik di kota maupun di desa. Di kampung pun tidak apa-apa, menjadi petani juga penting, tidak semua harus ke kota. Yang penting mereka cukup dan sejahtera.
Bagi saya, kepuasan tertinggi adalah ketika menikmati keberhasilan bersama keluarga. Mengajak liburan keluarga besar jauh lebih menyenangkan dibandingkan bepergian sendiri.
Misalnya dibandingkan ke Eropa sendirian, saya lebih senang berkumpul di Jogja atau Parangtritis bersama seluruh keluarga. Itu rasanya jauh lebih menyenangkan. Jadi, keluarga adalah supporter sekaligus sumber motivasi. ***
Biodata
Nama lengkap: Kariyanto Hardjosoemarto.
Tempat lahir: Magetan, Jawa Timur.
Pendidikan:
* S1 Manajemen Bisnis - Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta.
* SMA Taruna Nusantara, Magelang.
Karier:
* CEO VinFast Indonesia (Mei 2025 – sekarang).
* Sales & Marketing Director Mercedes-Benz Indonesia (Oktober 2023 – April 2025).
* Director, Marketing Communication & PR Mercedes-Benz Indonesia (September 2022 – September 2023).
* Director, Sales Operation & Product Management Mercedes-Benz Indonesia (Maret 2016 – Agustus 2022).
* Director, Business & Network Development Mercedes-Benz Indonesia (Juli 2012 – Februari 2016).
* Head of Sales & Network Development Piaggio Indonesia (Maret 2011 – Juni 2012).
* Dealer Operations Manager/General Manager, Network Development Ford Motor Indonesia (Mei 2005 – Februari 2011).
* Regional Sales Manager General Motors Indonesia (April 2003 – April 2005).
* Sales Consultant/Area Supervisor Toyota Astra Motor (Juli 2000 – Maret 2003).
* Organisasi:
Kepala Kompartemen Pengembangan Pasar - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
