Masuk di Hulu, Harita Nickel Siap Bergerak ke Produk Hilir
JAKARTA, Investortrust.id - Dua dekade silam, telah muncul concern bakal menumpuknya limbah baterai primer yang lazim digunakan pada perangkat elektronik. Kekhawatiran soal limbah berikutnya membuat para industriawan mulai melansir produk baterai sekunder yang dapat diisi ulang, atau rechargeable battery.
Namun kekhawatiran soal limbah kimia ini tak lantas hilang, karena pada dasarnya rechargeable battery pun akan memasuki masa kedaluwarsa, ketika sel-sel di dalamnya tak lagi mampu menghantarkan setrum.
Sebuah gambar rongsokan motor listrik yang diruyak semak sempat membuat miris para pemerhati lingkungan. Sebuah risiko lingkungan hidup yang harus dihadapi manusia di era green energy, saat kendaraan tak lagi menghasilkan emisi karbon, namun menghadapi potensi penumpukan baterai bekas yang beracun.
Roy Arman Arfandy, CEO PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) menyampaikan kabar, bahwa ke depan manusia bisa terhindar dari potensi penumpukan limbah baterai. Pasalnya saat ini telah ditemukan teknologi yang mampu mendaur ulang limbah dari baterai listrik yang telah kedaluwarsa.
Baca Juga
“Ada satu step lagi selain dari pembuatan mobil listrik, yakni recycling dari baterainya itu sendiri, dan sudah ada teknologi yang mampu mengolah baterai bekas dari mobil listrik saat ini menjadi bahan baku, untuk diproses menjadi namanya black mass atau black powder,” kata Roy saat menjadi pembicara dalam seminar Membangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik yang diselenggarakan Investortrust di Raffles Hotel, Jakarta, Selasa (29/08/2023).
Limbah ‘bubuk hitam’ini menurut Roy nantinya bisa kembali diolah menjadi nikel sulfat. “Dengan demikian, ke depan, kalau populasi mobil listrik sudah sangat banyak, baterai bekas sangat banyak, maka kita tidak perlu lagi menambang, tapi mengolah dari baterai mobil bekas itu menjadi nikel sulfat kembali,” ujarnya.
Apa yang disampaikan Roy memang telah dilakukan oleh banyak manufaktur baterai listrik dunia. Salah satu manufaktur asal Jerman, BASF dalam laman resminya sedikit memaparkan soal potensi daur ulang baterai kendaraan listrik yang bisa menekan tingkat timbunan limbah kimia.
Dalam laman catalysts.basf.com dipaparkan, penelitian dan metode manufaktur baru untuk baterai lithium-ion saat ini telah menyediakan kapasitas penyimpanan yang lebih tinggi, kecepatan pengisian yang lebih cepat, dan umur pakai yang lebih panjang. Selain itu, bahkan ketika baterai-baterai ini mencapai akhir masa pakainya, teknologi-teknologi baru memungkinkan pemulihan dan penggunaan ulang komponen inti dari baterai tersebut.
Disebutkan bahwa baterai lithium-ion terdiri atas logam seperti lithium, mangan, kobalt, dan nikel. Setelah baterai mencapai akhir masa pakainya, paket baterai tersebut dapat dikumpulkan, dibongkar, dan kembali digiling. Bahan yang telah digiling kemudian diproses untuk menghasilkan apa yang disebut "black mass atau massa hitam," yang terdiri atas kandungan tinggi logam lithium, mangan, kobalt, dan nikel. Bahan-bahan kritis ini kemudian dapat diekstraksi dari massa hitam dan digunakan kembali dalam produksi baterai baru.
“Kemampuan untuk mendaur ulang logam-logam ini akan berdampak langsung pada kebutuhan bahan baku baru, sambil sekaligus mengurangi jejak karbon yang diperlukan untuk kegiatan penambangan baru,” demikian BASF dalam paparannya.
Sekedar catatan saja, BASF telah menyatakan minatnya untuk menanamkan modal di pembangunan ekosistem baterai listrik di Maluku Utara. Rencana investasinya mencapai US$2,6 miliar atau sekitar Rp38,22 triliun.
Baca Juga
Roy: Harita Terus Ekspansi, akan Bangun Pabrik Stainless Steel
Sementara itu dalam diskusi yang digelar Investortrust.id akhir Agustus lalu Roy juga menyampaikan bahwa kebutuhan mobil listrik di dunia terus meningkat. Pada tahun 2021 tercatat baru sebanyak 6,6 juta unit mobil listrik yang digunakan. Namun pada tahun 2027 diperkirakan akan meningkat 4 kali lipat menjadi 24,2 juta unit. “Hal ini juga akan mendorong meningkatnya kebutuhan baterai listrik yang pada tahun 2021 untuk baterai lithium kebutuhannya baru sebesar 551 GWh, dan pada 2027 diperkirakan meningkat menjadi 2050 GWh,” paparnya.
Pemerintah Indonesia menurutnya sudah cukup bergerak cepat dan melakukan langkah yang sangat strategis dalam upaya pemenuhan kebutuhan baterai listrik, sehingga Indonesia amat berpotensi menjadi hub bagi ekosistem mobil listrik dunia.
Salah satu contoh bukti konkretnya adalah masuknya sejumlah pemain mobil listrik dunia ke Indonesia seperti Hyundai dan Wuling, dan ia memastikan langkah ini akan diikuti oleh manufaktur manufaktur otomotif mobil listrik dunia lainnya.
Sebagai bahan baku baterai, saat ini nikel masih lebih banyak digunakan untuk dijadikan bahan baku pembuatan stainless steel. Namun ke depan nikel akan menjadi penopang industri transportasi karena nikel akan menjadi pemasok kebutuhan baterai listrik dan akan lebih banyak dijadikan bahan baku pembuatan baterai listrik ketimbang untuk stainless steel.
Harita Nickel sendiri merupakan manufaktur yang ikut masuk bergerak membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di hulu, yang kini mulai masuk ke hilirisasi. Awalnya Harita hanya masuk di sektor hulu di pertambangan nickel ore. Harita Nickel, melalui PT Halmahera Persada Lygend (PT HPL) juga diketahui menjadi pionir dalam produksi bahan baku utama baterai kendaraan listrik berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). PT HPL mulai beroperasi pada pertengahan 2021 di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, dan memiliki kapasitas produksi mencapai 365 ribu WMT per tahun.
Baca Juga
Produksi Feronikel Trimegah Bangun Persada Naik 33% Jadi 120.000 Ton Tahun Depan
Disampaikan Roy, di Pulau Obi, Maluku Utara perusahaannya memproses saprolit menjadi feronikel, yang berikutnya dapat dijadikan stainlees steel. Perseroan juga punya rencana untuk membangun pabrik stainless steel, sehingga feronikel hasil produksi tidak akan diekspor, namun diproses di dalam negeri menjadi stainless steel.
Sementara itu Limonit, jenis bijih nikel kadar rendah di bawah 1,5% yang awalnya dibuang karena belum ada teknologi yang bisa memanfaatkan, kini oleh perseroan diproses menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk bahan baku baterai kendaraan listrik lewat teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang telah dimiliki Perusahaan.
Teknologi High Pressure Acid Leaching merupakan pengolahan dan pemurnian nikel limonit dengan melarutkannya dalam wadah bertekanan atau suhu tinggi (autoclave) dan selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dari larutan konsentrat untuk mendapat mineral yang lebih murni, yaitu nikel sulfat dan kobal sulfat.
“Kami bisa proses (limonit) menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) untuk bahan baku baterai kendaraan listrik,” ujarnya. Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sendiri merupakan salah satu produk antara yang banyak diproduksi, atau dalam istilah lainnya adalah presipitat campuran nikel-kobalt hidroksida. Dari MHP ini berikutnya akan dihasilkan nikel sulfat dan kobal sulfat.
Saat ini Harita Nickel telah memiliki satu pabrik full capacity, dengan kapasitas MHP 55.000 ton per tahun, dengan pure nickel yang bisa di-convert 100% menjadi nikel sulfat maupun kobalt sulfat. Roy juga mengemukakan langkah perseroan yang sedang membangun fasilitas pemrosesan HPAL kedua, dengan harapan kapasitas MHP Perusahaan di tahun depan akan meningkat menjadi 120.000 ton pure nickel.
Untuk feronikel sendiri, lanjut dia, perusahaan sudah punya 2 smelter yang berjalan dengan total line 12 dan ke depan akan dibangun lagi 12 line yang baru dan akan di-combine dengan pabrik stainless steel. "Kemungkinan sebagian besar nantinya juga bisa disuplai ke kebutuhan industri stainless steel dalam negeri. Saat ini, belum banyak pabrik stainless steel di Indonesia,” tutur Roy.
Saat ini, perseroan memiliki dan mengoperasikan dua proyek pertambangan nikel laterit aktif. Pertama seluas 4.247 hektar di Kawasi yang dioperasikan oleh NCKL dan 1.277 hektar di Loji yang dioperasikan oleh entitas anak, PT Gane Permai Sentosa. Keduanya terletak di Pulau Obi, Provinsi Maluku Utara. Dengan demikian, total luas kawasan pertambangan Perseroan sekitar 5.524 hektare.
Entitas Anak Perseroan juga memiliki dua prospek pertambangan nikel di Pulau Obi, yaitu PT Obi Anugerah Mineral seluas 1.775 hektare dan PT Jikodolong Megah Pertiwi dengan luas 1.885 hektare.

