Anda Tak Berarti Apa-Apa jika Tidak Bisa Memberi Manfaat kepada Orang Lain
Poin Penting
| ● | Tuhiyat mendefinisikan sukses sebagai kemampuan memberi manfaat bagi orang lain, bukan jabatan atau materi. |
| ● | Ia memegang filosofi CNP: compliance (governance), networking, dan prayer sebagai fondasi karier dan hidup. |
| ● | Target keberhasilannya adalah terwujudnya sistem transportasi Jakarta yang terintegrasi penuh dan berdampak luas bagi publik. |
INVESTORTRUST.ID - Bermanfaat bagi orang lain, itulah yang disebut sukses. Sesederhana itukah defenisi sukses? Ya, sesederhana itu. Bagi sejumlah orang, kesuksesan tidak bisa diukur dari pencapaian materi atau perolehan duniawi.
Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta), Tuhiyat adalah salah satu dari sedikit orang yang melihat kesuksesan dari kaca mata berbeda.
“Jabatan setinggi apa pun, harta sebanyak apa pun, tidak ada artinya jika tidak bisa memberi manfaat bagi orang lain,” kata Tuhiyat kepada jurnalis investortrust.id, Farhan Nugraha, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini.
Ternyata itu pula alasan Tuhiyat memilih berkarier di MRT alih-alih di BUMN atau perusahaan swasta. Suatu masa, ia hampir direkrut menjadi anggota direksi sebuah BUMN. Gajinya lima kali lipat lebih besar.
Tapi chief executive officer (CEO) kelahiran Serang, 2 Februari 1965 ini tegas menolak. Bahkan saat orang-orang terdekat mendorongnya untuk mengambil peluang berkarier di perusahaan pelat merah, Tuhiyat tetap memilih MRT, perusahaan milik Pemprov DKI yang belum lama dibentuk. Padahal, proyek MRT saat itu belum jelas juntrungannya.
“Saya memilih MRT karena manfaatnya langsung dirasakan publik, dan ada legacy yang bisa dibangun,” ujar mantan Direktur Utama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek tersebut.
Yang pasti, Tuhiyat belum merasa sukses. Alasannya, sistem transportasi belum terintegrasi secara sempurna di Jakarta. “MRT kan baru 16 km, itu belum ada apa-apanya. Sekarang kami bangun sampai Kota dan Ancol, dan tahun depan konstruksi Timur–Barat dimulai. Tapi itu semua masih awal,” papar dia.
Tuhyiat mengaku baru merasa berhasil jika semua moda transportasi sudah terintegrasi sempurna. “Kalau seluruh moda sudah terntegrasi seluruhnya, sudah antarmoda, antargedung, ruang publik, semuanya, baru di situ saya merasa sudah berhasil. Jadi, masih banyak yang harus kami lakukan,” tegas dia.
Ada tiga hal yang dipegang teguh Tuhiyat sebagai filosofi dalam menjalani karier dan kehidupan, yaitu compliance (kepatuhan) atau governance (tata kelola), networking (jejaring), dan prayer (doa). “Saya menyebutnya CNP, singkatan dari compliance, networking, prayer. Ini fondasi dasar yang tidak boleh dilanggar,” tandas dia.
Governance, bagi Tuhiyat, adalah prinsip yang tak bisa ditawar-tawar. Governance yang baik adalah alat untuk mencapai keberhasilan. Alhasil, kesuksesan bukan hanya soal kerja keras, tetapi tentang bagaimana memegang prinsip, nilai, dan integritas.
“Saat saya berhasil, berarti saya benar-benar menggunakan irama kerja dengan konsep governance. Saat target saya meleset, pasti karena saya lupa dengan governance,” tutur Tuhiyat yang memulai karier di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Dalam soal networking, jebolan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini percaya bahwa silaturahmi turut memperpanjang umur. Bukan hanya umur fisik, tapi juga umur manfaat, peluang, dan keberhasilan. Sedangkan dalam urusan doa, Tuhiyat yakin betul bahwa tanpa rida Tuhan, kerja keras tidak akan menghasilkan apa pun.
“Kerja keras kita tidak akan membuahkan hasil jika Tuhan tidak menghendaki. Makanya kita perlu berdoa untuk mendapatkanrida-Nya,” kata Tuhiyat. Berikut petikan lengkapnya:
Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Karier saya dimulai sejak menjadi pegawai negeri lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dari sana saya ditempatkan di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Saya bekerja di berbagai daerah, seperti Lampung, Makassar, dan Kendari selama kurang lebih 11 tahun.
Setelah itu saya masuk ke PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam), jauh sebelum Antam resmi bergabung menjadi salah satu anggota Holding BUMN Industri Pertambangan bersama PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebagai induk perusahaan holding. Holding Pertambangan kan dibentuk pada 27 November 2017.
Saya bergabung dengan Antam pada 2001 sebagai internal auditor operasional, kemudian berpindah ke keuangan dan corporate finance. Perjalanan saya di Antam berlangsung selama 11 tahun hingga saya ikut fit and proper test sebagai calon direksi.
Menjelang rapat umum pemegang saham (RUPS), saya diminta oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) saat itu, Pak Ignasius Jonan untuk membantu Gubernur DKI dalam membangun MRT, yang saat itu masih disebut subway.
Di MRT, tugas pertama saya adalah mencari pendanaan, dan saya berhasil mengamankan 125 miliar yen dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Saya kemudian menangani keuangan, legal, dan manajemen korporasi hingga fase 1 MRT selesai dibangun pada 2018 dan beroperasi pada 2019.
Setelah satu tahun beroperasi, saya dipercaya menjadi Direktur Utama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), perusahaan kolaborasi pusat dan Pemprov DKI. Selama 2,5 tahun saya membangun MITJ, lalu pada 2022 saya kembali ke MRT Jakarta sebagai Direktur Utama. Jika dirata-ratakan, saya 11 tahun di Kereta Api, 11 tahun di Antam, dan sekitar 12 tahun di MRT.
Apa kesimpulan dari semua itu?
Dari perjalanan panjang itu saya belajar dua hal utama. Pertama, governance adalah irama kerja yang menentukan keberhasilan. Kedua, networking dan komunikasi adalah pendorong penting karier. Saat saya melanggar governance, biasanya saya “tersandung”. Tidak sampai jatuh sih, tapi cukup untuk mengingatkan saya kembali ke jalur yang benar.
Berarti Anda pernah mengalami fase jatuh?
Masa down saya tidak sampai membuat jatuh. Itu terjadi saat saya mengejar target tanpa mematuhi prinsip governance. Ketika saya mengabaikan aturan untuk mencapai key performance indicator (KPI), di situ saya tersandung. Momen-momen seperti itu menjadi alarm agar saya kembali disiplin terhadap proses.
Apa definisi sukses menurut Bapak?
Sukses adalah ketika kita bermanfaat bagi orang lain. Sesederhana itu. Bagi saya, jabatan dan gaji besar bukan parameter utama. Itu sebabnya, ketika saya hampir menjadi direksi sebuah BUMN dengan gaji lima kali lipat lebih besar dari MRT, saya tetap memilih MRT karena ada manfaat dan legacy bagi publik. Bahkan keluarga dan orang-orang dekat pun sempat tidak mendukung. Tapi saya melihat ini adalah kontribusi yang langsung dirasakan masyarakat.
Anda sudah merasa sukses?
Belum. Masih banyak yang belum saya capai. Contohnya di MRT, saya belum melihat sistem transportasi yang benar-benar terintegrasi di Jakarta. MRT baru 16 km, masih terlalu kecil. Pembangunan ke arah Kota dan Ancol sedang berjalan, dan tahun depan mulai konstruksi timur-barat. Namun, integrasi penuh antarmoda, gedung, dan ruang publik masih panjang jalannya. Saya baru bisa merasa berhasil jika itu terwujud.
Filosofi hidup Anda?
Ada tiga, yaitu governance jangan pernah dilanggar, ini dasar. Kemudian networking. Saya percaya bahwa silaturahmi memperpanjang “umur” dalam arti perjalanan hidup dan kesuksesan. Lalu prayer. Tanpa doa, usaha tidak cukup. Saya menyebutnya CNP, yaitu compliance atau governance, networking, prayer.
Siapa yang membentuk karakter Anda?
Pertama, dari keluarga. Ayah saya sangat keras mendidik saya, terutama soal disiplin. Setiap pagi saya harus mengaji. Bukan hanya Al-Qur’an, tetapi juga kitab kuning. Kalau terlambat bangun, saya pasti ditegur keras, bahkan secara fisik. Tapi saya sadar itu semua dilakukan untuk membentuk karakter saya.
Kedua, STAN mengajarkan governance yang kuat. Ketiga, lingkungan pertemanan. Banyak rekan alumni yang bekerja di institusi yang menekankan integritas. Keempat, pengalaman panjang di BPKP yang memang berorientasi pada sistem pengawasan dan governance. Gabungan semua itu membentuk prinsip yang saya pegang sampai sekarang.
Sewaktu muda dulu, apakah Anda pernah membayangkan bakal menjadi CEO?
Tidak pernah. Saya hanya ingin hidup cukup dan bermanfaat bagi orang lain, tanpa harus meminta bantuan orang lain.
Anda menerapkan model kepemimpinan seperti apa?
Saya cenderung transformasional. Saya tidak suka bekerja as usual. Saya ingin perubahan dan tantangan. Contohnya ketika masuk MRT, saya menolak pola kerja yang masih memakai kertas. Harus paperless. Layout kantor pun saya ubah agar lebih modern, sehingga orang bisa bekerja di sofa sambil makan. Yang penting substansi terpenuhi.
Saya juga ingin tim terus bertumbuh. Jika ada anggota tim direkrut perusahaan lain untuk posisi lebih tinggi, saya justru bangga. Syaratnya satu, yaitu mereka harus perform dan membawa nama baik MRT. Bagi saya, pemimpin sukses adalah yang mampu melahirkan pemimpin baru.
Obsesi Anda untuk MRT ke depan?
Kami membangun MRT di kota yang sudah penuh dan kompleks. Arah utara mustahil dibuat elevated karena tata ruangnya sudah padat, sehingga harus underground yang biayanya tiga kali lipat. Tetapi kita tetap harus melakukan itu demi menjaga tata kota.
Obsesi saya adalah jaringan utara–selatan hingga Ancol dan timur–barat sampai Tomang, serta terintegrasi dengan moda lain, ruang publik, dan bangunan. Jika perlu, Ancol dijadikan hub untuk koneksi boat cepat seperti Batam–Singapura.
Jakarta tidak harus seperti Tokyo atau Hong Kong yang punya sistem berlapis-lapis, tapi minimal punya jaringan yang saling terhubung sempurna. Sekarang mengangkut 117 ribu penumpang per hari, nanti lebih dari 800 ribu penumpang per hari.
Kapan sistem transportasi Jakarta terintegrasi secara penuh?
Lamanya sangat bergantung pada pendanaan. Fiskal Pemprov DKI terbatas karena harus menanggung utang per fase pembangunan selama 30 tahun. Karena itu, kami mulai mengandalkan skema KPBU (kerja sama pemerintah–badan usaha) dan investor swasta.
Contohnya fase Fatmawati–Taman Mini yang seluruhnya underground, inisiatifnya berasal dari investor asing. Jika berhasil, model KPBU ini akan menjadi contoh pembangunan infrastruktur kota tanpa mengandalkan APBD atau APBN.
Jika semua berjalan paralel, idealnya dalam 60–70 tahun jaringan besar itu selesai, mirip Singapura yang butuh sekitar 47 tahun untuk mencapai kondisi sekarang. Yang membuat proyek MRT menarik bagi swasta bukan ridership, tapi non-fare business seperti transit oriented development (TOD) dan land value capture.
Apa mandat utama Pemprov DKI kepada MRT?
Ada tiga, yaitu membangun jaringan transportasi, mengoperasikan dan memelihara seluruh aset MRT, serta mengembangkan TOD dalam radius 700 meter dari tiap stasiun. Gubernur memberi target bahwa jalur Kota harus beroperasi pada 2029, Ancol pada 2031, dan timur–barat pada 2032 sampai Tomang. Namun kami berencana membuka sebagian rute lebih awal, misalnya sampai Harmoni pada 2027 agar publik segera merasakan manfaatnya.
Nasihat Anda untuk kawula muda?
Jika ingin sukses, bangunlah governance yang kuat, perluas networking, dan jangan lupa berdoa. Tiga hal itu fondasi utama perjalanan karier, apa pun bidangnya. ***
BIODATA
Nama lengkap: Tuhiyat.
Tempat/tanggal lahir: Serang, 2 Februari 1965.
Pendidikan:
* Sarjana Akuntansi - Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN): 1994.
* Master Management - Universitas Krisnadwipayana: 2000.
Karier:
* Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda): Oktober 2022 – sekarang.
* Direktur Utama PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek: 2020—2022.
* Direktur Keuangan dan Administrasi PT MRT Jakarta (Perseroda): 2013—2020.
* Senior Manager Treasury, Tax, & Insurance PT Aneka Tambang/Antam (Persero) Tbk: 2008 – 2012.
* Senior Manager Accounting & Budgeting PT Antam (Persero) Tbk: 2006 – 2008.
* Asisten Senior Manager Accounting PT Antam (Persero) Tbk: 2005 – 2006.
* Manajer Accounting PT Antam (Persero) Tbk: 2004 – 2005.
* Senior Internal Auditor PT Antam (Persero) Tbk: 2001 – 2004.
* Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP): 1987 – 2001.

