Jangan Biarkan Orang Lain Membangun Personal Branding Anda
Oleh Coach Drs Karyanto, MM, CPC, CT, CPPS,
Personal Branding Expert*
INVESTORTRUST.ID - Tahun 2025 segera hadir dalam beberapa hari ke depan. Tantangan berkarier dan berbisnis semakin ketat, termasuk di sektor kesehatan. Para dokter, apoteker, tenaga vokasi farmasi, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya memang harus memiliki kompetensi di bidang hard skill sebagai fondasi profesional di bidang kesehatan. Namun, kompetensi hard skill saja ternyata tidak cukup.
Tenaga kesehatan juga harus ditunjang oleh kompetensi soft skills. Kompetensi ini merupakan jurus jitu agar mampu meningkatkan daya saing profesi, agar tetap kompetitif menghadapi dunia kerja dan bisnis di sektor kesehatan.
Di era digital, profesi tenaga kesehatan bahkan semakin dituntut harus ditunjang oleh kemampuan kompetensi soft skill yang andal. Public speaking dan personal branding adalah dua soft skill yang menjadi kebutuhan utama profesi di bidang kesehatan era digital.
Baca Juga
Dari 0% akan Kena PPN 12% Berobat ke RS Premium dan Sekolah Internasional, Ekonom Pertanyakan
Di era persaingan yang sangat ketat ini, personal branding bukan lagi pilihan bagi tenaga kesehatan. Tetapi, sebuah kebutuhan!
Beli dari Orang Bereputasi Kuat
Dengan membangun personal branding yang kuat, para tenaga kesehatan Indonesia akan meraih peningkatan kredibilitas, perluasan visibilitas, dan akses peluang karier dan bisnis baru. Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukan, 63% orang cenderung membeli produk atau jasa dari orang yang dikenal baik dan memiliki reputasi yang kuat (personal branding).
Bahkan, 57% dari mereka juga bersedia merekomendasikan orang tersebut ke teman atau kenalannya. Selanjutnya, 55% kemungkinan dapat melakukan bisnis dengan orang yang punya personal branding kuat.
7 Soft Skill Menghadapi Tantangan
Setidaknya, ada 7 soft skill utama untuk menghadapi tantangan karier dan bisnis tahun 2025. Ini mencakup communication skills & personal branding, critical thinking & problem solving, leadership & collaboration, adaptability & resilience, creativity & innovation, time management & productivity, serta emotional intelligence.
Lalu, mengapa kita harus segera membangun personal branding? Hal ini karena orang baik belum tentu dikenal sebagai orang baik. Orang kompeten belum tentu dikenal sebagai orang kompeten. Demikian sebaliknya, persepsi publik dapat berbeda dengan realita. Untuk itu, diperlukan personal branding.
Apalagi, adalah realitas kehidupan bahwa terkadang fakta tidak sesuai dengan realitas yang terjadi di masyakarat. Jangan sampai personal brand kita justru dibangun oleh orang lain.
Mindset Membangun Personal Branding
Untuk itu, kita perlu memahami mindset (pola pikir) yaitu serangkaian keyakinan yang membentuk cara memahami dunia dan diri sendiri. Pola pikir ini memengaruhi cara berpikir, empati, dan berperilaku dalam situasi apa pun.
Apa yang diyakini mengenai potensi diri akan memengaruhi keberhasilan atau kegagalan. Menurut psikolog Stanford University Carol Susan Dweck, keyakinan memainkan peran penting untuk meraih apa yang diinginkan dan apakah ingin mencapainya.
Baca Juga
Bertemu Ribuan Mahasiswa Indonesia di Al-Azhar, Prabowo Ajak Bangun Bangsa dengan Pendidikan
Dweck membedakan dua tipe utama mindset yang dimiliki oleh individu, yakni fixed mindset (pola pikir tetap) dan growth mindset (pola pikir berkembang). Ciri-ciri seseorang memiliki growth mindset, antara lain, berpendapat kecerdasan dapat dikembangkan, berani menerima tantangan, kesuksesan dijadikan motivasi, kegagalan sebagai proses pembelajaran, konsisten mencapai tujuan, dan ada feedback sebagai cara mendapatkan perbaikan.
Mengutip pendapat penulis buku "The Power of Personal Branding" Peter Montoya, personal branding merupakan proses yang akan mengantarkan seseorang memiliki keterampilan, kepribadian dan karakteristik yang unik, serta membingkainya menjadi identitas diri yang sangat kuat, melebihi para pesaing. Setidaknya, ada lima benefit membangun personal branding, yaitu: meningkatkan karier dan bisnis, meningkatkan visibilitas, membangun jaringan profesional, meningkatkan kredibilitas, serta meningkatkan kehadiran di era digital. ***
*Karyanto berpengalaman di industri farmasi dan alat kesehatan lebih dari 20 tahun. Ia aktif memberikan pelatihan membangun personal branding dan menjadi narasumber di lebih dari 100 event nasional dan internasional. Ia juga melakukan observasi potensi herbal di 15 negara, serta menulis buku dan eBook dengan 17 judul, yang di antaranya viral beberapa tahun yang lalu.

