Laba Tumbuh 19,8%/Tahun, Inilah Daya Tarik CIMB Niaga
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) tengah berada di tren pertumbuhan mengesankan. Kenaikan laba perseroan diprediksi mencapai 19,8% per tahun hingga 2025. Pertumbuhan tersebut juga didukung antusiasme perseroan menerapkan digital banking di tengah masih besarnya populasi unbank.
Analis Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa Bank CIMB Niaga berhasil mencatatkan pertumbuhan simpanan, kredit, dan laba bersih yang mengesankan, dibandingkan dengan emiten bank lainnya. Perseroan juga menunjukkan pertumbuhan simpanan dan kredit konsisten.
Sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) cenderung turun menjadi 2,53% hingga akhir kuartal II-2023. Begitu juga dengan pertumbuhan laba bersih melonjak sebanyak 43,1% menjadi Rp 1,65 triliun pada kuartal II-2023.
“Kami memperkirakan rata-rata kenaikan laba tahunan perseroan mencapai 19,8% dari 2022 hingga 2025. Diharapkan laba bersih perseroan bisa mendekati level Rp 9 triliun tahun 2025. Pertumbuhan tersebut optimistis tercapai dengan memperkuat digitalisasi melalui OCTO Mobile dan OCTO Cliks selain memperkuat kehadiran secara offline,” tulis analis Sinarmas Sekuritas Ivan Purnama Putera dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Optimisme pertumbuhan pesat tersebut, terang Sinarmas Sekuritas, telah telihat dari upaya Bank CIMB Niaga terus memperkuat rebranding digitalisasi bank OCTO Mobile dan OCTO Clicks, sehingga berhasil meningkatkan volume transaksi hingga 76% sejak diluncurkan tahun 2020. OCTO Mobile kini juga berhasil sebagai penyumbang terbesar transaksi digital bank.
Bank CIMB Niaga telah mencatatkan lebih dari 2,8 juta pengguna OCTO Mobile, sebanyak 1,7 juta pengguna OCTO Clicks, dan pengguna rekening ponsel mencapai 5,4 juta. Pengguna digital banking perseroan telah berkontribusi hingga 98% terhadap total transaksi perbankan perseroan.
Perseroan juga gencar menambah digital lounge, yaitu cabang fisik dengan pengalaman digital untuk memungkinkan pelanggan dalam membuka rekening secara digital. Pengembangan inovasi ini diharapkan dapat menarik banyak pelanggan agar perseroan bisa bersaing dengan perbankan besar lainnya di masa depan.
Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain bahwa bank yang memiliki aplikasi digital akan menjadi pemenang di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini dipengaruhi oleh masih besarnya jumlah penduduk unbanked mencapai 81% dari total penduduk.
Selain itu, Ivan Purnama menyebutkan bahwa nilai transaksi digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan dalam beberapa tahun terakhir. Diperkirakan nilai GMV ekonomi digital Indonesia bisa mencapai US$ 130 miliar pada 2025 dan diharapkan melesat menjadi US$ 220-360 miliar pada 2030. Nilai transaksi ekonomi digital Indonesia bakal menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Tidak hanya itu, kata Ivan, konsumen diIndonesia menunjukkan ketertarikan yang lebih tinggi terhadap digibank, dibandingkan negara lain. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan peluang tertinggiperluasan bisnis perbankan digital.
“BNGA berusaha mendapatkan kesempatan dengan mengadopsi segmen bisnis bank digital untuk menangkap peluang penduduk yang unbanked di tengah tren peningkatan nilai transaksi ekonomi digital Indonesia,” terangnya.
Upaya tersebut diharapkan menjadi penopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang. Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk menargetkan kenaikan laba bersih Bank CIMB Niaga menjadi Rp 6,35 triliun tahun ini, dibandingkan pencapaian tahun lalu Rp 5,04 triliun. Pendapatan bunga bunga bersih diharapkan bertumbuh dari Rp 13,47 triliun menjadi Rp 14,12 triliun.
Hal ini mendorong Sinarmas Sekuritas untuk memberikan rekomendasi beli saham BNGA dengan target harga Rp 2.000. Target harga tersebut merefleksikan P/B perseroan masih berada di bawah rata-rata perbankan, laba bersih perseroan melesat, dan ekspektasi rata-rata pertumbuhan laba bersih perseroan mencapai 19,8% tahun 2022-2025.
Tumbuh Mengesankan
Sementara itu, Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dan Boby Kristano Chandra mengatakan, BNGA berhasil mempertahankan pertumbuhan laba bersih mengesankan hingga Agustus 2023. Realisasi tersebut setara dengan 69% dari target Mandiri Sekuritas dan merefleksikan 67% dari perkiraan konsensus analis.
Perseroan mencetak peningkatan laba bersih sebesar 31% dari Rp 3,20 triliun menjadi Rp 4,18 triliun hingga Agustus 2023. Lompatan tersebut setara dengan peningkatan pendapatan perseroan sebanyak 18% dari Rp 11,89 triliun pada semester I-2022 menjadi Rp 14,06 triliun pada semester I-2023.
Menurut Kresna Hutabarat dan Boby Kristano Chandra, pesatnya pertumbuhan laba bersih tersebut didukung stabilnya margin bunga bersih (NIM), peningkatan pendapatan nonbunga, dan penurunan biaya kredit.
“BNGA memang tidak berhasil mencetak pertumbuhan kredit pada Agustus 2023, tetapi perseroan berhasil menekan biaya dana dan kredit. Hal ini berimbas terhadap laba bersih perseroan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan dalam riset baru-baru ini.
Terkait provisi, BNGA berhasil mencatatkan penurunan sebanyak 38% menjadi Rp 1,42 triliun hingga Agustus 2023. Hal ini memicu biaya kredit mencapai 1,1% hingga Agustus 2023. Angka tersebut lebih rendah dari target tahun ini berkisar 1,5-1,7%.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BNGA dengan target harga Rp 2.300. Target tersebut mempertimbangkan keberhasilan perseroan menekan biaya dana dan kredit.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan peningkatan laba bersih perseroan tahun ini bertumbuh menjadi Rp 6,08 triliun dan pendapatan bunga bersih mencapai Rp 13,93 triliun.
Prospek Saham BNGA
Sinarmas Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 2.000
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 2.300
(Hari Gunarto)

