Dengan Tindakan Nyata, Agincourt Resources Ubah Mindset Masyarakat Tentang Tambang
Jakarta, investortrust.id – Tahun 2012, masyarakat kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara menyaksikan kehadiran sebuah perusahaan pengelola tambang emas di tambang emas Martabe. Sebanyak 5% saham perusahaan tambang emas tersebut dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan BUMD milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Salah satu warga Tapanuli Selatan itu adalah Arsjad Hasibuan. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA. Tempat ia tinggal bukanlah area lingkar tambang. Namun lalu lalang pekerja dengan seragam tambang di depan rumahnya–di jalan lintas provinsi, meninggalkan kesan tersendiri. "Kayaknya keren sekali kerja di tambang." Pikirnya saat itu.
Sejak itu, Arsjad terlecut untuk bekerja di perusahaan tambang. Arsjad kemudian berkenalan dan terbiasa berbincang dengan pekerja tambang.
"Kebetulan waktu saya SMA, rumah saya terletak di jalan lintas, jadi saya sering melihat mereka-mereka yang setiap hari pulang pakai seragam (perusahaan tambang-red) gitu. Kebetulan juga beberapa orang yang saya kenal itu memang dia kerjanya di sana. Jadi, saya nggak asing itu melihat mereka-mereka yang tiap hari pulang kembali pakai seragam." Arsjad menceritakan kepada Investortrust belum lama ini.
"Waktu itu pemikiran masyarakat sini menganggap tambang itu destruktif atau tambang itu merugikan walaupun mereka juga berpikir bekerja di tambang gajinya besar dan hidupnya sejahtera," tutur Arsjad. Arsjad kemudian bertekad melanjutkan perguruan tinggi di jurusan pertambangan. Ia mendaftar ke Institut Teknologi Bandung dan diterima.
Tak lama kemudian pengelola tambang emas Martabe tersebut berpindah tangan ke PT Agincourt Resources (PTAR). Cicit usaha dari PT Astra International. Sebuah perusahaan yang secara ketat menerapkan konsep ESG.
Arsjad menuturkan bahwa perlahan tata kelola tambang yang diterapkan oleh PT Agincourt mulai mengubah pikiran warga di sekitar tambang. Mereka yang semula skeptis dan memandang bahwa perusahaan tambang hanya akan merusak alam, mengeruk kekayaan dan hanya mempekerjakan warga lokal pada bagian yang tidak penting, kini berubah. Kini banyak warga setempat yang menduduki jabatan dan posisi kunci yang menuntut keahlian dan kapabilitas tinggi.
"Pemikiran masyarakat di sekitar itu mulai shifted, artinya mulai berubah dari yang dulunya menganggap tambang itu destruktif atau tambang itu merugikan, sekarang berbeda. Mereka sangat senang dengan keberadaan tambang Martabe ini, apalagi tidak ada dampak lingkungan yang ditimbulkan. Saat ini semakin banyak new employees yang gabung ke Agincourt memiliki background yang memang di bagian engineering atau di core bisnisnya Agincourt. Apakah dia jurusan geologi, pertambangan, teknik mesin atau teknik lingkungan dan lain sebagainya yang memang support untuk kegiatan produksi atau operasi pertambangan itu. Makin banyak lah orang-orang yang punya awareness atau punya kesadaran bahwa mereka itu sebetulnya punya kesempatan yang sama untuk bisa menjadi bagian dari Agincourt itu."
Penerapan ESG Yang Berkelanjutan
Dalam forum MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia) Business Forum 2025 yang diselenggarakan di Jakarta, pertengahan Agustus 2025, Senior Manager Environment, Health & Safety PT Agincourt Resources, Hari Ananto yang mewakili Direktur Utama dari PT Agincourt Resources, Muliadi Sutio, memaparkan strategi penerapan ESG dalam operasional PTAR.
Dalam forum tersebut, Hari Ananto menegaskan komitmen PTAR terhadap pembangunan sumber daya manusia di wilayah sekitar tambang.
"PTAR merekrut karyawan dari warga sekitar tambang yang sebelumnya bekerja sebagai petani, nelayan, penderes karet. PTAR melatih dan mendidik mereka sehingga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar tambang. Saat ini 76% dari total karyawan PTAR adalah warga setempat. Selain itu inklusivitas dan kesetaraan gender juga mendapat perhatian dari manajemen PTAR dengan pencapaian 23% tenaga kerja perempuan. PTAR juga berfokus pada pengetahuan dan ketrampilan karyawan dengan memberikan pelatihan tentang keselamatan kerja, kebijakan anti-diskriminasi dan hak asasi manusia," ujar Hari Ananto.
Pengakuan Hari Ananto diperkuat oleh Arsjad. "Mungkin realistis ya, kalau dulu mungkin awal awal produksi sumber daya manusia di sekitar tambang tidak terlalu banyak yang capable untuk bisa bergabung. Kalaupun mereka gabung, biasanya hanya di bagian-bagian support atau di bagian lapangan teknisi. Driver, security gitu kemungkinan. Dan nggak butuh waktu lama, sekitar 13 tahun ini ya itu totalnya udah mulai berubah dan banyak yang ke arah yang lebih bagus lagi dengan banyak yang sekolah atau ikutin pendidikan yang bisa dipakai, skill yang bukan dari tambang." papar Arsjad.
"Dan juga talent-talent yang punya talenta itu juga didukung Agincourt saat ini. Karena perusahaan sendiri punya program untuk menjaring siswa-siswa berbakat untuk memberikan beasiswa untuk melanjutkan sekolah." tambah Arsjad.
PTAR telah melakukan kontribusi yang luar biasa pada pembangunan masyarakat di desa sekitar tambang. Public contributions PTAR meliputi berbagai bidang seperti Program pemberdayaan masyarakat melalui konservasi, pemantauan kualitas air, konservasi keanekaragaman hayati, dan layanan kesehatan.
Dikutip dari situs resmi PTAR, sejak Juli 2025, PTAR telah menggelontorkan dana sebesar Rp5,97 miliar untuk mendukung pendidikan 569 siswa warga setempat. PTAR meluncurkan Program Beasiswa Martabe Prestasi 2025 dan berhasil mengantarkan para siswa untuk menembus universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Politeknik Astra.
"Bapak Ibu, terkait dengan public contributions, community development and power plant ini menjadi satu langkah strategis juga dan ada beberapa program yang kita lakukan. Mungkin saya langsung tunjukkan saja hal-hal yang sudah kami lakukan ya. Ini yang pertama adalah environmental and energy policy. Ini menjadi salah satu payung bagaimana kami beroperasi. Kemudian juga ada biodiversity policy, ada juga safety and health policy dan ada juga policy-policy yang lainnya," tukas Hari Ananto pada forum yang dihadiri ratusan praktisi tambang dan lingkungan itu.
Sustainability and Risk Assurance Leader PricewaterhouseCoopers Indonesia (PWC), Yuliana Sudjono yang hadir juga pada forum MGEI itu sependapat dengan Hari Ananto. Yuliana menambahkan bahwa korporasi yang meng-"embed"-kan prinsip ESG pada bisnisnya, akan mendapatkan kepercayaan publik dan investor.
"Kalau saya boleh menambahkan, korporasi yang meng-embed-kan prinsip ESG pada bisnis mereka akan mendapatkan kepercayaan publik dan investor yang jauh lebih baik dibanding perusahaan yang tidak menerapkan prinsip ESG." tegas Yuliana.
Pendidikan Sejak Dini
PTAR juga memang perhatian yang cukup besar pada Indeks Pembangunan Manusia di wilayah Batang Toru dan Tapanuli Selatan. PTAR membangun dan mengelola Sopo Daganak, sebuah pusat kreativitas bagi anak-anak dan remaja dan telah menjadi favorit generasi muda untuk mengisi kegiatan seusai jam sekolah.
Pengasuh Sanggar Seni Sopo Daganak dan Ketua Perkumpulan Sahabat Cerdas (Persada) Dastri Sejoli Dahyuni, mengaku bahwa masa kanak-kanaknya tidak seberuntung anak-anak yang sekarang diasuhnya di Sopo Daganak.
Kala itu Dastri dan teman-temannya hanya bisa bermain ala kadarnya selepas sekolah, sementara anak-anak di kecamatan Batangtoru kini bisa menuangkan kreativitas mereka di sebuah gelanggang remaja yang dibangun dengan konsep amphitheater oleh PTAR.
Dastri dan 8 rekannya kini menikmati keberadaan Sopo Daganak dalam bentuk lain, yaitu pengabdian. Mereka memiliki jadwal yang padat untuk seluruh kegiatan di Sopo Daganak, seluruh hari dalam satu minggu penuh dengan kegiatan kreatif. Hari Senin dan Selasa diawali dengan nasyid, Rabu dan Kamis untuk pelatihan gondang tradisional, Jumat, Sabtu dan Minggu penuh diisi dengan pelajaran tari tradisional dan musik.
“Tahun ini kami mengasuh sekitar 114 anak dari lingkungan sekitar dan masih banyak anak-anak yang belum terdaftar karena kapasitas kami sudah penuh. Peminatnya sangat banyak bahkan ada orangtua yang protes kepada kami mengapa anaknya tidak diterima di Sopo Daganak, padahal penyebabnya adalah orangtua yang terlambat mendaftar,” tutur Dastri sambil tersenyum.
“Dulu sebelum ada Sopo Daganak, anak-anak generasi sebelumnya tidak tahu harus ke mana selepas jam sekolah, termasuk saya. Sekarang mereka senang sekali bila selesai sekolah karena tidak sabar untuk segera bermain dan berlatih di Sopo Daganak,” terang Dastri lebih lanjut.
Pada tahun 2024, Dastri dan sejawatnya turut mengantar anak asuh mereka berlaga di Festival Lomba Tari Kreasi Tingkat Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Tiga 3 Penghargaan mereka raih pada festival bergengsi tersebut.
Kesehatan Nomor Satu
PTAR turut andil meningkatkan fasilitas kesehatan di Puskesmas Batang Toru sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa perlu menempuh perjalanan menuju kota kabupaten.
Kemudahan menemukan layanan dokter spesialis yang baik, murah dan terjangkau baik secara jarak maupun biaya dirasakan betul oleh ibu Rumondang Pulungan, warga kelurahan Hutaraja, penderita miom yang enam tahun lalu harus bolak balik ke Padang Sidempuan untuk berobat dan melakukan USG kandungan.
Rumondang bercerita kala itu ia mesti menyewa mobil seharga Rp500.000 atau meminta tolong kerabat yang memiliki mobil untuk mengantarnya ke Padang Sidempuan. Sejauh 40 kilometer dari rumahnya. Ia sudah tidak kuat lagi membonceng sepeda motor atau menumpang bus umum jarak jauh.
Biaya sewa belum termasuk biaya BBM. Rumondang pun harus merogoh kantong lebih dalam bila harus membeli makan di perjalanan. Setibanya di rumah sakit di Padangsidimpuan, ia baru bisa bertemu dokter jam 6 sore, sehingga kembali ke rumah saat hari sudah malam.
Kini, Rumondang merasa terbantu dengan adanya dokter spesialis di puskesmas Batangtoru yang jaraknya hanya 20 menit dengan berkendara sepeda motor dari rumahnya. “Sekarang syukur sekali aku rasa, ada dokter dan alat USG yang dekat, hanya naik kereta (motor) sebentar, jalannya pun bagus, kita bisa ketemu dokternya jam 3 sore. Minyak (BBM) pun cukup 1 liter, sampai rumah masih sore juga,” ucap Rumondang.
"Dan sekarang, karena ada (bantuan dari) tambang, dokter spesialis dan alat USG jadi dekat. Kalau nggak ada itu tambang, mana bisalah aku USG sampai 6 kali," kata Rumondang.
Di Puskesmas Batangtoru, PTAR telah mendatangkan spesialis ginekolog, pediatri, internis serta memberikan obat-obatan gratis atas resep dokter dan donasi peralatan penunjang pelayanan dokter spesialis. Sebelum program ini, PTAR diketahui telah banyak membantu puskesmas Batangtoru dengan berbagai peralatan, obat-obatan, ambulans dan fasilitas pengolahan limbah medis.
Manager Community Development PT Agincourt Resources, Rohani Simbolon, mengatakan Program Bakti Sosial Layanan Dokter Spesialis merupakan bentuk komitmen Perusahaan di bidang kesehatan yang menjangkau desa-desa yang rentan akan akses pelayanan kesehatan masyarakat seperti rumah sakit.
"Kami berharap hasil pemeriksaan yang dilakukan pada pelayanan ini dapat ditindaklanjuti oleh Puskesmas setempat hingga tahap pemulihan dan pemantauan pengobatan, khususnya pasien-pasien yang membutuhkan pengobatan tingkat lanjut atau rujukan," tutur Rohani.
Pada tahun 2022, sebanyak 39.108 pasien telah mendapatkan pelayanan dari dokter spesialis. Program Penempatan Dokter Spesialis di Puskesmas ini bahkan menyabet Penghargaan Emas dalam Indonesian Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2022.
Selain itu, hingga tahun 2025, PT Agincourt Resources juga telah berhasil membantu 24.000 penderita katarak untuk dapat melihat indahnya dunia. Dan juga menangis bahagia. General Manager Operations Agincourt Resources, Rahmat Lubis, menyampaikan bahwa operasi katarak gratis telah menjadi agenda tahunan perusahaan sejak 2011.
PTAR juga terlibat dalam program pencegahan stunting di wilayah empat desa di Batangtoru.
“Pemerintah menyarankan bantuan minimal di angka Rp450.000 per anak asuh per bulan, sementara PTAR mengalokasikan Rp2 juta per anak asuh ditambah lagi pemeriksaan dokter secara reguler. Ini bantuan yang sungguh fantastis,” ujar Ketua Satgas Stunting Tapanuli Selatan, Abdul Latif Lubis.
Menurutnya, inisiatif PTAR dengan Program Bapak Asuh Anak Stunting akan mendukung percepatan penurunan stunting di Tapanuli Selatan. Sebab, saat ini masih ada 114 anak penderita stunting di Tapanuli Selatan. PTAR sudah membantu menangani anak gizi buruk dan stunting sejak 2016.

