Ekonomi Rusia Tetap Bertumbuh di Tengah Sanksi, Bahkan Mengarah pada ‘Overheating’. Kok Bisa?
JAKARTA, Investortrust.id - Ekonomi Rusia terus tumbuh di tengah gempuran sanksi yang diterapkan oleh negara-negara Barat, dan Moskow tampaknya akan terus melanjutkan perangnya di Ukraina.
Para ekonom memprediksi Produk Domestik Bruto (PDB) Rusia akan tumbuh antara 1 hingga 3 persen tahun depan, kendati Kremlin tetap yakin untuk terus mendanai perang.
Diberitakan, pada November 2023 Presiden Vladimir Putin telah menandatangani anggaran untuk tiga tahun ke depan, yang akan meningkatkan belanja pertahanan menjadi sekitar 30%, dua kali lipat dari 15% sebelum invasi Ukraina pada bulan Februari tahun 2022 lalu.
Pertumbuhan ekonomi Rusia terus menggelinding bahkan ketika pemimpin Eropa sedang mempertimbangkan putaran sanksi lainnya, yang ditujukan untuk memaksa Moskowmenghentikan perang di Ukraina. Rusia memang tercatat sebagai negara yang paling banyak menerima sanksi di dunia saat ini.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Barat tidak berhasil, dan masa depan keuangan Rusia tetap terlihat optimis. "Mengingat fakta bahwa anggaran Rusia telah tumbuh, itu cukup seimbang jika menimbang pendapatan dari minyak dan gas masih memungkinkan Rusia berinvestasi di dalam negeri," kata CEO Ingosstrakh Investments, Semenikhin Roman seperti dilansir Channelnewsasia.com, Sabtu (23/12/2023).
Baca Juga
Namun, Profesor Igor Yushkov di Financial University yang berada di bawah naungan Pemerintah Federasi Rusia menekankan bahwa industri minyak dan gas telah mulai mengalami penurunan, sehingga pendapatan untuk membiayai anggaran kini jauh lebih sedikit.
"Bagian dari pendapatan dari minyak dan gas sedang menurun dan akan menjadi kurang dari 30 persen. Dahulu porsinya berkisar antara 40 dan 50 persen selama bertahun-tahun," kata Yushkov, yang juga merupakan pakar utama di National Energy Security Fund di Rusia.
Untuk mengatasi sanksi, Rusia telah mencoba untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok Barat dan beralih ke sektor-sektor dalam negeri. Sektor yang dipenuhi secara swasembada di antaranya adalah sektor fashion dan ritel local. Sejumlah industry fashion dan ritel lokal dinilai berhasil mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh sejumlah brand asing yang menarik diri, sebagai bentuk protes atas invasi Rusia di Ukraina.
Baca Juga
Pilpres Rusia Akan Digelar pada 17 Maret, Putin Belum Umumkan Pencalonan
Dikabarkan saat ini sebesar 85% ruang komersil di Rusia telah diisi oleh sejumlah brand lokal. Sebelumnya porsi sebesar itu merupakan ‘makanan’ bagi peritel asing.
Perusahaan-perusahaan lokal pengganti brand internasional terus bertumbuh dari sisi produksi, karena konsumen Rusia sendiri harus mencari pengganti produk-produk peritel asing yang menghilang.
"Sekarang pasar mode di Rusia sedang tumbuh. Konsumen siap untuk merek-merek dan harga baru," kata Sergey Fedunev, manajer merek lokal Daniil Antsiferov.
Sementara itu data penjualan produsen pakaian Rusia menunjukkan peningkatan 19% dalam tujuh bulan pertama tahun 2023, yang digambarkan sebagai tren yang akan terus berlanjut.
Survei oleh lembaga penelitian independen NAFI menunjukkan bahwa 85% warga Rusia kini menginginkan munculnya merek lokal yang baru dan kuat.
Baca Juga
"Pasar massal tumbuh dengan sangat baik, perusahaan-perusahaan yang memiliki jaringan, memahami cara memproduksi, mengatur proses bisnis, dan berhasil menciptakan merek baru yang sangat kuat," kata Aleksey Bazhenov, pendiri Be In Open fashion institute.
Banyak produsen pakaian Rusia mengatakan bahwa mereka kini telah beralih dari pemasok barat ke sejumlah pemasok yang memiliki hubungan lebih baik dengan Rusia. Mereka juga menggunakan cara-cara alternatif untuk mempromosikan diri, termasuk kerja sama dengan para influencer lokal, menyusul banyaknya platform media sosial Barat yang diblokir di Rusia.
Namun di sisi lain ada persoalan baru yang dihadapi pelaku industri lokal di tengah perang dengan Ukraina, utamanya kurangnya sumber daya manusia. Peningkatanindustri domestik memang dianggap sebagai titik terang bagi ekonomi Rusia, namun sejumlah perusahaan menghadapi minimnya tenaga kerja menyusul ribuan orang yang telah dikirim ke garis depan di Ukraina.
"Kami menghadapi beberapa masalah dengan logistik, bahan, spesialis, dll. Tapi ini bisnis, itu adalah proses normal dalam bisnis," kataFedunev.
Survei terbaru oleh situs web rekrutmen Superjob memaparkan bahwa 85% perusahaan Rusia mengalami kekurangan tenaga kerja. Restoran, khususnya, mereka terus-menerus berjuang untuk mendapatkan pekerja. Presiden Federasi Restoran dan Hotel Rusia Igor Bukharov mengatakan, industri hotel dan restoran kekurangan tenaga kerja setidaknya 25%.
Baca Juga
Kolonel Pasukan Khusus Ukraina Diberitakan Jadi Pelaku Ledakan Nord Stream
"Terdapat kekurangan staf berkualifikasi. Jumlah sekolah yang mendidik koki berkualifikasi tidak cukup. Kami kekurangan spesialis yang berkualifikasi. Bahkan untuk staf tak berpengalaman," kata Kirill Martynenko, mitra pengelola di restoran Torro Grill.
Kekurangan juga terjadi pada perusahaan armada taksi dan truk logistik, staf medis, hingga insinyur manufaktur, dan IT. Tak mengherankan jika sejumlah analis mengatakan bahwa Rusia sedang beralih dari menjadi tempat dengan tenaga kerja murah dan berlimpah menjadi pasar tenaga kerja mahal.
"Defisit ini tidak akan hilang dengan sendirinya," kata Elena Kuznetsova, mitra di firma konsultan internasional Yakov and Partners. "Ekonomi menuntut lebih banyak pekerjaan, pekerjaan yang berkualifikasi, karena manufaktur sedang berkembang, ada berbagai proyek substitusi impor, hingga proyek transportasi."
Pemerintah Rusia sendiri mengakui bahwa kekurangan tenaga kerja menjadi masalah nyata dalam upaya mendorong peningkatan produktivitas. Inflasi juga muncul sebagai masalah di negara ini. Warga Rusia mengatakan bahwa mereka melihat peningkatan signifikan di harga kebutuhan pokok, termasuk makanan, obat-obatan, dan pakaian.
"Pada jangka pendek dan menengah, kita berkinerja baikdari segi ekonomi. Di sisi lain, kita memiliki aspek negatif yang terkait overheating ekonomi," kata direktur strategi di perusahaan investasi Finam, Yaroslav Kabakov. "Sebenarnya, seperti di tempat lain, pertumbuhan upah yang berlebihan, termasuk segmen yang terkait dengan kompleks militer-industri, operasi militer khusus, menyebabkan peningkatan inflasi konsumen."
Sekadar informasi, inflasi Rusia diperkirakan akan turun menjadi sekitar 7% pada akhir tahun ini dibandingkan nyaris 12% pada tahun 2022. Inflasi diperkirakan akan turun lebih jauh menjadi 4% pada tahun 2024.

