Ekosistem Digital GoTo Ikut Menstimulasi Misi Pertumbuhan Ekonomi 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Ekonomi digital Indonesia diproyeksi mencapai nilai US$ 366 miliar di tahun 2030. Sektor ini diperkirakan akan tumbuh tiga hingga lima kali lipat pada 2030. Sejumlah pengamat dan ekonom optimis ekonomi digital dapat menjadi salah satu kunci utama Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid menyebut Indonesia bakal menguasai sepertiga ekonomi digital di ASEAN pada 2030 atau setara US$ 366 miliar. McKinsey dalam studinya menyebutkan bahwa Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ekonomi digital di ASEAN, menyumbang 40% dari total nilai ekonomi digital di enam negara utama ASEAN dengan target mencapai US$ 1 triliun pada 2030. Berdasarkan Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company Tahun 2023, sekitar 40% dari nilai total transaksi ekonomi digital di ASEAN pada 2023 berasal dari Indonesia. Jelas bahwa Indonesia adalah big and potential market.
“Digitalisasi dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi negara sekaligus mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah (UKM),” ujar Karyono Wibowo, Pengamat dari Indonesia Public Institute (IPI).
Besarnya peranan ekonomi digital tersebut mendorong pemerintah untuk menekankan tiga pilar utama transformasi digital. Pertama, infrastruktur digital, yakni pemerataan akses dan peningkatan kecepatan internet di seluruh Indonesia. Kedua, talenta digital dengan target 9 juta talenta digital pada 2030 melalui program Digital Talent Scholarship. Ketiga, tata kelola ekosistem digital, dengan menciptakan ruang digital yang aman dan berkelanjutan.
Sementara itu, Presiden Prabowo dalam beberapa kali kesempatan terus menegaskan pentingnya investasi yang efisien di berbagai sektor. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8%, Presiden Prabowo menargetkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia mencapai level 4, dibandingkan posisi saat ini level 6. Semakin rendah nilai koefisien ICOR maka semakin efisien investasi yang dikeluarkan. ICOR dapat diibaratkan sebuah mesin, level ICOR yang rendah dapat dianalogikan sebagai mesin kendaraan yang irit bahan bakar namun dapat berjalan cepat.
Riset terbaru menunjukkan investasi di sektor ekonomi digital memiliki nilai koefisien ICOR 4.3, lebih rendah dari skor ICOR nasional 6.6. Ini artinya investasi di sektor ekonomi digital terbukti efisien. Ekonomi digital berkontribusi sebesar 8,4% terhadap PDB nasional di tahun 2024. Ekonomi digital telah memberikan dampak langsung sebanyak 1,89 kali terhadap sektor lainnya.
Kontribusi GoTo
Di usia 80 tahun Kemerdekaan ini, Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% untuk menuju Indonesia Emas 2045. Untuk mencapainya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, pemain terbesar di sektor ekonomi digital yang juga merupakan karya anak bangsa menawarkan solusi nyata.
GoTo telah mencatatkan kontribusi ekonomi dengan efek pengganda yang signifikan ke berbagai sektor. Perusahaan lokal dengan ekosistem digital terbesar di Indonesia tersebut menyumbang Rp 480,72 triliun nilai ekonomi atau berkontribusi 2,2% terhadap PDB Indonesia di 2024.
Sejalan dengan efek pengganda ekonomi digital, ekosistem digital GoTo telah menstimulasi pertumbuhan di berbagai sektor. Di tahun 2024 GoTo telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi 2,03 juta masyarakat atau berkontribusi 1,3% dalam lapangan kerja Indonesia.
Akademisi dan ekonom Rhenald Kasali menyebutkan bahwa GOTO memiliki empat poin penting bagi ekonomi Indonesia. Pertama, GoTo bagian dari denyut nadi ekonomi rakyat, karena menyangkut kehidupan lebih dari 200 juta orang, bahkan ada yang menyebut hingga 270 juta. “Ini bukan sekadar perusahaan, ini bagian dari ekosistem nasional,” kata Rhenald.
GoTo telah membangun ekosistem digital yang luas, mencakup jutaan pelaku ekonomi. Saat ini terdaftar 3,1 juta driver ojek online dan lebih dari 20 juta UMKM yang bergantung pada layanan ini.
Jutaan masyarakat yang tidak terserap oleh pasar kerja formal kini dapat memperoleh pendapatan dan menyambung hidup keluarga. Dengan bergabung ke dalam ekosistem digital, mitra pengemudi layanan ojek online bisa mengantongi hingga Rp 5 juta setiap bulannya, sementara mitra UMKM dapat memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp 10,5 juta setiap bulan. Nilai itu jauh lebih tinggi dibandingkan upah minimum.
Krisis Talenta Digital
Untuk menjadi kekuatan ekonomi digital di kawasan, menurut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dibutuhkan 12 juta talenta digital, sementara perguruan tinggi di Indonesia hanya mampu menyediakan 9 juta talenta digital sehingga masih kekurangan 3 juta pada 2030.
GoTo menempatkan pengembangan talenta digital lokal sebagai salah satu misi utama perseroan. GoTo berkomitmen mengembangkan jutaan talenta digital tanah air dengan keahlian tinggi – termasuk 1,2 juta talenta AI – di tahun 2030. Saat ini sebanyak 3.527 talenta digital tergabung dalam ekosistem GoTo, bersama-sama membangun ekonomi digital Indonesia. Misi ini telah menarik ratusan talenta tanah air yang selesai mengenyam pendidikan di luar negeri untuk ikut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Sejak 2018, GoTo telah mengembangkan talenta digital melalui berbagai inisiatif seperti program magang terstruktur untuk pengembangan AI Large Language Model (LLM) bernama Sahabat-AI, GoTo Engineering Bootcamp, dan APM Bootcamp yang telah mengantarkan ratusan lulusan universitas berkarya mengembangkan ekosistem digital GoTo. Sepuluh persen dari talenta digital yang dilatih di bootcamp bahkan kini sudah menduduki posisi kepemimpinan senior.
Sementara itu, Presiden Prabowo dalam Astacita menekankan pentingnya pembangunan SDM, sains, dan teknologi. Digitalisasi adalah kunci untuk menciptakan pemerintahan yang transparan, efisien, dan inklusif. GoTo—dengan ekosistem, rekam jejak, dan komitmennya, berada di jalur yang sama dengan pemerintah.
Oleh karena itu, pemerintah diharapkan menggelar karpet merah untuk penguatan sektor digital dalam negeri, baik melalui insentif, kemudahan investasi, dan dukungan regulasi untuk akselerator ekonomi digital. Bukan hanya demi GoTo, tapi demi 8% pertumbuhan yang jadi misi bersama dan mengantarkan bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045. Dengan sinergi negara dan swasta, Indonesia tidak hanya akan menjadi raksasa ekonomi digital Asia Tenggara, tetapi juga bangsa yang benar-benar berdaulat secara ekonomi, teknologi, dan sosial. ***

