Bagikan

Hilirisasi, Pilar Penting Transformasi Ekonomi

Poin Penting

Hilirisasi meningkatkan nilai tambah SDA melalui pembangunan smelter dan industrialisasi, terbukti dari lonjakan ekspor produk olahan nikel hingga puluhan kali lipat.
Pemerintah menargetkan investasi besar hilirisasi lintas sektor senilai ratusan miliar dolar untuk menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, dan kemandirian industri nasional.
Tantangan utama hilirisasi mencakup kebutuhan investasi besar, ketergantungan energi fosil, serta perlunya diversifikasi ke sektor non-SDA agar berkelanjutan.

JAKARTA, investortrust.id- “Bagai emas yang belum ditempa, takkan bersinar.” Filosofi ini relevan dengan arah transformasi ekonomi Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah, tetapi belum optimal.

Berpuluh tahun, Indonesia menjual bahan mentah tambang ke luar negeri, hanya untuk membeli kembali produk olahannya dengan harga berkali lipat. Untuk itu, hilirisasi menjadi mutlak, bukan hanya soal nilai tambah, tetapi martabat industri nasional.

Transformasi ekonomi Indonesia, terutama sejak satu dekade terakhir, mulai bergeser dari sekadar eksplorasi ke arah industrialisasi berbasis sumber daya alam (SDA). Hilirisasi pertambangan berarti mengolah hasil tambang mentah, seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga timah menjadi produk setengah jadi atau jadi sebelum diekspor, sehingga nilai ekonominya meningkat dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya hilirisasi bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak geopolitik global. “Indonesia perlu memetakan keunggulan komparatif yang dimiliki dan mengoptimalkan kekayaan SDA,” kata Bahlil dalam acara Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 Lemhannas, belum lama ini.

Pemerintah mulai agresif menjalankan kebijakan larangan ekspor mineral mentah sejak 2020. Nikel menjadi komoditas pertama yang terkena kebijakan ini, disusul bauksit dan tembaga. Tujuannya, membangun industri pengolahan di dalam negeri.  Seiring dengan itu, investasi besar mengalir ke sektor pengolahan dan pemurnian logam (smelter), baik dari investor domestik maupun asing, khususnya dari Tiongkok.

Menurut data Kementerian ESDM, hingga akhir 2024 terdapat 55 smelter yang telah beroperasi di Indonesia, meliputi 43 smelter nikel, enam bauksit, dua tembaga, tiga besi, dan satu smelter mangan. Konsentrasi pembangunan smelter terbesar ada di Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Barat, yang kini tumbuh menjadi pusat industri berbasis mineral.

Dampaknya mulai terlihat dalam angka ekspor. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor besi dan baja—hasil olahan nikel—melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, dari hanya sekitar US$ 8 miliar pada 2019, naik menjadi US$ 10,9 miliar pada 2020, dan melonjak menjadi US$ 29,2 miliar pada 2023.

Data lain menyebutkan, pada 2014 ekspor nikel mentah masih US$ 1,1 miliar, sementara pada 2023 ekspor feronikel dan stainless steel (produk olahan nikel) Indonesia mencapai US$ 33,8 miliar, lonjakan lebih 30 kali lipat.

Grafis neraca perdagangan mineral. ()
Source: DataTrust

Sementara itu, pemerintah telah menyepakati 21 proyek hilirisasi tahap pertama dengan total investasi mencapai US$ 40 miliar dari total target US$ 618 miliar. Percepatan hilirisasi industri nasional diharapkan meningkatkan ketahanan energi, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek ini mencakup berbagai sektor strategis, termasuk minyak dan gas, pertambangan, pertanian, hingga kelautan.

Diversifikasi Hilirisasi

Presiden Prabowo Subianto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas berfoto bersama dengan karyawan Smelter PT Freeport Indonesia usai peresmian Pabrik Pemurnian Logam Mulia di Gresik, Jawa Timur, Senin, (17/3/2025). Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev (Laily Rachev)
Source: BPMI Setpres

Namun, hilirisasi bukan jalan mulus tanpa hambatan. Tantangan paling nyata adalah kebutuhan investasi yang besar. Membangun satu smelter bisa menelan miliaran dolar AS, belum termasuk biaya infrastruktur pendukung dan logistik.

Tantangan berikutnya kebutuhan energi. Banyak smelter masih mengandalkan PLTU batu bara, yang menimbulkan ironi. Smelter bahan tambang justru diolah dengan energi fosil. Masalah infrastruktur dasar dan regulasi yang belum stabil juga menjadi penghambat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menyebutkan program hilirisasi yang diusung pemerintah sudah sangat baik. Meski demikian, Shinta Kamdani menilai terdapat sejumlah tantangan dari segi pelaksanaan yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Shinta berharap pemerintah tidak hanya fokus pada SDA dalam  program hilirisasi, tapi harus didiversifikasi ke sektor-sektor lain.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pekerjaan rumah (PR) terbesar hilirisasi sektor pertambangan di Indonesia adalah menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi. Dia memandang, tidak cukup jika hilirisasi terbatas hanya sampai smelter tapi harus diikuti industrialisasi masif. 

Namun, di balik tantangan tersebut, terbentang peluang besar. Permintaan global terhadap baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) juga menjadi angin segar bagi hilirisasi nikel. Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok EV global berbekal kombinasi nikel, kobalt, dan tembaga.

Grafis pembangunan smelter di Indonesia ()
Source: DataTrust

Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi bijih nikel Indonesia pada 2024 mencapai 240 juta ton, naik dari 2023 sebesar 193,5 juta ton. Indonesia menguasai 43% pasar logam nikel dunia, tertinggi di dunia. Sementara bauksit sebagai bahan baku utama aluminium, memiliki cadangan 3,2 miliar ton. Adapun tembaga, dengan cadangan besar di Papua dan Nusa Tenggara, juga siap diolah secara mandiri melalui proyek besar.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menekankan pentingnya investasi yang tidak berhenti hanya pada tahap pembangunan smelter, tetapi berlanjut hingga tahap akhir, seperti pembuatan baterai atau bahkan kendaraan listrik.

Selain nilai tambah ekspor, hilirisasi membuka peluang besar untuk transfer teknologi, pengembangan industri pendukung, dan penciptaan lapangan kerja bernilai tinggi. Pemerintah menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk industri pengolahan bisa mencapai 60% dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini akan mendorong tumbuhnya industri lokal, seperti manufaktur mesin, peralatan listrik, logistik, hingga kimia industri.

Upaya pembangunan kawasan industri terpadu juga terus dikebut. Di Morowali, Weda Bay, hingga Batulicin, kawasan-kawasan industri baru bermunculan, dilengkapi pelabuhan, pembangkit, dan infrastruktur modern.

Jika dikelola dengan baik dan visi jangka panjang, hilirisasi bisa menjadi lokomotif baru bagi ekonomi Indonesia. Hilirisasi menjadi pilar penting transformasi ekonomi. Bukan hanya untuk mengejar pertumbuhan, tetapi membentuk struktur industri nasional yang kokoh, mandiri, dan berdaya saing global.

Seperti logam yang ditempa dalam bara panas, proses ini tak mudah. Namun, bila dijalani dengan konsistensi dan keberanian, hasilnya akan mengilap. Indonesia tak lagi sekadar penjual tanah, melainkan pembentuk nilai tambah dunia.

Di ujung jalan, hilirisasi bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan langkah strategis untuk mempertegas kedaulatan atas sumber daya alam.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024