Diversifikasi Nikel, Pilar Masa Depan Harum Energy (HRUM)
JAKARTA, investortrust.id – Beberapa sekuritas tetap mempertahankan beli saham emiten batu bara dan nikel, meski tahun ini harga emas hitam itu diprediksi masih menurun. Rekomendasi beli juga diarahkan untuk PT Harum Energy Tbk (HRUM).
Diversifikasi ke berbagai produk turunan nikel diyakini akan menopang pertumbuhan margin dan menciptakan stabilitas laba ke depan bagi Harum Energy. Pertumbuhan laba positif diperkirakan terjadi pada 2025.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mengatakan, secara volume, mengindikasikan pertumbuhan volume produksi Harum Energy relatif stabil tahun ini. Sedangkan segmen bisnis nikel cenderung naik setelah perseroan melalui anak usaha PT Tanito Harum Nickel (THC) mengakuisisi 50,99% saham PT Infei Metal Industri (IMI) dari Central Halmahera Holding Pte Ltd. Hal ini menjadikan Harum sebagai pemegang 100% saham smelter nikel tersebut.
Tentang harga jual batu bara, Erindra memprediksi pergerakan harga akan dipengaruhi peningkatan suplai di pasar global dengan perkiraan surplus mencapai 5-10 ton tahun ini. Hal ini kemungkinan bisa memicu penurunan harga jual batu bara thermal menjadi sektiar US$ 120 per ton, dibandingkan perkriaan tahun lalu US$ 175 per ton.
Sedangkan harga jual nikel London Metal Exchange (LME) diperkirakan turun menjadi US$ 19 ribu per ton dan harga jual nickel pig iron (NPI) diprediksi tetap stabil US$ 14,5 ribu per ton tahun ini.
Kondisi tersebut diperkirakan memicu laba besih perseroan melanjutkan kontraksi tahun ini setelah kontraksi terjadi sejak tahun lalu. Pembalikan laba bersih perseroan diharapkan mulai terjadi tahun depan.
Sedangkan upaya Harum untuk melanjutkan diversifikasi ke produk nikel lainnya, seperti NPI, HG Ni matte, dan MHP (Mixed Hidroxide Precipitate) diharapkan menopang pertumbuhan margin dan menciptakan stabilitas laba ke depan.
Pelemahan harga batu bara dan nikel pada tahun ini akan membuat kinerja keuangan Harum terkontraksi tahun ini. Proyeksi tersebut membuat BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target saham HRUM dari Rp 2.200 menjadi Rp 1.700. Target ini mengacu pada harga batu bara sebesar US$ 90 per ton dan harga nikel US$ 20 ribu per ton. Namun, sekuritas ini tetap merekomendasikan beli.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam riset yang diterbitkan akhir tahun lalu menyatakan bahwa Harum Energy (HRUM) akan terus melanjutkan peningkatan investasi di bisnis nikel, seperti upaya perseroan untuk menambah kepemilikan saham di bisnis ini dan rencana investasi HPAL dengan target produksi 67 ribu ton per tahun. High pressure acid leaching (HPAL) adalah pengolahan dan pemurnian nikel dan cobalt dengan melarutkannya dalam wadah bertekanan atau suhu tinggi.
Mandiri Sekuritas memperkirakan, sepanjang 2024, kinerja keuangan perseroan cenderung lebih rendah dari perkiraan semula. Hal ini dipengaruhi oleh perkiraan harga jual nikel yang rendah bersamaan dengan harga batu bara yang cenderung terkoreksi.
Mandiri Sekuritas sendiri meyakini prospek saham Harum Energy (HRUM) tetap menggiurkan, mengingat segmen bisnis nikel yang potensial menjadi tumpuan ke depan.
Selama sembilan bulan pertama 2023 (9M23), Harum Energy melaporkan laba bersih perseroan turun 55% dari US$ 237,4 juta menjadi US$ 107,2 juta. Sedangkan pendapatan melemah dari US$ 7002,8 juta menjadi US$ 642,4 juta.
Seperti sudah diperkirakan, pemicu utama penurunan laba adalah anjloknya rata-rata harga jual batu bara perseroan sebanyak 32% dari rata-rata US$ 177,7 per ton menjadi US$ 120,1 per ton. Sedangkan volume penjualan naik pesat dari 3,9 juta ton menjadi 5,3 juta ton.
“Realisasi laba bersih HRUM tersebut di bawah estimasi kami, karena adanya one off adjustment investasi di PT IMI senilai US$ 69,9 juta. Hal ini memicu perseroan mencatatkan rugi bersih US$ 43,9 juta pada kuartal III 2023,” tulis riset Mandiri Sekuritas.
Atas dasar itu, Mandiri Sekuritas merevisi turun target laba bersih perseroan tahun ini dari US$ 306 juta menjadi US$ 173 juta. Begitu juga dengan perkiraan pendapatan direvisi turun dari US$ 669 juta menjadi US$ 615 juta.
Revisi turun target laba bersih mendorong Mandiri Sekuritas memangkas turun target saham HRUM menjadi Rp 2.000. Saham HRUM tetap dipertahankan beli.
Tentang akuisisi Harum terhadap PT IMI, Mandiri Sekuritas menyebut perseroan diperkirakan menggelontorkan dana senilai US$ 207,6 juta atau setara setara dengan investasi US$ 7,4 ribu per ton. Mandiri Sekuritas menilai harga akuisisi tersebut sangat masuk akal, dibandingkan dengan rata-rata pembangunan smelter berteknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang berkisar US$ 10 ribu per ton.
“Kami menilai bahwa akuisisi IMI merupakan bagian dari strategi jangka panjang Harum untuk peningkatan investasi di sektor nikel,” tulisnya dalam riset.
Pendanaan ekspansi diambil dari keuntungan segmen batu bara Harum. Harus kemungkinan kembali ekspansi dengan pemrosesan HPAL untuk memproduksi baterai kendaraan listrik. Apalagi segmen tersebut menunjukkan prospek cerah dan margin lebih tinggi.
IMI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan pemurnian nikel. IMI memiliki dan mengoperasikan smelter nikel di Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara. Perseroan mengoperasikan smelter dengan kapasitas 28 ribu ton nikel dan beroperasi komersial sejak April 2022.
Sepanjang tahun 2022, IMI berhasil membukukan pendapatan senilai US$ 427,30 juta dan laba bersih mencapai US$ 59,02 juta.
REKOMENDASI
BRI Danasekuritas
Rekomendasi: Beli
Target harga: Rp 1.700
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi: Beli
Target harga: Rp 2.000
Prospek Batu Bara
Sementara itu, CGS CIMB Sekuritas dalam riset terbarunya menyatakan, harga batu bara Newcastle 6,300 kkal/kg telah turun dari US$ 300/ton pada Desember 2022 menjadi US$ 146/ton pada Desember 2023.
Koreksi harga disebabkan oleh berbagai hal. Pertama, musim dingin yang tidak esktrem dan tingginya tingkat penyimpanan gas di Uni Eropa. Kedua, produksi batu bara yang agresif di China. Ketiga, peralihan dari batu bara ke gas di sebagian besar wilayah Uni Eropa. Peralihan dari batu bara ke gas telah terjadi setelah harga patokan gas utama turun di bawah harga sebelum perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022.
Dengan tiga faktor tersebut yang masih mungkin terjadi dalam 3-6 bulan ke depan, CGS CIMB memprediksi harga batu bara akan melanjutkan pelemahannya pasca lonjakan harga karena perang. CGS memperkirakan harga batu bara masing-masing sebesar US$ 100/ton pada 2024 dan turun lagi ke US$ 75/ton pada 2025. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga rata-rata batu bara pada 2023 sebesar US$ 175 per ton.
Beberapa faktor yang menurut CGS mendorong penurunan harga batu bara ke depan adalah berkurangnya peningkatan permintaan musiman setelah musim dingin. Restocking season pada musim panas yang akan datang (Maret dan April) secara historis kurang menjadi katalis dibandingkan dengan restocking season pada musim dingin.
Faktor lain adalah kemungkinan perusahaan utilitas di China menurunkan kontrak pembelian batu bara mereka pada tahun ini. Mereka hanya diwajibkan untuk menempatkan minimal 80% dari kontrak pembelian batu bara mereka, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2023 yang sebesar 105%.
Penyebab berikutnya adalah peralihan dari batu bara ke gas setelah meredanya persaingan dan turunnya harga LNG di pasar Uni Eropadan Asia.
Andalkan Nikel
Berdiri pada 1995, PT Harum Energy Tbk adalah induk perusahaan dengan portofolio usaha di bidang pertambangan batu bara dan mineral, perdagangan dan jasa, kegiatan logistik, serta pengolahan yang berlokasi di Kalimantan Timur dan Maluku Utara, Indonesia.
Awalnya perusahaan menyandang nama PT Asia Antrasit, dan berubah menjadi PT Harum Energy pada 2007. Perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 6 Oktober 2010, dengan kode perdagangan saham HRUM.
Keunggulan perseroan terletak pada rantai produksi yang terintegrasi secara vertikal. Hal ini juga menjadi salah satu aspek efisiensi operasional yang membuat perseroan mampu berkembang dan bertahan menghadapi siklus pertambangan batu bara di pasar domestik dan mancanegara. Produk baru bara Harum telah menembus pasar Tiongkok, Thailand, Bangladesh, Korea Selatan, India, Pakistan, dan Filipina.
Perseroan juga terus mengembangkan usaha di sektor penambangan dan pengolahan bijih nikel yang diharapkan dapat berkontribusi dalam beberapa tahun ke depan.
Pada tanggal 17 Oktober 2023, Harum Energy memberikan pendanaan kepada entitas anak perseroan sebesar US$ 300 juta untuk membiayai investasi PT Blue Sparking Energy (BSE), perusahaan bidang pengolahan dan pemurnian nikel.
BSE mengembangkan proyek high-pressure acid leaching (HPAL) yang berlokasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park di Kabupaten Halmahera Tengah. Proyek tersebut dirancang untuk memproduksi nickel-cobalt hydroxide intermediate product (MHP – Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kapasitas terpasang tahunan sekitar 67.000 ton (±10%) setara nikel dan sekitar 7.500 ton (±10%) kobalt, termasuk dengan fasilitas dan infrastruktur pendukungnya.***

