Keajaiban ‘Ilmu Kudu’ Anton Hermawan
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Sekitar 30 tahun silam, Anton Hermawan tak pernah membayangkan bakal menggeluti karier sebagai bankir, apalagi menjadi chief executive officer (CEO) sebuah bank. Maklum, Anton sama sekali tak punya latar belakang pendidikan perbankan atau ekonomi.
Anton adalah penyandang Sarjana Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), yang tentu saja tak ada hubungannya sama sekali dengan dunia perbankan. “Di bangku SMA pun, saya belum pernah ketemu pelajaran debit-kredit (akuntansi) karena saya mengambil jurusan fisika,” tutur Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk itu kepada wartawan investortrust.id, Taufiq Al Hakim, Abdul Aziz, dan Dicki Antariksa di Jakarta, baru-baru ini.
Tapi jalan hidup berkata lain. Entah mengapa, Anton malah nyemplung ke bank. Ia seolah dituntun untuk terus menggeluti dunia perbankan, setahap demi setahap. Tak terasa, sudah hampir tiga dekade ia berkarier sebagai bankir.
Sebelum menakhodai Krom Bank, Anton berkarier di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Permata Tbk, PT Bank Sinarmas Tbk, PT CIMB Niaga Tbk, dan PT Bank KEB Hana Indonesia.
Sulit di awal? Sudah pasti. Anton bahkan sempat mengalami stres. Namun, berkat ilmu kudu (harus), ia berhasil melaluinya. “Zaman dulu kan tidak ada istilah tidak bisa. Nggak ada alasan belum belajar atau tidak punya latar belakang ilmu di situ. Tidak ada alasan, pokoknya harus bisa, kudu bisa,” ujar Anton.
Ilmu kudu terus menemani Anton Hermawan sepanjang kariernya, hingga kini. Salah satu pengalaman yang tak bisa dilupakan Anton adalah ketika ia diminta memberikan training sistem teknologi informasi (TI) yang baru saat memulai karier di bank pertamanya.
Yang diberi pelatihan bukan karyawan baru, melainkan para teller dan customer service yang sudah menangani aplikasi perbankan selama belasan tahun. “Bayangkan, betapa stresnya saya waktu itu. Rasanya tidak masuk akal. Tapi berhubung semuanya serba kudu, saya harus menjalankannya, dan ternyata bisa,” kata pria kelahiran 1969 tersebut.
Ilmu kudu itu pula yang kini diterapkan Anton Hermawan di Krom Bank Indonesia, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BBSI. Selain menerapkan ‘ilmu kudu bisa’, Anton menekankan pentingnya meng-update diri.
“Kalau nggak bisa meng-update diri, kita akan ketinggalan. Kita harus terus mengembangkan diri supaya up to date dan updated, sehingga kita selalu relevan dengan keadaan sekarang. Kalau tidak mau berubah, tidak mau berkembang, tidak mungkin kita bisa menyusul,” papar Anton yang memimpin Krom Bank sejak 21 Februari 2024.
Malang melintang di dunia perbankan selama hampir tiga dekade dan menempati berbagai posisi puncak tak membuat Anton jemawa. Ia percaya bahwa jalan hidup seseorang sudah ditentukan oleh Yang di Atas. Juga ada faktor keberuntungan dan kesempatan.
“Ada orang yang pintar sekali, sangat brilliant, tapi belum tentu menempati posisi puncak kalau luck dan kesempatannya tidak ada,” tegas dia.
Itu sebabnya, Anton selalu mensyukuri apa pun pencapaian yang telah diraihnya. “Jadi, jangan ngonyo, yang penting kita berusaha sebisanya aja. Apa pun yang kita lakukan, we do our best. Kalau memang jalannya sudah ditentukan, itu akan sampai ke kita juga, akan winning,” tandas dia.
Karena itu pula, Anton Hermawan punya definisi sukses sendiri. Ia tak menilai kesuksesan dari pencapaian karier dan materi secara pribadi, melainkan berdasarkan relevansi dan added value (nilai tambah) bagi orang-orang di sekitarnya.
“Kalau misalnya saya masih relevan, bisa memberikan sesuatu buat sekeliling saya, buat seluruh stakeholder, itu oke. Jadi, sukses itu bukan sesuatu yang diakui oleh diri sendiri, tapi oleh seluruh stakeholder kita,” ujar dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga memimpin Krom Bank?
Saya lulus dari Fisika ITB. Latar belakang pendidikan saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan perbankan. Jadi, pertama kali saya dapat pekerjaan di perusahaan elektronik sebagai engineer, perusahaan di Singapura. Kemudian saya bekerja di bidang engineering selama tiga tahun. Setelah itu saya ingin pindah ke Jakarta, sehingga saya harus mencari pekerjaan lain. Akhirnya saya bekerja di sebuah bank, BCA.
Jadi, sebenarnya bukan sesuatu yang direncanakan dari awal, mungkin karena emang jalan hidup saya ada di bank. Nah, saya berkarier terus di bank dari tahun 1996 sampai sekarang. Berarti sudah hampir 30 tahun.
Motivasi Anda melamar ke bank waktu itu?
Kebetulan perusahaan yang pertama menerima saya adalah bank. Waktu itu ada tiga perusahaan yang saya lamar. Satu perusahaan otomotif, yang besar sekarang. Yang kedua adalah bank. Yang ketiga itu perusahaan lokal di Bandung, di bidang teknik, mesin pendinginan. Kebetulan yang sangat cepat prosesnya itu bank. Itu sebabnya saya masuk bank.
Adaptasinya seperti apa?
Kalau saya pikirkan jalan hidup saya, sebenarnya tidak ada satu mata kuliah atau jurusan pun yang sangat spesifik terhadap suatu bidang pekerjaan. Yang diperlukan adalah bagaimana seseorang bisa beradaptasi secara cepat terhadap apa yang dibutuhkan di tempat kerja.
Contohnya saya punya satu pengalaman. Saya kan dari kecil selalu sekolah di Jurusan A1, IPA kemudian Fisika. Saya bahkan belum pernah ketemu satu kali pun dengan debit-kredit. Begitu saya masuk ke bank, pada tahun kedua saya harus pegang unit finance, pegang debit-kredit. Nah, saya mati-matian belajar.
Sekarang ada yang namanya teknologi switching. Kalau kita mau transfer uang dari bank A ke bank B, kita switching. Sekarang teknologi tersebut sudah sangat umum. Tapi dulu, saat pertama kali teknologi switching digunakan, itu dianggap teknologi yang rumit. Bahkan untuk jurnalnya pun kita mikirnya pusing juga karena melibatkan beberapa perusahaan yang berbeda, gimana caranya dari bank A bisa pindah ke bank B.
Kuncinya di belajar?
Saya terus belajar, kenapa debit-kredit, kenapa dari bank seperti itu, dari sisi nasabah seperti ini. Meskipun latar belakang pendidikannya nggak nyambung, bahkan sangat jauh, tapi kalau misalnya kita belajar, mau belajar secara cepat, saya rasa tidak ada sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan.
Zaman dulu ada istilahnya, kalau di bank saya pertama bekerja itu pakai ilmu kudu. Jadi, apa pun kudu bisa, apa pun harus bisa. Hal-hal yang sangat tidak masuk akal pun harus bisa diatasi.
Misalnya gini, di bank pertama saya bekerja, orang-orang CS (customer service) atau teller sudah menangani aplikasi perbankan selama bertahun-tahun, belasan tahun malah. Saya baru masuk ke bank itu. Dalam waktu satu bulan, saya harus belajar dan melakukan training terhadap mereka untuk sistem yang baru.
Jadi, bisa dibayangkan kan betapa stresnya saya waktu itu. Mereka sudah belasan tahun menggunakan aplikasi itu, sedangkan saya baru masuk satu bulan dan harus men-training mereka. Rasanya tidak masuk akal begitu, seperti mengajari ikan berenang. Tapi berhubung ilmu kudu, saya harus menjalankannya, dan ternyata bisa.
Mungkin itu salah satu hal yang membedakan antara generasi lama dan anak-anak sekarang (Gen Z dan milenial). Dulu, motonya harus bisa, apa pun harus bisa. Tidak ada tuh misalnya, oh saya belum tahu, saya tidak mengerti, saya tidak punya latar belakang pendidikan di situ. Pokoknya tanggal sekian Anda harus bisa.
Apa yang pertama kali Anda lakukan saat pertama bekerja di bank?
Saya menangani ATM (anjungan tunai mandiri). Waktu itu, tahun 1996, jumlah ATM kan masih sangat sedikit. Targetnya adalah melipat-gandakan jumlah ATM setiap tahun. Cuma gitu doang. Meningkatkan jumlah ATM dari 100 ke 200, 200 ke 400, dan seterusnya. Akhirnya bank tempat saya bekerja menjadi bank yang punya ATM terbanyak di Indonesia.
Saat itu, kondisi ATM masih sangat jauh dari yang sekarang. Kalau ada tiga ATM, dua pasti mati. Saya diminta untuk menurunkan downtime ATM sampai ke angka 2,5%, termasuk pengisian uang. Artinya hampir sama sekali nggak boleh down sama sekali di mana pun. Kami berhasil. Itu merupakan satu kebanggaan sih bagi kami. Jumlah ATM-nya sekian banyak, sama sekali tidak ada downtime.
Perjalanan karier Anda setelah itu?
Dari BCA, saya ke Bank Permata. Di BCA, saya berkarier selama 13,5 tahun. Sedangkan di Bank Permata sekitar 8,5 tahun. Saya pindah ke Bank Permata karena ada tantangan baru, saya pindah dari operasional ke bisnis. Saya masuk ke bisnis e-channel-nya. Kemudian dari Permata saya pindah ke Bank Sinarmas. Dari Sinarmas, saya ke CIMB Niaga, lalu ke Hana Bank, baru ke Krom.
Krom Bank didirikan di Bandung pada tahun 1957 dengan nama Bank Ekonomi Nasional NV. Pada 1976 namanya berganti menjadi Bank Pengembangan Nasional, lalu berubah menjadi Business International Bank pada 1995. Setahun setelah itu berubah nama lagi menjadi Bank Bisnis Internasional. Lalu pada 2020, Bank Bisnis Internasional melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dengan kode emiten BBSI. Pada 2021, PT FinAccel Teknologi Indonesia masuk sebagai salah satu pemegang saham PT Bank Bisnis Internasional Tbk.
Selanjutnya pada 2021 FinAccel Teknologi Indonesia menjadi pemegang saham mayoritas dan PT Bank Bisnis Internasional Tbk berganti nama menjadi PT Krom Bank Indonesia Tbk. Krom Bank pertama kali meluncurkan aplikasi bank digital Krom di Google Playstore pada 23 Oktober 2023, diikuti peluncuran di App Store pada 8 November 2023. Saya sendiri diangkat menjadi Presiden Direktur Krom Bank pada Februari 2024.
Kesimpulan Anda setelah tiga dekade menjadi bankir?
Paling utama, kita harus bisa melalui dan mengatasi tantangan apa pun. Kudu bisa. Yang kedua adalah perubahan. Kalau kita nggak bisa meng-update diri, kita akan ketinggalan. Apalagi yang seumur-seumur saya. Gimana caranya bisa tetap updated, up to date di zaman sekarang.
Kita harus terus mengembangkan diri supaya up to date dan updated. Kita harus terus relevan, harus ada relevansinya dengan keadaan sekarang. Kalau tidak mau berubah, tidak mau berkembang, bagaimana mungkin kita bisa menyusul?
Tantangannya kan makin lama makin sulit, makin berat. Nah, dengan ilmu kudu, tantangan yang muncul bisa diatasi. Selain itu, kita harus terus berkembang agar tetap relevan dengan kondisi terkini. Kalau misalnya nggak berkembang terus, kita akan stuck.
Lanskap industri perbankan ke depan akan seperti apa?
Perubahan perilaku atau yang disukai nasabah perbankan akan terus terjadi. Itu hal yang niscaya. Sekarang saja ATM bukan merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Jadi, perubahan perilaku nasabah pasti akan ada. Itu yang harus bisa diantisipasi perbankan. Bank harus berubah sesuai perubahan zaman, sesuai perubahan perilaku, perubahan kebutuhan. Itu yang akan kami antisipasi terus. Apa yang dibutuhkan nasabah akan kami penuhi.
Filosofi hidup Anda?
Ilmu kudu tadi, do thebest aja. Pokoknya, kita harus bisa melakukan apa pun. Dan harus tetap relevan.
Definisi sukses menurut Anda?
Sukses itu menjadi relevan dan memberikan nilai tambah buat sekeliling kita. Menurut saya begitu. Misalnya bisa aja saya merasa sudah sukses secara karier dan materi, tapi kalau tidak memberikan nilai tambah apa pun ke sekeliling saya, saya rasa itu bukan sukses.
Sebaliknya, kalau misalnya saya masih relevan, bisa memberikan sesuatu buat sekeliling saya, baik dari sisi bisnis maupun sosial, bisa memberikan nilai tambah kepada rekan-rekan kerja, kepada seluruh stakeholder, itu oke. Jadi, sukses itu bukan sesuatu yang diakui oleh diri sendiri, tapi diakui oleh semua stakeholder kita.
Anda sudah merasa sukses?
Saya sudah mencapai posisi yang bahkan tidak pernah saya impikan sebelumnya. Dari situ saya consider lumayan. Tapi tentu saja belum sampai ke maksimal. Setiap orang pasti punya target yang akan dicapainya. Kalau tidak, orang itu tidak akan maju-maju.
Jadi, jangan puas di satu titik, terus aja jalan. Tapi jangan ngonyo. Saya percaya, jalan hidup kita itu ada yang nentuin. Contohnya saya tidak bercita-cita menjadi Presiden Direktur, bahkan mimpi pun tidak berani untuk menjadi Presiden Direktur. Kalau bercita-cita menjadi Direktur, semua orang yang bekerja pasti punya mimpi itu. Tapi untuk menjadi seorang Presiden Direktur, itu tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Saya percaya, untuk beberapa posisi tertentu, itu terkait dengan luck (keberuntungan) dan kesempatan. Mungkin orang bisa pintar sekali, sangat brilliant, tapi belum tentu kalau tidak punya luck dan kesempatan. Intinya kita harus selalu bersyukur, apa pun yang kita dapatkan, berarti sudah diberikan dan dipercayakan kepada kita. Itu aja.
Jangan ngonyo, yang penting kita berusaha sebisanya aja. Apa pun yang kita lakukan, we do our best. Kalau memang jalannya sudah ditentukan, itu akan sampai ke kita. Akan winning.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya nggak pernah mendefinisikan saya seperti apa. Tapi saya melakukan apa yang saya ingin orang lain melakukannya. Artinya, saya akan melakukan apa yang bisa saya lakukan, dan saya harapkan orang lain lakukan. Saya tidak akan melakukan suatu hal yang saya harapkan orang lain tidak melakukannya juga. Mungkin lebih tepatnya learning by doing.
Obsesi Anda yang belum terwujud?
Dari sisi bisnis ada beberapa tahapan. Dalam jenjang karier saya, saya lebih cenderung ke melahirkan sesuatu yang baru. Katakanlah dari 0 ke 1. Dari sisi bisnis ada juga dua tahapan yang lain. Misalnya dari negatif ke positif. Itu juga pernah saya lakukan.
Beberapa hal yang masih ingin saya lakukan adalah misalnya membuat dari 1 ke 4. Itu yang masih saya upayakan. Krom ini kan bank yang baru lahir. Baru keluar aplikasi pada 2024. Nah, sekarang kami sudah profitable. Dari 0 ke 1 sudah. Minus 1 ke 1 sudah. Saya ingin Krom Bank menjadi besar.
Yang sedang saya ingin lakukan adalah berusaha membesarkan bank ini. Katakanlah dari aset kecil sekali, Rp 3 triliun, bisa sampai ke Rp 10 triliun. Itu obsesi yang masih saya kejar. Kalau dari sisi posisi kerja dan sebagainya, saya rasa saya sudah melewati itu semua.
Bagaimana Anda menyeimbang hidup?
Saya rasa sesuai flow-nya aja. Ada beberapa posisi yang harus dipegang, yang harus dijaga, dan ada waktunya di mana saya harus switch. Misalnya setelah saya pulang ke rumah, itu saya switch. Saya sudah bukan lagi Presiden Direktur Krom Bank, melainkan sebagai bapak yang di rumah. Misalnya seperti itu.
Demikian pula kalau misalnya saya bertemu orang, bertemu masyarakat, saya akan berusaha memosisikan diri sesuai dengan tempatnya. Kalau posisi di kantor saya bawa ke rumah, bisa kacau. Harus tahu menempatkan dirinya aja sih.
Peran keluarga dalam karier Anda?
Oh, mereka oke-oke saja, sangat support. Nggak pernah ikut campur dan bisa membedakan antara pekerjaan dan keluarga. Seperti yang saya bilang, saya pulang, saya udah bukan seorang karyawan atau Presiden Direktur lagi.
Kegiatan Anda saat weekend?
Saya dulu suka sepedahan. Saya suka gowes. Setelah kena ring (jantung), ya sudah di rumah aja. Paling-paling kegiatan saya di waktu weekend sekarang traveling. Saya suka nyetir mobil. Yang terakhir itu ke Swiss, tuh. Nyetir, muter-muter Swiss, sampai ke Prancis dan negara-negara lainnya. Sudah beberapa kali, sih.
Pesan Anda kepada generasi muda?
Pesan saya, jangan terlalu membatasi apa yang bisa kita lakukan, atau apa yang tidak bisa kita lakukan. Dicoba dulu saja. Harus lebih tekun, lebih berani, dan lebih mau menanggung kegagalan.
Satu hal yang saya rasa agak kurang dari generasi sekarang, mereka berupaya untuk menghindari kegagalan. Bagi generasi kami, kegagalan adalah guru, kita bisa belajar dari kegagalan. Kalau gagal, bangun lagi aja. Justru dari situ kita bisa belajar sehingga lebih kuat.
Contohnya gini. Di zaman kami dulu, mana ada istilah healing. Mana ada itu. Nggak ada itu. Lo jatuh, bangun lagi, nggak ada healing-healing, nggak ada hiburan segala macam. Lo dihajar setengah matanya di kantor, bangun lagi. Jadi, tough, lebih tough. ***
Biodata
Nama: Anton Hermawan.
Jabatan: Presiden Direktur
Lahir: 1969.
Pendidikan:
* Sarjana Fisika - Institut Teknologi Bandung (ITB): 1992.
* Magister Manajemen (Keuangan) - Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI): 2003.
Karier:
* Head Consumer Banking Operations Department - PT Bank Central Asia Tbk (1996).
* Senior Vice President Strategy Office Group - Bank Permata Tbk (2009-2017).
* Group Head of Digital Banking - PT Bank Sinarmas Tbk (2017).
* Executive Vice President Digital Business Development - PT CIMB Niaga Tbk (2018-2021).
* Consumer Banking Director - PT Bank KEB Hana Indonesia (2021-2023).
* Presiden Direktur PT Krom Bank Indonesia Tbk (Februari 2024-sekarang).

