Menanti Sejarah Baru: HUT ke-80 RI dan 48 Tahun Pasar Modal, IHSG Menuju 8.000?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-80 pada Agustus 2025 akan bersamaan dengan 48 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Momen bersejarah ini disebut-sebut menjadi katalis positif bagi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan potensi menembus level psikologis 8.000.
Optimisme tersebut mencuat seiring menguatnya sejumlah sentimen global dan domestik yang mendukung pertumbuhan pasar. Menurut para analis, target IHSG di level 8.000 bukan sekadar mimpi, melainkan skenario yang bisa terealisasi, jika momentum positif terus berlanjut. Apalagi sepanjang Juli 2025 berjalan atau dalam tiga pekan, IHSG telah melesat sebanyak 7,82% dari 6.927 ke tertinggi baru tahun ini 7.469 pada penutupan perdagangan saham Rabu (23/7/2025).
Baca Juga
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta, menyampaikan bahwa tren penurunan suku bunga, baik oleh Bank Indonesia (BI) maupun The Federal Reserve (The Fed), menjadi pemicu utama penguatan pasar. “Bisa (IHSG ke 8.000) kalau terjadi de-eskalasi geopolitik dan perang dagang. Namun, masalahnya masih ada ketidakpastian,” ujar Nafan kepada investortrust.id, Rabu (23/7/2025).
Ia menilai penurunan suku bunga BI sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini telah memperkuat likuiditas domestik. Sementara The Fed juga berpeluang memangkas suku bunga acuan dua kali lagi, yang diproyeksi terjadi pada Oktober dan November 2025.
Menurutnya, tren suku bunga rendah akan berlanjut hingga 2026 dan dapat mendorong penurunan biaya pinjaman korporasi. Ini akan menjadi daya dorong tambahan bagi likuiditas pasar saham serta mendorong minat investor.
Baca Juga
5 Emiten Siap IPO, BEI Catat Antrean Jumbo di Tengah Lonjakan Dana Pasar Modal
Meski begitu, Nafan mengingatkan bahwa tekanan dari aksi jual investor asing (net sell) masih menjadi hambatan. Ia menyebut bahwa untuk mencapai level 8.000 secara berkelanjutan, diperlukan aliran dana asing yang kembali masuk secara signifikan. “Selama masih terjadi net sell asing, saya kira untuk ke 8.000 itu harus bertahap,” katanya.
Berdasarkan riset Mirae Asset, skenario optimistis untuk IHSG saat ini berada di angka 7.546. Namun, target ini dapat direvisi ke atas, jika ada percepatan pemulihan ekonomi dan penurunan tensi geopolitik global.
Nafan juga menyoroti tren teknikal IHSG yang kini berada dalam fase wave 3, yang secara historis cenderung mengalami reli kuat. Ia menyebut bahwa bulan Agustus, Oktober, November, dan Desember secara historis mendukung tren penguatan IHSG dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, juga memandang target 8.000 realistis. Mengacu data BEI, per 22 Juli 2025, IHSG telah melonjak hampir 24% sejak Maret 2025, dan berada di posisi 7.360, atau hanya sekitar 8% lagi menuju 8.000. “Momentum ini jelas kuat. Target 8.000 sangat mungkin tercapai di bulan Agustus, asalkan tidak ada gejolak besar,” ujarnya.
Menurut Reydi, ekspektasi penurunan suku bunga acuan BI ke level 5,25%, serta penurunan tarif dagang AS terhadap Indonesia dari 32% menjadi 19%, menjadi katalis positif tambahan. Sentimen ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek pasar modal domestik.
Ia juga menyebutkan beberapa saham unggulan (big cap) seperti BBCA, BBRI, ANTM, ADRO, ICBP, dan TLKM berpeluang menjadi motor penggerak IHSG. Saham-saham ini dinilai memiliki potensi rebound setelah melalui fase konsolidasi.
Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci
Namun, tantangan tetap ada. Menurut Nafan, kunci utama keberhasilan IHSG menembus 8.000 ada pada data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025. Ia menilai bahwa produk domestik bruto (PDB) pada periode April–Juni 2025 perlu tumbuh di atas ekspektasi. “Kalau kuartal II bisa tumbuh 2,5% QoQ atau lebih, maka bisa menjadi fondasi kuat menuju reli IHSG,” jelasnya.
Baca Juga
Mendominasi! Prajogo Pangestu Kuasai 18,69% Market Cap BEI, Ini Emiten Terbesarnya
Faktor eksternal lain yang berpotensi mendorong IHSG adalah keberhasilan diplomasi ekonomi pemerintah. Nafan menekankan pentingnya penguatan kerja sama bilateral dan multilateral, termasuk upaya masuk ke CPTPP dan OECD, serta optimalisasi kerja sama dagang yang sudah ada. Langkah-langkah tersebut diyakini akan membuka akses pasar yang lebih luas bagi Indonesia, serta meningkatkan daya saing pasar modal di mata investor global.
Jika semua berjalan sesuai skenario optimistis, bulan Agustus sebagai momentum HUT RI ke-80 dan 48 tahun diaktifkannya pasar modal bisa menjadi tonggak bersejarah bagi IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) level 8.000.
Terkait pergerakan IHSG yang pesat dalam beberapa pekan terakhir terdorong penguatan pesat harga sejumlah saham big cap, khususnya emiten Prajogo Pangestu dan Toto Sugiri, seperti DCII, BREN, BRPT, CDIA, CUAN, hingga MDKA. Berdasarkan data saham DCII melesat 130,23%, BREN menguat 33,19%, CUAN naik 34,34%, BRPT menguat 46,36%, MDKA naik 46,36% dalam sebulan terakhir.

