Mega-transformasi Indika, Energi Baru Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – PT Indika Energy Tbk, perusahaan investasi dengan portofolio yang terdiversifikasi, tengah gencar-gencarnya menjalankan program transisi energi. Transformasi besar-besaran di lini bisnisnya pun dilakukan. Bisnis inti batu bara sebagian harus ditinggalkan. Kontribusi pendapatan bisnis batu bara yang kini mencapai 88%, harus dipangkas menjadi 50% pada 2025.
Indika Energy mensinergikan sumber daya, jasa, infrastruktur energi, dan sejumlah portofolio bisnis yang prospektif menjadi rantai nilai yang lengkap untuk menyediakan solusi energi guna memenuhi kebutuhan nasional dan global.
Selama puluhan tahun, Indika telah menerangi rumah dan sekolah, memasok listrik pada bisnis kecil dan industri besar, dan menciptakan lapangan kerja bagi ribuan masyarakat Indonesia. Indika kini agresif mendiversifikasi usaha ke nonbatubara, yakni energi baru dan terbarukan (EBT) serta bisnis berkelanjutan.
Didirikan pada tahun 2000, Indika sebelumnya menyandang nama Dipta Diwangkara. Pada 2004, INDY mengakuisisi 41% saham Kideco. Kemudian tahun 2007, Indika merger dengan Tripatra dan Ganesha Intra Development Company. Tahun yang sama, Cirebon Electric Power berdiri, 20% saham dimiliki Indika.
Indika menggelar IPO pada 2008, melepas 20% saham. Tahun itu pula Indika mengakuisisi Indika Capital Pte Ltd. Aksi korporasi dilakukan pada 2009, dengan mengakuisisi 98,55 % saham Petrosea. Pada 2010, Indika Logistics & Support Services didirikan.
Baru tiga tahun digenggam, pada 2012, Indika mendivestasi 28,5% saham Petrosea. Tapi pada tahun yang sama, Indika juga mengakuisisi 85% saham Multi Tambangjaya Utama (MUTU). Tahun 2017, Indika Foundation berdiri. Indika terus melepas bisnis energi berbasis fosil. Hal itu dibuktikan dengan melepas saham di dua perusahaan batubara ke Harum Energy senilai Rp 86 miliar pada 2018.
Lima Pilar Bisnis
Saat ini, Indika Energy memiliki lima portofolio bisnis, yaitu energi, logistik & infrastruktur, mineral, green business, dan usaha digital.
Pilar bisnis energi berfokus pada eksplorasi, produksi, pengolahan, jasa energi hingga pembangkit listrik. Salah satu lengan bisnis Indika adalah Kideco Jaya Agung, produsen batu bara terbesar ketiga dan salah satu yang berbiaya produksi terendah di Indonesia. Didirikan tahun 1982, Kideco menambang batu bara terbuka di atas lahan konsesi seluas 50.921 hektar di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Kideco mengoperasikan lima wilayah konsesi dengan cadangan batu bara potensial dan terbukti diperkirakan mencapai 651 juta ton dan sumber daya batu bara diperkirakan mencapai 1.376 juta ton. Kideco memproduksi batu bara sub-bituminous dengan kandungan sulfur, abu, dan nitrogen yang rendah sehingga ramah lingkungan untuk pembangkit listrik. Kideco telah memasok batu bara kepada lebih dari 50 klien di 16 negara.
Untuk memperlancar pasokan dan distribusi, PT Indika Energy Trading didirikan pada 2013. Perusahaan ini memperdagangkan beragam jenis batu bara untuk pasar domestik dan seaborne, melalui kemitraan dengan produsen batu bara ternama di Indonesia.
Di lini pembangkit, Indika memiliki Cirebon Electric Power (CEP), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 660 MW. Indika memiliki 20% saham dengan anggota konsorsium perusahaan energi di Asia. Berkapasitas 660 MW di Cirebon, CEP memanfaatkan teknologi supercritical, termasuk fired boiler dengan LO-NOx Burners. Teknologi ini meningkatkan efisiensi siklus, mengurangi konsumsi batu bara dan polusi udara.
Indika juga masuk ke bisnis jasa energi untuk mengisi rantai nilai di sektor energi dalam bidang konstruksi, operasional, dan logistik kepada para klien dari hulu hingga hilir. Melalui dua anak perusahaan, Petrosea dan Tripatra, Indika Energy menyediakan layanan lengkap pit-to-port dan life-of-mine pertambangan batu bara serta industri minyak dan gas.
Selama hampir lima dekade, Tripatra telah membangun rekam jejak yang mengesankan dalam memberikan solusi rekayasa teknik, infrastruktur dan logistik yang dapat diandalkan di sektor minyak dan gas. Kemampuan rekayasa teknik yang kuat dan manajemen proyek yang sangat terampil adalah kunci utama keberhasilan Tripatra dalam implementasi proyek-proyek kelas dunia.
Sedangkan pilar logistik dan infrastruktur Indika Energy berupaya untuk menjangkau spektrum sektor energi secara efektif dan efisien, termasuk jalan raya, pelabuhan untuk mengangkut bahan baku dan material lainnya ke pasar domestik dan internasional.
Didirikan tahun 2019, Interport Mandiri Utama (IMU) menggabungkan keahlian dan pengalaman berbagai anak perusahaannya untuk memberikan solusi logistik yang terintegrasi. Saat ini, IMU beroperasi di Jakarta, Surabaya, Sorong, dan Balikpapan.
Di lini ini, Indika memiliki Kariangau Gapura Terminal Energi (KGTE), yakni jasa penyimpanan bahan bakar. KGTE menandatangani perjanjian layanan fasilitas penyimpanan dengan ExxonMobil untuk menyimpan dan mengirimkan bahan bakar di Kalimantan Timur dengan kapasitas penyimpanan 96 juta liter. Kontrak berlaku selama 20 tahun, dengan opsi perpanjangan 10 tahun.
Di sektor mineral, Indika mengoperasikan tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan, yang dikelola oleh Nusantara Resources Limited. Nusantara memiliki kontrak karya generasi ke-7 untuk area 14.390 hektare yang berlaku hingga tahun 2050. Proyek emas Awak Mas memiliki potensi 2,0 juta ons emas dan potensi cadangan 1,1 juta ons emas. Adapun perdagangan nikel ditangani oleh PT Rockgeo Energi Nusantara.
Pilar bisnis baru yang Indika benar-benar garap serius adalah bisnis hijau, meliputi energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), dan solusi berbasis alam. Pada 2021, Indika Energy bermitra dengan Fourth Partner Energy (4PEL), pengembang tenaga surya terkemuka dari India, mendirikan Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS). EMITS akan menyediakan platform solusi energi baru dan terbarukan untuk sektor komersial dan industri di Indonesia.
EMITS telah memasang PLTS hingga 60 Megawatt Peak (MWp) di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Targetnya, Indika menginstall 500 MWp untuk solar panel dalam lima tahun ke depan.
Untuk kendaraan listrik roda dua, Indika mendirikan Ilectra Motor Group (IMG) pada 2021, dengan brand Alva. Dalam bisnis ini, IMG menggandeng Alpha JWC Ventures dan Horizons Ventures’ Venture. Penyerahan pertama motor listrik Alva ke konsumen dilakukan pada November 2022. Pabrik Ilectra sudah dibangun dengan kapasitas 100 ribu unit per tahun. IMG juga membangun ekosistem pendukung EV dan akan membangun kolaborasi lebih lanjut dengan jaringan partnership.
Sebagai perusahaan yang hidup di tengah masyarakat, Indika bertanggung jawab untuk menggerakkan potensi ekonomi dan sosial lingkungan sekitar. Untuk itu, Indika mendirikan Indika Multi Properti (IMP) pada 2019, yang kemudian mengubah identitas menjadi Indika Nature pada 2022. Indika Nature berfokus pada pemeliharaan dan pengembangan lingkungan untuk masyarakat serta pemangku kepentingan.
Indika Nature mengelola konsesi 170 ribu ha lahan melalui tiga pilar bisnis, yakni perkebunan energi, produksi biomassa (pelet kayu), jasa lingkungan yaitu pengelolaan aset kehutanan dan keanekaragaman hayati, serta agroforestri & HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu).
Lini bisnis kelima adalah digital, sejalan dengan perkembangan bisnis dan masyarakat ke platform digital. Melalui anak usahanya PT Xapiens Teknologi Indonesia dan PT Zebra Cross Teknologi, Indika menerapkan praktik industri 4.0 untuk mendorong efisiensi.
Didirikan pada 2018, Xapiens adalah penyedia informasi, komunikasi, dan teknologi yang menawarkan dukungan pengguna ICT, ICT perusahaan, dan konsultasi bisnis ICT. Xapiens memastikan perlindungan digital dan data di seluruh Indika Energy Group.
Indika juga ekspansi ke industri kesehatan melalui PT Indika Medika Nusantara dan PT Bioneer Indika Group.
Aksi Korporasi
Berbagai aksi korporasi telah dilakukan Indika Energy. Pada Desember 2023, Indika yang tergabung dalam konsorsium InfraCo Asia memenangkan tender kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hybrid dengan baterai untuk Program De-dieselisasi PLN di Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara.
Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo menuturkan, program de-dieselisasi adalah salah satu inisiatif terbesar PLN. Saat ini terdapat lebih dari 5.200 genset PLN di sekitar 2.100 lokasi yang menggunakan bahan bakar solar. Melalui pembangunan PLTS hybrid dengan baterai, diharapkan pemakaian bahan bakar solar akan menurun signifikan.
Menurut Azis Armand, Vice President Director and Group CEO Indika Energy, lokasi pembangunan PLTS akan tersebar di 46 lokasi - yaitu 24 di Sulawesi, 16 di Maluku, dan 6 di Nusa Tenggara. Melalui skema Built-Operate-Own (BOO), konsorsium akan merancang, membiayai, membangun, dan mengoperasikan PLTS berkapasitas 102 MWp selama 20 tahun.
Yovie Priadi, Direktur Utama EMITS menyatakan, PLTS dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai sekitar 252 MWh untuk memperkuat pasokan listrik di timur Indonesia.
InfraCo Asia adalah perusahaan pengembangan infrastruktur dan investasi yang dikelola oleh Private Infrastructure Development Group (PIDG), yang kini mengelola dana US$ 3 miliar. InfraCo Asia sebelumnya membangun PLTS di Vietnam dan pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 2x50 MW di Pakistan.
Sebagai bagian dari upaya transformasi bisnis, pada 22 September 2023, Indika menjual 100% kepemilikan saham di Multi Tambangjaya Utama (MUTU) kepada Petrindo Jaya Kreasi.
Peduli Generasi Muda
Memperingati 23 tahun usianya, Indika Energy menggelar INDY Fest 2023, sebuah rangkaian dialog yang bertujuan untuk memperkaya pengetahuan generasi muda dengan cara memberikan perspektif lintas generasi dalam berbagai aspek kehidupan. Secara spesifik, INDY Fest 2023 membahas tentang karier, kesehatan mental, inklusi, kebebasan finansial, dan networking.
Berkolaborasi bersama Indika Foundation, INDY Fest 2023 mengusung tema “Empowering Youth, Energizing our Future”. Ini merupakan bagian dari upaya Indika menyiapkan Generasi Emas 2045. Acara dihadiri sekitar 200 peserta internal dan eksternal – termasuk komunitas sosial dan organisasi orang muda. Menurut penelitian British Council terhadap generasi muda Indonesia usia 16 – 35 tahun, sebanyak 48% mengaku memiliki setidaknya satu atau lebih kekhawatiran yang menyangkut isu kesehatan, terutama kesehatan mental.
“Masa depan kita ditentukan oleh apa yang kita siapkan saat ini. Kami berharap INDY Fest dapat turut menginspirasi para generasi muda Indonesia dan mengaplikasikan pelajaran-pelajaran yang didapat ini kepada anggota keluarga, teman-teman, komunitas, organisasi, dan tempat mereka bekerja,” tutur Azis Armand.
Indika Foundation secara aktif mendorong terciptanya Indonesia yang lebih inklusif, toleran, dan damai. Indika Foundation telah berkolaborasi dengan lebih dari 200 organisasi dan komunitas yang tersebar di 32 provinsi Indonesia.
Performa Keuangan
Dari sisi kinerja, PT Indika Energy Tbk menorehkan mencatatkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 93,8 juta dan laba inti sebesar US$ 119,2 juta pada sembilan bulan pertama 2023 (9M2023).
Pendapatan menurun sebesar 26,6% menjadi US$ 2.298,7 juta, bersumber Kideco Jaya Agung yang mencatat penurunan sebesar 23,0% menjadi US$ 1,706.2 juta, akibat penurunan volume produksi dan harga jual batu bara.
Pada 9M2023, Kideco menjual 22,6 juta ton batu bara (turun 14,3% yoy). Dari jumlah itu, 6,7 juta ton atau 30% dilempar ke pasar domestik, atau melebihi persyaratan domestic market obligation (DMO) sebesar 25%. Adapun volume penjualan ekspor batu bara tercatat 15,8 juta ton, ke China, India, Taiwan, dan ASEAN.
Rata-rata harga jual batu bara pada 9M2023 tercatat US$ 75,7 per ton, dibandingkan US$ 84,2 per ton pada 9M2022. (yoy).
Penurunan pendapatan Indika juga dikontribusikan oleh Indika Indonesia Resources yaitu sebesar 44,1% menjadi US$ 351,1 juta. Pendapatan Tripatra susut 15,6% menjadi US$ 185,akibat turunnya kontribusi proyek BP Tangguh menjadi US$ 152,8 juta.
Sementara itu, perusahaan logistik terintegrasi Interport Mandiri Utama (Interport) mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 217,7% menjadi US$ 83,5 juta, setelah Interport mengakuisisi 56% saham usaha logistik laut Cotrans (termasuk 45% saham yang dimiliki oleh Tripatra).
Secara konsolidasi, Indika Energy mencatat laba kotor sebesar US$ 439,8 juta, atau menurun 59,5% yoy. Margin laba kotor pun terpangkas menjadi 19,1%, dibandingkan 34,7% pada 9M 2022.
Penurunan dipicu kenaikan tarif pajak royalti batu bara bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang meningkat signifikan, menjadi 31,6%, berlaku mulai Januari 2023. Tarif yang semula berlaku adalah 13,5% dari harga jual rata-rata bagi Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi. Dampaknya, biaya royalti pada 9M 2023 mencapai US$ 520,0 juta dibandingkan US$ 391,8 juta pada 9M22.
Selama 9M 2023, realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) Indika mencapai US$ 104,9 juta. Sebesar 77% (US$ 81,2 juta) untuk bisnis nonbatu bara, termasuk Indika Minerals (terutama pada proyek Awakmas) sebesar US$ 54,4 juta, Ilectra Motor Group (IMG) sebesar US$ 6,6 juta, dan Indika Nature sebesar US$ 9,5 juta.
Perseroan juga menggunakan belanja modal sebesar US$ 22,8 juta untuk pengembangan bisnis batu bara, termasuk untuk Indika Indonesia Resources (IIR) sebesar US$ 13,2 juta dan Kideco sebesar US$ 9,6 juta.
“Indika Energy fokus untuk berinvestasi dan mendiversifikasi portofolio bisnisnya ke sektor non-batubara. Terbukti, 77% belanja modal dialokasikan untuk pengembangan bisnis mineral, kendaraan listrik, dan nature-based solutions,” kata Azis Armand.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham Indika Energy (INDY) sedang tidak beruntung karena jatuhnya harga batu bara global. Pada perdagangan Jumat (02/02/2024), saham INDY ditutup pada level Rp 1.305, atau terkoreksi 9,06% tahun ini (year to date). Sedangkan selama 2023, INDY tergerus 47,24% di Rp 1.435, dari penutupan 2022 di Rp 2.730. Analis RHB Sekuritas merekomendasikan buy on breakout dengan target Rp 1.465- Rp 1.540.
Banting setir ala Indika Energi yang beberapa dekade menggeluti bisnis batu bara bukanlah sebuah upaya mudah. Sebuah pertaruhan yang tentu sudah dipertimbangkan cermat, sudah didesain strategi jangka menengah-panjangnya, sekaligus merancang mitigasi risiko sebagai benteng.
Transformasi bisnis ke arah energi yang berkelanjutan memang sebuah keniscayaan karena menjadi tren dunia, namun tingkat persaingannya juga ketat tak terkira. Belum lagi ketergantungan teknologi kepada asing sehingga membutuhkan biaya tinggi dan effort luar biasa. Dengan rekam jejak dan pengalaman panjangnya, semestinya Indika Energy mampu mewujudkan mega-transformasi ini untuk energi baru di Indonesia. ***

