Pemilu di Rabu Abu dan Valentine’s Day
JAKARTA, investortrust.id - Hari ini, Rabu, 14 Februari 2024 adalah hari yang menentukan masa depan kita orang Indonesia. Di hari ini, kita sebagai pemilih menuju tempat pemungutan suara (TPS) untuk menentukan masa depan bangsa dengan memilih figur yang tepat untuk menjadi presiden dan wakil presaiden lima tahun akan datang, 2024-2029.
Pada saat yang sama, di TPS yang sama, kita memilih wakil rakyat untuk duduk di DPR RI, DPD RI, DPRD I, dan DPRD II lima tahun ke depan. Bagi pemilih DKI Jakarta, ada empat lembaran kertas suara yang harus dicoblos karena pemerintah Provinsi DKI tidak memiliki DPRD II. Wilayah lain di luar DKI ada lima kertas suara yang harus dicoblos.
Pemilu kali ini istimewa karena jatuh pada hari Valentine’s Day dan Hari Rabu Abu. Mengikuti tren dunia, kaum Gen Y atau milenial dan Gen Z merayakan Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. Mereka saling memberikan hadiah dan menyatakan kasih sayang dengan berbagai cara yang lazim.
Jumlah pemilih zilenial —milenial dan Gen Z— cukup besar, yakni 113,6 juta atau 55,5% dari 204,5 juta pemilih Indonesia pada pemilu 2024. Dari jumlah itu, milenial sekitar 66,82 juta. Kita berharap, mereka semuanya ke TPS untuk menentukan pilihan.
Lima tahun ke depan adalah periode sangat menentukan. Karena Indonesia sedang menikmati bonus demografi yang puncaknya pada tahun 2038-2040. Disebut bonus demografi karena selama periode ini, jumlah warga Indonesia usia produktif mencapai 70-72% dari total penduduk. Usia produktif adalah mereka yang berusia 15-64 tahun. Kelompok terbesar dari usia produktif adalah zilenial.
Belajar dari negara maju yang kini sudah masuk era aging population, era dengan dominasi penduduk di atas usia 64, Indonesia harus memacu laju pertumbuhan ekonomi di atas 7% setahun. Semua negara maju mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 7% selama mereka menikmati bonus demografi. Eropa, AS, Jepang, Korsel, dan China mengikuti rute itu.
Baca Juga
Jelang Pencoblosan, KPU Ajak Masyarakat Dokumentasikan Proses Pemilu 2024 di TPS
Ketika sebuah negara memasuki aging population, laju pertumbuhan ekonomi menurun dengan inflasi rendah dan cenderung deflasi. Inflasi rendah karena permintaan terhadap barang dan jasa tidak lagi besar. Pertumbuhan ekonomi pun sulit melaju kencang karena warga usia produktif minim. Ekonomi negara dengan aging population hanya bertumbuh 1-3%.
Oleh karena itu, Indonesia harus memanfaatkan bonus demografi dengan memacu pertumbuhan ekonomi inklusif, pertumbuhan ekonomi yang merata, dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Penduduk usia produkti harus mendapatkan lapangan pekerjaan dengan upaya yang layak agar mereka bisa belanja lebih banyak.
Ke depan, kondisi ekonomi dunia kian sulit. Saat dunia menghadapi bahaya global warning dan climate change yang ekstrem, ada masalah geopolitik. Ada konflik dan perang terbuka yang menghambat rantai pasok barang untuk konsumsi dan kegiatan produksi. Inflasi membengkak dan suku bunga terdongkrak. Harga pangan dan energi yang mahal akan menjadi tantangan yang tidak ringan.
Upaya menarik investasi dan wisatawan tidak lagi mudah. Karena negara maju dengan PDB per kapita di atas US$ 12.000 semakin aktif menarik investasi asing dan wisatawan. Aliran dana investasi —baik ke sektor riil maupun investasi portofolio— tidak otomatis mengalir ke negara emerging market dan negara berkembang, tapi juga ke negara maju.
Ketika masalah kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial masih tinggi, Indonesia memasuki era digital dan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kemajuan digital dan AI mampu mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi, tapi mendisrupsi penyerapan tenaga kerja dan memperlebar kesenjangan sosial.
Dalam pada itu, Indonesia masih belum menyelesaikan masalah mendasar, yakni sumber daya manusia dan infrastruktur, khususnya infrastruktur dasar. Angka kemiskinan absolut masih di atas 9% dan kemiskinan ekstrem masih di atas 1,5%. Penduduk stunting masih tinggi, yakni di atas 20%. Ini semua adalah persoalan yang harus diselesaikan pemimpin lima tahun ke depan agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melaju kencang.
Kita menuju TPS bukan untuk memilih malaikat menjadi pemimpin. Setiap calon memiliki cacat dan cela. Namun, dari tiga paslon, kita harus memilih salah satu, yakni figur yang memiliki kepemimpinan, mampu mempersatukan bangsa ini, mampu bekerja untuk merealisasikan program, dan tidak ada agenda lain selain hendak mewujudkan kedamaian, rasa nyaman dan aman, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kaum zilenial diimbau untuk menunjukkan tanggung jawab terhadap masa depannya dengan ke TPS untuk memilih pemimpin dan wakilnya di legislatif. Ungkapan tanggung jawab adalah ungkapan cinta.
Baca Juga
Pemilu 2024 Tepat Hari Valentine dan Rabu Abu, KPU: Momentum Tepat Gunakan Hak Pilih
Hanyalah Debu
Bertepatan dengan hari Pemilu 2024, umat Katolik merayakan Hari Rabu Abu, Ash Wednesday, atau Feria Quarta Cinerum dalam bahasa Latin. Umat diingatkan oleh Gereja bahwa kita ini hanya debu. Kita berasal dari abu atau debu dan akan kembali menjadi abu atau debu.
Kembali menjadi abu bukan berarti hidup manusia selesai. Lewat kematian, hidup manusia diubah, hanya diubah, bukan diakhiri. Kita diubah dari hidup seperti di dunia ini ke kehidupan yang rohaniah, yang abadi.
Umat Katolik percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Ketika mati, jasad kita hancur dan menjadi abu. Tapi, Allah memberikan kehidupan baru, yakni tubuh rohaniah yang tidak terikat pada ruang dan waktu.
Seperti Yesus Kristus bangkit dari antara mati, manusia yang percaya kepada-Nya akan dibangkitkan. Tubuh yang sudah hancur dan menjadi abu dibangkitkan menjadi tubuh yang rohaniah yang memperoleh kebahagiaan kekal bersama Allah. Selama hidup di bumi fana kita merindukan wajah Allah. Setelah dibangkitkan, kita akan memandang wajah Allah, sumber kebahagiaan sejati dan abadi.
Kebangkitan dan kehidupan kekal adalah anugerah Allah kepada mereka yang bertobat. Manusia yang tidak bertobat tidak mendapatkan kebahagiaan abadi. Abu yang disilangkan di dahi umat Katolik di Hari Rabu Abu adalah tanda pertobatan.
Tobat adalah sebuah “metanoia”, sebuah perubahan cara pandang, sikap, dan tingkah laku secara drastis dan total. Ibarat orang berjalan, metanoia artinya berbalik arah, dari utara berbalik ke selatan atau dari timur ke barat. Jika sebelumnya kita berbuat dosa, setelah menerima abu kita tidak lagi mengulangi perbuatan yang sama. Jika sebelumnya kita biasa memeras dan menindas sesama, metanoia artinya ke depan, kita tidak lagi memeras dan menindas sesama.
Kita yang menerima abu perlu memiliki disposisi batin yang tepat, bahwa abu adalah tanda pertobatan. Kita menyadari sepenuhnya bahwa kita hanyalah debu. Cepat atau lama, kita akan mati, jasad kita akan hancur dan menjadi debu. Sedangkan kebangkitan dan tubuh rohaniah yang didapatkan adalah karunia Allah.
Rabu Abu menandai awal Masa Puasa umat katolik selama 40 hari, berakhir dengan Jumat Agung atau Good Friday. Umat Katolik selama Masa Puasa melakukan pantang atau mati raga, meningkatkan doa, dan berbuat amal. Perbuatan amal paling tinggi adalah melaksanakan tugas dengan baik dan benar, di rumah, di sekolah, dan di tempat kerja.
Kita tetap menyisihkan sebagian rezeki untuk yang miskin dan berkekurangan. Tapi, menjalankan pekerjaan dengan baik adalah yang utama. Karena lewat pekerjaan, kata mendapatkan rezeki untuk keluarga dan sesama. Jika perusahaan tempat kita bekerja semakin maju, tenaga kerja yang terserap akan lebih banyak, pajak yang dibayarkan akan lebih besar, dan corporate social responsibility (CSR) akan lebih luas.
Baca Juga
Alur Perjalanan Surat Suara Pemilu 2024 hingga Penetapan Presiden RI
Pada Masa Puasa, umat Katolik diminta untuk lebih peka terhadap sesama, membantu mereka yang kesulitan, dan berani untuk membebaskan mereka yang ditindas dan diperlakukan tidak adil.
Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:
"Berpuasa yang Kukehendaki ialah,
Supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman
Dan mematahkan setiap kuk
Supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya
Dan mematahkan setiap kuk,
Supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar
Dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah
Dan apabila kamu melihat orang telanjang
Supaya engkau memberi dia pakaian
Dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.
Pada waktu itulah
Engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab
Engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku
Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu
Dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah
Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri
Dan memuaskan hati orang tertindas
Maka terangmu akan terbit dalam gelap
Dan kegelapanmu akan seperti bintang rembang tengah hari"
(Yesaya 58: 1-10)
Sebagaimana ajaran Yesus, umat yang berpuasa tidak boleh melakukan hal yang mencolok mata hanya dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Jika engkau berkuasa cukup dirimu dan Tuhanmu yang tahu, tak perlu diketahui oleh sesama, apalagi meminta apresiasi dan perlakuan khusus dari sesama.
“Apabila kamu berpuasa,
Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi apabila engkau berpuasa,
minyakilah kepalamu
Dan cucilah mukamu
Supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa
(Matius 6:16-18)
Bagi umat Katolik, menuju TPS untuk memilih pasangan presiden-wakil presiden dan para wakil rakyat bukan saja bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara, melainkan juga tanggung jawab iman. Kita wajib memilih pemimpin dan wakil rakyat yang mampu membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan, kemelaratan, keterbelakangan, ketertinggalan, dan ketertindasan. Kita wajib memilih pemimpin dan waki rakyat yang mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat, mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan makmur.

