Jalan Tunggal Indonesia Emas, Siapa Pun Presiden Harus Bangun Ekosistem Baterai Bernilai Tambah 150 Kali
JAKARTA, investortrust.id – Pembangunan ekosistem baterai hingga kendaraan listrik merupakan satu-satunya jalan mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan pendapatan per kapita naik tujuh kali lipat ke US$ 30.300, oleh karenanya harus dilanjutkan siapa pun presiden ke depan. Cadangan mineral bahan baku baterai di Bumi Pertiwi diperkirakan total mencapai US$ 91 triliun dengan hilirisasinya bernilai tambah luar biasa tinggi, hingga 150 kali, sehingga mampu membawa Indonesia melompat menjadi negara maju saat 100 tahun merdeka.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar US$ 1,3 triliun dan pendapatan per kapita US$ 4.580 pada 2022 atau Rp 5,94 juta sebulan. Sedangkan bahan baku baterai kendaraan listrik yang tersedia di Indonesia adalah nikel, kobalt, mangan, aluminium, besi, dan fosfor.
“Kalau kita hanya menambang (mineral-mineral untuk bahan baku baterai), nilai total cadangan Indonesia sekitar US$ 91 triliun. Sekarang bayangkan kalau kita mau investasi sampai ke hilir battery pack saja, kalau dikali nilai tambahnya hingga 150 kali, itu kayaknya susah menghabisnya duit-nya,” kata Anggota Tim Pengembangan Kendaraan Listrik Nasional Institut Teknologi Bandung (ITB), yang juga Lektor Kepala Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Dr Yannes Martinus Pasaribu, MSn, dalam seminar “Membangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik” yang diselenggarakan Investortrust di Raffles Hotel, Jakarta, Selasa (29/08/2023). Acara ini dirangkai dengan soft launching portal data dan berita ekonomi Investortrust, yang fokus pada investasi dan keuangan.
Maka itu, lanjut Yannes, kalau Pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang banyak berinvestasi untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik, hal itu karena sudah pasti cepat balik modalnya. Namun demikian, kunci korporasi global mau masuk di sektor yang membutuhkan dana luar biasa besar ini adalah pemerintahan yang stabil dan kuat, yang konsisten memberikan kepastian hukum guna menjamin keamanan investasi jangka panjang.
Indonesia yang memiliki mayoritas sumber bahan baku baterai listrik dan pasar otomotif besar diprediksi merajai ekosistem kendaraan listrik dunia, asalkan mampu memberlakukan satu standar baterai listrik yang efektif. Apalagi, kita diuntungkan sebagai negara maritim dengan posisi strategis di tengah jalur perdagangan utama dunia.
Harus Government Driven
Pemerintah, lanjut Yannes, juga harus menyadari bahwa tujuan utama program nasional tersebut bermuara pada pengembangan ekosistem battery electric vehicle (BEV), sekaligus menurunkan emisi karbon hingga nol pada 2060 yang telah disepakati Indonesia guna meredam kenaikan suhu bumi yang menimbulkan bencana. Konsekuensinya, semua perlu didesain mulai dari pemerintah atau government driven, bukan mengandalkan pasar (market driven).
“Jadi, semua regulasi dan implementasinya perlu dijalankan dengan cara pro-aktif melibatkan kolaborasi sinergis seluruh kementerian teknis terkait, termasuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam mencetak tenaga ahlinya. Kita banyak kelemahan karena yang dikejar hanya investasi agar masuk, namun tidak ada yang mendidik SDM yang dibutuhkan. Lihat saja, di Indonesia hingga sekarang tidak ada yang ahli baterai, ini lemahnya,” kata Yannes.
Yannes yang juga Dosen Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri FSRD ini juga menyayangkan Pemerintah Indonesia terlalu asyik menggenjot berbagai insentif dan kemudahan lain untuk sektor hulu (upstream). Ini misalnya pengurangan pajak impor untuk peralatan produksi smelter nikel, baterai, serta peralatan produksi hilirisasi yang lain hingga komponen BEV. Insentif pajak rendah juga diberikan bagi perusahaan yang berinvestasi di industri baterai dan kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV. Selain itu, ada kemudahan regulasi yang mempercepat proses perizinan untuk mendirikan dan mengoperasikan smelter nikel, pabrik baterai, dan pabrik BEV serta komponennya.
Tapi, sangat disayangkan, pemerintah lupa menggenjot aspek yang amat penting, yakni konsumen dan pengembangan pasarnya di Tanah Air. Maka itu, ke depan, sedini mungkin orang harus dididik bahwa kendaraan berbasis baterai itu keren, ramah lingkungan, memajukan perekonomian, dan memperkuat ketahanan energi negara. Hal ini lantaran listrik bisa dihasilkan dari berbagai sumber energi baru dan terbarukan di Indonesia yang potensinya luar biasa, di tengah cadangan minyak yang semakin menipis sehingga makin tergantung impor.
“Jika terlalu asyik menggejot insentif di hulu, untuk apa? Pasarnya, konsumennya itu kan manusia, yang sejak di sekolah harus dikenalkan dulu bahwa kendaraan berbasis baterai keren, ayo dibeli. Market awareness ini penting sekali dalam suksesnya program strategis tersebut,” tandas Yannes.
Dalam mendidik ini, kata Yannes, tentunya tidak bisa hanya sekadar ada orang mau beli, karena pasar kendaraan listrik kita masih bisa tumbuh 20 sampai 25 tahun ke depan. Generasi anak-anak kitalah yang sebenarnya akan membeli besar-besaran, itu sebabnya harus mulai dari sekarang diajarkan secara serius di dunia pendidikan.
“Selama ini, hal itu praktis tidak pernah dididik di SMP, SMA, di kampus. Padahal, anak-anak kita itu captive market ke depan untuk berbagai end product yang retail dari baterai kita,” ucapnya.
Sementara Indonesia cadangan minyaknya diperkirakan sudah habis sepuluh tahun mendatang hingga perlu kendaraan listrik besar-besaran, di banyak negara lain akan menghentikan penjualan mobil baru berbahan bakar fosil mulai sekitar tahun 2030-2035. Bahkan, sejumlah negara-mempercepat larangan penjualan mobil dengan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) ini.
“Lalu, mana dulu yang harus disiapkan, industri hulunya, midstream sampai downstream-nya; persepsi pasarnya; atau jaringannya; atau BUMN IBC (Indonesia Battery Corporation) beli baterainya dulu? Jawabannya satu, semua harus jalan paralel, meski untuk tahap awal sekarang, pertumbuhan pasar kita bisa dikatakan lumayan bagus, menimbang baru 3 tahun mobil listrik mulai di-exposed di Indonesia,” ujarnya.
Namun, dia kembali menyayangkan, dalam persiapan yang harus paralel ini, tidak ada upaya dari pemerintah secara sistemik, masif, dan terstruktur mendidik pasar. Tidak pernah pemerintah memberikan edukasi yang komprehensif kepada masyarakat luas.
“Pasar banyakan tahunya dari youtuber, dari orang-orang yang meng-upload. Akibatnya, pasar masih ada rasa takut dan cemas, padahal kendaraan listrik ini adalah masa depan kita,” tegasnya.
5 Pendukung Pertumbuhan
Yannes menuturkan lebih lanjut, Indonesia akan mampu menjadi produsen baterai dan mobil listrik yang kuat, lantaran ditopang lima faktor yang menyuburkan pertumbuhan industri otomotif. Pertama, Indonesia adalah growing potential captive market otomotif dunia. Hal ini didukung pertumbuhan ekonomi yang masih mencapai 5,17% (year on year) triwulan II-2023, lebih tinggi dari Vietnam 4,1%, Amerika Serikat 2,6%, Korea Selatan 0,9%, dan Uni Eropa 0,6%, berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Kementerian Keuangan RI.
Indonesia, pada 2022, menjadi pasar mobil peringkat terbanyak ke-14 dunia, dengan pertumbuhan 18%. Pada triwulan II-2023, negeri ini juga menjadi pasar sepeda motor peringkat terbanyak ketiga dunia, setelah India dan Tiongkok, dengan tingkat pertumbuhan tercepat sejagad 41,5%.
“Kita juga termasuk the fastest growing economy. Kita bisa lihat pertumbuhan pasar kita luar biasa, industri otomotif kita tinggi sekali,” ucap Yannes.
Yang kedua, yang menarik, konsumen kita penyuka inovasi dan teknologi terbaru. Hal itu menjelaskan mengapa banyak sekali investasi industri manufaktur sampai barang retail masuk ke Indonesia.
“Jadi, konsumen kita sangat menyukai inovasi, senang sekali dengan teknologi terbaru, dan yang paling penting kepoan plus senang pamer. Jangan khawatir juga, 90-95%-nya kredit, artinya lembaga keuangan jadi penting sekali seiring ekosistem kita lagi tumbuh dan masyarakat Indonesia tertarik pada dunia electric vehicle yang benar-benar dunia yang sarat IT, sosial media, dan berbasis algorithm,” paparnya.
Karakteristik konsumen itulah yang menyebabkan jumlah nomor smartphone di Indonesia lebih banyak dari jumlah penduduknya dan paling dahsyat di dunia. Ini juga mengonfirmasi pasar kita sangat besar dan pertumbuhannya luar biasa.
Baca Juga
Presiden Jokowi: Prioritas Investasi yang Pertama Ekosistem Kendaraan Listrik
Faktor ketiga, Indonesia terus mempersiapkan infrastruktur kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Keempat, tren investasi terkait BEV terus meningkat, seiring pembangunan infrastruktur tersebut.
“Dalam 5 tahun terakhir, nilai investasi industri hulu-hilir baterai EV di Indonesia sudah lebih dari Rp 1.863 triliun, dengan tren masih terus berkembang. Ini baru dari data yang berhasil kami kumpulkan, dari riset ITB,” ujar Yannes.
Yang kelima, industri otomotif Indonesia menuju hub distribusi pasar Asean dan Asean-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA). Industri ini didukung penjualan mobil dalam negeri yang besar 1,01 juta tahun lalu, melonjak 17,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
BEV vs Fuel Cell EV
Mengenai teknologi apa yang tepat dikembangkan untuk mobil listrik, lanjut Yannes, sebelumnya sempat ramai diperbandingkan antara BEV yang dimaknai publik global sebagai mobil listrik berbasis baterai vs fuel cell EV. Kalau mobil menggunakan hidrogen atau fuel cell, lanjut dia, butuh listrik untuk memproduksi kembali listrik yang menggerakkan kendaraan, sehingga boros. Sedangkan BEV langsung.
“Kemudian kalau mau investasi, komponen fuel cell reactor (di mesin FCEV) mahal sekali, di luar komponen baterai dan electric motor. Ini karena dia memerlukan listrik untuk menghasilkan mobil yang menghasilkan listrik lagi. Makanya, produsen mobil listrik yang tercepat laku di dunia, Tesla, tidak mau membuat fuel cell EV,” tandasnya.
Sedangkan BEV hanya butuh dua komponen utama pada mesinnya, yakni baterai -- meski unitnya lebih banyak dari yang di FCEV -- dan electric motor. Alhasil, battery electric vehicle dinilai tetap yang terbaik dan paling efisien untuk industri kendaraan roda 4 maupun 2.
Di 5 kampus negeri, lanjut dia, ekosistem baterai dan mobil listrik sebenarnya mulai dikembangkan sejak lama. Selain ITB yang memelopori pengembangan mobil listrik sejak 2012, ada Universitas Indonesia yang mengembangkan bus listrik, Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk baterai listrik, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sepeda motor Gesits yang kini diambil alih oleh IBC (PT Industri Baterai Indonesia), serta Universitas Gadjah Mada (UGM).
Nilai Tambah Fantastis
Pengembangan BEV di Indonesia juga tepat, karena bumi kita menyediakan sumber daya bahan baku yang besar. Hampir seluruh elemen penting penyusun katoda baterai kendaraan listrik ada di Bumi Pertiwi. Ini mencakup nikel, kobalt, mangan, aluminium, besi, dan fosfor.
“Indonesia memiliki cadangan nikel laterit sebanyak 23% dari total cadangan dunia. Bahkan, untuk bahan baku litium (kini masih harus diimpor), yang jenis Brine ada di Indonesia sebagai wilayah ‘ring of fire’ atau deretan gunung berapi Cincin Api Pasifik, meski belum final observasi depositnya,” ucap Yannes.
Dari sisi nilai tambahnya juga sangat fantastis. Bila hanya bijih nikel laterit nilai tambahnya nol, maka saat diolah menjadi bahan baku baterai nikel mixed hydroxide precipitate (MHP) nilai tambahnya 10 hingga kurang dari 14 kali. Saat diolah lagi menjadi nikel sulfat, nilai tambahnya 14 kali.
Bila diolah lagi menjadi prekursor NMC 811 (dengan tambahan kobalt sulfat 10% dan mangan sulfat 10%), nilai tambahnya 25-30 kali. Jika diproses menjadi katoda NMC 811 dengan tambahan litium 7%, nilai tambahnya mencapai 45 kali.
“Setelah diproses menjadi bahan battery cell dengan tambahan grafit, nilai tambahnya 55 kali. Berikutnya, diproses menjadi battery cell dan battery pack, nilai tambahnya 90-150 kali,” beber Yannes.
Munculkan Bisnis Baru
Yannes optimistis Indonesia bisa menjadi kekuatan yang menarik di industri kendaraan listrik, karena pasar otomotif kita lagi tumbuh berkembang dan investasi sudah banyak. Oleh karena itu, bisa dibilang nantinya bukan lagi menciptakan trickle down effect (efek menetes ke masyarakat bawah), tapi flowdown.
“Efeknya bisa luar biasa untuk pertumbuhan ekonomi, dan masyarakat akan banyak membeli. Begitu masyarakat membeli, akan berputar lagi. Dan, kalau kita masuk ke nilai tambah yang makin paling ujung di hilirisasi nikel ketika bicara sampai baterai, selanjutnya akan berkembang pula ikutannya, industri smartphone tumbuh, industri otomotif tumbuh, dan solar panel untuk penyimpan daya tumbuh,” ujarnya.
Pasalnya, setelah baterai dari kendaraan listrik densitasnya mulai turun, untuk second life dapat dijadikan baterai penyimpan energi yang dihasilkan panel surya selama mendapat sinar matahari. Ini adalah bisnis baru di Tanah Air.
“Terakhir, new business juga, karena bahan baku baterai ini datanya masih berubah-ubah, kadang cadangan nikel kita 21% dunia, kemudian tiba-tiba dikatakan 23%, 26%, lalu 17%. Tapi, Tuhan Maha Bijak, karena kita belum pernah tahu saja, yang sebenarnya kan lebih besar dari itu (jika ada temuan baru),” ujar Yannes.
Kalau Indonesia menambang dengan ‘semangat 1945’ pun, maka diprediksi 20 tahun lagi cadangan nikel RI baru habis. Sementara, nilai tambahnya bisa mencapai hingga 150 kali.
Nikel Nyaris Abadi
Yannes menuturkan pula, pihaknya mewakili anak bangsa yang melakukan riset baterai dan kendaraaan listrik dari 5 universitas sejak 2012, menyarankan sejumlah perbaikan untuk percepatan ekosistem BEV di Tanah Air. Ini misalnya selain ada regulasi yang tepat, ada standardisasi.
Pengembangan inovasi regulasi, standar, dan key performance indicators untuk Environmental, Social and Governance (ESG) yang menarik, lanjut dia, harus dapat dikerjakan mulai dari produksi hulu hingga hilir. Ini mencakup standarisasi baterai, charging system, battery pack, voltase dan socket, hingga recycle baterai demi memastikan keamanan, kualitas, dan keberlanjutan.
“Kita itu lucu dalam bikin ‘standar’, inilah tantangannya. Misalnya, di Indonesia ini ada 3 jenis socket, 10 jenis battery pack, dan 3 voltase. Jika digabung-gabung, bisa dihitung berapa banyak variannya, jadi sangat tidak standar. Kita menunggu IBC untuk mengeluarkan 1 battery cell, 1 standar, 1 voltase, 1 jenis socket, maka Indonesia akan merajai ekosistem kendaraan listrik di dunia, karena kita juga punya resource-nya,” tegasnya.
Jaga Keberlanjutan Industri
Upaya menjaga keberlanjutan industri baterai sangat penting, antara lain, karena sangat dibutuhkan untuk mencegah ketergantungan 100% impor bahan bakar minyak (BBM) saat cadangan minyak kita habis. Saat itu, seharusnya kendaraan kita sudah menggunakan listrik, yang sumbernya cukup banyak dari Sabang sampai Merauke dan juga bisa terbarukan.
“Nah, kita lihat ke perkiraan jatah (cadangan) nikel yang dinyatakan dalam angka itu sekitar 20 juta ton. Kalau nikel kita (realisasi produksi) 10 juta ton, dengan harga sekarang nilainya sekitar US$ 15 triliun. Nikel ini 90-92% dapat di-recycle. Sementara, kalau nikel kita ekspor semua, 12-20 tahun ke depan, mau nggak mau Indonesia nantinya menjadi impor energi besar-besaran,” tandas Yannes.
Baca Juga
Roy: Harita Terus Ekspansi, akan Bangun Pabrik Stainless Steel
Yang perlu dipikirkan oleh pemerintah dan para pelaku di bisnis ini adalah ketahanan energi merupakan ketahanan Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, kalau bisa baterai jangan pernah dijual ke konsumen, tetapi harus di-keep oleh negara atau unit usaha yang dikuasai oleh negara, karena nikel di baterai tersebut nyaris abadi. Nikel bisa terus digunakan dengan persentase di atas 90%, dan jika sudah hitungannya juta ton, masuk dalam skala ekonomi yang bisa di-recycle.
Upaya percepatan yang lain adalah transfer of knowledge secara sistematis, mengingat pakar baterai kendaraan listrik di Indonesia hingga kini tidak ada. Semua SDM lokal yang bekerja di sini hanya belajar sendiri, lantaran tidak ada bidang keilmuan yang dikembangkan baik di sekolah menengah kejuruan maupun perguruan tinggi.
“Seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk yang investasi di pabrik bahan baku baterai, mereka harus mendirikan lembaga pendidikan sendiri untuk mendidik tenaga di Pulau Obi, Maluku Utara. Di Indonesia ada 5.000 SMK, tapi begitu lulus tidak ada kurikulum yang dipersiapkan pemerintah untuk SDM di sektor ini,” ucapnya.
Akibatnya, semua investasi di industri baterai harus menambah anggaran. Untuk menghitung capex harus ditambah biaya untuk mendidik SDM lokal, karena kalau semua tenaga kerja impor akan menimbulkan keributan di masyarakat. Ke depan, pemerintah perlu menggenjot program R&D yang berfokus pada teknologi baterai, lewat kerja sama pemerintah, universitas, dan industri terkait dengan mengimplementasikan insentif supertax deduction.
“Jadi, perlu meningkatkan transfer of knowledge lewat pendidikan dan pelatihan SDM, yang spesialis dalam produksi dan sebanyak mungkin teknologi yang berkaitan dengan ekosistem baterai, dari upstream hingga downstream. Selain itu, mendesain infrastruktur pengisian baterai yang inovatif berbasis UX dengan mengikuti tren teknologi pengisian terbaru,” imbuhnya.
Indonesia juga perlu mengoptimalkan keuntungan posisi yang terletak di tengah-tengah dunia, di mana distribusi berbagai barang secara global paling murah lewat perairan kita. Hal ini akan membuat Indonesia menjadi pusat ekonomi dunia.
“Jadi, sirkulasi ekonomi dunia ini paling murah lewat jalur maritim kita, this is a very big business, yang sangat promising. Jadi, semua harus bersinergi, tidak bisa hanya Kementerian Keuangan (yang mengatur), kemudian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Namun, dari Kemendikbudristek pun perlu, dari Kementerian Perhubungan perlu. Karena ini program pemerintah harusnya government driven, harus bekerja sama, jangan jadi silo-silo yang beda-beda ceritanya. Karena, satu-satunya harapan Indonesia untuk cepat mewujudkan Indonesia Emas adalah melalui hilirisasi nikel,” paparnya.

