Strategi BSI Berlari Mengejar The Big Four
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sukses menjaga momentum positif kinerja bisnisnya setelah merger. Hal itu tercermin pada berbagai rasio keuangan perseroan yang makin kinclong. BSI terus berlari untuk mengejar empat bank papan atas (The Big Four) lewat sejumlah strategi yang disiapkan.
Direktur Utama BSI, Hery Gunardi menyatakan, BSI telah mencapai level profitabilitas yang baru, didukung oleh perbaikan kualitas aset dan efisiensi biaya.
“Setelah merger, bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BRIS itu menorehkan kinerja keuangan yang amat meyakinkan,” kata Hery Gunardi dalam acara buka puasa bersama pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Senin (18/3/2024).
Pada 2021, laba bersih BSI tembus Rp 3,02 triliun, tumbuh 38,39% dibanding 2020 (year on year/yoy). Laba bersih BSI menjadi Rp 4,26 triliun pada 2022, melonjak 40,69% (yoy). Pada 2023, laba bersih BSI kembali melesat 33,90% (yoy) menjadi Rp 5,70 triliun.
Pertumbuhan laba bersih BSI, menurut Hery, diikuti pertumbuhan margin pendapatan sebesar 81,15% pada 2021 (yoy), 80,75% pada 2022 (yoy), dan 79,54% pada 2023 (yoy). Sejalan dengan itu, pendapatan berbasis biaya (fee based income) BSI tumbuh masing-masing 18,85%, 19,25%, dan 20,46%.
“Dengan demikian, pada periode tersebut, BSI mencatatkan compound annual growth rate (CAGR) untuk margin income dan fee based income masing-masing sebesar 10,96% dan 12,24%,” ujar dia.
BSI merupakan bank hasil merger antara PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah. Merger ketiga anak usaha bank BUMN ini disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 27 Januari 2021. BSI diresmikan Presiden Jokowi pada 1 Februari 2021.
Pemegang saham BSI terdiri atas PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan kepemilikan masing-masing 50,83%, 24,85%, dan 17,25%. Sisanya merupakan pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5%.
Manajemen Risiko Prudent
Hery Gunardi menjelaskan, dari sisi biaya kredit (cost of credit), kebijakan manajemen risiko yang hati-hati (prudent) dan didukung fokus sektor pembiayaan yang sehat telah menciptakan kualitas pembiayaan yang lebih baik.
Dia menambahkan, cost of credit BSI pada 2020 mencapai 2,60%, turun menjadi 2,36% pada 2021. Cost of credit BSI kembali berkurang menjadi 1,97% pada 2022 dan turun lagi menjadi 1,14% pada 2023.
Adapun dari sisi biaya dana (cost of fund/CoF), kata Hery Gunardi, perbaikan pada struktur dana murah (current account saving account/CASA) dan pertumbuhan akuisisi nasabah turut membantu perseroan terus menjaga pertumbuhan CoF.
“Pada 2020, 2021, 2022, dan 2023, CoF BSI melandai masing-masing dari 2,70% menjadi 2,03%, 1,62%, dan 2,13%,” tutur dia.
Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) BSI juga dalam tren yang baik. BSI memiliki CIR 53,74% (2020), 52,57% (2021), 51,01% (2022), dan 49,86% (2023). “CIR BSI masih berpotensi turun,” tandas dia.
Baca Juga
Potensi Lebih Besar
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencetak pertumbuhan laba 33,88% (yoy) menjadi Rp 5,70 triliun di tahun 2023. Di periode yang sama BSI mencatat pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp 240,32 triliun atau tumbuh 15,70% (yoy), dengan kualitas pembiayaan (NPF) gross membaik sebesar 2,08%.
Komposisi pembiayaan yang disalurkan didominasi oleh segmen konsumer (54,32%), wholesale (28,09%) dan retail (17,58%). Pembiayaan berkelanjutan di BSI mencapai Rp 57,7 triliun yang didominasi sektor UMKM sebesar Rp 45,4 triliun, diikuti sustainable agriculture Rp 4,8 triliun, eco-efficient product Rp 5,8 triliun, energi terbarukan Rp 1,1 triliun dan proyek eco-green Rp 549,6 miliar.
Menurut Hery Gunardi, seandainya tidak mengalami krisis teknologi yang mengakibatkan terhentinya layanan pada medio Mei 2023 lalu, laba BSI diyakini bisa melampaui Rp 5,7 triliun. “Jadi, terjadi opportunity loss saat krisis IT pada Mei 2023 lalu yang diduga kuat akibat serangan siber ke sistem BSI. Kalau tidak ada, laba kita pasti lebih besar lagi,” kata Hery.
Asumsi ini didasarkan pada aliran dana simpanan yang masuk kembali pada bulan September 2023 pascarecovery serangan siber, ternyata jauh lebih besar dari volume dana simpanan nasabah yang tercatat sebelum Mei 2023.
“Saat terjadi krisis teknologi pada Mei 2023 lalu, kelompok nasabah dari golongan universalis yang membandingkan layanan BSI dengan bank-bank Big Four pergi. Karena tabungan itu agile kan. Setelah kami lakukan pendekatan secara personal pada nasabah dan meyakinkan mereka bahwa dana mereka aman, perlahan mereka kembali masuk,” ujar Hery.
BSI memang terus berlari mengejar The Big Four, yakni BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BCA.
Pada Agustus 2023, balance sheet BSI sudah kembali normal. “Bahkan memasuki September kondisinya justru sudah melampaui sebelum Mei,” imbuhnya.
Hery mengakui, insiden tersebut menjadi wake up call bagi emiten berkode BRIS ini untuk meningkatkan kapabilitas teknologi, sistem keamanan, konfigurasi aplikasi yang makin modern agar mampu memberikan layanan terbaik bagi para nasabah.
Siapkan Super Apps
Sebagai upaya untuk memberikan layanan lebih baik dan menjangkau nasabah lebih luas, BSI tengah menyiapkan sebuah Super App yang akan melayani nasabah ritel, sebagai pengganti BSI Mobile.
“Super App ini merupakan bagian dari transformasi digital yang tengah giat dilakukan perseroan. Kami terus melakukan transformasi dan membangun IT yang lebih baik, dengan mengganti sistem yang obsolete (usang) dengan yang baru, termasuk perbaikan data center, dan mengikuti best practises,” kata Hery.
Super App baru ini disebut-sebut bakal mirip-mirip dengan platform Livin by Mandiri yang dimiliki Bank Mandiri. Aplikasi tersebut akan menyediakan fitur-fitur layanan finansial, cash, lifestyle, dan beragam kebutuhan investasi nasabah.
“Saat ini sedang dalam proses percobaan versi Beta dan dicoba di lingkup karyawan BSI. Diharapkan super App ini bisa kita luncurkan pada tahun ini, dan sedang menunggu perizinan dari Bank Indonesia,” papar Hery.
Selain Super App untuk ritel, BSI juga tengah menyiapkan mesin baru untuk platform layanan wholesale perseroan. Mesin baru ini dipastikan memberikan experience yang jauh lebih baik bagi nasabah korporat dalam cash management, perdagangan, valas, hingga supply chain.
Green Financing dan Pembiayaan Halal
Sejalan dengan upaya pemerintah mendukung pencapaian netral karbon (net zero emission/NZE) pada 2060, BSI berkomitmen untuk terus menggenjot pembiayaan pembiayaan berkelanjutan (green financing).
BSI juga membidik pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang lebih luas.
“Kami mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan UMKM dan green financing,” ujar Direktur Utama BSI, Hery Gunardi dalam acara buka puasa bersama pemimpin redaksi media massa di Jakarta, Senin (18/3/2024).
Menurut Hery, komitmen itu tak lepas dari upaya BSI memberdayakan umat dan perekonomian nasional melalui sosio ekonomi dan implementasi prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG).
BSI menyalurkan pembiayaan kepada produk ramah lingkungan Rp 5,8 triliun, sektor hijau lain Rp 600 miliar, pertanian berkelanjutan Rp 4,8 triliun, dan energi terbarukan Rp 1 triliun.
“Kami menyalurkan pembiayaan antara lain kepada pembangkit listrik mikrohidro, kelapa sawit bersertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), serta geothermal,” tutur Hery.
Sedangkan untuk UMKM, BSI menyalurkan pembiayaan dengan porsi lebih besar. Tahun lalu, pembiayaan yang disalurkan emiten bersandi saham BRIS itu kepada UMKM mencapai Rp 45,5 triliun.
Segmen khusus yang juga terus dikejar pertumbuhannya adalah pembiayaan halal. Sebelumnya, Wakil Direktur BSI, Bob T Ananta mengatakan, pihaknya terus mengejar pendanaan dan pembiayaan industri halal di Indonesia. Dia menilai belum terjalinnya perbankan syariah dan industri halal Indonesia.
“Masih ada diskonektivitas supply dan demand, antara perbankan syariah dan industri halal, ini yang menjadi tantangan,” kata Bob, saat memberi paparan di Seminar Nasional Sharia Economic & Financial Outlook (ShEFO) 2024, Senin (26/02/2024).
Saat ini indeks inklusi dan literasi keuangan syariah Indonesia masih terbilang kecil di banding keuangan secara nasional. Mengutip Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022 literasi keuangan syariah baru mencapai 9,14% dan inklusi keuangan syariah sebesar 12,12%. Bandingkan dengan literasi dan inklusi keuangan nasional yang mencapai masing-masing 49,68% dan 85,10% di tahun yang sama.
Baca Juga
Laba Terbang 33,80%, Saham BSI (BRIS) Dekati Level Tertinggi Baru
“Betapa rendahnya inklusi dan literasi keuangan syariah dibanding keuangan nasional. Padahal, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi keuangan syariah yang sangat besar,” kata dia.
“Potensi funding untuk industri halal mencapai Rp 212,14 triliun dan potensi untuk financing ada Rp 158,21 triliun,” kata dia.
Beberapa sektor halal yang potensial adalah healtcare. Saat ini terdapat 500 rumah sakit Islam yang dapat didanai. Selain itu, terdapat sektor makanan dan minuman halal, serta fashion halal yang digerakkan sekitar 650.000 UMKM. Ada pula pendidikan Islam yang meliputi 82.000 sekolah, 27.000 pesantren, dan 800 universitas yang menjadi target BSI.
“Selain itu, yang menjadi fokus adalah ekosistem haji dan umroh dengan 1,5 juta jemaah per tahun,” kata dia.
Bob mengakui ada sejumlah kendala untuk mengoptimalkan potensi sektor halal. Di sektor industri makanan dan minuman, misalnya, baru terdapat 3,9 juta produk yang bersertifikasi halal dari target 10 juta sertifikasi pada 2024,” kata dia.
Selain itu, ketergantungan industri halal Indonesia terhadap bahan baku impor serta pengembangan sistem logistik halal yang masih minim.
Harga Saham
Fundamental yang kuat dan performa keuangan yang cukup impresif membuat saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) diburu investor. Pada penutupan perdagangan Selasa (19/3/2024), saham BRIS ditutup pada level Rp 2.660 atau mencetak gain 27% dibanding penutupan tahun 2023 di level Rp 1.740.
Saham BRIS sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masanya (all time high/ATH) pada sesi pertama perdagangan 14 Maret di Rp 2.950. Itu menjadi pembaruan rekor setelah ATH pertama pada 1 Februari 2021 pascamerger di Rp 2.886/unit.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas menjagokan saham BRIS dengan target harga Rp 2.950.
Upaya akselerasi digitalisasi, membidik segmen-segmen bisnis khusus seperti industri halal dan green financing, perluasan nasabah ritel, dan sejumlah strategi lain merupakan senjata BSI yang diyakini bisa mengejar untuk mendekati performa empat bank papan atas.

