2024, Tahun Ekuitas
JAKARTA, investortrust.id - Tahun 2024 adalah tahun ekuitas. Setelah enam tahun bergerak relatif datar, tahun ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terangkat. Investasi di saham cukup prospektif.
“Mengikuti kondisi ekonomi global, Indonesia dalam lima tahun ke depan masuk fase ekspansi. Ini ditandai penurunan suku bunga, pertumbuhan kredit perbankan 11-13%, dan laju pertumbuhan ekonomi di atas 6%,” kata CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera Primus Dorimulu dalam pidato di acara “The Best Unit Link Award 2024” di Jakarta, Rabu (28/02/2024).
| Pertumbuhan ekonomi dunia, AS, Cina, India, dan Indonesia, 2015-2023. Sumber: Invertortrust. |
Diperkirakan, The Federal Reserve (Fed) mulai menurunkan fed funds rate (FFR) sejak awal kuartal semester II-2024. Langkah Bank Sentral AS akan diikuti oleh bank sentral emerging market, termasuk Indonesia (BI). FFR yang saat ini 5,25%-5,50% akan turun ke level 4,50%-4,75%. Sedangkan BI rate yang kini 6% akan diturunkan ke level 5%.
Tapi, penurunan ini masih sangat ditentukan oleh pergerakan kurs rupiah dan laju inflasi. “Jika rupiah bisa dijaga di level Rp 15.000 per dolar AS, dan inflasi bisa dikendalikan di level 2,5% plus-minus 1%,” ucapnya.
| Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS. Sumber: Invertortrust. |
Kita berharap, tahun ini, ada capital inflow yang cukup besar, baik foreign direct investment (FDI) maupun portfolio investasi.
Portofolio investasi selama Januari hingga 26 Februari 2024 mencatat net capital inflow. Hingga 26 Februari 2024, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat net buying Rp 20,23 trilliun, sedangkan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) net selling Rp 5,75 triliun.
Penurunan suku bunga berdampak positif bagi pasar saham. Harga saham akan naik dan indeks harga saham gabungan (IHSG) akan meningkat signifkan. Investasi di saham akan menarik, itulah sebabnya tahun ini adalah tahun ekuitas.
“Tahun Kebangkitan Unit Link”
Investasi asuransi jiwa sesungguhnya juga tetap tumbuh, meski kecil. Penurunan hasil investasi paling tajam terjadi 2018 sebagai dampak dari tsunami investasi portofolio, yang disebabkan oleh masalah saving plan Asuransi Jiwasraya. Banyak perusahaan reksa dana yang terkena kasus, sehingga nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana merosot tajam. Sejak tahun 2023, hasil investasi mulai menunjukkan peningkatan dan bakal naik signifikan tahun ini.
Tahun ini diyakini sebagai “Tahun Kebangkitan Unit Link”. Hasil investasi di unit link yang selama ini jeblok diperkirakan akan naik tahun ini.
Pertama, kenaikan hasil investasi bakal didongkrak oleh investasi di saham. Pada tahun 2023, sekitar 30% dana investasi unit link ditanamkan di SBN, sedang saham 19%, dan reksa dana 17%.
Kondisi ini berbeda dengan alokasi investasi unit link pada tahun 2018. Pada tahun itu, reksa dana mendapatkan alokasi dana tertinggi, yakni 36%, disusul saham 30%, dan SBN 14%.
Untuk tahun 2024, secara umum di asuransi jiwa, penempatan dana investasinya diperkirakan dialokasikan paling banyak ke SBN sekitar 40%, ke saham 29%, sukuk korporasi 8%, reksa dana 7%, dan sisanya ke yang lain sekitar 16%.
Kedua, kenaikan nilai investasi unit link didorong regulasi baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni POJK No 05 Tahun 2015 tentang Produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi, serta POJK No 22 Tahun 2023 tentang Perlindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan.
Sempat jatuh akibat terungkapnya skandal Jiwasraya, perusahaan asuransi jiwa didera kerugian serius tahun 2018 sebesar Rp 2,2 trilliun. Berikutnya, pada tahun 2018, membengkak menjadi Rp 8,7 trilliun.
Tapi, sejak 2020, laba perusahaan asuransi jiwa, perlahan mulai menanjak. Pada tahun 2011, laba perusahaan asuransi jiwa Rp 4,3 trilliun, naik dari Rp 400 miliar tahun 2000. Laba terbesar perusahaan asuransi jiwa terjadi tahun 2022, yakni sebesar Rp 11,3 trilliun.
Prospek asuransi jiwa di Indonesia masih sangat cerah. Pertama, penetrasi asuransi jiwa di Indonesia masih tergolong rendah. Kedua, densitas asuransi jiwa masih rendah. ***

