Industri Perbankan Hadapi Tantangan, Perlu Lanjutkan Restru dan Stimulus bagi UMKM
JAKARTA, Investortrust.id - Industri perbankan nasional kini tengah dihadapkan pada sejumlah tantangan serius, dari persoalan ketatnya likuiditas, perlambatan ekonomi yang bisa mengancam lonjakan tingkat pinjaman bermasalah, hingga tantangan eksternal berupa kondisi geopolitik global yang mengganggu arus supply chain serta rezim suku bunga tinggi yang dikomandani oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve).
“Penggunaan AI (kecerdasan buatan) yang meluas juga mengurangi penyerapan tenaga kerja. Masalah geopolitik belum mereda. Inflasi dan suku bunga masih bergejolak,” kata CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera (Investortrust.id) Primus Dorimulu dalam kesempatan kata pembuka di ajang The Best Bank 2024 bertema
“Balancing Bank Performance & Sustainability Readiness Toward 2030”, yang digelar di Jakarta, Kamis (11/7/2024).
Disampaikan Primus, persoalan yang dialami industri perbankan domestik saat ini termasuk juga soal likuiditas yang ketat, diwarnai perebutan bank atas dana masyarakat, terutama bank KBMI II dan I. “Harga dana akan naik sebagai konsekuensi darı persaingan mendapatkan dana simpanan,” tuturnya.
Perlambatan ekonomi juga diproyeksikan berujung pada ancaman lonjakan NPL. Jika kredit tetap dipaksakan digenjot, maka tingkat NPL akan meningkat sehingga bank harus meningkatkan pencadangan, dan ujungnya profitabilitas pun akan menurun.
Di sisi lain, penurunan kinerja UMKM sejak tahun lalu akibat turunnya belanja rumah tangga dan jatuhnya daya beli masyarakat menengah-bawah, diproyeksikan bakal mengganggu peningkatan kredit.
Digitalisasi di industri perbankan pun jadi tantangan. “Bank yang tidak meningkatkan kualitas produk dan layanan digital akan ketinggalan.Termasuk pula bagaimana perbankan menghadapi cybercrime akan terus diuji. Cyber security harus selalu di-update,” kata Primus.
Ini Solusi bagi Perbankan
Di tengah situasi tersebut, sejatinya industri perbankan bisa menjalankan sejumlah langkah untuk menekan potensi risiko dari tantangan-tantangan tadi. “Salah satunya bank harus menjaga kualitas kredit dengan mencermarti business cycle dari sektor yang akan menjadi sasaran kredit, sebagai bagian dari prudential banking. Bank juga harus selektif menilai sektor yang masih punya peluang untuk berkembang. Karena pada dasarnya masih banyak sektor-sektor industri yang masih punya peluang baik untuk bertumbuh,” kata Primus.
Namun demikian, bank juga tak boleh mengabaikan langkah peningkatan pencadangan, dan terus meningkatkan investasi di IT dan digital banking.
Di sisi regulator, ujar Primus, perlu dipertimbangkan perpanjangan periode restrukturisasi kredit seperti yang pernah diterapkan selama pandemi. Dan bagi UMKM dibutuhkan stimulus agar mereka tetap membuka ruang bagi mereka menjalankan operasional.
Pada kesempatan yang sama, Primus juga memaparkan kinerja perbankan secara umum. Hingga Mei 2024, kinerja perbankan nasional menunjukkan resiliensi. Resilien artinya perbankan nasional mampu mengatasi tantangan dan beradaptasi dengan perubahan seperti perlambatan ekonomi, suku bunga tinggi, dan persaingan memperebutkan dana, termasuk dengan dengan otoritas fiskal dan moneter.
“Pasar finansial kini menghadapi crowding out effect serius akibat kebijakan Kemenkeu yang getol memobilisasi dana masyarakat lewat penjualan SBN yang masih masif dan Bank Indonesia (BI) yang menyedot dana publik lewat penjualan SRBI,” tutur Primus.
Ia menyebut bunga SRBI enam hingga 12 bulan berkisar 7,16%-7,35% dan yield SBN tiga hingga 10 tahun berkisar 6,80%-7,15%. Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang sudah dibeli investor domestik nonbank selama Juni 2024 mencapai Rp 34,4 triliun, meningkat signifikan dari Rp 1,3 triliun di bulan sebelumnya.
Dalam pada itu, investor asing yang pada Mei 2024 membeli Rp 77 triliun SRBI, pada Juni hanya membeli SRBI Rp 40,3 triliun. Pembeli luar negeri kini memiliki 27% dari total dana SRBI, sedang bank domestik memiliki 64%, dan investor domestik nonbank memiliki 6%.
Sekadar informasi, SRBI dirancang BI untuk menarik dana asing, namun data menunjukkan instrumen ini belum memperluas pool valas dalam negeri secara signifikan. SRBI dinilai sekadar menggeser atau crowd out bank-bank asing pemilik obligasi pemerintah atau SBN.
Dengan bunga SRBI yang tinggi dan yield SBN yang besar, bank tergoda untuk tidak menyalurkan kredit di tengah ketidakpastian perkembangan ekonomi.
“Bisa dipahami jika kalangan korporasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengeluhkan ketatnya likuiditas. Dalam bahasa sederhana: uang makin sulit!” ujarnya.
Merespons kondisi global, BI menerapkan kebijakan ekonomi yang kontraktif. Itu terlihat pada kenaikan suku bunga acuan bank sentral sejak 2022. Merespons FFR, BI menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) darı 3,505 menjadi 3,75%, 23 Agustus 2022. Sejak 24 April 2024, BI rate sudah di level 6,25%.
Kebijakan BI dinilai “behind the curve” karena sejak 26 Juli 2023, fed fund rate (FFR) sudah 5,25%-5,50%. BI baru menaikkan BI rate setelah rupiah melemah hingga menembus Rp 16.400 per dolar AS.
Kinerja Perbankan Domestik
Di tengah kebijakan moneter yang ketat, perbankan nasional masih ekspansif. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, hingga Mei 2024, kredit bertumbuh 12,15%, yoy, menjadi Rp 7.376 triliun dengan kualitas kredit terjaga. NPL gross, Mei, sebesar 2,34% dan NPL net 0,79%.
Pada Mei 2024, yoy, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8,63%, yoy, menjadi Rp 8.699 triliun.
Pada tahun 2023, DPK hanya bertumbuh 3,7% meski kredit meningkat 10,38%. Likuiditas pada Mei 2024 cukup ketat seperti terlihat pada rasio alat likuid terhadap non core deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK), masing-masing, 114,58% dan 25,78%. Pada April 2024, posisi kredit Rp 7.247 triliun, DPK Rp 8.376 triliun.
Risiko kredit menurunkan laba perbankan. Tapi, data OJK menunjukkan, profitabilitas perbankan cukup menggembirakan seperti terlihat pada return on asset (ROA) Mei 2024 sebesar 2,56%, naik tıpis darı April 2024 sebesar 2,54%.
Pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) Mei 2024 sebesar 4,56%, turun tipis dari 4,66%, April 2024.
Selain NPL yang relatif terkendali, loan at risk (LAR) atau risiko kredit perbankan turun darı 11,04% April menjadi sebesar 10,75% pada Mei 2024. NPL gross, Mei 2024 sebesar 2,34%. Di segmen UMKM, NPL gross Mei 2024 stabil di angka 4,27%. LAR UMKM sedikit lebih tinggi, yakni 13,83% pada bulan yang sama.
Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) perbankan menunjukkan tren menurun pertanda ada peningkatan efisiensi. Pada April 2024, BOPO 80,74%.
Perkembangan perbankan nasional ditopang oleh struktur permodalan yang cukup bagus seperti terlihat pada rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 26,22% pada Mei 2024, naik darı April 2024 sebesar 25,97%.
Sementara loan to deposit ratio (LDR) perbankan nasional pada Mei 2024 masih sebesar 84,80%. “Masih ada ruang bagi perbankan untuk melakukan ekspansi kredit,” imbuhnya.
Tema ajang The Best Bank 2024 adalah “Balancing Bank Performance & Sustainability Readiness Toward 2030” atau “Menjaga Keseimbangan Kinerja Bank & Kesiapan Keberlanjutan Menuju Tahun 2030”. “Mengapa hingga 2030? Karena dalam enam tahun ke depan, Indonesia menikmati bonus demografi dan pada saat yang sama mengalami disrupsi teknologi yang serius,”kata Primus.
Penggunaan AI yang meluas mengurangi penyerapan tenaga kerja. Masalah geopolitik belum mereda. Inflasi dan suku bunga masih bergejolak.
Berikutnya Primus menyampaikan selamat kepada para pemenang. “Kiranya perbankan nasional mampu menghadapi tantangan, tetap resiliens, dan memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Saya atas nama manajemen PT Investortrust Indonesia Sejahtera, perusahaan yang menerbitkan Investortrust.id mengucapkan “Proficiat” kepada para pemenang. Perbankan adalah jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh perekonomian suatu bangsa,” tutup Primus.

