Sunarso: BRI Memprioritaskan Likuiditas dan Kualitas Kredit
Hong Kong, Investortrust.id— Menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang mendera segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) memprioritaskan likuiditas dan kualitas kredit.Meski tetap dilakukan berbagai upaya, profitabilitas bukan prioritas. Profitabilitas sangat ditentukan oleh pertumbuhan kredit yang jika dipaksakan akan membengkakkan non performing loan (NPL) atau kredit bermasalah.
“Sebagai pemain bola, saya maunya 3:0. Unggul dalam likuiditas, kualitas, dan profitabilitas. Tapi, dalam situasi ekonomi seperti sekarang, itu tidak mungkin,” kata CEO PT BRI Tbk Sunarso dalam diskusi dengan sejumlah pemimpin redaksi di Hong Kong, Jumat (28/06/2024). Likuiditas sangat penting agar bank bisa beroperasi, melayani nasabahnya, dan memenuhi semua kewajibannya terhadap nasabah dengan baik. Sedang kualitas sangat penting dijaga agar kegiatan operasional bank tetap berlanjut.
BRI akan berusaha maksimal untuk mendongkrak laba. Tapi, pertumbuhan laba dua-tiga persen tahun ini sudah bagus. Kalau pun laba bersih minimal sama dengan tahun lalu, itu pun sudah cukup bagus. Jika pertumbuhan kredit dipacu untuk mengejar pertumbuhan laba yang spektakuker, NPL akan membengkak dan itu mengorbankan kualitas kredit. “Likuiditas penting untuk hidup hari ini. Sedangkan kualitas penting untuk hidup di tahun-tahun akan datang,” terang Sunarso.
Sunarso berada di Hong Kong untuk menerima langsung 11 penghargaan dari Finance Asia di ajang The Finance Asia Awards and Asia’s Best Companies Poll Gala Dinner 2024, Kamis (27/06/2024). Penghargaan yang diraih, demikian Sunarso, tidak lepas dari komitmen perseroan untuk menciptakan economic value dan social value dengan fokus pemberdayaan UMKM. “Penghargaan ini kami persembahkan kepada lebih dari 110 ribu insan BRILian (Pekerja BRI) yang selama ini telah memberikan komitmen dan dedikasi yang kuat, sehingga BRI dapat terus mengambil peran dalam roda perekonomian Indonesia,” jelasnya.
Baca Juga
Dorong Produktivitas, BRI (BBRI) Eksplorasi Kecerdasan Buatan
UMKM berperan besar terhadap perekonomian nasional, yakni menyerap 97% tenaga kerja dan menyumbang 61% terhadap PDB. Itu sebabnya, pada masa pandemi, 2020-2023, pemerintah memberikan insentif kepada UMKM agar segmen usaha ini tetap bertumbuh di tengah krisis. Hasilnya positif, UMKM bertumbuh dan dampakya dirasakan BRI seperti tercermin pada kinerja keuangan 2023. Secara nasional, pertumbuhan ekonomi yang sempat minus tahun 2020 kembali ke jalur positif tahun 2021.
Pada tahun 2023, BRI meraih laba bersih konsolidasi Rp 60,43 triliun, melonjak 17,5% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Itu terjadi karena kinerja UMKM cukup bagus, ditopang kekuatan belanja rumah tangga dan daya beli masyarakat menengah-bawah. Kredit BRI tahun 2023 meningkat 11,2% menjadi Rp 1.266,4 triliun. Kredit korporasi tumbuh 13,8% menjadi Rp 197,7 trilliun.
Baca Juga
BRI Beberkan Proses Transformasi Digital di Ajang Product Development Conference 2024
Penghimpunan dana masyarakat BRI tahun 2023 didominasi dana murah, yaitu current account saving account (CASA) yang mencapai Rp 874,1 triliun atau setara 64,5% dari total dana pihak ketiga (DPK). Pada Desember 2023, DPK BRI Rp 1.358,33 triliun atau tumbuh 3,9% dibandingkan periode yang sama tahun 2022. Pertumbuhan DPK industri perbankan nasional tahun 2023 sebesar 3,8%.
Kinerja yang bagus ini berlanjut. Pada kuartal I 2024, BRI meraup laba bersih Rp 15,9 triliun, naik 2,5% dibanding periode yang sama tahun 2023 sebesar Rp 15,5 triliun. Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BRI pada periode yang sama meningkat 9,7%, yoy, menjadi Rp 35,95 triliun, naik dari Rp 32,77 triliun periode yang sama 2023.
Pada kuartal I 2023, laba bersih BRI Rp 15,56 triliun, naik 27,37% dibanding kuartal I tahun 2022. Pada periode yang sama, pendapatan bunga dan pendapatan syariah bersih BRI secara konsolidasi tumbuh 7,8% (yoy) menjadi Rp 32,77 triliun. “Kalau tahun ini laba bersih naik 2-3% sudah cukup bagus,” ungkap Sunarso.
Hingga Maret 2024, kredit yang disalurkan BRI Rp 1.308,65 triliun, meningkat 10,9%, yoy, sedikit di bawah target, 11%–12%. Sementara dana pihak ketiga BRI pada periode yang sama tumbuh 12,80% menjadi Rp 1.416,21 triliun.
Sekitar Rp 1.089,41 triliun atau 83,25% kredit BRI disalurkan ke segmen UMKM. Total kredit yang disalurkan BRI ke pelaku usaha mikro dan ultra mikro hingga akhir kuartal I-2024 mencapai Rp 622,6 triliun. Jumlah tersebut kurang lebih 47,6% dari total pembiayaan BRI dengan jumlah nasabah 36,8 juta.
Nasabah mikro dan ultra mikro BRI Group saat ini sekitar 44 juta UMKM. BRI juga memiliki 173 juta nasabah simpanan. Sekitar 67% nasabah UMKM di Indonesia adalah nasabah BRI Group. Kinerja BRI mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia.
Pinjaman BRI ke segmen kecil dan menengah pada kuartal I 2024 tumbuh 8,06% yoy, menjadi Rp 272,85 triliun dan segmen korporasi tumbuh 15,10%, yoy, menjadi Rp 219,24 triliun. Kredit yang tumbuh dua digit mendongkrak aset BRI hingga mencapai Rp 1.989,07 triliun atau tumbuh 9,11%, yoy.
Mendukung Kebijakan
Pandemi, kata Sunarso, sudah berakhir, tapi ekonomi belum pulih. Belanja rumah tangga menurun dan daya beli masyarakat menengah-bawah turun signifikan. Dalam setahun terakhir dunia usaha merasakan likuditas yang ketat. Kondisi ini berdampak buruk terhadap UMKM dan berimbas pada kinerja BRI.
Baca Juga
Garap Potensi Digitalisasi Usaha Ultra Mikro, BRI Group Optimalkan SenyuM Mobile
Pemulihan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi oleh ekonomi global. Bank Sentral AS gencar menaikkan suku bunga untuk menekan laju inflasi yang disebabkan oleh likuiditas yang dibanjiri selama masa pandemi. Kenaikan fed fund rate (FFR) dari 0,25% hingga 5,50% dalam dua tahun terakhir berdampak negatif terhadap ekonomi Indonesia. Bank Indonesia (BI) harus ikut menaikkan suku bunga acuan dari 3,50%, 23 Agustus 2022, ke 6,25%, 24 April 2024 dan dipertahankan hingga saat ini.
Kondisi ekonomi diperparah oleh masalah geopolitik, yakni Perang Rusia vs Ukraina dan Israel vs Hamas, Palestina. Kerusakan rantai pasok akibat pandemi akhirnya berkepanjangan. IMF dalam laporan terakhir, April 2024, memperkirakan, perekonomian dunia akan tumbuh 3,2% tahun 2024 dan 2025, tak banyak beda dengan 2023.
Ada sedikit percepatan pertumbuhan di negara maju, yakni meningkat dari 1,6% tahun 2023 menjadi 1,7% tahun 2024 serta 1,8% tahun 2025. Namun, untuk negara emerging market dan negara-negara berkembang, IMF memperkirakan ada perlambatan, yakni dari 4,3% tahun 2023 menjadi 4,2% tahun 2024 dan 2025.
Kenaikan suku bunga acuan BI dinilai tepat untuk mencegah capital outflow dan pelemahan rupiah. Pada pekan terakhir Juni 2024, rupiah sempat melemah ke 16.400 per dolar AS. “Kenaikan suku bunga acuan adalah respons kebijakan yang logis terhadap perkembangan ekonomi global,” terang Sunarso.
Tapi, kenaikan suku bunga acuan menyebabkan perebutan dana masyarakat dan penaikan cadangan bank untuk mengantisipasi lonkakan NPL. Ada kompetisi bank dalam menarik dana masyarakat. Sedang untuk menaikkan suku bunga kredit, perbankan akan ekstra hati-hati. Karena penaikan bunga kredit akan menyebabkan kenaikan NPL.
UMKM tidak terlalu sensitif terhadap suku bunga. Masalah utama UMKM adalah, kemudahan dan kecepatan. Jika ada kemudahan dan kecepatan mendapatkan dana, UMKM akan bertumbuh.
Sunarso mendukung rencana pemerintah untuk memperpanjang restrukturisasi perbankan. Namun, melemahnya belanja rumah tangga dan turunnya daya beli masyarakat menengah-bawah tetap menjadi masalah yang mendera UMKM.
Para pelaku UMKM, lanjut Sunarso, membutuhkan stimulus seperti yang diperoleh selama pandemi. Di saat likuiditas ketat dan daya beli menurun seperti saat ini, stimulus menjadi solusi yang tepat.
Saat ini pemilik dana memiliki banyak alternatif alokasi dana selain menyimpan di bank. Mereka bisa membeli surat berharga negara (SBN). Mereka juga bisa membeli sertifikat rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan sertifikat dolar Bank Indonesia (SDBI). Di tengah seretnya dana masyarakat, BI menaikkan giro wajib minimum (GWM) hingga 9%.
Dalam kemampuan menyerap kredit, UMKM lebih baik. Korporasi hanya bisa menyerap kredit sekitar Rp 300 triliun setahun. “Sedang UMKM adalah blue ocean. Tapi, risiko kredit ke UMKM jauh lebih besar dibanding ke korporasi,” tandas Sunarso. (Pd)

