Prajogo Pangestu, Konglomerat Pionir Bisnis Geothermal Terbesar
JAKARTA, investortrust.id – Dalam sejarah pasar modal Indonesia, tidak ada saham yang dalam kurun waktu tujuh bulan setelah menggelar penawaran umum perdana (IPO) saham, harganya sampai meroket 1.124% atau 12,24 kali lipat. Itulah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), perusahaan energi terbarukan terbesar di Indonesia milik konglomerat kelahiran Pontianak, Prajogo Pangestu.
Dimasukkannya saham BREN ke dalam dua produk Exchange Traded Fund (ETF) milik raksasa manajemen investasi BlackRock membuat saham ini kian diburu asing. Dua produk ETF Blackrock yang menjadi saham BREN sebagai konstituen adalah iShares Global Clean Energy ETF (ICLN) dan iShares Global Clean Energy UCITS ETF (INRG), yang mengacu pada indeks S&P Global Clean Energy Index.
BREN tercatat sebagai emiten pengembang panas bumi (gothermal) dan tenaga angin terbesar di Indonesia. BREN melalui Star Energy tercatat sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dan nomor lima di dunia dengan total kapasitas pembangkit mencapai 886 MW hingga kini. Pembangkit tersebut tediri atas PTLP Wayang Windu, PTLT Darajat, dan PTLP Salak.
Baca Juga
Barito Renewables (BREN): Raih Tahta Market Cap Terbesar hingga Prajogo makin Kaya
Selain geothermal, Barito Renewables tercatat sebagai perusahaan pembangkit listrik tenaga angin terbesar di Indonesia dengan kapasitas 75 MW. Hal ini dilakukan setelah perseroan menuntaskan akuisisi sebanyak 99,99% saham PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap), yaitu perusaan pengembang pembangkit listrik tenaga angin di Sidrap dengan kapasitas pembangkit 75 MW.
Barito Renewables (BREN) merupakan perusahaan pembangkit listrik geothermal yang diprakarsai Prajogo Pangestu untuk mengoperasikan tiga pembangkit. Pertama, perseroan bertindak sebagai pemegang 90% saham Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd (SEGWWP) yang mengoperasikan pembangkit listrik dengan kapasitas 230,5 MW.
Kedua, perseroan juga bertindak sebagai pemegang masing-masing 76,11% saham Star Energy Geothermal Darajat I dan II dengan kapasitas mencapai 274,5 MW. Ketiga, BREN juga tercatat sebagai pemegang mayoritas atau 76,11% saham Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGSL) kini memiliki kapasitas 381 MW.
Selain mengoperasikan tiga pembangkit listrik geothermal tersebut, BREN juga tengah membangun pembangkit listrik Salan Binary Plant dengan kapasitas 14 MW. Perseroan bertindak sebagai pemegang 76,1% proyek tersebut.
Saat ini, perseroan juga tengah melakukan eksplorasi pembangkit panas bumi Sekincau Selatan dengan kepemilikan 72,3% dan eksplorasi pembangkit listrik Gunung Hamiding dengan kepemilikan 85,5% saham.
Sedangkan pembangkit listrik tenaga angin yang dikuasai perseroan melalui Barito Wind adalah PT UPC Sidrap Bayu Energy (Sidrap) yang mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 75 MW. Pembangkit tersebut merupakan pembangkit listrik tenaga angin terbesar di Indonesia.
Barito Wind juga telah menyelesaikan akuisisi tiga aset pengembangan pembangkit tenaga angin tahap akhir dengan kapasitas gabungan potensial 320 MW yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan (Sidrap 2), Sukabumi, dan Lombok.
Kapasitas Terbesar
Berdasarakan data, Barito Renewables merupakan perusahaan pembangkit listrik geothermal terbesar di Indonesia dengan total kapasistas yang dikuasainya mencapai 886 MW, dibandingkan empat pemain besar lainnya yang sudah masuk di sektor ini.
Empat pemain lainnya memiliki kapasitas bervariasi, seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menguasai kapasitas terpasang yang dikelola sendiri sebanyak 672 MW. Perseroan juga tercatat sebagai perusahaan yang memiliki saham minoritas pada sejumlah pembangkit listrik geothermal.
Pertamina Geothermal (PGEO) mengelola sendiri enam lapangan dengan total kapasitas 672 MW. Di antaranya, pembangkit listrik Lahendong sebanyak 120 MW, pembangkit listrik Ulubelu sebanyak 220 MW, dan pembangkit listri Lahendong 120 MW. Perseroan juga mengelola binary palnt 0,5 MW, Sibanyak 12 MW, Karaha 30 MW, dan Lumut Balai 55 MW.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Akan Akuisisi Aset Panas Bumi di Kenya dan Turki
PGEO juga memiliki tiga proyek pengembangan panas bumi yang tengah berjalan, yaitu pembangkit listrik Lumut Balai Unit 2 kapasitas 55 MW, pembangkit Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW, dan pembangkit Sungau Penuh dengan kapasitas 55 MW.
Sedangkan pembangkit listrik geothermal lainnya terdiri atas Sarulla Operations dengan kapasitas 330 MW, Supreme Energy dengan kapasitas 175 MW, KS Okra dengan kapasitasn 145 MW, dan Geo Dipa Energi mencapai 130 MW.
Sarulla Operations merupakan perusahaan pembangkit listrik yang dibentuk oleh konsorsium Medco Energi, Itochu Corporations, Kyushu, INpex, dan Ormat. Total investasi yang telan digelontorkan perusahaan konsursium ini mencapai US$ 1,7 miliar untuk mendirikan pembangkit listrik panas bumi Sarulla dengan kapasitas 330 MW di Sumatera Utara.
Baca Juga
Gelontorkan Rp 1,26 Triliun, UNTR Tambah Saham di Pembangkit Listrik Geothermal Ini
Sedangkan Supreme Energy memiliki kapasitas pembangkit terpasang 175 MW. Pembangkit tersebut terdiri atas PT Supreme Energy Muara Laboh dengan kapasitas 85 MW. Supreme Energy bersama anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) juga memiliki pembangkiit panas bumi Rantau Dedap dengan kapasitas terpasang mencapai 91,2 MW. Pembangkit listrik geothermal lainnya adalah KS Okra dengan kapasitas terpasang 145 MW dan Geo Dipa Energi mencapai 130 MW.
Selain terbesar secara keuangan, Barito Renewables (BREN) tercatat meraih keuntungan terbesar. Laba bersih hingga kuartal I-2024 mencapai US$ 28,8 juta dengan pendapatan senilai US$ 145 juta. Bahkan, dalam empat tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai 18,7%.
Angka tersebut tergolong besar, dibandingkan dengan Pertamina Geothermal (PGEO) dengan pendapatan senilai US$ 103,31 juta dengan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$ 47,51 juta.
Dengan kinerja keuangan kuat tersebut, Barito Renewables (BREN) kini tercatat sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar (market cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 1.277,65 triliun. Hal ini terjadi setelah saham BREN melesat 12,24 kali lipat dari level IPO saham Rp 780 menjadi Rp 9.550 untuk kurun waktu 9 Oktober 2023 hingga 13 Mei 2024.
Bidik 1.200 MW
Sementara itu, CEO Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan dalam laporan kinerja keuangan tahun 2023 menyebutkan bahwa perseroan berkomitmen untuk memasok energi panas bumi sebanyak 1.200 MW hingga tahu 2028. Komitmen tersebut sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan bauran EBT di masa depan.
Dia mengatakan, perseroan tengah melakukan sejumlah pengembangan aset panas bumi di area operasi Salak, Darajat, dan Wayang Windu dengan program retrofit maupun penambahan unit baru yang berpotensi meningkatkan kapasitas sebesar 116 MW dengan target mulai beroperasi tahun 2025 hingga 2027.
Baca Juga
BREN dan TPIA ATH, Prajogo Makin Tajir Rp 1.023 T dan Peringkat 25 Dunia
Penambahan kapasitas terpasang juga dilakukan melalui pengembangan lapangan panas bumi baru maupun akuisisi aset panas bumi baik di dalam maupun di luar negeri. Saat ini, anak usaha perseroan telah memiliki izin eksplorasi panas bumi di kawasan Gunung Hamiding, Provinsi Maluku Utara dan di Sekincau Selatan, Provinsi Lampung.
“Dengan langkah-langkah pengembangan di atas, kapasitas terpasang bruto perseroan diperkirakan meningkat menjadi 1.032 MW pada 2027. Peningkatan akan terus dilanjutkan hingga mencapai 1.200 MW tahun 2028 dengan penambahan kapasitas proyek baru maupun proyek existing,” tulisnya dalam laporan kinerja keuangan tersebut.
Selain penambahan kapasitas terpasang, lanjut Hendra, perseroan akan terus menjaga keunggulan operasional dari seluruh pembangkit panas bumi yang dimiliki. Hal ini tercermin dalam utilisasai kapasitas berada di atas 90%. Perseroan juga akan terus menjaga efisiensi dan optimisasi dalam biaya operasional, termasuk menurunkan beban pembiayaan bank, yang ditargetkan dapat di realisasikan pada semester II-2024.(HG)
Grafik Saham BREN

