Ketika Analis Yakin Laba BRI Kian Kencang Jelang Tutup Tahun
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan kinerja keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah sesuai ekspektasi para analis hingga Agustus 2023. Tren pertumbuhan laba diyakini kian kencang dalam beberapa bulan jelang tutup tahun, seiring dengan pesatnya pertumbuhan kredit perseroan.
Analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabarat optimistis tingkat pertumbuhan laba bersih perseroan dalam beberapa bulan terakhir cenderung pesat didukung anak usahana dan faktor lainnya. Diproyeksikan tingkat kenaikan laba yang lebih tinggi sejalan dengan berlanjutnya pertumbuhan kredit.
BRI mencatatkan peningkatan laba bersih dari Rp 33,56 triliun pada Agustus 2022 menjadi Rp 34,82 triliun hingga Agustus 2023 (year on year/yoy). Raihan tersebut setara dengan 59,07% dari perkiraan Mandiri Sekuritas dan 58,85% dari perkiraan konsensus analis.
Perseroan juga mencatatkan peningkatan laba operasi sebelum pencadangan (pre-provisioning operating profit/PPOP) sebanyak 2% dari 60,43 triliun menjadi Rp 61,64 triliun. Begitu juga dengan pendapatan bunga bersih turun tipis dari Rp 72,21 triliun menjadi Rp 71,56 triliun. Sedangkan provisi turun dari Rp 19,46 triliun menjadi Rp 17,76 triliun sampai Agustus 2023.
“Perseroan menunjukkan tingkat pertumbuhan kredit yang terus menguat dari bulan ke bulan yang diharapkan menopang pertumbuhan laba bersih sampai akhir tahun. Dengan pertumbuhan tersebut pendapatan bunga bersih diprediksi akan meningkat dari bulan ke bulan,” terangnya.
Perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit telah mendekati level 12% hingga akhir Agustus 2023. Realisasi tersebut telah mendekati target tertinggi pertumbuhan kredit BRI tahun ini.
Hal ini mendorong Analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto Chandra dan Kresna Hutabarat untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.700. Target tersebut memperkirakan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 59,07 triliun sampai akhir tahun.
Sementara itu, CGS CIMB Sekuritas menyebutkan bahwa realisasi kinerja keuangan BBRI hingga Agustus 2023 sudah sesuai ekspektasi, meski perseroan mencatatkan penurunan laba bersih pada Agustus akibat peningkatan pencadangan.
“Secara umum kinerja perseroan sudah sesuai ekspektasi, meskipun ada penurunan laba bersih bulanan yang besar, karena kenaikan pencadangan (perlu diingat pencadangan bulanan sangat berfluktuasi),” tulis CGS CIMB Sekuritas dalam riset beberapa waktu lalu.
BRI juga mencatatkan pertumbuhan kredit baik secara bulanan maupun tahunan hingga mendekati angka proyeksi tertinggi perseroan. Sementara itu, kinerja operasional lainnya juga berada di jalur positif.
Target Harga Saham
Samuel Sekuritas dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa sektor perbankan nasional menunjukkan pertumbuhan yang pesat hingga Agustus 2023. Laba bersih bank only bertumbuh rata-rata 17,1% menjadi Rp 120,0 triliun. Pertumbuhan laba yang positif tersebut terutama didorong oleh penurunan biaya provisi, pertumbuhan kredit yang mencapai 10,7%, dan NIM tetap stagnan pada angka rata-rata 5,08%.
Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa BBRI merupakan satu dari beberapa bank yang mencatatkan pertumbuhan yang baik hingga Agustus 2023. Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.400.
Rekomendasi beli pada saham BBRI juga diberikan analis Ciptadana Sekuritas Erni Marsella Siahaan. Menurut dia, tingkat pertumbuhan kinerja keuangan BBRI sudah sesuai harapan sampai Agustus 2023. Sedangkan secara sektor juga terlihat pertumbuhan yang kuat dengan kenaikan laba bersih tujuh bank nasional tercatat mencapai 17,2% hingga Agustus 2023.
Hal ini mendorong Ciptadana Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.250. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PER tahun ini sekitar 13,3 kali dan tahun 2024 diperkirakan mencapai 12,4 kali.
Prospek saham BBRI
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 6.700
Samuel Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 6.400
Ciptadana Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 6.250
Kian Ekspansif
Sementara itu, Manajemen BRI sangat inovatif dalam meramu berbagai strategi sehingga mampu menorehkan performa yang gemilang dan menaikkan value bagi pemegang saham. Dengan tingkat permodalan yang solid, BRI mampu memberikan return on equity (ROE) yang tinggi.
Meski 84,5% kreditnya dikucurkan ke sektor UMKM yang biaya operasionalnya tinggi dengan risiko yang cukup besar, rasio kredit bermasalahnya (NPL) tetap terjaga. Dalam atmosfer suku bunga tinggi yang membuat likuiditas di pasar ketat sehingga memicu kenaikan biaya dana (cost of fund), BRI pun mampu menerapkan efisiensi luar biasa sehingga laba tetap tinggi. Selain itu, LDR bank dengan aset terbesar ini tetap dalam posisi ideal.
Dalam penjelasannya pada Gathering BRI-Media, Selasa (12/09/2023) lalu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso menyatakan, hingga akhir semester I-2023, sebesar 84,5% kredit BRI dikucurkan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan 36,1 juta nasabah mikro —termasuk ultramikro—, lebih dari 55% pelaku usaha mikro di Indonesia dilayani oleh BRI bersama dua anak usahanya, yakni PT Pegadaian dan PT Penanaman Modal Madani (PNM).
Para pelaku usaha mikro BRI tersebut dilayani oleh 666.000 agen BRILink maupun lewat 15.000 layanan BRIMo yang menjangkau 27,8 juta pengguna. Strategi hybrid —layanan high-tech lewat piranti digital dan layanan high-touch lewat jasa para agen BRILink— merupakan kunci sukses BRI dalam mendorong UMKM BRI naik kelas.
Sunarso menyampaikan bahwa pangsa kredit UMKM di BRI secara konsolidasi per Juni 2023 mencapai 84,5%, terdiri atas kredit mikro dan ultra mikro sebesar Rp 577,9 triliun dengan porsi 48,10%, disusul Usaha Kecil dan Menengah senilai Rp 259,4 triliun dengan porsi 21,60%, dan kredit konsumer senilai Rp 178,2 triliun dengan porsi 14,80%. Kredit mikro dan ultra mikro BRI meningkat 11,4% (yoy).
Adapun kredit korporasi tercatat sebesar Rp 186,6 triliun dengan porsi 15,50%. Dengan demikian, posisi kredit BRI secara konsolidasi per Juni 2023 sebesar Rp 1.202 triliun.
Ekspansi kredit yang cukup agresif merefleksikan kondisi likuiditas BRI sangat sehat. Salah satu indikatornya, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga di level 87,26%.
Return Tertinggi
Prestasi lain yang layak diapresiasi terhadap BRI adalah kemampuannya menciptakan value yang baik bagi para pemegang sahamnya. Bahkan pencapaiannya berada di angka yang sejatinya sulit dilakukan oleh bank dengan tingkat permodalan dan aset yang besar seperti BRI.
“Tugas CEO adalah meng-crate value. Dan value yang utama adalah economic value yang diamanahkan pemegang saham. Pemegang saham kan taruh modal untuk mendapakan return. Kita lihat bahwa rasio Return on Equity (RoE) BRI di level 20,01%,” kata Sunarso.
Menurut Sunarso, tingkat rasio return on equity yang bisa dicetak oleh BBRI jarang bisa dilakukan oleh industri perbankan yang ada. Namun justru BBRI mampu menjaga tingkat permodalan yang besar namun di sisi lain mampu memberikan tingkat return bagi investor maupun pemegang saham di level yang juga tinggi.
Lebih lanjut Sunarso mengungkapkan besarnya tantangan bank yang fokus pada segmen UMKM, karena harus menerima konsekuensi tingginya tingkat biaya operasional. Biaya operasional tinggi biasanya akan menjelma jadi risiko kredit yang tinggi pula, dan bisa berujung pada rendahnya kualiltas kredit atau rasio kredit bermasalah atau non performing loans (NPL) menjadi tinggi.
Tapi hebatnya, BRI mampu menjaga tingkat kualitas kredit (NPL) di bawah 3%, yakni di level 2,95% secara konsolidasi. “Bisnis kita di segmen mikro, lalu tingkat NPL nya bisa di bawah 3%, seperti BRI yang sebesar 2,95%. Ini berarti kualitas aset kita bisa terjaga dengan baik,” tutur Sunarso.
Dengan kualitas aset yang terkelola dengan baik serta balance sheet yang sehat, tidak mengherankan jika BRI pun mampu menghasilkan profitabilitas yang baik. “Selama selama enam bulan pertama 2023, net profit BRI mencapai Rp 29,6 triliun. Atau tumbuh sebesar 18,8%,” ujarnya.
Selain itu, emiten berkode bursa BBRI ini mampu meningkatkan asetnya sebesar 9,2% (yoy) pada paruh pertama 2023 menjadi Rp 1.805 triliun.
Dengan laba paruh pertama 2023 sebesar Rp 29,6 triliun, kata Sunarso, manajemen BRI masih mendapat pertanyaan dari pemegang saham, mengenai kemampuannya untuk menjaga tingkat profitabilitas yang sama seperti tahun 2022.
Sebagai informasi, pada tahun 2022, BRI mampu membukukan laba bersih sebesar 51,4 triliun. “Itu adalah pertama kali dalam sejarah perbankan Indonesia, ada bank yang labanya di atas Rp 50 triliun,” kata Sunarso.
Semester II Menjanjikan
Sunarso memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi BRI untuk mempertahankan tingkat laba yang tinggi. Ketika sejumlah bank sentral negara-negara maju menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, likuiditas di pasar pasti ketat sehingga memicu kenaikan biaya dana (cost of fund).
Sunarso mencontohkan tingkat cost of fund BRI pada tahun lalu yang berada di kisaran yang rendah, di level 1,8%-1,9%. Namun, pada tahun ini BRI mengalami kenaikan biaya dana di angka 2,7%. “Yang kita korbankan adalah margin. Kita harus tekan efisiensi di sana-sini,” tutur Sunarso.
Efisiensi yang dilakukan BRI terbukti berhasil. Salah satu indikatornya adalah rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik 0,2% jadi 41,79%. Pada periode sebelumnya berada di level 41,94%.
Demikian juga dengan BOPO (rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional), yang pada periode tahun lalu berada di angka 69,6%, pada periode semester I-2023 turun menjadi 66,2%. Cost of credit BRI pada Juni pun dipangkas menjadi 2,24%. “Ini artinya efisiensi yang luar biasa,” tandas Sunarso.
Lantas, apakah semseter II-2023 ini akan lebih prospektif dan menjanjikan. Ada berbagai sentimen positif yang bisa memengaruhi kinerja BRI di semester II. Pertama, belanja masyarakat diperkirakan meningkat seiring dengan persiapan pemilu presiden dan pemilu legislatif, Februari 2024.
Kedua, kata Sunarso, pertumbuhan kredit lebih baik. Jika kredit pada semester I bertumbuh 8,8%, pada semester II 2023, laju ekspansi kredit akan mencapai dua digit.
Faktor positif lain yang mendukung kinerja BRI di semester II adalah biaya kredit yang menurun, efisiensi yang semakin baik, pangsa CASA yang meningkat, dan implementasi hybrid bank —BRIMo dan BRILink.
Itulah yang menjadi alasan manajemen BRI lebih optimistis sehingga laba bersih semester II diyakini akan lebih tinggi dibanding semester I. “Kalau tidak meleset laba bersih tahun ini Rp 58 triliun. Namun, kalau melesat, laba bersih BRI akan di atas target,’’ tandasnya.
Mengacu pada data historis kinerja tahun 2022, perolehan laba bersih BRI di semester II tercatat lebih tinggi Rp 1,5 triliun dibanding semester I. Pada semester I-2022 laba bersih konsolidasi BRI tercatat Rp 24,87 triliun, sedangkan di akhir semester II-2022 (full year) tercatat Rp 51,4 triliun.
Sunarso membeberkan, sumber pertumbuhan laba di semester II akan didorong oleh sejumlah faktor. Pertama, pertumbuhan kredit. Tahun ini BRI optimistis laju ekspansi kredit akan mencapai dua digit, yakni 10%-12%. Pertumbuhan kredit di semester II didukung oleh tingginya konsumsi domestik, konsumsi rumah tangga, dan daya beli masyarakat.
Menurut Sunarso, riset menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat satu tahun jelang pemilu mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,25%, begitu pula pada tahun pemilunya.
Faktor pendorong kedua adalah pertumbuhan fee based income BRI yang sudah mencapai dua digit, saat ini bahkan berada di angka 11%. Kinerja pendapatan non-bunga ini didorong oleh makin meningkatnya transaksi perbankan BRI, seiring kesuksesan menjalankan transformasi digital, baik pada level wholesale lewat aplikasi QLALA maupun segmen ritel lewat BRImo.
Sementara faktor ketiga, didorong oleh kemampuan BRI memperbaiki efisiensi, terlihat dari rasio BOPO yang naik menjadi 69,55% semester I-2003, dari sebelumnya ke 66,62%. Begitu pula dengan cost of credit yang turun dari 44,30% ke 41,79%. Adapun proporsi dana murah atau CASA tetap terjaga di level 65,49%.
Sunarso mengungkapkan pula BRI menyiapkan pencadangan hingga Rp 90 triliun, setara dengan tiga kali lipat NPL. Sebenarnya bisa saja BRI hanya mencadangkan Rp 60 triliun atau dua kali NPL, dan membuat labanya menggelembung. Jika itu terjadi, laba bersih BRI tahun ini bisa tembus Rp 88 triliun.
Namun, opsi memangkas pencadangan demi memperbesar laba tidak dilakukan oleh Sunarso. Sebab sebagai bankir profesional, kehati-hatian mengelola risiko merupakan faktor penting. ‘’Bankir profesional selalu cari untung, tetapi bukan cari selamat. Jadi jangan cadangan diambil untuk memperbesar laba. Cadangan harus terus kita pupuk,’’ tegas Sunarso. (Hari Gunarto)

