Membaiknya Outlook Kalbe Farma (KLBF)
JAKARTA, investortrust.id – Prospek (outlook) PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dinilai bakal membaik oleh sejumlah analis. KLBF menunjukkan potensi pertumbuhan yang pesat memasuki kuartal terakhir tahun ini. Kondisi tersebut diharapkan berlanjut hingga tahun depan (2024) bersamaan dengan perkiraan margin keuntungan yang mulai pulih.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengatakan, Kalbe Farma (KLBF) menunjukkan peluang margin keuntungan lebih baik pada kuartal akhir tahun ini dan berlanjut tahun 2024. Peningkatan ini didukung divisi nutrisi dan bauran penjualan produk lebih baik.
“Peningkatan penjualan perseroan juga didukung cuaca kering dan panas berkepanjangan telah memicu peningkatan jumlah pasien masuk rumah sakit. Hal ini dapat meningkatan permintaan yang lebih tinggi terhadap produk farmasi dan produk OTC,” kata Natalia dalam risetnya, Kamis (5/10/2023).
Terkait dengan kondisi cuaca kering dan panas, ungkap Natalia, hal itu bisa memicu peningkatan permintaan terhadap obat-obatan yang berkaitan dengan pernafasan. Apalagi dengan adanya prediksi BMKG bahwa cuaca kering dan panas bakal berlanjut sampai November.
Kondisi ini berimbas terhadap peningkatan sebanyak 30% terhadap trafik pasien ke rumah sakit yang didorong penyakit yang berhubungan dengan pernafasan (Infeksi Saluran Pernafasan Atas/ISPA), seperti sakit tenggorokan, batuk, flu, dan lain-lain.
“Sejak cuaca kering dan panas dimulai pada Agustus tahun ini terlihat potensi pesanan berulang obat-obatan dari rumah sakit, karena jumlah pasien yang berobat bertambah mulai kuartal III tahun ini. Hal ini tentu berimbas positif terhadap permintaan obat-obatan yang diproduksi KLBF,” terangnya.
Ekspektasi bahwa outlook peforma Kalbe Farma (KLBF) bakal lebih baik pada kuartal IV-2023 hingga tahun 2024 juga diakui manajemen perseroan. Manajemen menyebutkan bahwa pendapatan perseroan sejak kuartal III terbukti stabil di seluruh kategori. Sedangkan obat-obatan yang berhubungan dengan pernafasan terjadi peningkatan, khususnya obat-obatan OTC.
Tentang margin keuntungan perseroan, Natalia memprediksi bakal meningkat mulai kuartal terakhir tahun ini, khususnya dari divisi nutrisi. Perseroan juga berpotensi mencetak kenaikan penjualan obat resep dan didukung regulasi pemerintah.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan margin keuntungan perseroan tahun ini turun menjadi 10,7%, namun diharapkan meningkat menjadi 10,9% tahun 2024, dibandingkan realisasi tahun lalu sektiar 11,7%. Sedangkan margin kotor (gross margin) diperkirakan tetap stabil ke depan.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham KLBF dengan target harga Rp 2.100. Target harga tersebut juga merefleksikan perkiraan rasio harga terhadap laba (PER) perseroan tahun 2023 sekitar 25,2 kali dan tahun 2024 mencapai 22,5 kali. Angka tersebut masih di bawah rata-rata PER dalam lima tahun terakhir mencapai 26,2 kali.
“Kami memperkirakan valuasi saham KLBF kian atraktif saat ini di tengah performa keuangan perseroan diprediksi stabil pada kuartal III-2023 dan perkiraan peningkatan produk farmasi berkaitan dengan gangguan ISPA pada kuartal terakhir tahun ini,” kata Natalia.
Target tersebut juga mempertimbangkan target laba bersih perseoran senilai Rp 3,33 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 3,38 triliun. Sedangkan pendapatan perseroan diprediksi melesat dari Rp 28,93 triliun menjadi Rp 31,15 triliun pada tahun ini.
Cerah ke Depan
Sementara itu, Analis Riset RHB Sekuritas Indonesia Vanessya Karmajaya dan Bryan Soegianto dalam ulasan terakhirnya menyebutkan prospek Kalbe Farma bakal cerah ke depan. Hal ini didukung atas sejumlah faktor, seperti keputusan pemerintah dalam penerapan e-katalog terbaru, peluncuran produk pencegahan, dan solidnya penjualan ekspor.
Keputusan pemerintah dalam menerapkan e-katalog baru diharapkan berimbas positif terhadap penjualan produk perseroan, karena mengutamakan produk-produk dalam negeri untuk produk farmasi dan alat kesehatan.
Kalbe Farma (KLBF) juga diuntungkan atas integrasi sistem operasi Sanofi. Integrasi tersebut akan memperkuat perseroan, khususnya dari sisi produksi vaksin dalam jangka panjang.
Selain faktor tersebut, RHB Sekuritas menyebutkan, Kalbe Farma (KLBF) tengah fokus memproduksi produk biologis sebagai pendorong pertumbuhan kinerja dalam jangka panjang. Produk tersebut juga besar kemungkinan ditujukan untuk pasar ekspor. Perseroan juga akan fokus memproduk produk-produk konsumer untuk preventif serta produk yang berkaitan dengan olah raga.
Sedangkan dari sisi ekspor, mereka menyebutkan, Kalbe Farma menunjukkan performa tetap solid, khususnya pasar Filipina untuk produk farmasi dan nutrisi. Perseroan juga telah berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan untuk logistik dan pemasaran produk yang diharapkan berdampak terhadap perseroan ke depan.
Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas merekomendasi beli saham KLBF dengan target harga Rp 2.200. Target tersebut juga merefleksikan perkiraan stabilnya performa seluruh unit bisnis perseroan pada kuartal III-2024. Gencarnya pemasaran produk perseroan melalui berbagai channel, khususnya ritel modern.
Prospek Saham KLBF
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 2.100
RHB Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 2.200
Kinerja Keuangan
Sementara itu, sepanjang semester I-2023, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) meraih penjualan sebesar Rp 15,17 triliun, tumbuh 9,4% dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 13,87 triliun (year on year/yoy). Seiring dengan itu, beban pokok penjualan naik 11,47% menjadi Rp 9 triliun.
Selain itu, pada periode yang sama, beban penjualan KLBF juga naik 8,02% menjadi Rp 3,16 triliun, beban umum dan administrasi membengkak 12,2% menjadi Rp 771,56 miliar, serta beban penelitian dan pengembangan melonjak sebesar 35% menjadi Rp 207 miliar.
Meskipun berbagai beban meningkat, laba bruto Kalbe Farma masih meningkat 6,5%, dari Rp 5,79 triliun menjadi Rp 6,17 triliun pada semester I-2023. Tetapi, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas 6,5% menjadi Rp 1,52 triliun, dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,63 triliun. Adapun laba per saham dasar KLBF yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 32,87.
Per akhir semester I-2023, total ekuitas KLBF tercatat sebesar Rp 22,09 triliun serta liabilitas naik menjadi Rp 5,64 triliun, dengan nilai kas dan setara kas sebesar Rp 2,74 triliun. Sedangkan aset Kalbe Farma tercatat sebesar Rp 27,41 triliun pada semester I-2023.
Kerja Sama Strategis
Sementara itu, Kalbe Farma telah menjalin berbagai aliansi strategis dengan perusahaan multinasional. Menurut Presiden Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius, kemitraan strategis dengan perusahaan farmasi multinasional bertujuan untuk mendapatkan teknologi transfer dan memperkuat layanan kesehatan secara nasional maupun regional. Di tahun 2022, Perseroan mencapai kesepakatan dengan salah satu perusahaan farmasi global, Sanofi, untuk mengambil alih kegiatan bisnisnya di Indonesia. Perseroan mengakuisisi 100% PT Aventis Pharma guna memperluas portofolio produk di kategori terapi fokus, dan terutama produk vaksin. “Hal ini dilakukan sejalan dengan dorongan pemerintah untuk meningkatkan kemandirian produksi vaksin di dalam negeri,” kata Vidjongtius saat memberikan sambutan pada pencapaian performa tahun 2022.
Kalbe Farma melalui anak perusahaan PT Kalbe Genexine Biologics (“KGbio”) bersama dengan Shangai Henlius Biotech, Inc (“Henlius”) menandatangani perjanjian kerja sama lisensi eksklusif untuk pengembangan dan komersialisasi produk injeksi serplulimab di 12 negara Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENA) termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, Yordania, Maroko, dan lain-lain.
Serplulimab (Hansizhuang) adalah produk antibodi monoklonal anti-PD-1 (mAb) baru dan dikombinasikan dengan kemoterapi untuk pengobatan lini pertama kanker paru-paru sel kecil (small cell lung cancer/SCLC).
“Kami menyambut baik kolaborasi antara KGbio dengan Henlius. Dengan jaringan dan dan kemampuan operasional KGbio di Timur Tengah dan Afrika Utara, kolaborasi ini menjadi upaya kedua perusahaan untuk mengembangkan produk-produknya khususnya untuk produk-produk biologi yang inovatif,” kata Presiden Direktur Kgbio, Sie Djohan, yang juga selaku Direktur Kalbe, induk perusahaan Kgbio, Senin (11/09/2023).
Menurut Sie Djohan, sejak 2019, KGbio telah mendapatkan lisensi eksklusif untuk mengembangkan dan mengkomersialisasikan produk yang sama di 10 negara di Asia Tenggara.
“Kalbe meyakini bahwa kerjasama strategis ini menjadi kesempatan untuk memperkuat penetrasi pasar ke wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Sebagai pionir obat-obatan biologis di Indonesia, dengan adanya ekosistem kesehatan yang terintegrasi serta inovasi produk baru, Kalbe dapat memberikan akses obat-obatan yang lebih luas sesuai dengan kebutuhan masyarakat, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri dengan kualitas obat berstandar internasional,” kata Sie Djohan.
Kalbe Farma juga melanjutkan kerja sama dengan Monash University Indonesia. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bisnis global dan memfasilitasi kolaborasi triple helix (pemerintah, akademisi, dan industri) melalui General Management Program. Ini program manajemen umum untuk mempersiapkan 26 pemimpin grup Kalbe generasi berikutnya.
Melalui proses pertumbuhan organik dan penggabungan usaha & akuisisi, Kalbe Farma yang didirikan pada tahun 1966 telah tumbuh dan bertransformasi menjadi penyedia solusi kesehatan terintegrasi melalui 4 kelompok divisi usaha. Itu meliputi Divisi Obat Resep (kontribusi 23%), Divisi Produk Kesehatan (kontribusi 17%), Divisi Nutrisi (kontribusi 30%), serta Divisi Distribusi and Logistik (kontribusi 30%).
Keempat divisi usaha ini mengelola portofolio obat resep dan obat bebas yang komprehensif, produk-produk minuman energi dan nutrisi, serta usaha distribusi yang menjangkau lebih dari satu juta outlet di seluruh kepulauan Indonesia. Kini, Kalbe telah tumbuh menjadi penyedia layanan kesehatan terbesar di Indonesia, dengan keunggulan keahlian di bidang pemasaran, branding, distribusi, keuangan serta riset dan pengembangan.
Di pasar internasional, Kalbe Farma yang didukung 17 ribu karyawan itu telah hadir di negara-negara ASEAN, Nigeria, dan Afrika Selatan, dan menjadi perusahaan produk kesehatan nasional yang dapat bersaing di pasar ekspor.
Sejak pendiriannya, perseroan menyadari pentingnya inovasi untuk mendukung pertumbuhan usaha. Kalbe telah membangun kekuatan riset dan pengembangan dalam bidang formulasi obat generik dan mendukung peluncuran produk konsumen dan nutrisi yang inovatif. Melalui aliansi strategis dengan mitra-mitra internasional, Kalbe telah merintis beberapa inisiatif riset dan pengembangan yang banyak terlibat dalam kegiatan riset mutakhir di bidang sistem penghantaran obat, obat kanker, sel punca dan bioteknologi. (Hari Gunarto)

