Maruarar Sirait: Saya Berterimakasih kepada Megawati
JAKARTA, investortrust.id— Meski tidak lagi di PDIP, ia tetap mencintai partai yang sudah membesarkannya. Walau tidak lagi bersama Megawati Soekarnoputri, ia tetap menaruh hormat kepada ketua partai berlambang banteng itu. Ia mengaku berutang budi dan pada waktu yang tepat, ia akan menemui putri proklamator itu untuk mengucapkan terima kasih. Ia tetap menjaga kekuatan dan keutuhan jembatan yang pernah dilewatinya.
"Pada waktu yang tepat, saya akan datang menemui Ibu Mega untuk mengucapkan terima kasih,” kata Maruarar Sirait dalam percakapan dengan investortrust.id di Jakarta, Rabu (07/02/2024). “Keputusan Ibu Mega yang membuat saya bisa seperti sekarang ini,” tambah putra pendiri PDI, Sabam Sirait.
Tidak ada pihak yang perlu kita persalahkan dalam hidup ini. Ketika kita merasa tertekan, terdesak, dan terpinggirkan, kita harus tetap bersuka cita. Yang menentukan kebahagiaan kita adalah kita sendiri. Dalam situasi apa pun, bahkan ketika dirundung duka, kita harus tetap bersukacita.
Inilah kiranya yang menjadi prinsip Ara, nama panggilan Maruarar Sirait. Lama ia bersama PDIP, bahkan sejak ia menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (FISIP) Universitas Parahyangan, Bandung. Boleh dibilang, darah yang mengalir di tubuh Ara cukup kental PDIP. Ayahnya, Sabam Sirait, adalah pendiri PDI dan kemudian bersama Megawati mendirikan PDIP saat PDI diacak-acak oleh pemerintahan Orde Baru.
Jika ditelisik lebih dalam, Sabam adalah salah satu orang yang mendorong masuk Megawati ke dalam kancah politik selain Taufik Kiemas, suami Megawati. Selama di PDI, mantan Ketua Partai Kristen Indonesia (Parkindo) itu dua kali menjadi sekretaris jenderal dan pada masa PDIP, Sabam beberapa periode menjadi salah satu ketua DPP. Orator PDIP ini adalah salah satu mentor politik Mega.
Dimentori langsung oleh ayahnya, Ara melesat menjadi politisi yang menembus dinding Banteng. Pria kelahiran Medan, 23 Desember 1969 ini piawai bergaul. Setelah tamat Universitas Parahyangan, 1996, Ara menceburkan diri ke PDI sejak 1999. Ara sukses masuk Senayan tahun 2004 dan menjadi anggota DPR RI selama tiga periode, 2004-2009, 2009-2014, dan 2014-2019 mewakili Dapil Jawa Barat IX yang meliputi Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Sumedang.
Selain anggota DPR RI Fraksi PDIP, Ara mendapat kepercayaan sebagai Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Barat dan Ketua DPP PDI Perjuangan periode 2005-2010 dan 2010-2015. Ia dipercayakan menjadi Ketua DPP Bidang Pemuda, Mahasiswa, dan Olahraga PDI Perjuangan masa bakti 2005-2010. Pada periode itu, ia menggagas dan ikut mendirikan Taruna Merah Putih. Hampir dua dekade Ara memimpin organisasi sayap PDIP di bidang kepemudaan ini.
Sejak mahasiswa, Ara rajin berolah raga dan berorganisasi. Selain aktif sebagai anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), ia juga menjadi resimen mahasiswa dan mengurus Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa (KKBM) Universitas Parahiyangan. Lewat organisasi, ia melatih kemampuan dalam persuasi, public speaking, dan juga berbisnis. Selepas kuliah, ia aktif berbisnis hingga kemudian aktif di PDIP. Saat menjadi anggota dewan, ia diperdayakan menjadi komisaris utama PT Potenza Sinergi.
Selama di DPR, ia ditempatkan partai di bidang keuangan, yakni Komisi XI. Pada masa Presiden SBY, nama Ara menghiasi pemberitaan media massa karena aktivitasnya membongkar kasus Bank Century dan penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Sedang pada masa Presiden Jokowi, ia, antara lain ikut menggodok RUU Tax Amnesty. Ara menolak keras pemberlakuan tax amnesty berkali-kali dalam waktu pendek.
Ikut Jokowi
Senin, 15 Januari 2024 adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup Ara. Di hari itu, ia harus menyatakan sikapnya untuk keluar dari partai yang sudah ikut dia bela selama 25 tahun. Demi objektivitas, kita perlu melihat sebuah kenyataan dari sejumlah sisi. Dari sisi partai, kita perlu melihat peran partai dalam membesarkan nama Ara. Namun, dari sisi lain, kita juga perlu melihat peran Ara dalam ikut membesarkan partai.
Peran partai dan pemimpinnya di satu sisi serta pengurus dan anggota partai di sisi lain sama pentingnya. Dua sisi ini harus sama-sama kuat dan berkualitas. Dua sisi ini saling memengaruhi. “Saya harus mengakui, partai dan Ibu Mega yang sudah membesarkan saya,” kata Ara merendah.
Lalu, mengapa Ara keluar dari PDIP satu bulan jelang rakyat Indonesia yang punya hak pilih ke TPS untuk memilih presiden-wakil presiden dan wakil rakyat? Apa signifikansi dan urgensi keputusan mantan ketua Taruna Merah Putih ini?
Tidak mudah bagi Ara untuk keluar dari PDIP. Dari diskusi dengan politisi yang kini lebih memosisikan diri sebagai pengusaha itu, penulis menemukan beberapa jawaban.
Pertama, Indonesia memasuki periode yang sulit. Hingga 2040, Indonesia menikmati bonus demografi dan selama periode itu pula, dunia dilanda ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik, global warming dan climate change hingga kemajuan artificial inteligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kertidakpastian polik, keamanan, dan ekonomi cukup tinggi.
Kedua, politik dalam negeri masih menghadapi radikalisasi berbasis agama. Persatuan bangsa acap diganggu oleh kekuatan ekstrem kanan, anti pluralisme, yang hendak menghapus Pancasila dan mengubah UUD. Kondisi ini memicu instabilitas poilitik dan keamanan. Untuk menjadi negara kuat, Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki keberanian dan kemampuan menegakkan Pancasila dan UUD seperti Presiden Jokowi.
Ketiga, pembangunan Indonesia di era Jokowi sudah berada di rel yang benar. Jokowi merangkul oposisi untuk sama-sama berjuang membangun bangsa. Masuknya Prabowo Subianto dan Sandiaga Uni dalam Kabinet Indonesia Maju merupakan ungkapan gotong royong dalam bentuk konkret. Pembangunan ekonomi dan pembangunan di berbagai bidang berjalan baik.
Keempat, Prabowo sudah menyatakan niatnya untuk meneruskan program Jokowi. Semua program Jokowi yang belum selesai akan dirampungkannya, di antaranya pembangunan Ibukota Negara (IKN) di Kalimantan Timur, berbagai jenis infrastruktur, hilirisasi, dan industrialisasi.
Kelima, untuk mengatasi masalah yang ada di poin satu hingga poin empat dibutuhkan pemimpin yang kuat dan memiliki kualifikasi sebagai negarawan, dan itu ada pada diri Prabowo Subianto.
Keenam, Presiden Jokowi sudah menjatuhkan pilihan untuk mendukung Prabowo dan Ara memutuskan untuk mengikuti jalan Jokowi. Dia tidak mau mendua dalam pilihan.
“Hati saya ada pada Pak Jokowi. Ia sudah membangun Indonesia dan memanusiakan rakyat Indonesia. Tingkat kepuasan rakyat terhadap Jokowi sangat tinggi, di atas 80%, dan saya adalah bagian dari rakyat Indonesia yang memilih mengikuti Pak Jokowi," jelas Ara kepada pers di Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/01/2024) malam usai mengembalikan KTA PDIP ke jajaran petinggi DPP PDIP. Saat itu, Ara diterima oleh Wasekjen PDIP Utut Adianto dan Wabendum PDIP Rudianto Tjen.
Di hadapan pers, ia menyampaikan permohonan maaf. Dia mengakui, ayahnya, salah satu pendiri PDI —-yang kemudian berubah menjadi PDIP—, memintanya untuk ikut menjaga dan membela PDIP. Tapi, mendiang ayahnya juga meminta dia untuk menjaga dan membela Pak Jokowi yang di matanya adalah orang baik dan benar. “Saya bicara apa adanya sesuai nurani saya dan saya mempertanggungjawabkan semuanya,” tuturnya.
Ara menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada pimpinan dan seluruh anggota PDIP atas pilihannya. "Selama ini, saya banyak kekurangan, saya mohon maaf. Saya juga berterima kasih karena sudah diberikan kesempatan berkarya untuk bangsa lewat PDIP dan sekarang izinkan saya mengikuti langkah Pak Jokowi," paparnya.
Dari berbagai sumber diketahui, hubungan Ara dengan petinggi PDIP sudah tak lagi akrab. Sikap Ara yang kritis dan selalu mengedepankan meritokrasi dalam berorganisasi, mungkin, menjadi salah satu faktor penyebabnya. PDIP adalah organisasi yang sangat tersentralisasi pada diri Megawati.
Salah satu push factor yang menyebabkan Ara meninggalkan PDIP dan paslon nomor 3, Ganjar-Mahfud, adalah foto dirinya dan Ganjar Pranowo yang diedit. Awalnya, Ganjar mengunggah foto bersama Maruarar saat keduanya berpelukan di acara 'Cirebon Guyup' yang dihadiri ribuan relawan, Minggu (08/10/2023). Namun, kemudian, foto unggahan Ganjar itu berubah. Gambar Maruarar hilang dari foto bersama Ganjar. Tinggal gambar Ganjar sendirian dengan latar ribuan relawan.
Wajar, jika dengan kejadian itu, Ara menilai PDIP dan Tim Pemenangan Ganjar-Mahfud tidak lagi membutuhkan dirinya. Cinta tak berbalas memang menyakitkan. Sebagai manusia bebas yang memiliki kemampuan dan ingin berkontribusi kepada bangsa ini, Ara mencari alternatif. Ia memutuskan ikut Jokowi dengan mendukung Prabowo-Gibran.
Gusma Ikut Jejak Ara
Sekitar dua pekan setelah Ara mengundurkan diri PDIP, seorang kader muda partai berlambang banteng itu memutuskan untuk mengikuti jejak seniornya. Dia adalah Stefanus Gusma, ketua PP Pemuda Katolik periode 2022-2024 dan ketua Presidium Pusat PMKRI St Thomas Aquinas, periode 2009-2011.
Sejak bergabung dengan PDIP 2012, Gusma dekat dengan Ara yang sekaligus dijadikan mentornya. Tidak heran jika orientasi politik keduanya sama. Mereka berdua memiliki keyakinan yang sama, bahwa masa depan Indonesia akan lebih baik di tangan Prabowo-Gibran yang didukung penuh oleh Jokowi.
“Saya sudah sampaikan permohonan maaf, ucapan terima kasih, dan sudah pamit dengan senior di partai,” kata Gusma, Sabtu (27/01/2024). Mantan ketua DPP KNPI ini aktif mendampingi komunitas relawan memenangkan Prabowo-Gibran.
Gusma ikut mendirikan komunitas Solidaritas Anak Muda untuk Keberagaman dan Toleransi Indonesia (Sakti) dan sekaligus menjadi pembina. Ia kerap mendampingi Gibran saat walikota Solo itu melakukan kegiatan. Dengan demikian, keputusan Gusma untuk mendukung Prabowo-Gibran bukan sebuah pertimbangan semalam.
Dalam hitungan jam, Sahabat Bang Ara sudah bergerak ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia untuk memenangkan Prabowo-Gibran. Setiap hari, 24 jam, relawan ini bergerak.
Minggu (21/01/2024), Ara mengajak Prabowo ke Majalengka. Ara seperti pulang kampung. Majalengka adalah kabupaten yang sudah menopangnya sebagai anggota DPR RI selama 15 tahun. Ribuan “Sahabat Bang Ara” menyambut capres no 2 itu. "Saya pernah menjadi wakil rakyat dari Majalengka, Sumedang, dan Subang selama 15 tahun. Dan kini, pemilih di tiga kabupaten ini memilih Bapak Prabowo," ujar Ara disambut tepukan tangan hadirin.
Prabowo mengapresiasi dukungan Sahabat Bang Ara di Kabupaten Majalengka. "Terima kasih kepada semua warga yang sudah dengan semangat mendukung saya,” seru Prabowo.
Selain Majalengka, Ara berkampanye di Subang, Sumedang, Sukabumi, Tangerang Solo, Deli Serdang, Sumatera Utara, dan banyak lagi. Mesti tidak hadir di Kupang, NTT, Sahabat Bang Ara melaksanakan kegiatan yang cukup bergaung. Di Majalengka, Sumedang, dan Subang, para kader PDIP menyatakan sikap untuk mendukung pasangan calon no 2.
Pilihannya untuk mendukung Prabowo, kata Ara, bukan atas permintaan, apalagi perintah Presiden Jokowi. “Pak Jokowi tidak pernah menyuruh saya mendukung Pak Prabowo. Dukungan terhadap Prabowo adalah pilihan hati nurani saya. Saya bukan petugas partai dan tidak mau menjadi petugas partai. Saya lebih senang dan bangga menjadi petugas rakyat," papar Ara.
Di Kabupaten Kupang, Sahabat Bang Ara dan Sahat Sinurat melakukan deklarasi mendukung Prabowo-Gibran. “Target kita, mendapat 3.000 suara. Tapi, sekarang pendukung sudah hampir 5.000 orang," kata Sahat Martin Philip Sinurat, Jumat (02/02/2024). Walau tidak dihadiri Ara, acara penggalangan dukungan terhadap Prabowo-Gibran di Kupang cukup memuaskan.
Pada hari yang sama, Ara mendampingi Prabowo menggelar apel akbar para relawan muda TKN di JCC D Senayan. “Bila kita mendapatkan mandat dari rakyat untuk memimpin Indonesia, saya akan merangkul semua kekuatan,” kata Prabowo di JCC Senayan, Jakarta, Jumat, (02/02/2024).
Keputusan Gusma mengikuti jejak Ara cukup berdampak. Acara konsolidasi Relawan Sahabat Bang Ara dan Stefanus Gusma di Sport Hall Tirtonadi, Solo, Rabu (31/01/2024) malam, dihadiri belasan ribuan orang. Dalam orasinya, Gusma menjelaskan alasan rasional mengapa rakyat harus memenangkan Prabowo-Gibran.
Berterimakasih kepada Mega
Enam hari setelah dilantik menjadi presiden dan wakil presiden RI periode 2014-2019, Minggu (26/10/2014), Jokowi dan Jusuf Kalla mengumumkan nama anggota kabinet. Namun, dari nama yang diumumkan, nama Maruarar Sirait tidak ada. Waktu itu, pengumuman nama menteri cukup unik. Mengenakan baju putih, satu per satu menteri berdiri dan berjalan ke depan saat namanya dibacakan Presiden.
Sebelumnya, Ara termasuk orang yang diundang ke Istana. Saat itu, ia santer disebut sebagai figur yang akan dipercayakan menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Tidak tampak di Istana Kepresidenan, Ara justru berada di kediaman Megawati di Menteng, Jakarta Pusat. Ia belum mendapat restu dari orang nomor satu di PDIP. Lama menunggu, Mega tidak berkenan menemui Ara yang lama menunggunya.
Usai pengumuman nama anggota kabinet, Ara bertemu Presiden dan Wapres. Saat itu, Wapres menjelaskan, Mega tidak merekomendasikan Ara. Jika Ara tetap dilantik, PDIP akan menarik semua menterinya. Di injury time, melantik Ara adalah tindakan yang tidak bijak karena akan memicu ketidakpastian dan kegaduhan.
“Pak Maruarar akan tetap membantu saya. Ya..., sebagai teman baik," ujar Jokowi kepada wartawan. Pers sempat menyaksikan perbincangan cukup lama Presiden dan Maruarar. Saat itu, Ara mengenakan baju putih dan celana hitam, sama dengan pakaian para menteri yang diumumkan.
“Kecewa sih pasti. Tapi, kemudian saya bersyukur pada Tuhan dan berterimakasih kepada Ibu Mega. Karena dengan tidak sibuk di pemerintahan, saya bisa mengerjakan lain, mengembangkan bisnis dan mengurus keluarga. Diam-diam, Ara kini menjadi pengusaha sukses. Ia memiliki bisnis minuman di berbagai mal di Jakarta, properti, tambang batubara, dan tahun lalu membuka restoran di Indonesia di London untuk segmen menengah-atas.
“Bisnis terbesar saya di saham,” kata Ara kepada investortrust.id. Nilai kapitalisasi sahamnya sudah menembus Rp 100 miliar. Ia mengoleksi saham emiten yang dikelola oleh figur berintegritas. Untuk properti, nilai tanah yang cukup tinggi adalah rumahnya di Jl Diponegoro yang dibelinya pada masa pandemi dari seorang pengusaha.
“Ini semua berkat Tuhan,” kata Ara, politisi dan pengusaha yang selalu melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya. Pada ulang tahunnya yang ke-54, 23 Desember 2023, ia mengundang para sahabat dekatnya. Ada pejabat tinggi di pemerintahan, Kepolisian, TNI, Kejaksaan, dan legislatif, pengusaha kakap, profesional, jurnalis, dan orang-orang kecil yang menolongnya sejak kecil.
Didampingi istrinya, Shinta Triastuti, dan dua buah cinta mereka, Joshua Sirait dan Amaris Sirait, Ara mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan yang sudah membimbing hidupnya. Ia memiliki keluarga yang menyayangi dan mendukung kariernya. Sudah banyak berkat yang ia terima dari Tuhan. “Tuhan begitu baik kepada kami, kepada kami sekeluarga,” ujar Bung Ara.
Level kehidupan yang dicapainya saat ini, demikian Ara, adalah kehendak Yang Mahakuasa. Semua peristiwa penting yang dialami, suka dan duka, senang dan kecewa, untung dan malang, terjadi sesuai rencana Dia, Pemilik Kehidupan.
Untuk Ibu Mega, kata Ara, tidak ada perasaan lain selain terima kasih. Demikian pula terhadap PDIP, rumah yang sudah membesarkannya. Sekali waktu, ia akan menemui Ibu Mega untuk menyampaikan secara langsung ucapan terima kasih.
Ia yakin, setiap pemimpin partai memiliki niat luhur untuk memajukan Indonesia. Demikian pula setiap calon presiden dan wakil presiden. Dalam konteks ini, ia harus memilih: siapakah yang paling mampu membawa negara bangsa ini ke level yang diimpikan para founding fathers.
“Saya yakin, pilihan Jokowilah yang terbaik, yakni Prabowo-Gibran untuk membimbing Indonesia lima tahun ke depan,” pungkas Ara. (Primus Dorimulu)

