Astra International (ASII): Valuasi Menarik, Kinerja Solid
JAKARTA, investortrust.id –PT Astra International Tbk (ASII) tetap menyisakan potensi pertumbuhan mengesankan ke depan, meskipun segmen bisnis penjualan alat berat cenderung melemah hingga tahun 2024. Berlanjutnya pertumbuhan perseroan didukung pemacuan sejumlah segmen bisnis perseroan. Kinerjanya bakal kian solid, dengan valuasi saham masih menarik.
Hal tersebut mendorong analis RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.000. Secara garis besar, target harga tersebut menggambarkan bahwa Astra International menunjukkan kinerja yang solid dengan valuasi yang menarik saat ini.
Andrey mengungkap sejumlah faktor penopang saham ASII sehingga layak untuk dipertahankan dengan rekomendasi beli. Di antaranya, Astra International berhasil memperkuat posisinya sebagai produsen mobil dan motor dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia.
Pangsa pasar segmen otomotif, khususnya penjualan mobil, kian membesar setelah perseroan gencar meluncurkan mobil hybrid atau HEV yang disukai masyarakat Indonesia saat ini. Beberapa mobil hybrid yang diluncurkan berhasil mendapatkan sambutan antusiasme masyarakat, seperti Yaris Cross, Zenith HEV, dan Alphard HEV.
“Kami menilai bahwa mobil HEV adalah yang paling masuk akal bagi konsumen Indonesia dalam jangka menengah, dibandingkan dengan mobil listrik murni. Hal ini didukung harga lebih ramah di tengah minimnya infrastruktur mobil listrik di Indonesia,” demikian Andrey dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Kemarin.
Selain sentimenotomotif, kata Andery, ASII mendapatkan dukungan positif dari segmen Astra Finacial dan WeLab melalui Bak Jasa Jakarta. Bank Jasa Jakarta telah dijadikan sebagai bank digital dengan nama Bank Saqu yang menargetkan pasar generasi muda.
“Kami menilai bahwa Bank Saqu akan memperkuat ekosistem dan kolaborasi grup finasial perseroan. Apalagi perseroan didukung lebih dari 28 juta pelanggan unik. Hal ini tentu akan berimbas positif terhadap kinerja keuangan dan saham ASII ke depan,” terangnya.
Astra International juga didukung oleh pengoperasian bisnis data center (DC) akhir tahun 2024. Perseroan sebelumnya telah berkolaborasi dengan Equinix untuk mengembangkan fase I data center dengan luar areal 5.300 meter persegi. Data centre ini akan melayani kebutuhan pasar luar dan dalam negeri.
“Kami menilai bahwa segmen bisnis data center ini menyisakan potensi pertumbuhan pesat ke depan. Hal ini didukung ekosistem Astra International yang besar dan Equinix yang telah berpengalaman dalam pengoperasiandata center,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas merevisi naik prospek kinerja keuangan ASII tahun 2023-2025. Target pertumbuhan laba bersih direvisi naik masing-masing 14,7%, 7,1%, dan 11,4%. Sedangkan target harga saham ASII dipangkas menjadi Rp 7.100.
RHB Sekuritas mematok target laba bersih perseroan sebesar Rp 30,57 triliun tahun ini, menjadi Rp 30,60 triliun pada 2024, dan kembali meningkat dengan target Rp 34,80 triliun pada 2025.
Masa Depan Hybrid
Sementara itu, analis Trimegah Sekuritas Richardson Raymond dan Willinoy Sitorus menyoroti besarnya potensi pertumbuhan segmen otomotif perseroan setelah mulai gencar dihadirkannnya mobil hybrid dan mobil listrik. Produk ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan bisnis otomotif perseroan dalam jangka panjang.
“Kami memperkirakan penjualan mobil hybrid akan menjadi mesin pertumbuhan terhadap penjualan mobil perseroan ke depan. Apalagi pangsa pasar mobil hybrid dan listrik Astra baru mencapai 6,7% dari total penjualan mobil perseroan,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Hal ini berbeda dengan Toyota Global yang 28% dari total penjualannya di seluruh dunia dikontribusi oleh mobil hybrid dan listrik. Kondisi ini menjadi potensi besar bagi perseroan, apalagi dengan penambahan produk mobil hybrid ke depan.
Terkait keinginan perseroan meluncurkan Avanza hybrid, Willinoy dan Richardson berpendapat bahwa langkah tersebut kemungkinan tidak akan berimbas besar terhadap volume penjualan mobil tahun depan, mengingat harga jual Avanza hybrid yang sangat tinggi. Sebab, konsumen pembeli mobil Avanza merupakan segmen pasar yang sensitif terhadap harga.
Terkait penjualan sepeda motor, Trimegah Sekuritas menyebutkan, perseroan melalui anak usahanya Astra Honda Motor menunjukkan performa cemerlang hingga kini, meskipun penjualannya sempat tersandera sentiment negatif rangka eSAF yang disebut-sebut mudah berkarat.
Prospek Saham ASII
Trimegah Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 7.000
RHB Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 7.100
Kontribusi Seluruh Divisi Naik
Dari sisi kinerja 9 bulan pertama 2023, laba bersih per saham ASII tercatat sebesar Rp644, atau 17% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu (tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi Grup). Selain itu, kontribusi lebih tinggi terjadi pada hampir seluruh divisi bisnis. Adapun penjualan mobil dan sepeda motor masing-masing meningkat sebesar 2% dan 39% (yoy).
“Kinerja Grup sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2023 cukup baik, mencerminkan pemulihan paskapandemi yang terus berlanjut. Kami melihat Grup akan dapat tetap resiliet di tengah ketidakpastian perekonomian global dan membukukan kinerja yang baik hingga akhir tahun dengan pertumbuhan yang moderat pada kuartal terakhir,” kata Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro.
Pendapatan bersih konsolidasian Grup pada sembilan bulan pertama tahun 2023 sebesar Rp240,9 triliun, meningkat 9% (yoy). Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan penyesuaian nilai wajar atas investasi pada GoTo dan Hermina, mencapai Rp26,1 triliun, 17% lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Peningkatan ini mencerminkan peningkatan kinerja dari hampir seluruh divisi bisnis Grup, terutama divisi otomotif dan jasa keuangan,” kata Djony.
Jika memperhitungkan penyesuaian nilai wajar pada GoTo dan Hermina, maka laba bersih Grup meningkat sebesar 10% menjadi Rp25,7 triliun, dibandingkan sembilan bulan pertama tahun 2022.
Nilai aset bersih per saham pada 30 September 2023 sebesar Rp4.713, 1% lebih rendah dibandingkan pada 31 Desember 2022. Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Grup tercatat sebesar Rp50,4 triliun pada 30 September 2023 dibandingkan dengan Rp44,5 triliun pada akhir tahun 2022.
Jika dirinci per divisi, untuk otomotif, laba bersih melonjak 35% menjadi Rp9,2 triliun, yang mencerminkan peningkatan volume penjualan.Penjualan mobil nasional pada sembilan bulan pertama tahun 2023 relatif stabil, yaitu 755.000 unit. Penjualan mobil Astra meningkat 2% menjadi 421.000 unit, dengan pangsa pasar yang meningkat dari 55% menjadi 56%.
Selama periode tersebut, enam belas model baru dan delapan model revamped telah diluncurkan, termasuk satu model battery electric (BEV), Lexus RZ, serta dua model hybrid electric (HEV), Toyota Yaris Cross dan Toyota Alphard. Saat ini, Grup menjual enam model BEV dan tiga belas model HEV di Indonesia di bawah merek Toyota, Lexus dan BMW.
Penjualan sepeda motor secara nasional tumbuh 31% menjadi 4,7 juta unit pada sembilan bulan pertama tahun 2023. Penjualan Astra atas sepeda motor Honda meningkat 39% menjadi 3,7 juta unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dimana pada saat itu terdapat kendala produksi akibat masalah ketersediaan semikonduktor yang berdampak pada bisnis. Hal tersebut juga terlihat dari pangsa pasar yang meningkat dari 74% menjadi 79%. Selama periode ini, tiga model baru dan sembilan model revamped telah diluncurkan, termasuk satu model BEV, EM1e.
Adapun bisnis komponen otomotif Grup dengan kepemilikan 80%, PT Astra Otoparts Tbk, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 58% menjadi Rp1,3 triliun pada sembilan bulan pertama 2023, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari segmen pabrikan (original equipment manufacturer).
Di divisi jasa keuangan,laba bersih meningkat 33% menjadi Rp5,9 triliun pada periode sama, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dan asuransi umum.
Nilai pembiayaan pada bisnis pembiayaan konsumen Grup meningkat sebesar 20% menjadi Rp89,0 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat sebesar 28% menjadi Rp1,7 triliun. Sedangkan kontribusi laba bersih dari perusahaan Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor PT Federal International Finance juga meningkat sebesar 31% menjadi Rp3,0 triliun.
“Peningkatan-peningkatan ini terutama disebabkan jumlah pembiayaan yang lebih besar dan provisi kerugian pinjaman yang lebih rendah,” tegas Djony.
Total pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan Grup yang fokus pada pembiayaan alat berat meningkat 3% menjadi Rp8,4 triliun. Kontribusi laba bersih dari bisnis ini meningkat sebesar 89% menjadi Rp134 miliar, terutama karena jumlah pembiayaan yang lebih besar.
Perusahaan asuransi umum Grup, yakni PT Asuransi Astra Buana, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 12% menjadi Rp1,0 triliun, mencerminkan pendapatan underwriting dan hasil investasi yang lebih tinggi. Perusahaan asuransi jiwa Grup, PT Asuransi Jiwa Astra mencatatkan peningkatan premi bruto sebesar 7% menjadi Rp4,4 triliun.
Penurunan terjadi pada divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi. Laba bersih divisi tersebut turun 1% (yoy) menjadi Rp9,4 triliun, terutama disebabkan kontribusi yang lebih rendah dari bisnis pertambangan batu bara dan emas.
PT United Tractors Tbk (“UT”), yang 59,5% sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 3% menjadi Rp15,3 triliun.Penjualan alat berat Komatsu menurun 4% menjadi 4.400 unit, namun pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan meningkat.
PT Pamapersada Nusantara, perusahaan kontraktor penambangan, mencatat peningkatan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 23% menjadi 853 juta bank cubic metres dan produksi batu bara meningkat 16% menjadi 96 juta ton.
Anak perusahaan UT di bidang pertambangan mencatatkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 10% menjadi 8,5 juta ton, termasuk penjualan 1,8 juta ton metallurgical coal, namun pendapatan turun 2% disebabkan oleh harga batu bara yang lebih rendah.
PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95% sahamnya dimiliki UT, melaporkan penurunan penjualan emas sebesar 32% menjadi 147.000 ons.PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 87,7% sahamnya dimiliki UT, melaporkan penurunan rugi bersih yang lebih rendah menjadi Rp151 miliar dibandingkan dengan rugi bersih Rp227 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2022.
Laba bersih divisi agribisnis Grup menurun 34% menjadi Rp638 miliar, terutama disebabkan harga CPO yang lebih rendah.Laba bersih PT Astra Agro Lestari Tbk, yang 79,7% sahamnya dimiliki Perseroan, turun sebesar 34% menjadi Rp801 miliar.Harga CPO menurun 16% menjadi Rp11.153 /kg.
Divisi infrastruktur dan logistik Grup mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 98% menjadi Rp766 miliar selama sembilan bulan pertama tahun 2023, disebabkan peningkatan kinerja dari bisnis jalan tol, solusi transportasi dan logistik.
Grup mempunyai kepemilikan saham di 396km ruas jalan tol yang telah beroperasi sepanjang jaringan jalan tol Trans-Jawa dan tol lingkar luar Jakarta. Pendapatan harian dari bisnis jalan tol Grup meningkat sebesar 6% sepanjang periode ini.
Sementara itu di divisi Teknologi Informasi, PT Astra Graphia Tbk yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 96% menjadi Rp96 miliar, terutama disebabkan oleh peningkatan marjin usaha dan pendapatan.
Divisi Properti Grup melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 5% menjadi Rp114 miliar, terutama karena meningkatnya unit di Arumaya Residence yang diserahkan dan tingkat hunian di Menara Astra.
Aksi Korporasi Terbaru
Pada Agustus lalu, Grup melalui UT, menandatangani perjanjian pengambilan 40,476% saham baru yang dikeluarkan oleh PT Supreme Energy Sriwijaya dengan total nilai transaksi sebesar US$ 42,3 juta. SES memiliki 25,2% saham PT Supreme Energy Rantau Dedap, yang merupakan pemegang izin pengusahaan panas bumi dengan kapasitas 2 x 49 MW, yang telah beroperasi di Sumatera Selatan.
Pada September, Grup melalui UT, menyelesaikan transaksi pengambilan 19,99% saham di Nickel Industries Limited (NIC) dengan total nilai transaksi sebesar AUD942,7 juta. NIC, perusahaan yang tercatat pada Australian Securities Exchange, merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama berlokasi di Indonesia.(Hari Gunarto)

