Simak Tren Harga Indah Kiat (INKP), The Bigger, Better, dan Stronger
JAKARTA, investortrust.id – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menunjukkan tren pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun mendatang. Peningkatan tersebut didukung ekspansi besar-besaran perseroan di tengah tren pertumbuhan pulp & paper dunia dalam beberapa tahun mendatang.
Samuel Sekuritas Indonesia dalam riset yang diterbitkan kemarin menyebutkan bahwa Indah Kiat (INKP) sebagai bigger, better, dan stronger. Tagline the bigger, better, dan stronger tersebut dalam arti ekspansi pabrik, tren penguatan harga pulp, dan didukung struktur permodalan yang kuat guna mendukung rencana ekspansi.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Daniel A Widjaja dan Yosua Zisokhi mengatakan, Indah Kiat (INKP) tengah menggarap ekspansi melalui pembangunan pabrik kertas industri baru berkapasitas total 3,9 juta ton per tahun di Karawang, Jawa Barat. Pabrik tersebut akan dikembangkan dalam dua tahap.
Tahap pertama, perseroan akan membangun pabrik dengan kapasitas 2,4 juta ton per tahun dengan target mulai beroperasi tahun 2025. Tahap pertama terdiri atas 1,5 juta ton kertas putih dan 0,9 juta ton kertas coklat.
Sedangkan tahap kedua dengan target kapasitas terpasang sebanyak 1,5 juta ton per tahun kertas putih dengan proyeksi mulai beroperasi dua tahun setelah tahap pertama tuntas. “Dengan pabrik baru ini, total kapasitas terpasang pabrik kertas industri INKP akan naik lebih dari 150% menjadi 6,2 juta ton per tahun. Hal ini akan mendongkrak total kapasitas terpasang INKP menjadi 11,4 juta ton per tahun,” tulisnya dalam riset yang diterbikan di Jakarta, Selasa (3/10/2023).
Guna mendukung ekspansi tersebut, Daniel dan Yosua mengatakan, perseroan menganggarkan belanja modal senilai US$ 3,6 miliar yang didanai dari kas internal sebanyak 60% dan pinjaman eksternal sekitar 40%. “Kami meyakini pendanaan pembangunan pabrik baru tersebut akan berjalan lancar, mengingat posisi INKP sangat solid di industri kertas,” terangnya.
Terkait prospek harga pulp, dia mengatakan, acuan pulp global, baik softwood (BSK) dan hardwood (BHK), sudah turun masing-masing sebanyak 25,5% dan 36,5% sepanjang tahun ini. Penurunan terjadi akibat peningkatan inventori pulp & paper di China. Penurunan ini memicu penurunan harga jual produk perseroan sebesar 10,5% sepanjang tahun ini, sehingga laba bersih perseroan tertekan pada paruh pertama.
“Meski demikian, kami meyakini harga pulp dan produk kertas akan kembali meningkat, didorong pertumbuhan ekonomi Asia, terutama China. Hal ini tentunya akan menguntungkan INKP yang 50% ekspornya ditujukan ke negara-negara Asia,” kata Daniel.
Selain faktor tren penguatan harga kertas, lanjut Samuel Sekuritas, Indah Kiat (INKP) juga didukung struktur permodal yang kuat untuk mendukung rencana ekspansinya. Hingga semester I-2023, perseroan memiliki rasio solvabilitas yang baik dengan DER 0,55 kali, net gearing 0,16 kali, interest coverage ratio 3,4 kali, serta kas mencapai US$ 1,9 miliar.
“Struktur permodalan yang kuat ditambah peringkat id A dari Pefindo akan membuat perseroan semakin leluasa untuk mendapatkan dana guna memenuhi rencana ekspansinya ke depan,” terangnya.
Dengan tren peningkatan kapasitas pabrik dan didukung potensi membaiknya harga pulp & paper, Samuel Sekuritas meyakini, tingkat pertumbuhan kinerja keuangan perseroan bakal melesat dalam beberapa tahun mendatang. Laba bersih perseroan diprediksi meningkat menjadi US$ 861 juta tahun 2023, diharapkan kembali naik menjadi US$ 890 juta pada 2024, dan diestimasi kembali melesat menjadi US$ 980 juta pada 2025.
Sedangkan pendapatan Indah Kiat (INKP) diprediksi meningkat menjadi US$ 4,17 miliar pada 2023, kemudian diperkirakan naik menjadi US$ 4,32 miliar pada 2024, dan diestimasi mencapai US$ 5,08 miliar pada 2025.
Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INKP dengan target harga direvisi naik dari Rp 9.000 menjadi Rp 13.500, sehingga potensi penguatan terbuka sebanyak 27,05%. Target tersebut mempertimbangkan perkiraan PER tahun 2024 sekitar 5,6 kali.
Pemulihan
Sementara itu, tim riset RHB Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa Indah Kiat (INKP) berada di tengah penguatan harga jual pulp & paper dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini menjadikan prospek saham INKP masuk dalam pilihan teratas saat ini.
Tim riset RHB Sekuritas menyebutkan bahwa pengapalan komoditas pulp meningkat sebanyak 5% menjadi 4,8 juta ton pada Agustus 2023, dibandingkan Agustus 2022 sebanyak 4,5 juta ton. Angka tersebut juga menunjukkan pertumbuhan sebanyak 4,8% dari bulan sebelumnya. Peningkatan aktivitas tersebut didukung atas lompatan permintaan dari China.
“Permintaan pulp & paper menunjukkan pemulihan setelah mengalami pelemahan sepanjang semester I-2023. Hal ini mendorong kami menyukai saham INKP dengan target harga Rp 22.975,” tulis riset yang diterbitkan, Selasa (3/10/2023).
Dengan peningkatan tersebut, penurunan total pengapalan pulp & paper sepanjang Januari-Agustus 2023 tersisia 0,4%, dibandingkan periode sampai Juli 2023 dengan penurunan mencapai 1,2%. Sedangkan pengiriman ke China menunjukkan lompatan sebanyak 21,7% sepanjang periode tersebut.
Berdasarkan data, impor pulp & paper China berkontribusi sebanyak 33-36% terhadap total perdagangan global. Sedangkan impor BHK (bleached hardwood kraft) berkontribusi sebanyak 60% terhadap total impor komoditas pulp. “Kami memperkirakan peningkatan permintaan pengapalan dari China akan berimbas terhadap berlanjutnya pemulihan harga produk BHK,” tulis riset tersebut.
Selain pemulihan permintaan pulp & paper dunia, RHB Sekuritas menyebutkan, Indah Kiat (INKP) bakal diuntungkan atas biaya pengapalan produk dari Indonesia ke China yang lebih rendah, dibandingkan impor dari Amerika Selatan.
“Kami menilai Indonesia menjadi negara yang paling diuntungkan atas peningkatan permintaan dan harga pulp & paper dari China. Negara tersebut cenderung memilih impor dari Indonesia, karena biaya pengapalan lebih murah dan waktu pengapalan lebih cepat dibandingkan impor dari Amerika Selatan,” tulisnya.
Terkait pengapalan pulp & paper, riset itu menyebutkan, diprediksi bakal melanjutkan pertumbuhan sejalan dengan penurunan inventori global bersamaan dengan peningkatan permintaan. Dengan demikian rata-rata harga jual kertas INKP diprediksi meningkat menjadi US$ 575 per ton.
Selain faktor tersebut, RHB Sekuritas menyebutkan bahwa Indah Kiat (INKP) bakal didukung ekspansi peningkatan kapasiatas industri kertas dengan kapasitas menjadi 3,9 juta ton. Hal ini berpotensi menciptakan margin keuntungan perseroan tetap stabil, meskipun terjadi fluktuasi harga.
Berbagai faktor tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INKP dengan target harga Rp 22.975. Dengan harga penutupan saham INKP level Rp 10.625 pada Selasa (3/10/2023), potensi penguatan saham mencapai 116,23%.
RHB Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 22.975
Samuel Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 13.500
Kinerja Keuangan
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) tergolong perusahaan pulp & paper tertua di Indonesia, didirikan pada 1 Desember 1976 alias sudah berusia 47 tahun. Saat ini, INKP memiliki fasilitas produksi di tiga lokasi yaitu di Perawang-Riau, Tangerang dan Serang, Banten.
INKP memproduksi bubur kertas (pulp), tisu berbagai jenis, produk kertas yang terdiri atas kertas untuk keperluan tulis dan cetak (berlapis dan tidak berlapis), kertas fotocopy, kertas industri seperti kertas kemasan yang mencakup container board, corrugated shipping containers (konversi dari containerboard), boxboard, food packaging, dan kertas berwarna.
Pada tahun 1990, Indah Kiat listing di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (kini keduanya bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia) dengan kode saham INKP. Per akhir Semester I-2023, mayoritas saham INKP dimiliki oleh PT Purinusa Ekapersada (afiliasi Grup Sinarmas) sebesar 53,25% dan sisanya dipegang oleh publik (46,75%).
Sementara itu, pada semester I-2023, INKP meraih penjualan bersih sebesar US$ 1,93 miliar, turun tipis 0,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari US$ 1,94 miliar. Beban pokok penjualan INKP tercatat US$ 1,93 miliar.
Dengan pencapaian tersebut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk INKP menjadi US$ 268,52 juta (turun 32,06%, yoy) dari level US$ 395,26 juta. Demikian pula laba usaha turun 4,21% menjadi US$ 506,6 juta. Namun aset INKP naik 0,48% (yoy) menjadi US$ 9,68 miliar dari US$ 9,64 miliar.
Di lain sisi, Indak Kiat yang tengah gencar ekspansi juga rajin menerbitkan obligasi. Pada 3-6 Oktober 2023 ini, INKP menggelar penawaran umum Obligasi Berkelanjutan I Indah Kiat Pulp & Paper tahap I tahun 2023 senilai US$ 150 juta. Hasil penerbitan obligasi akan dialokasikan untuk belanja modal, terutama untuk ekspansi pembangunan pabrik kertas industri. Hingga akhir semester I-2023, INKP memiliki utang bank jangka pendek sebesar US$ 1,03 miliar, obligasi US$ 424,8 juta, dan sukuk US$ 76,53 juta. (Hari Gunarto)

