Seribu Satu Jalan Menuju AUM Reksa Dana Rp 1.000 Triliun
JAKARTA, investortrust – Industri reksa dana di Indonesia seperti terisolasi, seolah-olah tidak ke mana-mana alias jalan di tempat. Perkembangan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana di Tanah Air cenderung lamban dan stagnan.
Namun, seiring penurunan suku bunga ke depan, ditopang oleh regulasi yang lebih baik serta upaya gigih literasi dan edukasi, industri reksa dana diyakini bakal menorehkan performa cemerlang di masa depan. Upaya mewujudkan target AUM Rp 1.000 triliun perlu dibarengi dengan inovasi produk, insentif dari otoritas, serta strategi pemasaran yang atraktif.
Demikian terungkap dalam focus group discussion (FGD) bertajuk "“Berpacu Menuju AUM Rp 1.000 Triliun: Tantangan dan Strategi Industri Reksa Dana” yang digelar investortrust.id di The Convergence Indonesia, Jakarta, Jumat (08/03/2024).
FGD menampilkan empat pembicara, yaitu Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga, Direktur Utama Principal Asset Management (Principal AM), Naresh Krishnan, Direktur PT Panin Asset Management, Rudiyanto, dan Head of Capital Market Research PT Infovesta Utama (Infovesta) Wawan Hendrayana, dengan moderator Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu.
Antony Dirga menilai, perkembangan AUM di Indonesia sangat lamban, jauh di bawah potensinya. "Kalau kita lihat, AUM reksa dana serasa terisolasi, seolah-olah industri ini tidak ke mana-mana,” tutur dia.
Dia menyebut, dalam 10 tahun terakhir, pasar reksa dana (RD) saham cenderung tidak berkembang. Hal itu merujuk pada indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang hanya tumbuh 4-5% per tahun. Fenomena tersebut terjadi karena baby boomers atau gen X tidak menginvestasikan dana mereka di reksa dana saham, namun cenderung trading saham.
Pandangan yang sama diungkapkan Naresh Krishnan, yang menyatakan AUM cenderung mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Secara akumulasi dalam rentang tahun 2014 – 2024, total AUM bertumbuh sebesar 13,3% per tahun. Namun, secara tahunan nilai AUM reksa dana menurun 4,9% dalam tiga tahun terakhir.
“Dalam 15 tahun terakhir, pasar ekuitas kita memberikan nilai yang bahkan lebih rendah daripada uang,” tegas Naresh.
Namun pada periode yang sama, obligasi pemerintah memberikan pendapatan yang stabil kepada investor.
Jika melongok data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Februari 2024, AUM reksa dana yang dikelola 93 perusahaan manajer investasi (MI) mencapai Rp 499,30 triliun, Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) Rp 279,67 triliun, dana investasi real estat (DIRE) Rp 10,33 truliun, reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) Rp 17,29 triliun, efek beragun aset (EBA) Rp 2,15 triliun, serta dana investasi infrastruktur (Dinfra) Rp 7,42 triliun. Jadi total jendral sekitar Rp 816 triliun atau setara US$ 53 miliar.
Di level global, AUM Indonesia berada di peringkat ke-18. AUM Indonesia juga masih sekitar 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi ini masih kalah dibanding negara Tetangga, seperti Thailand dan Malaysia yang sudah mencapai 25-30% dari PDB. China bahkan sudah mencapai level rasio AUM terhadap PDB sebesar 5% pada tahun 1990-an, dan Amerika Serikat lebih dulu di tahun 1960-an.
Naresh pun melihat Indonesia jauh tertinggal dibanding negara lain, sehingga harus mengejar ketertinggalan tersebut. Apabila dibandingkan dengan 20 negara dengan AUM terbesar, Indonesia masih tertinggal jauh. Amerika berada di peringkat satu dengan nilai aset (AUM) US$ 34,55 triliun sedangkan Indonesia US$ 53 miliar.
Dalam road map pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan OJK) mematok target asset under management (AUM) industri reksa dana menembus Rp1.000 triliun pada 2027.
Atas dasar itu, para pembicara sependapat bahwa target itu lumayan berat untuk dicapai, jika tidak dilakukan berbagai strategi yang jitu dan inovatif dari pelaku industri, termasuk regulator dan otoritas terkait. Target tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para manajer investasi (MI). Ada seribu satu jalan yang terbentang untuk mewujudkan terget tersebut.
Optimistis
Dengan asumsi rasio AUM per PDB di Indonesia mencapai 7%, Antony Dirga optimistis terjadi peningkatan AUM secara eksponensial. Bukan mustahil, dalam 5-7 tahun ke depan, AUM nasional bukan stagnan di US$ 50-60 triliun, namun bisa tiga kali lipat atau sekitar US$ 150-180 triliun.
Antony Dirga optimistis kinerja reksa dana (RD) saham berpotensi meningkat (upside) di era penurunan suku bunga. Sedangkan RD pendapatan tetap yang berbasis obligasi diperkirakan upside tidak terlalu banyak alias lagging. RD saham akan bertumbuh di tahun 2024, namun belum mampu menyalip RD pendapatan tetap yang naik secara signifikan.
“Menurut kami, (reksa dana) pendapatan tetap terutama obligasi itu sekitar 6,5-6,6% dan pilih obligasi tenor 3-5 tahun,” jelas Antony.
Naresh Krishnan yakin, masyarakat memiliki preferensi pada produk investasi yang aman di tengah kondisi ketidakstabilan ekonomi global, antara lain Surat Berharga Negara (SBN). SBN yang memberikan return menarik menjadi salah satu tantangan dalam mengejar target AUM reksa dana sebesar Rp 1.000 triliun tahun 2027.
Naresh berharap apabila keadaan ekonomi global sudah mulai membaik, saat suku bunga menurun dan dolar AS melemah, maka industri reksa dana dapat segera pulih. “Itulah titik pemicunya dan itu kami tunggu,” tambahnya.
Naresh Krishnan melihat, dari 93 MI dengan ribuan produk reksa dana, mayoritas menawarkan produk yang sama, yakni RD saham, RD pendapatan tetap, dan RD pasar uang. Principal AM yang dia pimpin ingin meawarkan produk yang berbeda. Disinilah Naresh menekankan perlunya MI lebih inovatif dalam menciptakan produk.
Menurut Primus Dorimulu, nilai aktiva bersih (NAB) untuk RD pendapatan tetap dan terproteksi menunjukkan tren meningkat, sedangkan RD saham dan pasar uang cenderung menurun.
“Riset kami menunjukkan bahwa tahun ini tahun ekuitas karena dukungan penurunan suku bunga di semester kedua. Namun beberapa MI mengatakan bahwa alokasi masih tertinggi di pendapatan tetap,” tuturnya.
Zilenial Jadi Tumpuan
Ke depan, investor kalangan muda atau kaum zilenial bakal menjadi tumpuan pertumbuhan industri reksa dana. Antony menjelaskan, jumlah investor reksa dana di Indonesia hampir mencapai 12 juta. Ini merupakan leading indicator yang sangat penting buat MI.
Jumlah itu akan terus meningkat dan di sinilah pentingnya MI lebih agresif meliterasi dan mengedukasi kepada gen Z dan milenial. “Sebab, saat kelak penghasilan kelompok ini naik, peluang berinvestasi di reksa dana bakal tumbuh signifikan,” kata Antony.
Di mata Antony Dirga, generasi zilenial lebih bergairah dan agresif dalam berinvestasi. Sebab, kesadaran (awareness) mereka tentang masa depan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, yakni baby boomers dan gen X. Terutama menabung RD saham atau campuran. Dia mematahkan persepsi bahwa generasi Zilenial tidak punya kebiasaan menabung dan memiliki gaya hidup yang cenderung boros.
Pentingnya Regulasi
Para pembicara sepakat bahwa regulasi menjadi bagian penting industri reksa dana. Regulasi bisa menjadi katalisator untuk tumbuh-berkembang, sekaligus menjadi rambu hukum dan mampu melindungi investor.
Antony Dirga menilai, regulasi-regulasi yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah sesuai jalurnya namun masih perlu disertai pengawasan yang ketat. Regulasi memang diperlukan agar tercipta koridor hukum untuk meminimalisasi pelanggaran.
"Transaksi yang perlu diperketat misalnya, bagaimana transaksinya, bagaimana repo itu dimanipulasi, dan lain sebagainya," kata dia.
Antony mengapresiasi regulator yang turut mengembangkan industri RD dan MI, sebagaimana dibeberkan dalam visi-misi dua tahun lalu.
Antony menilai, industri dan regulator telah mengarah pada jalur yang benar terkait pengembangan industri RD di Tanah Air. Penerbitan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) juga menunjukkan komitmen OJK untuk meningkatkan pelindungan konsumen di sektor keuangan. Namun, UU itu perlu aturan turunan, khususnya perlindungan konsumen, dan sebaiknya industri dilibatkan untuk memberi masukan berharga.
Naresh menyambut positif regulasi baru, yakni Peraturan OJK (POJK) Nomor 27 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Dana Pensiun. Salah satu substansi yang diatur dalam POJK ini adalah persyaratan tambahan terkait penempatan investasi dana pensiun di reksa dana yang cenderung berisiko tinggi. Di antaranya, Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), Medium-Term Notes (MTN), dan Repurchase Agreement (Repo).
Baca Juga
Dear Investor, Mau Tahu Berapa Pajak Return Saham, Obligasi, dan Reksa Dana?
Dana pensiun yang melakukan investasi pada reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif penyertaan, real estat berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK), dan infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif investasi pada infrastruktur, maka wajib memiliki jumlah investasi minimal Rp 1 triliun. Selain itu, dana pensiun wajib memilih instrumen yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI) yang masuk 10 terbesar AUM.
“Kami sepakat bahwa industri reksa dana memang harus didukung oleh regulasi yang mengarah pada keamanan pengelolaan dana milik nasabah,” tegas Naresh.
Namun ada regulasi yang dikritik Naresh Krishnan, yakni betapa lamanya proses untuk mendistribusikan reksa dana. Itulah salah satu penghambat pertumbuhan produk reksa dana. Naresh mencontohkan, bank distributor yang ingin menjual reksa dana harus ke OJK untuk mendapatkan persetujuan produk. Ia berharap proses perizinan pendistribusian reksa dana bisa lebih sederhana.
Strategi ke Depan
Head of Capital Market Research PT Infovesta Utama (Infovesta) Wawan Hendrayana berpendapat, sejak diterbitkannya Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No 5/SEOJK.05/2022 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (SEOJK PAYDI) atau unit link, jumlah investor dan dana kelolaan reksa dana turun.
Jika ingin target AUM Rp 1.000 triliun tembus, OJK perlu memberikan insentif kepada industri pengelola reksa dana. Dulu, industri reksa dana dapat insentif. Jika mereka investasi ke dalam obligasi, pajaknya bisa 0%. Kemudian pajaknya gradual naik menjadi 5% lalu 10%. “Karena itu, pajak tersebut harus kembali turun ke 5%,” ujarnya.
Wawan menekankan, orang tertarik investasi di reksa dana jika kinerjanya bagus. Itulah mengapa RD berbasis obligasi, RD pendapatan tetap, dan RD terproteksi meningkat. Semua karena kinerja.
Menurut Wawan, dalam 5 tahun terakhir pasar saham China cenderung menurun, namun tidak dengan pasar reksa dana. Pada akhir Juni 2023, AUM reksa dana di China mencapai US$ 3,3 triliun. Yang paling menonjol adalah RD pasar uang, karena memanfaatkan idle money dari Alipay maupun WeChat Pay yang sangat mudah.
Wawan berharap Indonesia bisa meniru China, bagaimana OJK mempermudah idle money masuk ke instrumen RD pasar uang. Dia menunjuk beberapa marketplace di Indonesia yang menawarkan likuiditas cepat seperti yang terjadi di China, dan bisa ditempatkan di reksa dana.
Dalam pandangan Wawan, peningkatan konsumsi masyarakat yang digalakkan untuk menggerakkan perekonomian pasca Covid-19 harus tetap disertai kampanye untuk berinvestasi. Terutama untuk kaum zilenial. Ini sangat penting demi masa depan.
Dia khawatir, konsumerisme yang agresif bisa mengakibatkan risiko peningkatan utang di masyarakat. “Semuanya nanti pakai pay later. Artinya, disposable income-nya bukan untuk investasi, melainkan untuk bayar cicilan utang,'' ujar Wawan.
Untuk investor pemula, Wawan menyarankan untuk berinvestasi di RD pendapatan tetap berbasis obligasi atau RD pasar uang yang hasilnya lebih stabil dan aman. ''Biar investor pemula tidak kapok kalau rugi di awal-awal,'' ujarnya.
Demikian pula RD pasar uang, yang dananya ditempatkan pada deposito perbankan atau surat utang berjangka maksimal satu tahun. “Produk ini menghindarkan investor dari potensi penyusutan dana kelolaan,” kata Wawan.
Wawan yakin bahwa RD pendapatan tetap diprediksi tetap menjadi primadona pada 2024 seiring penurunan suku bunga. Apalagi, dalam tiga tahun terakhir, kinerja RD pendapatan memang paling kinclong.
Bahkan pada 2021, hasil investasi RD pendapatan bisa tembus 10%. “Itu menarik sekali. Sudah aman, return-nya tinggi pula,” ujar dia.
Wawan Hendrayana memberikan beberapa tips. Para wakil manajer investasi (MI) harus memiliki kemampuan pemasaran yang mumpuni agar perusahaan MI memiliki fundamental yang sehat dan menguntungkan. Tak kalah penting, memberikan edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat secara terus-menerus.
Sementara itu, Naresh mengusulkan perlunya Indonesia mengacu industri reksa dana di negara-negara di ASEAN yang telah berevolusi menjadi industri yang lebih terbuka dengan peluang berinvestasi di luar negeri. Principal AM di Malaysia, misalnya, 80% AUM-nya berasal dari dana luar negeri. “Di Thailand dan Filipina, produk terlaris Principal adalah reksa dana saham Vietnam,” ucapnya.
Baca Juga
Minat Investor Ritel Tinggi, NAB Reksa Dana 2024 Diprediksi Tumbuh 5-10%
Tiga Kunci
Sedangkan Direktur PT Panin Asset Management, Rudiyanto menyampaikan tiga kunci yang perlu diperhatikan agar AUM reksa dana bisa tembus Rp 1.000 triliun, yaitu performa, pemasaran, dan regulasi.
Soal regulasi misalnya, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 23/POJK.05/2015 tentang Produk Asuransi dan Pemasaran menyebut, unit link yang investasinya dimasukkan di RD pendapatan tetap tidak boleh lagi masuk ke subdana selain Surat Berharga Negara. Itulah mengapa banyak unit link yang pindah ke KPD (kontrak pengelolaan dana).
Terkait pemasaran, Rudiyanto menekankan, tim pemasaran dituntut mampu menarik minat para investor baru karena produk reksa dana kini harus bersaing dengan SBN yang belakangan menawarkan return menarik. Contohnya, Saving Bond Ritel (SBR), return yang ditawarkan berada di atas bunga deposito atau rerata return IHSG dalam setahun. “Ini pintar-pintarnya pemasaran dan performance. Kalau tidak menarik, susah, orang tidak berminat,” tuturnya.
Psikologis Investor
Satu tips menarik juga diungkap Rudiyanto, yakni pentingnya mengelola psikologis investor reksa dana. MI harus menjaga psikologis investor agar tetap merasa untung saat brinvestasi.
“Reksa dana sekarang banyak fitur, salah satu yang paling canggih bagi hasil. Deposito menghasilkan bunga, obligasi memberikan kupon, saham memberikan dividen, kalau reksa dana namanya bagi hasil investasi (PHI),” ujarnya.
Baca Juga
Pendapatan Tetap Primadona, Cek Potensi Cuan 4 Jenis Reksa Dana di Tahun Pemilu
Saat ini banyak MI, termasuk Panin Asset Management, yang menerbitkan reksa dana dengan pola bagi hasil. Hal ini merupakan bagian dari bagaimana mengelola psikologis investor agar tetap merasa untung. Sistem bagi hasil terdapat di RD pendapatan tetap, RD pasar uang, maupun RD saham. “Dalam setahun sekali atau dua tahun sekali reksa dana tersebut memberikan bagi hasil. Inilah pentingnya bagi nasabah bahwa secara psikologis pernah merasa untung,” tambahnya.
Dengan mengendalikan psikologis investor, durasi berinvestasi diharapkan lebih lama. Bahkan mereka bersedia menempatkan dana di lebih dari satu jenis reksa dana.
Di situlah pentingnya inovasi dan diversifikasi produk. Sebab, pada akhirnya, para Manajer Investasi perlu lebih agresif dalam literasi, edukasi, dan kampanye tentang pentingnya investasi reksa dana, khususnya ke kelompok zilenial. Perilaku konsumtif yang melanda kaum zilenial harus diimbangi dengan komitmen untuk menabung dan berinvestasi.
Investasi harus menjadi gaya hidup, demi masa depan yang lebih baik. Mimpi Indonesia Emas 2045 akan terwujud jika rakyat Indonesia sejahtera (wealthy) dan konsisten berinvestasi. (Tim Investortrust)

