Mimpi Besar Transformasi Bisnis Bakrie & Brothers (BNBR)
JAKARTA, investortrust.id -- PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tengah menyiapkan transformasi bisnis besar-besaran dengan target yang tidak main-main. Ini sebuah mimpi besar yang mesti terwujud. Dalam dua dekade ke depan, BNBR berambisi menjadi perusahaan terdepan dalam bisnis berkelanjutan (sustainable business).
Saat ini, lini bisnis utama BNBR didominasi sektor energi, terutama yang bersentuhan dengan batu bara dan migas, dengan porsi sekitar 75%. Sisanya, 25% adalah nonenergi, yakni kendaraan listrik, media, dan teknologi digital.
Direktur Utama & CEO Bakrie & Brothers, Anindya Novyan Bakrie bercita-cita, ketika Grup Bakrie berusia 100 tahun pada 2042 nanti, atau paling lambat 2045 saat peringatan 100 Tahun Indonesia Merdeka, struktur bisnis perseroan diharapkan sudah berbalik. “Sebanyak 75% adalah bisnis yang berkelanjutan (sustainable business), antara lain energi terbarukan, kendaraan listrik, dan bisnis lain di luar tambang,” kata Anin, panggilan akrabnya, saat beramah tamah dengan pemimpin media, Selasa (12/12/2023).
Membawa Bakrie Brothers sebagai holding company yang fokus pada bisnis berkelanjutan adalah mimpi besar Anin. “Ini mimpi saya, kita sudah punya kemampuan di industrialisasi dan digitalisi setelah malang melintang di media teknologi. Fokus kita berikutnya di energi terbarukan,” katanya.
Bisnis Berkelanjutan
Saat ini, kata Anin, Bakrie & Brothers terus mengakselerasi upaya transisi ke arah bisnis berkelanjutan, terutama di sektor industri elektrifikasi transportasi, industri energi baru & terbarukan (EBT) atau green energy, dan industri konstruksi bangunan ramah lingkungan. Usaha ini semakin mempertebal komitmen perusahaan dalam mendukung target net zero emission (NZE) Indonesia 2060.
“Sembari terus mengelola sejumlah unit usaha yang selama ini telah berjalan dengan baik, kami konsisten melanjutkan upaya transisi energi yang berorientasi pada konsep usaha berkelanjutan sesuai prinsip-prinsip ESG (Environment, Social, Governance),” kata Anin saat Paparan Publik Tahunan BNBR, Selasa (5/12/2023).
Anindya memaparkan, saat ini BNBR melihat banyak peluang untuk mengakselerasi transisi perseroan menuju bisnis berkelanjutan. Upaya ini antara lain terlihat dari terus berkembangnya PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), unit usaha di bidang elektrifikasi transportasi, PT Helio Synar Energi (Helio) unit usaha di bidang energi baru terbarukan, dan PT Modula Sustainability Indonesia (Modula) yang berinvestasi dalam teknologi 3-D printing terbaru dan ramah lingkungan, di bidang konstruksi bangunan.
Bagi Anin, pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) melalui VKTR bertujuan untuk mendukung transisi energi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. ‘’Sejak pengembangan ekosistem kendaraan listrik kami lakukan, industri dan bengkel karoseri di Magelang yang sebelumnya sempat slow down, kini punya harapan baru dan berpikir retrofit dari bisnis diesel ke electrik,’’ papar Anin yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia.
Saat ini VKTR memiliki fasilitas perakitan kendaraan listrik di Magelang, Jawa Tengah. Pabrik ini memiliki kapasitas produksi sebesar 3.000 unit per tahun. Pengembangan bus dan truk listrik tersebut turut melibatkan pelaku usaha lokal.
VKTR sudah mulai memasok 52 bus listrik yang kini dioperasikan oleh PT TransJakarta. Armada bus tersebut telah menempuh jarak sejauh 3,6 juta kilometer, dengan jumlah total penumpang yang terangkut sebanyak 10 juta dalam rentang waktu 20 bulan. Dengan demikian, VKTR telah berhasil mengurangi sebanyak 4.800 ton CO2 di udara.
Anin memprediksi, potensi pasar bus listrik di seluruh Indonesia mencapai 250.000 unit, yang 10.000 di antaranya akan mengaspal di Jadebotabek. Sedangkan untuk truk listrik, potensi pasarnya bisa menembus 5,5 juta unit.
‘’Itu baru 52 bus, bisa dibayangkan bila jumlahnya mencapai 10 ribu bus. Jadi pengembangan bus dan truk listrik ini mendatangkan impact full dari sisi ekonomi, dari sisi transportasi publik, dan dari sisi lingkungan,’’ imbuh Anin.
Meskipun persaingan bisnis kendaraan listrik bakal terus meningkat, Anin memastikan Grup Bakrie harus memegang pangsa pasar terbesar untuk bus maupun truk listrik.
Guna menggarap potensi kebutuhan kendaraan listrik di masa datang, Grup Bakrie berinisiatif menerapkan sistem sewa. Kenapa harus sistem sewa, Anin mengakui bahwa pemakaian bus dan truk listrik di Tanah Air masih terkendala dengan investasi awal. Sebab, harga kendaraan listrik lebih mahal ketimbang kendaraan yang mengkonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) atau (Internal Combustion Engine/ICE). Padahal sebenarnya untuk penggunaan jangka panjang kendaraan listrik jauh lebih ekonomis ketimbang kendaraan diesel.
Dia mencontohkan, harga bus listrik seharga 1,5X dari bus diesel. Namun dalam tempo enam tahun, selisih harga beli tersebut sudah tertutupi, atau break even point karena biaya rupiah per kilometer kendaraan kistrik lebih murah dari kendaraan BBM. Sehingga tahun-tahun berikutnya pemilik akan menikmati murahnya bus listrik.
Sistem sewa menjadi solusi baru untuk mengatasi masalah investasi awal. ‘’Kita akan siapkan pendanaannya untuk pembelian kendaraan listrik, pengguna tinggal menyewa sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan investasi besar,’’ kata Anin.
VKTR terus menjajaki kerja sama strategis dengan sejumlah perusahaan otomotif besar dunia, termasuk untuk pengembangan truk listrik, baik EV Mining Truck maupun EV truck.
VKTR telah menandatangani kerjasama strategis dengan produsen bus listrik terkemuka dunia BYD Auto, produsen baterai ramah lingkungan asal Inggris BritishVolt, perusahaan karoseri Tri Sakti, perusahaan teknologi heavy mobility dari Inggris Equipmake, dan sejumlah pihak lainnya.
VKTR melalui perusahaan patungan bernama PT VKTR Sakti Industries (VKTS) telah mulai memproduksi sejumlah unit bus listrik secara Completely Knock-Down (CKD) di Magelang. Sejumlah bus listrik merek BYD tipe D9 high floor yang kini tengah diproduksi ini nantinya akan digunakan oleh salah satu perusahaan kertas di Indonesia sebagai moda transportasi antar-jemput karyawan.
Lokalisasi Teknologi
Menurut CEO VKTR, Gilarsi W Setijono, aliansi strategis dengan berbagai pihak, dari produsen kendaraan listrik, produsen baterai, manufaktur, hingga lembaga perguruan tinggi memang menjadi salah satu strategi yang ditempuh VKTR untuk mewujudkan lokalisasi teknologi.
“Kita ingin memastikan, ekosistem elektrifikasi transportasi di Indonesia dibangun secara lengkap dan tidak setengah-setengah, dari hulu hingga ke hilir. Kita membangun tidak hanya fasilitas pembuatan badan busnya saja, tetapi kita pikirkan juga bagaimana fasilitas pembuatan sasis dan teknologi mekatronika serta hal-hal lainnya,” ujar mantan Dirut PT Pos Indonesia tersebut.
Gilarsi yakin bahwa teknologi dan industrialisasi kendaraan listrik di Indonesia akan berkembang sangat cepat di masa mendatang. “Kami telah menyiapkan sejumlah rencana untuk terus memperluas kemitraan dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian berbeda, Hal ini kami lakukan untuk memastikan penguasaan teknologi yang tepat untuk pasar Indonesia. Kami juga akan memperluas jangkauan produk VKTR ke daerah-daerah lain selain DKI Jakarta. Dengan dukungan pemerintah, para pebisnis terkait serta masyarakat luas, VKTR akan mampu menjadi pemain utama dalam bisnis dan industri kendaraan listrik yang dapat dibanggakan,” tegasnya.
Green Business Baru
Secara lebih detail, Anindya Bakrie menjelaskan, lini bisnis bus dan truk listrik Grup Bakrie belum cukup untuk mengejar porsi 75% bisnis energi terbarukan pada 2042 atau 2045 kelak. Karena itu, pihaknya akan bergerak lebih jauh lagi ke bisnis energi terbarukan yang potensial, termasuk upaya memperkuat ekosistem kendaraan listrik.
Pilihan jatuh ke bisnis baterai kendaraan listrik. “Untuk bus dan truk listrik, komponen paling besar kan baterai. Tapi kalau bikin pabrik baterai butuh ilmu kelas tinggi, kita belum sampai ke situ. Tapi kalau bikin bubuk baterai, mungkin bisa. Untuk itu kita cari tembaga, galvanis, dan kobalt,” ujar Anin.
BNBR kemudian mencari pasar bubuk baterai di luar negeri. Hasilnya, Bakrie Brothers menandatangani tiga kesepakatan kontrak dengan tiga pabrik baterai listrik di Amerika Serikat, yakni di South Carolina, Tennesse, dan Kentucky. “Kita suplai bubuk baterai dari nikel untuk pabrik baterai di sana. Grup Bakrie juga mengekspor perkusor yang merupakan produk turunan dari nikel tersebut,” jelasnya.
Di lini energi terbarukan BNBR lainnya, unit usaha PT Helio Synar Energi telah berhasil memasang fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di pabrik milik PT Braja Mukti Cakra (BMC), di Bekasi, Jawa Barat. PLTS Atap dengan kapasitas sebesar 317.7 kWp (kilowatt-peak) ini mampu memproduksi energi listrik hingga 434 MWh (megawatt-hour) per tahun, dan diestimasikan total CO2 yang terserap per tahun sebesar 289,62 ton.
“Setelah BMC, Helio juga akan segera membangun PLTS Atap di pabrik-pabrik dan fasilitas operasional lainnya di lingkungan Grup Bakrie dengan kapasitas yang lebih besar,” terang Anin, seraya menambahkan bahwa Helio Synar saat ini juga tengah menangani dua jenis proyek EBT berikutnya, yakni de-dieselisasi dan PLTS Atap (C&I Rooftop PV).
Untuk bisnis baru di subsektor teknologi konstruksi pencetakan 3-dimensi (3DCP), PT Modula Sustainability Indonesia berpatungan dengan COBOD International dari Denmark yang dimiliki perusahaan terkemuka dunia seperti GE (USA), Cemex (Belanda), Holcim (Swiss) dan Peri (Jerman). Pada Januari 2024, Modula akan mendatangkan mesin teknologi 3-D printing dan mulai membangun rumah contoh pada kuartal II 2024.
Modula menjadi pembuka bisnis baru bagi anak usaha BBI yang selama ini membidangi industri bahan bangunan dan memberikan alternatif dalam konstruksi bangunan dengan teknologi yang cepat, modern, dan ramah lingkungan.
Badai Sudah Berlalu
Bakrie & Brothers saat ini telah menjadi perusahaan sehat, setelah melewati masa-masa sulit. Perusahaan yang sebelumnya merugi, terlilit banyak utang, serta ekuitas negatif, kini menjadi perusahaan sehat. Badai yang menerpa BNBR telah berlalu.
Bagi Anin, tahun ini adalah tahun besar bagi Bakrie Brothers karena sudah melewati masa-masa sulit. “Kita sudah announce tahun ini tahun besar bagi Bakrie Brothers karena luka-luka sebelumnya dari berbagai krisis tahun 1997 dan 1998 sudah terobati di tahun ini,” ujar Anin.
Anin pun bercerita bahwa dirinya masuk Bakrie Brothers empat tahun lalu setelah sebelumnya di bisnis media dan teknologi anak usaha Grup Bakrie. Saat itu, Bakrie Brothers mengalami tiga hal, yakni tidak untung, utang banyak, dan ekuiti negatif. “Ini seperti perfect storms. Tidak untung, utang banyak dan ekuiti negatif,” jelasnya.
Manajemen BNBR pun berusaha mengejar untung agar ekuiti perusahaan tidak negatif dan bisa bayar utang. Untuk itu, Bakrie Brothers fokus ke bisnis inti yakni industri baja, seperti Bakrie Pipe Industries dan Bakrie Autoparts.
“Jadi kita fokus ke bisnis steel industrialization, kembali ke khittah-nya. Belum banyak yang tahu, satu dari tiga tiang listrik di Indonesia adalah buatan Bakrie,” ujarnya.
Ada tiga bidang usaha di dalam Grup Bakrie, yakni industrialisasi, energi, dan teknologi digital. Industri baja sangat menguntungkan berkat efisiensi serta perbaikan penjualan dan layanan. Fokus kedua untuk masa depan Grup Bakrie adalah energi terbarukan.
Refokus dan transformasi bisnis secara bertahap mengantarkan BNBR ke dalam performa yang semakin solid. Salah satu hasilnya, dua minggu lalu Bakrie Brothers bayar utang sebesar Rp 13 triliun. Sekarang utangnya tinggal Rp 1 triliun. Karena sebagian kreditur konversi utangnya ke saham, maka ekuitasnya sekarang Rp 2,6 triliun.
“Jadi tiga masalah tadi menjadi tiga poin baik untuk Bakrie Brothers. Ini butuh waktu untuk edukasi karena tidak semua orang tahu,” katanya.
Memacu Kinerja Positif
Sementara itu, transisi menuju sustainable business BNBR terbukti semakin terpacu oleh kinerja positif pada kuartal III-2023 ini, di samping dukungan
sejumlah proyek strategis yang dijalankan oleh unit-unit bisnis BNBR.
“Di kuartal III-2023 ini, kami bersyukur bahwa langkah kebijakan perusahaan dalam pengembangan usaha baru telah membuahkan kinerja positif bagi Perseroan. Kami yakin dan optimis, proyek-proyek penting yang kami kembangkan akan memberikan dampak yang kian menggembirakan,” jelas Anindya.
Direktur Keuangan Roy Hendrajanto M Sakti mengatakan, BNBR mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 3,079 triliun, naik 32% dibanding periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). EBITDA juga tercatat melonjak 81%, dari Rp 152 miliar menjadi Rp 274 miliar di kuartal III-2023.
Aset Perseroan mengalami kenaikan secara signifikan dari Rp 17,46 triliun di periode sebelumnya menjadi Rp 20,10 triliun di kuartal III-2023. Sedangkan ekuitas juga meningkat dari Rp 1,53 triliun menjadi Rp 2,36 triliun, berkat laba bersih Perseroan dan agio saham VKTR saat IPO dan laba tahun berjalan.
Capaian kenaikan pendapatan bersih ini ditopang oleh catatan positif pendapatan sejumlah unit usaha Perseroan, antara lain PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group sebesar Rp 1,85 triliun, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) Group sebesar Rp 890,99 miliar dan PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group sebesar Rp 328,27 miliar.
Di sektor otomotif, pendapatan secara konsolidasi meningkat 6,9%, berasal dari peningkatan pendapatan PT Bakrie Autoparts (BA) Group sebesar 14,8% dan penjualan bus listrik sebesar Rp 99 miliar (sebanyak 22 unit). Pendapatan anak usaha komponen otomotif PT Bakrie Autoparts naik 27% (yoy) menjadi Rp 791,5 miliar.
Di sektor infrastruktur, pendapatan BIIN naik 60%, berasal dari peningkatan pendapatan sejumlah proyek yang diperoleh oleh PT Multi Kontrol Nusantara (MKN) sebesar Rp 328 miliar.
MKN yang bergerak di sektor infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi, telah membangun jaringan kabel fiber optik sepanjang lebih dari 8.000 km dan juga jaringan FTTH (Fiber To The Home) dengan total homepass lebih dari 320.000 di seluruh Indonesia. MKN juga mengimplementasikan layanan Internet of Things (IoT) di Pulau Jawa dan Kalimantan serta mengembangkan aplikasi berbasis teknologi Artificial Intelligence dan Machine Learning untuk mempercepat tersedianya ekonomi digital yang lebih efisien dan produktif.
Pendapatan terbesar berasal dari sektor manufaktur pipa baja, yaitu dari PT Bakrie Pipe Industries (BPI) sebesar Rp 1,81 triliun (meningkat 47,7% yoy). Kenaikan pendapatan BPI mayoritas berasal dari order sektor migas sebesar Rp529 miliar dan general market sebesar Rp 58 miliar. Sumber lain adalah PT South East Asia Pipe Industries (SEAPI) dengan kontribusi pendapatan Rp 35,07 miliar dan PT Bakrie Construction (BCons) sebesar Rp 8,04 miliar.
Dipertanyakan
BNBR terbukti mampu secara konsisten melakukan berbagai terobosan untuk memperbaiki posisi keuangan, terutama dengan menyelesaikan proses restrukturisasi utang serta menjalankan program efisiensi di tingkat operasional anak usaha.
Ke depan, perjalanan transformasi bisnis yang ditempuh Bakrie & Brothers tentu tidak mudah. Tak mengherankan jika strategi ini dipertanyakan banyak orang, termasuk media internasional. Argumen mereka sederhana, Bakrie dikenal sebagai jagoan di tambang, bagaimana mau banting stir ke bisnis lain.
“Saya bilang sebaliknya, kalau Bakrie Brothers tidak berubah, maka mimpi itu tidak akan kejadian. Saya terbuka. Ini bukan charity loh. I’m doing this karena bisa make money,” kata Anin yakin. (PD/CR-10)

