Konsistensi Tekan NPF Akan Perkuat Performa BTPS
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) mampu meraih rasio-rasio keuangan yang solid dan sebagian di atas rata-rata industri perbankan syariah. Hingga akhir kuartal III-2023, BTPS berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 1,004 triliun. Kalangan analis memprediksi kinerja perseroan bakal lebih baik di tahun 2024 seiring konsistensinya dalam menekan non-performing financing (NPF).
“Manajemen BTPS fokus untuk meningkatkan kualitas pengucuran dana atau pembiayaan dengan berupaya membersihkan pengembalian dana macet melalui penagihan langsung maupun mekanisme write off,” tulis tim riset Mandiri Sekuritas dalam riset yang dirilis kemarin.
Meski perseroan mencatatkan penurunan laba, Mandiri Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap upaya BTPS untuk meningkatkan kualitas aset dengan memfokuskan penguatan kolektibilitas kredit, dibandingkan mengejar target pencairan pendanaan atau kredit.
Upaya penguatan penyelesaian kredit bermasalah telah dilakukan dengan merekrut sebanyak 2.000 karyawan untuk memperkuat divisi pengumpulan penyaluran pembiayaan. “Hal tersebut menunjukkan fokus manajemen bergeser dari peningkatan penyaluran pendanaan ke arah perbaikan tingkat pembayaran kembali dan membersihkan seluruh kredit bermasalah dari neraca perseroan,” tulis riset tersebut.
Selain penambahan karyawan, menurut Mandiri Sekuritas, BTPN Syariah berpotensi menambah pencadangan lebih besar menjadi Rp 1,7 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan semula hanya Rp 1,4 triliun. Dengan peningkatan provisi tersebut, BTPS diharapkan bisa menekan rasio pembiayaan bermasalah dengan write off kredit senilai Rp 1,5 triliun tahun ini.
Mandiri Sekuritas menilai, sejumlah upaya tersebut lah yang membuat prospek kinerja keuangan BTPS akan lebih baik di tahun depan. Pertumbuhan kinerja juga akan didukung oleh penyelenggaraan pemilu yang berimbas terhadap penyaluran kredit. Dengan potensi yang lebih baik tahun depan itulah, Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BTPS dengan target harga Rp 2.500.
Manajemen perseroan dalam penjelasan resminya menyebutkan bahwa rasio-rasio keuangan BTPS menunjukkan performa solid, di antaranya return of asset (RoA) 7,8%. Rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 49,7% atau di atas ketentuan dan rata-rata industri bank syariah.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan BTPS terungkap bahwa penurunan laba secara tahunan (yoy) dipicu oleh peningkatan beban operasional lainnya dari Rp 2 triliun menjadi Rp 2,66 triliun. Hal tersebut membuat laba operasional turun dari Rp 1,70 triliun menjadi hanya Rp 1,28 triliun. Padahal, perseroan berhasil menaikkan penyaluran dana dari Rp 3,95 triliun menjadi Rp 4,30 triliun. Perseroan mencatatkan rasio non-perfoming financing (NPF) gross sebesar 3,02% dan NPF net mencapai 0,70% hingga kuartal III-2023, dibandingkan periode sama tahun lalu masing-masing 2,36% dan 0,13%.
Pandangan hampir senada diungkapkan analis CGS CIMB Sekuritas Utami Ratanasari dan Handy Noverdanius. Kedua analis tersebut tetap mempertahankan rekomendasi add saham BTPN Syariah (BTPS) dengan target harga masih menggiurkan. Hal ini didukung upaya perseroan menekan NPF dan biaya kredit tahun ini.
CGS CIMB Sekuritas menyebutkan bahwa biaya kredit (CoC) perseroan hingga Juli 2023 mulai menunjukkan perbaikan. Perseroan juga berhasil mengurangi kredit yang restrukturisasi menjadi Rp987 miliar pada Juli 2023, meski penurunan tersebut didorong oleh penghapusan buku (writeoff).
Selain itu, Utami Ratanasari dan Handy Noverdanius menyebutkan, investor masih menaruh kepercayaan tinggi terhadap model bisnis BTPS. “Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi add saham BTPS dengan target harga Rp 3.170. Target tersebut sejalan dengan ekspektasi peningkatan yang berkelanjutan di tingkat kehadiran dan pembayaran,” jelasnya.
Pada penutupan Kamis (19/10/2023), saham BTPS ditutup pada Rp 1.700 dengan market cap sebesar Rp 12,96 triliun.
Prospek saham BTPS
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 2.500
CGS CIMB Sekuritas
Rekomendasi : Add
Target harga : Rp 3.170
Rasio Penting Tetap Solid
Sementara itu, BTPN Syariah mampu menorehkan kinerja mengesankan hingga kuartal III-2023, dengan sejumlah indikator dan rasio-rasio penting tetap solid, bahkan melampaui rata-rata industri.
Menurut Direktur Keuangan BTPN Syariah, Fachmy Achmad, BTPN Syariah mencatatkan rasio-rasio yang sehat, dengan return of asset (RoA) 7,8% serta rasio kecukupan modal (CAR) pada 49,7% atau di atas ketentuan dan rata-rata industri bank syariah.
BTPS meraih laba bersih setelah pajak sebesar Rp 1,004 triliun. Adapun penyaluran pembiayaan kepada masyarakat inklusi mencapai Rp 11,9 triliun.
"Meski kondisi masih cukup menantang, kami berkomitmen untuk menjadi bank yang sehat. Tercatat di kuartal ini, mayoritas rasio-rasio penting Bank masih berada di atas industri. Di sisi lain, kami terus menggulirkan program untuk memperkuat kapasitas masyarakat inklusi sebagai wujud komitmen Bank dalam mengubah hidup berjuta rakyat Indonesia menjadi lebih berarti,” ungkap Fachmy dalam keterangannya, Kamis (19/10/2023).
BTPN Syariah juga melibatkan lebih banyak pihak dalam program pendampingan sebagai wujud komitmen manajemen dalam memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat inklusi. Tercatat, lebih dari 1.600 mahasiswa dari 258 universitas di 20 provinsi di Indonesia terlibat menjadi fasilitator dalam program Bestee Tepat (Bersama Berdaya Sahabat Tepat Indonesia).
“Nantinya, BTPS juga akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan dalam program pendampingan masyarakat inklusi yang terukur dan berkelanjutan,” tutur Fachmy.
Dibentuk melalui proses konversi PT Bank Sahabat Purba Danarta dan spin off Unit Usaha Syariah BTPN pada 14 Juli 2014, BTPN Syariah menjadi Bank Umum Syariah ke-12 di Indonesia. BTPN Syariah merupakan satu-satunya bank di Indonesia yang memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif yang memiliki potensi target pasar lebih dari 40 juta jiwa, yang biasa disebut unbankable, karena tidak memilki catatan keuangan dan dokumentasi legal.
Direktur Utama BTPN Syariah, Hadi Wibowo menyatakan, manajemen BTPN Syariah melihat hal tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang. Oleh karena itu, BTPN Syariah membangun sarana dan prasarana yang sangat berbeda dengan perbankan pada umumnya untuk memastikan produk dan layanan efektif serta efisien melayani segmen tersebut.
Hingga akhir semester pertama 2023, dengan hanya memiliki 15 cabang di seluruh Indonesia dan 44 Kantor Fungsional Operasional, BTPN Syariah memiliki 13.912 karyawan yang menjemput bola di hampir 70% total kecamatan di Indonesia. Menurut Hadi Wibowo, Mereka secara langsung melakukan program pemberdayaan keluarga prasejahtera produktif di sentra-sentra nasabah dengan mengajarkan empat perilaku unggul pemberdayaan yaitu Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu (BDKS).
Tenaga-tenaga ini biasa disebut Melati Putih Bangsa sebagian besar lulusan SMA terlatih dengan jabatan sebagai Community Officer Bank. Saat ini terdapat sekitar 32.719 nasabah sejahtera yang menyimpan dana di BTPN Syariah dan dilayani oleh personal banker profesional, dimana, hampir 100% dana yang ditempatkan disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif yang mencapai 4,3 juta nasabah aktif.
Perubahan dampak sosial nasabah juga diukur setiap tahunnya, di antaranya penurunan persentase anak tidak bersekolah, kondisi bangunan rumah, dan kepemilikan aset. Metode dan alat survei yang dipilih merupakan alat yang berlaku internasional dan memiliki kredibilitas yang baik, tapi tetap mudah dalam pengimplementasiannya yaitu PPI (Poverty Probability Index) dari IPA (Inovative for Poverty Action).
Keyakinan untuk 'Do Good Do Well' (berkinerja baik sekaligus memiliki dampak sosial yang nyata) inilah, yang membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya. (Hari Gunarto)

