AI Jadi Mesin Baru Ekonomi Indonesia, Dorong UMKM hingga Industri Naik Kelas
Oleh: Saliki Dwi Saputra – Wartawan Investortrust
JAKARTA, Investortrust.id - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menempati posisi penting dalam transformasi digital ekonomi Indonesia. Teknologi ini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi berpotensi menjadi mesin baru untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing berbagai sektor usaha.
Peluang tersebut makin terbuka seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi digital oleh masyarakat dan dunia usaha. Namun, tantangan Indonesia bukan hanya memperluas akses terhadap AI, melainkan memastikan teknologi tersebut benar-benar menghasilkan nilai ekonomi.
Pemerintah pun mulai mendorong pemanfaatan AI secara lebih luas, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), industri manufaktur, pertanian, kesehatan, jasa keuangan, hingga pelayanan publik. Langkah ini penting agar manfaat transformasi digital tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar dan pelaku usaha yang memiliki sumber daya teknologi memadai.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) memperkirakan adopsi AI berpotensi meningkatkan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 3,67%. Potensi tersebut berasal dari peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui penerapan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor ekonomi.
Angka itu memperlihatkan bahwa AI memiliki peluang ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar tren teknologi. Namun persoalannya, "Bagaimana Indonesia mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas produktif, pertumbuhan usaha, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat?"
UMKM Menjadi Prioritas Pemanfaatan AI
Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama dalam pengembangan AI adalah UMKM. Bukan tanpa alasan, sektor ini memiliki peran besar dalam menopang perekonomian nasional, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun kontribusinya terhadap PDB.
UMKM di Indonesia tercatat lebih dari 60 juta unit usaha. Sektor tersebut menyerap sekitar 95% tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 60% terhadap PDB nasional.
Besarnya skala tersebut membuat digitalisasi UMKM menjadi salah satu kunci untuk memperluas dampak ekonomi AI. Apalagi, sebagian pelaku usaha masih menghadapi keterbatasan modal, tenaga kerja, kemampuan pemasaran, serta akses terhadap teknologi.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut mendorong percepatan pemanfaatan AI, terutama melalui peningkatan literasi dan keterampilan digital masyarakat. Salah satu fokusnya adalah memastikan pelaku UMKM tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Dukungan tersebut terlihat dari keterlibatan Gibran dalam program ASEAN Foundation melalui inisiatif ASEAN AI Ready. Pada 25 Februari 2026, Gibran menerima audiensi ASEAN Foundation dan menyatakan dukungan terhadap pelatihan AI bagi UMKM, dengan Indonesia mendapatkan target peserta terbesar di ASEAN, yakni 44.000 UMKM dari total 100.000 UMKM di 11 negara.
Program tersebut menjadi salah satu upaya memperluas kemampuan pelaku usaha dalam menggunakan AI untuk kegiatan bisnis. Dengan keterampilan yang memadai, UMKM diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperbaiki pemasaran, serta memperluas akses pasar.
Dalam berbagai kesempatan berbeda, Wapres Gibran menyatakan bahwa : saat ini terjadi pergeseran dari literasi baca-tulis menuju literasi digital, di mana AI berada di puncaknya. Generasi muda didorong menjadi pemain dan penguasa teknologi, bukan hanya penonton. Selain itu, penting untuk mempelajari AI dan robotik agar melatih pola pikir kritis, berpikir komputasional, serta kemampuan pemecahan masalah (problem solving), bukan sekadar mencetak programmer.
Namun Gibran juga mengingatkan sisi negatif dari AI. “Teknologi tanpa etika sangat berbahaya. AI dapat dimanfaatkan untuk hal positif, tetapi juga berisiko disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, plagiarisme, atau melanggar privasi,“ tegasnya.
Wapres Gibran juga menempatkan penguatan SDM sebagai bagian penting dari transformasi digital. Dalam berbagai kesempatan, dia mengingatkan bahwa Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menguasai dan mengembangkan inovasi sendiri. "Kita harus perkuat infrastrukturnya, jangan lagi ada blank spot untuk 4G maupun 5G. Infrastruktur SDM juga harus kita tingkatkan," ujar Gibran.
Di sisi lain, Menteri UMKM, Maman Abdurrahman menilai bahwa pemanfaatan AI dapat membantu meningkatkan produktivitas dan daya saing pengusaha lokal. Pemerintah pun berkomitmen memperluas penggunaan teknologi tersebut agar tidak hanya dinikmati perusahaan besar.
"Saya sangat meyakini produktivitas UMKM di Tanah Air akan meningkat ketika mereka sudah memanfaatkan AI dalam berbagai aktivitas usahanya. AI tidak lagi menjadi teknologi masa depan, tetapi telah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing," ujar Maman bulan Juli 2026.
Pemanfaatan AI pada UMKM sebenarnya tidak melulu dimulai dengan investasi teknologi yang mahal. Pelaku usaha dapat menggunakan berbagai aplikasi berbasis AI untuk membuat materi promosi, menyusun deskripsi produk, mengembangkan desain kemasan, hingga menganalisis kebutuhan konsumen.
Teknologi itu juga membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar. Pelaku usaha yang sebelumnya hanya mengandalkan penjualan secara konvensional kini dapat memanfaatkan AI untuk menyusun strategi pemasaran digital yang lebih terarah.
Contohnya, UMKM yang memproduksi makanan lokal dapat menggunakan AI untuk mengembangkan materi promosi dalam berbagai bahasa. Sementara itu, pengusaha kerajinan dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk mencari inspirasi desain dan menyusun katalog produk.
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mendorong pelaku UMKM memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas pemasaran, termasuk membuka akses ke pasar internasional. Dorongan tersebut diwujudkan melalui program pendampingan Gapai Pasar Global dengan AI yang melibatkan Meta Indonesia dan UKMIndonesia.id pada September lalu.
Sebelumnya, Kemendag juga menjalin kolaborasi dengan Google Indonesia melalui Gemini Academy untuk mendukung program UMKM BISA Ekspor. Pemanfaatan AI diarahkan untuk membantu pelatihan, bimbingan teknis, sosialisasi kebijakan, hingga meningkatkan kapasitas pendamping UMKM.
Langkah itu juga menunjukkan bahwa pemanfaatan AI bagi UMKM tidak cukup hanya dengan menyediakan aplikasi. Pendampingan dan peningkatan kemampuan SDM juga diperlukan agar teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan bisnis sehari-hari.
Pemerintah juga menyiapkan ekosistem pendukung melalui platform SAPA UMKM. Platform superapp tersebut dikembangkan sebagai basis data tunggal sekaligus sarana integrasi pelayanan publik bagi pelaku UMKM.
Kementerian UMKM juga mendorong pemberian insentif berupa diskon 50% di marketplace bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang masuk ke dalam sistem SAPA UMKM. Integrasi itu diharapkan memperluas akses pelaku usaha terhadap layanan dan ekosistem digital.
Dari Perusahaan Besar hingga Industri Manufaktur
Di luar UMKM, perusahaan berskala besar juga mulai menjadikan AI sebagai bagian dari strategi bisnis. Perubahan ini terlihat dari pergeseran pemanfaatan teknologi, yang sebelumnya banyak digunakan untuk eksperimen menjadi implementasi langsung dalam kegiatan operasional.
Google Cloud, misalnya, mendorong perusahaan Indonesia mempercepat adopsi AI agentik. Teknologi ini memungkinkan sistem AI menjalankan serangkaian tugas secara lebih mandiri berdasarkan instruksi dan tujuan yang diberikan pengguna.
Country Director Google Cloud Indonesia Karim Siregar menyebut transformasi perusahaan kini mulai bergeser dari strategi cloud first menjadi AI ready. Perubahan itu menunjukkan bahwa kesiapan perusahaan tidak lagi cukup hanya dengan memiliki infrastruktur komputasi awan, tetapi juga kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis.
"Keberhasilan di era AI bukan tentang menggunakan AI di suatu tempat, melainkan mengintegrasikannya langsung ke dalam alur kerja dengan hasil bisnis yang jelas," katanya Juli lalu.
Implementasi AI juga mulai memberikan dampak terhadap operasional perusahaan. Dalam pemberitaan Investortrust.id pada Juli 2026, Google Cloud mengungkapkan Indosat mampu memangkas tingkat user churn hingga 50% dan meningkatkan pendapatan rata-rata per pengguna atau ARPU melalui integrasi solusi Gemini Enterprise.
Sektor jasa keuangan menjadi salah satu bidang yang memiliki potensi besar. AI dapat dimanfaatkan untuk menganalisis transaksi, mendeteksi aktivitas mencurigakan, mengelola risiko, hingga meningkatkan efisiensi proses administrasi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria sebelumnya mengungkapkan bahwa adopsi AI di sektor keuangan dapat meningkatkan produktivitas hingga 82% dan efisiensi operasional sebesar 60%. Angka tersebut memperlihatkan besarnya peluang penggunaan AI untuk memperbaiki proses bisnis di industri keuangan.
"Teknologi dan digitalisasi kini menjadi prioritas utama para CFO dalam menghadapi tahun ini. Mereka memandang AI bukan sekadar alat otomasi, tetapi sebagai motor untuk merespon perubahan pasar dan dinamika pelanggan secara lebih cepat dan presisi," jelas Nezar.
Sementara itu, di sektor manufaktur, AI dapat digunakan untuk memantau proses produksi, memprediksi kerusakan mesin, mengoptimalkan penggunaan bahan baku, serta meningkatkan pengendalian kualitas produk. Pemanfaatan tersebut berpotensi menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kapasitas industri.
Namun, penerapan AI di industri manufaktur membutuhkan kesiapan infrastruktur dan integrasi data yang memadai. Perusahaan perlu memastikan sistem produksi, perangkat operasional, dan teknologi analitik dapat bekerja secara terhubung.
Karena itu, pengembangan AI tidak dapat dipisahkan dari pembangunan pusat data, jaringan telekomunikasi, komputasi awan, dan ekosistem semikonduktor. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi agar perusahaan dapat mengolah data dalam skala besar dan menjalankan aplikasi AI secara berkelanjutan.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bahkan memasukkan pusat data, AI, dan aset digital atau kripto sebagai tiga sektor yang berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru ekonomi digital. Pengembangan teknologi tersebut dinilai dapat membuka peluang investasi sekaligus memperkuat ekosistem bisnis nasional.
Sektor Pertanian dan Kesehatan Ikut Menjadi Sasaran
Pemanfaatan AI juga memiliki ruang pengembangan yang luas di sektor-sektor yang selama ini belum terlalu identik dengan teknologi digital. Pertanian dan kesehatan menjadi dua bidang yang dinilai memiliki peluang besar untuk mendapatkan manfaat dari penerapan kecerdasan buatan.
Dalam sektor pertanian, AI dapat membantu petani memantau kondisi tanaman, memperkirakan kebutuhan air, mendeteksi potensi serangan hama, hingga memprediksi hasil panen. Informasi tersebut dapat membantu meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan dan mengurangi risiko kerugian.
Penggunaan AI juga berpotensi memperbaiki rantai pasok pangan. Analisis data produksi, distribusi, dan permintaan pasar dapat membantu pelaku usaha memperkirakan kebutuhan komoditas sehingga pengelolaan pasokan menjadi lebih efisien.
Bagi Indonesia yang memiliki sektor pertanian dengan karakteristik wilayah beragam, pemanfaatan teknologi ini dapat menjadi salah satu cara meningkatkan produktivitas. Namun, penerapannya membutuhkan ketersediaan data pertanian yang akurat serta akses internet yang memadai hingga wilayah produksi.
Di sektor kesehatan, AI dapat mendukung analisis data medis, membantu tenaga kesehatan membaca hasil pemeriksaan, mengoptimalkan administrasi rumah sakit, dan meningkatkan efisiensi pelayanan pasien. Teknologi tersebut juga berpotensi membantu memperluas akses layanan kesehatan di daerah yang masih memiliki keterbatasan tenaga medis.
Meski demikian, penerapan AI dalam bidang kesehatan harus dilakukan dengan pengawasan manusia dan memperhatikan perlindungan data pasien. AI seharusnya menjadi alat pendukung tenaga kesehatan, bukan menggantikan tanggung jawab profesional dalam menentukan diagnosis dan tindakan medis.
Kemenkomdigi telah memasukkan pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan pelayanan publik sebagai empat sektor utama dalam strategi integrasi AI nasional. Fokus tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah ingin membawa pemanfaatan AI lebih jauh dari sekadar penggunaan aplikasi generatif oleh masyarakat.
"Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting. AI ini harus didudukkan sebagai tools, complementary, sebagai partner dalam bekerja," ujar Wamenkomdigi Nezar Patria pada Juli lalu.
Kesenjangan Kemampuan Menjadi Tantangan
Walau peluang ekonominya besar, namun percepatan adopsi AI di Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satu tantangan utamanya adalah kesenjangan kemampuan masyarakat dan dunia usaha dalam memanfaatkan teknologi tersebut.
Indonesia diketahui memiliki tingkat adopsi AI yang tinggi. Bahkan, Indonesia masuk dalam lima besar negara pengguna ChatGPT di dunia, tetapi tingkat kedalaman pemanfaatan teknologi tersebut belum merata.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara sekadar menggunakan AI dan memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas. Sebagian pengguna mungkin hanya mengandalkan AI untuk mencari informasi atau membuat konten, sementara pemanfaatan untuk analisis bisnis, pengambilan keputusan, dan pengembangan produk masih membutuhkan peningkatan kemampuan.
Pernyataan tersebut relevan dengan kondisi dunia usaha, terutama UMKM. Tanpa pemahaman yang memadai, teknologi AI berisiko hanya menjadi alat tambahan yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja bisnis.
Pelaku usaha perlu memahami cara memberikan instruksi yang tepat kepada sistem AI, memeriksa hasil yang dihasilkan, serta mengintegrasikannya dengan kebutuhan operasional. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari literasi digital yang harus terus diperkuat.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie juga menekankan pentingnya pengembangan solusi AI yang aplikatif dan sesuai dengan karakteristik Indonesia. Menurutnya, keterlibatan UMKM menjadi faktor penting karena sektor tersebut mencakup sekitar 97% tenaga kerja nasional.
"AI hanya akan berhasil sejauh kita mampu menggerakkan UMKM. Di era AI, kita tidak hanya bertahan, tapi harus kembali ke growth story. Sektor jasa seperti keuangan, kesehatan, dan edukasi adalah yang paling cepat beradaptasi sekaligus menciptakan inovasi,” jelas Anin.
Regulasi dan Infrastruktur Menentukan Keberlanjutan
Selain kesenjangan kemampuan, persoalan regulasi dan keamanan data juga perlu menjadi perhatian. Pemanfaatan AI yang semakin luas berpotensi meningkatkan risiko penyalahgunaan data, pelanggaran privasi, kesalahan informasi, serta keputusan otomatis yang tidak transparan.
Karena itu, Indonesia membutuhkan tata kelola AI yang mampu memberikan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus melindungi masyarakat. Regulasi perlu memberikan ruang bagi inovasi tanpa mengabaikan aspek keamanan, etika, transparansi, dan akuntabilitas.
Kemenkomdigi telah menyiapkan empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia. Upaya tersebut mencakup penguatan keterampilan digital dan AI, pengembangan ekosistem, peningkatan integrasi teknologi di sektor strategis, serta penguatan tata kelola pemanfaatan AI.
Pemerintah juga menyiapkan peta jalan dan etika AI nasional untuk memastikan teknologi tersebut berkembang secara aman dan bertanggung jawab. Keberadaan kerangka kebijakan ini penting agar perusahaan memiliki panduan dalam mengembangkan dan menerapkan solusi AI.
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur digital perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM. Ketersediaan pusat data, jaringan internet, dan komputasi awan harus diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto sebelumnya menyoroti pentingnya penguatan ekosistem AI, digital twin, pusat data, dan semikonduktor sebagai fondasi transformasi ekonomi Indonesia. Pemerintah juga melihat pengembangan teknologi tersebut sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas, investasi, dan daya saing nasional.
Airlangga mengungkapkan bahwa AI berpotensi memberikan tambahan nilai hingga US$ 15,7 triliun terhadap perekonomian dunia pada 2030. Selain itu, pendapatan dari fitur berbasis AI di Indonesia tumbuh 127% secara tahunan pada semester I-2025, mencerminkan momentum komersial teknologi tersebut.
Besarnya potensi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam ekonomi digital regional. Namun, peluang investasi perlu diikuti dengan pengembangan talenta lokal, peningkatan kapasitas industri, dan pemerataan akses teknologi.
"Yang terpenting adalah bagaimana kita mengubah AI, digital twin, dan teknologi digital menjadi manfaat nyata bagi produktivitas, daya saing, pelayanan publik, serta kualitas hidup masyarakat,” jelas Airlangga usai Indonesia bergabung sebagai anggota World AI Cooperation Organization (WAICO) pada Agustus lalu.
Pada akhirnya, keberhasilan pemanfaatan AI di Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak masyarakat menggunakan aplikasi kecerdasan buatan. Hal yang lebih penting justru bagaimana teknologi tersebut mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing perusahaan, membantu UMKM naik kelas, serta membuka peluang pertumbuhan baru.
Dengan demikian, AI perlu ditempatkan sebagai instrumen produktivitas yang menjangkau seluruh lapisan ekonomi. Jika pengembangan infrastruktur, peningkatan SDM, regulasi, dan pendampingan usaha berjalan beriringan, teknologi ini berpeluang menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang. ***
