Inilah Rencana Besar MRT Jakarta yang Akan Menyamankan Warga Bertransportasi
"MRT Jakarta sedang menyiapkan fondasi transformasi sebuah kota masa depan yang membuat warganya tidak harus menghabiskan waktu di tengah kemacetan, tetapi memberi mereka lebih banyak waktu untuk bekerja, berkarya, berinteraksi, dan menikmati kehidupan".
JAKARTA, investortrust.id – Bayangkan sebuah perjalanan dari rumah menuju kantor yang tidak lagi diwarnai kerepotan berganti kendaraan, antre membeli tiket, atau memikirkan berapa kali harus membayar ketika berpindah moda. Cukup dengan satu sistem pembayaran, masyarakat bisa melanjutkan perjalanan menggunakan berbagai angkutan umum tanpa harus berulang kali mengeluarkan uang. Di tempat tujuan, fasilitas transportasi yang nyaman, ruang publik yang tertata, serta kawasan komersial yang hidup sudah menanti.
Perjalanan seperti itulah yang ingin diwujudkan Jakarta melalui transformasi besar-besaran sistem transportasi publik. Bukan sekadar membangun jalur kereta baru atau menambah armada bus, tetapi menciptakan sebuah ekosistem mobilitas yang saling terhubung, mudah diakses, dan semakin nyaman bagi masyarakat.
PT MRT Jakarta (Perseroda) menjadi salah satu motor penggerak transformasi tersebut. Bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan, MRT Jakarta menyiapkan sejumlah agenda besar. Mulai dari integrasi sistem pembayaran dan tarif antarmoda, pengembangan kawasan Blok M hingga 10 kali lipat, pembangunan jaringan ke kawasan penyangga, hingga pengembangan koridor-koridor baru.
Semua diarahkan pada satu tujuan: menjadikan transportasi publik sebagai pilihan utama masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Multi-moda, Satu Sistem Pembayaran
Salah satu perubahan yang paling dinantikan masyarakat adalah integrasi sistem pembayaran transportasi publik. Pemprov DKI Jakarta menargetkan sistem tarif terintegrasi mulai diterapkan pada awal 2027. Melalui skema ini, penumpang berpeluang menggunakan sejumlah moda angkutan umum selama tiga jam dengan satu tarif, tanpa harus membayar tambahan setiap kali berpindah kendaraan.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin mengatakan, transformasi tersebut bukan sekadar menyatukan kartu pembayaran, melainkan mengintegrasikan sistem tiket dan tarif berbagai moda transportasi umum.
“Pada awal tahun 2027 ini akan ada sistem transformasi dari yang single menjadi sistem yang terintegrasi,” ujar Budi dalam diskusi Forum Pemimpin Redaksi MRT Jakarta dan MRTJ Journalism Award 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Diskusi yang dipandu Sekjen Forum Pemred Irfan Junaidi ini dihadiri juga Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat, dan Kepala Bidang Komunikasi Publik Provinsi DKI Jakarta, Shendy Adam Firdaus.
Salah satu konsep yang disiapkan adalah tarif berdasarkan durasi perjalanan. Dengan membayar tarif tertentu, masyarakat dapat menggunakan beberapa moda transportasi publik dalam periode tiga jam tanpa dikenai biaya tambahan untuk perpindahan moda.
“Misalkan dengan tarif X selama tiga jam, itu gratis,” kata dia.
Budi menjelaskan, istilah gratis dalam konteks tersebut berarti penumpang tidak perlu kembali membayar ketika berpindah moda, sepanjang masih berada dalam batas waktu yang ditetapkan.
Sebagai gambaran, seseorang yang berangkat menggunakan MRT Jakarta dari Blok M, kemudian melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum lainnya, tidak perlu kembali membayar selama perpindahan tersebut memenuhi ketentuan tarif terintegrasi. “Dengan harga X, itu semuanya dalam tiga jam enggak perlu bayar lagi,” tutur Budi.
Meski demikian, besaran tarif dan ketentuan teknis penerapannya belum diumumkan. Cakupan moda transportasi yang masuk dalam tahap awal integrasi juga masih perlu dipastikan.
Paket Langganan Bulanan
Ambisi integrasi tersebut tidak berhenti pada transportasi yang beroperasi di wilayah Jakarta. Pemprov DKI juga berencana memperluas integrasi tarif hingga mencakup kereta rel listrik (KRL) Commuter Line yang melayani perjalanan masyarakat di kawasan Jabodetabek.
Menurut Budi, rencana tersebut sudah dibicarakan dengan pemerintah pusat. Namun, pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. Prioritas awal adalah menyatukan sistem tarif transportasi publik di Jakarta sebelum memperluas integrasi ke jaringan KRL.
“Kemarin juga kita bicara dengan Pak Dirjen. Setelah kita bisa menyatukan sistem tarif di Jakarta, kita akan bersiap-siap menyatukan juga tarif integrasi dengan KRL,” ujar dia.
Selain tarif berdasarkan durasi perjalanan, Dishub DKI Jakarta juga menyiapkan paket berlangganan transportasi publik selama satu bulan. Skema ini diharapkan memberikan pilihan pembayaran yang lebih ekonomis bagi masyarakat yang rutin menggunakan angkutan umum.
“Nanti ada juga tarif untuk berlangganan selama satu bulan, dan harganya sangat-sangat rasional,” kata Budi.
Konsep ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya ingin memudahkan perpindahan antarmoda, tetapi juga menghadirkan skema pembayaran yang lebih terjangkau bagi pengguna transportasi publik.
Lebih jauh, integrasi sistem pembayaran juga memiliki manfaat strategis bagi pengelolaan transportasi Jakarta. Pemerintah nantinya dapat mengumpulkan data perjalanan penumpang secara lebih lengkap, mulai dari jumlah perjalanan harian, pola perpindahan antarmoda, hingga tingkat penggunaan setiap koridor.
Data tersebut akan menjadi modal penting untuk mengevaluasi layanan dan menentukan kebutuhan pengembangan jaringan transportasi.
“Ke depan, kita harapkan punya big data dari sistem tersebut. Berapa sebenarnya orang yang melakukan perjalanan setiap hari, dan mana jalur yang kurang dan perlu dievaluasi,” kata Budi.
Dengan demikian, integrasi tidak hanya membuat perjalanan lebih praktis bagi masyarakat, tetapi juga membantu pemerintah merancang sistem transportasi berdasarkan kebutuhan dan pola mobilitas warga yang sesungguhnya.
Blok M Jadi Kawasan Modern hingga 10 Kali Lipat
Transformasi MRT Jakarta juga tidak berhenti pada urusan perjalanan. Kawasan di sekitar stasiun akan dikembangkan menjadi ruang perkotaan yang hidup, tempat masyarakat tidak hanya datang untuk naik dan turun kereta, tetapi juga bekerja, berbelanja, bersantai, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.
Salah satu proyek ambisius yang disiapkan adalah pengembangan kawasan Blok M, Jakarta Selatan. MRT Jakarta merencanakan penataan kawasan tersebut dengan skala yang dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan kondisi saat ini.
Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat mengatakan, pengembangan Blok M merupakan bagian dari strategi perusahaan membangun kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD). Kawasan ini akan mengintegrasikan terminal bus, stasiun MRT, fasilitas pejalan kaki, serta berbagai aktivitas ekonomi dalam satu lingkungan yang lebih modern.
“Secara keseluruhan, kawasan tersebut direncanakan memiliki luas sekitar 10 kali lipat dibandingkan dengan kondisi saat ini,” ujar Tuhiyat.
Pengembangan tersebut bukan sekadar memperbaiki fasilitas yang sudah ada. MRT Jakarta menyiapkan penataan kawasan secara menyeluruh, termasuk mengubah konsep terminal bus agar lebih modern dan terhubung langsung dengan fasilitas transportasi lainnya.
“Nantinya, terminal bus akan diintegrasikan ke dalam bangunan dengan konsep yang lebih modern, sebagaimana telah diterapkan di sejumlah negara,” kata Tuhiyat.
Salah satu fasilitas penting yang direncanakan adalah pembangunan skybridge atau jembatan penghubung antara kawasan terminal dan Stasiun MRT Blok M BCA. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mempermudah penumpang berpindah dari bus menuju MRT maupun sebaliknya tanpa menghadapi hambatan akses antarmoda.
Kawasan terminal juga akan dilengkapi ruang tunggu atau bus lounge yang lebih nyaman. Penumpang nantinya tidak perlu lagi menunggu kedatangan bus secara langsung di peron. Informasi kedatangan dan keberangkatan bus akan ditampilkan melalui layar digital sehingga masyarakat dapat menunggu di ruang yang telah disediakan dan menuju titik keberangkatan ketika bus tersedia.
“Dengan fasilitas tersebut, penumpang tidak harus menunggu bus di peron,” ujar Tuhiyat.
Konsep ini diharapkan dapat mengubah pengalaman masyarakat dalam menggunakan transportasi publik. Terminal tidak lagi identik dengan tempat menunggu yang padat dan kurang nyaman, melainkan menjadi bagian dari kawasan mobilitas modern yang tertata.
TOD Bukan Sekadar Membangun Properti
Pengembangan Blok M juga mencerminkan visi MRT Jakarta dalam membangun kawasan berorientasi transit yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Infrastruktur transportasi massal diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas ruang publik, dan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman.
Tuhiyat menegaskan, pengembangan TOD tidak boleh hanya dimaknai sebagai pembangunan properti di sekitar stasiun. “TOD bukan sekadar pembangunan properti,” kata Tuhiyat.
Karena itu, pengembangan kawasan di sekitar stasiun MRT diarahkan untuk memperkuat konektivitas, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mendukung transformasi Jakarta menuju kota global.
Dalam merealisasikan konsep tersebut, MRT Jakarta membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta. Kolaborasi dapat dilakukan melalui investasi fasilitas pendukung maupun kontribusi pengembang. Salah satu mekanisme yang digunakan adalah peningkatan koefisien lantai bangunan (KLB), yang memungkinkan pengembang memperoleh tambahan intensitas pemanfaatan ruang dengan memberikan kontribusi bagi pembangunan fasilitas publik.
Melalui pendekatan tersebut, pembiayaan pengembangan kawasan tidak harus sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah ataupun investasi MRT Jakarta sendiri.
Saat ini, MRT Jakarta mengembangkan sembilan kawasan TOD di sepanjang koridor Lebak Bulus–Bundaran HI. Dari jumlah tersebut, lima kawasan telah memiliki peraturan gubernur sebagai dasar pengembangannya. Selain Blok M, pengembangan kawasan juga dilakukan di sejumlah titik lain, termasuk Bundaran HI, Dukuh Atas, Fatmawati, dan Lebak Bulus.
MRT Melayani Kawasan Penyangga
Lebih lanjut Tuhiyat menegaskan, di tengah upaya membangun sistem transportasi yang semakin terintegrasi, MRT Jakarta juga menyiapkan ekspansi jaringan ke luar wilayah administrasi Jakarta. Salah satu rencana yang tengah dimatangkan adalah pengembangan jalur MRT dari Lebak Bulus menuju Tangerang Selatan (Tangsel), Banten.
Perluasan ini menjadi penting karena mobilitas masyarakat Jakarta tidak dapat dilepaskan dari pergerakan penduduk di wilayah penyangga. Setiap hari, ribuan orang dari Tangerang Selatan dan kawasan sekitarnya melakukan perjalanan menuju Jakarta untuk bekerja, bersekolah, maupun menjalankan berbagai aktivitas ekonomi.
Tuhiyat berharap, rencana pengembangan jaringan menuju Tangerang Selatan memperoleh kejelasan sebelum akhir 2026. Komunikasi dengan pemerintah daerah terkait, termasuk Pemerintah Kota Tangerang Selatan, terus dilakukan untuk mematangkan rencana tersebut. “Mudah-mudahan akhir tahun ini sudah ada keputusan,” ujar Tuhiyat.
Pengembangan jaringan menuju Tangerang Selatan direncanakan melibatkan sektor swasta. Keterlibatan investor diperlukan mengingat pembangunan kereta perkotaan membutuhkan investasi besar, sementara kemampuan fiskal pemerintah memiliki keterbatasan.
Sebelumnya, MRT Jakarta telah menjalin kerja sama dengan Sinar Mas Land melalui PT Bumi Serpong Damai Tbk pada Juli 2025 untuk menjajaki pengembangan jaringan MRT dari Lebak Bulus menuju Serpong, Tangerang Selatan.
Kerja sama tersebut mencakup penyusunan studi kelayakan atau feasibility study (FS). Kajian meliputi identifikasi trase, potensi permintaan penumpang, kebutuhan investasi, biaya operasional, kelayakan ekonomi dan bisnis, hingga aspek kelembagaan serta regulasi.
Saat penandatanganan kerja sama tersebut, Tuhiyat menekankan pentingnya keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan infrastruktur transportasi massal.
“Kerja sama ini juga menunjukkan bahwa upaya menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat dapat dilakukan bersama-sama dengan berbagai pihak, termasuk pihak swasta,” kata Tuhiyat sebagaimana dikutip dari siaran pers MRT Jakarta akhir Juli silam.
Hasil kajian tersebut akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan arah pengembangan jaringan transportasi perkotaan.
“Hasil dari kajian ini akan disampaikan kepada pemerintah selaku pemangku kebijakan dalam menentukan alternatif solusi maupun kebijakan terkait pengembangan sistem perkeretaapian perkotaan modern nasional,” ujar dia.
Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta Rendy Primartantyo, dalam keterangannya sebelumnya menyampaikan bahwa penyusunan studi kelayakan pengembangan MRT menuju Tangerang Selatan masih ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.
“Pada Desember 2026, diharapkan sudah tersedia hasil studi yang dapat disampaikan kepada kementerian dan pemerintah daerah terkait sebagai dasar pembahasan lebih lanjut mengenai rencana pengembangan tersebut,” kata Rendy.
Meski demikian, skema pendanaan proyek belum ditetapkan. Model pembiayaan akan dibahas setelah terdapat kejelasan mengenai skema implementasi pengembangan jaringan.
Koridor Utara–Selatan dan Timur–Barat Jadi Agenda Besar
Rencana menuju Tangerang Selatan hanyalah salah satu bagian dari agenda besar pengembangan jaringan MRT Jakarta. Ke depan, perusahaan ini menargetkan pembangunan sistem transportasi yang mampu menghubungkan berbagai kawasan dalam satu kesatuan aglomerasi metropolitan.
Saat ini, koridor Utara–Selatan telah beroperasi dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI. Selain itu, MRT Jakarta tengah mengembangkan jaringan ke arah utara dan mempersiapkan pembangunan koridor Timur–Barat.
Tuhiyat menjelaskan, pembangunan MRT Jakarta Fase 2A Lintas Utara-Selatan yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota saat ini telah mencapai hampir sekitar 66%. Proyek ini menelan biaya investasi sebesar Rp 25,3 triliun melalui dana pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA).
Perseroda menargetkan, segmen Bundaran HI-Monas rampung pada akhir 2027, sedangkan segmen Monas hingga Kota ditargetkan selesai pada akhir 2029.
MRT Jakarta Fase 2A sepanjang sekitar 5,8 km tersebut terdiri atas tujuh stasiun bawah tanah, yakni yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. "Fase 2A dibagi menjadi dua segmen, yakni Bundaran HI-Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027 dan Harmoni-Kota yang ditargetkan selesai pada 2029," kata Rendy menambahkan.
Seluruh pengembangan jaringan Utara-Selatan dan Timur-Barat diarahkan untuk memperluas jangkauan transportasi massal sekaligus memperkuat konektivitas antarkawasan. Dengan jaringan yang semakin luas, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak pilihan untuk melakukan perjalanan tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Namun, Tuhiyat mengingatkan bahwa pembangunan sistem transportasi publik tidak berarti seluruh wilayah harus dilayani menggunakan MRT. Setiap pengembangan harus mempertimbangkan kebutuhan perjalanan, karakteristik wilayah, serta kemampuan pembiayaan.
Untuk kawasan yang belum memungkinkan dilayani MRT, integrasi dapat dilakukan menggunakan moda transportasi lain yang membutuhkan investasi lebih rendah. Dengan pendekatan tersebut, perluasan akses transportasi publik tidak harus selalu dilakukan melalui pembangunan jalur kereta baru.
Artinya, masa depan transportasi Jakarta bukan semata-mata tentang seberapa panjang jalur MRT yang dapat dibangun. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana seluruh jaringan transportasi, baik MRT, KRL, Transjakarta maupun moda lainnya, dapat saling melengkapi dan memberikan kemudahan bagi masyarakat.
MRT dan Fondasi Transformasi Kota
Berbagai agenda yang disiapkan MRT Jakarta memperlihatkan bahwa transformasi transportasi publik membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Integrasi pembayaran dan tarif akan memudahkan masyarakat berpindah moda. Pengembangan Blok M dan kawasan TOD lainnya akan menciptakan ruang perkotaan yang lebih nyaman sekaligus produktif. Sementara itu, perluasan jaringan ke Tangerang Selatan, arah utara Jakarta, serta koridor Timur–Barat akan memperkuat konektivitas kawasan metropolitan.
Berbagai ambisi besar tersebut memperlihatkan betapa indikator keberhasilan pembangunan transportasi publik mesti dilihat dari seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika perjalanan menjadi lebih mudah, waktu tempuh semakin efisien, biaya transportasi lebih terjangkau, dan kawasan di sekitar stasiun semakin nyaman untuk dihuni maupun dikunjungi, saat itulah transportasi publik benar-benar memberikan nilai tambah bagi sebuah kota.
Dalam konteks itulah MRT Jakarta sedang menyiapkan fondasi menuju perubahan tersebut. Sebuah kota masa depan yang tidak memaksa warganya menghabiskan waktu di tengah kemacetan, tetapi memberi mereka lebih banyak waktu untuk bekerja, berkarya, berinteraksi, dan menikmati kehidupan.
Bagaimanapun, transportasi publik yang hebat adalah sistem transportasi yang mampu mentransformasi sebuah kota menuju kehidupan yang lebih baik. Dan MRT Jakarta bukan sekadar membangun kereta, melainkan sedang membangun ekosistem kota yang membuat warganya lebih nyaman bergerak dan menjalani kehidupan. ***
