Jalan Hidup Kadang Baru Terlihat setelah Kita Melangkah
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID — Karier tidak selalu berjalan mulus, lempang, tanpa kelok. Tidak semua orang tahu sejak awal akan menjadi apa, bekerja di mana, atau berakhir di industri apa. Karier, terkadang, juga penuh kejutan. Sebagian orang justru menemukan jalannya setelah terjun, bekerja, tersandung, belajar, lalu mencoba lagi.
Angganata Sebastian adalah salah satu di antara orang-orang itu. Dua dekade lalu, tak terlintas sedikit pun dalam benak Angganata jika suatu saat kelak ia akan menggeluti bidang financial technology (fintech), apalagi menjadi Chief Executive Officer (CEO) BMoney, perusahaan fintech layanan investasi yang tengah menggeliat dan mulai bersinar. Belakangan ia baru sadar bahwa industri ini adalah dunianya.
Angganata lulus dari University of Sydney, Australia pada 2004 dengan latar belakang finance and accounting. Targetnya waktu itu adalah bekerja di salah satu dari empat perusahaan global terbesar di bidang akuntansi: KPMG, Ernst & Young (EY), Deloitte, atau PricewaterhouseCoopers (PwC).
Lamaran sudah ia kirim, tetapi tidak satu pun yang tembus. Ia lalu mencoba Citibank. Tujuannya sederhana: yang penting masuk dan bekerja dulu di perusahaan multinasional.
Ternyata ia diterima. Di Citibank, pria yang akrab disapa Angga ini memulai karier sebagai personal banker. Ia baru meninggalkan Citibank sekitar 10,5 tahun kemudian sebagai Vice Branch Manager.
Dari sana, ia menemukan pemahaman karier yang sangat berharga bahwa pekerjaan di industri keuangan pada akhirnya berurusan dengan manusia, kepercayaan, dan kemampuan memberi nasihat yang tepat.
"Ujung-ujungnya selama saya bekerja, titel saya cuma satu, yaitu tenaga penjual. Sampai sekarang pun saya masih jualan," kata Angga, sambil tertawa.
Angga sadar bahwa yang ia jual bukan sekadar produk. Di balik setiap transaksi pasti ada uang, harapan, dan rencana masa depan nasabah.
Kapasitas Angganata Sebastian sebagai "tenaga penjual" diuji ketika krisis finansial menghantam perekonomian global pada 2008. Salah satu yang ia jual kepada nasabah adalah produk capital protected yang dirancang untuk melindungi modal.
Saat Lehman Brothers kolaps, produk yang tadinya dianggap relatif aman ikut kehilangan nilainya. Praktis Angganata harus mendatangi nasabah satu per satu untuk menjelaskan bahwa dana mereka berada dalam risiko.
Reaksinya beragam.
Ada yang marah, ada yang menangis, bahkan ada yang nyaris memukulnya.
"Wah, itu berat sekali," kenangnya.
Dalam kondisi down dan frustrasi, Angganata sempat bertanya kepada dirinya sendiri, apakah pekerjaan ini memang cocok untuknya. Ia berada di persimpangan.
Toh ia memilih tidak pergi. Angga terus menemui nasabah, memberi informasi terbaru, menampung kemarahan dan keluhan, sambil mencari jalan keluar. Beberapa bulan kemudian situasi mereda. Beberapa tahun setelahnya, Citibank berhasil mengembalikan sekitar 70% dana tersebut.
Pelajaran yang ia petik jauh melampaui persoalan tentang produk investasi. “Jadi, masalah seberat apa pun harus dihadapi. Solusi pasti ada," tegas dia.
Kepercayaan juga tidak datang otomatis. Trust harus dibangun dan dijaga, terutama ketika seseorang memegang uang dan masa depan orang lain.
Itu sebabnya, bagi Angga, integritas adalah value yang tidak bisa ditawar. “Jika kita bekerja dengan benar dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan, kita tidak perlu terlalu takut menghadapi persoalan,” tandas dia.
Setelah lebih dari satu dekade di perbankan, Angganata mengambil keputusan yang tidak sepenuhnya nyaman. Ia bergabung dengan Grup Emtek dan ditempatkan di SCTV.
Di media, Angga tidak lama. Tetapi itu sudah cukup untuk membuka perspektif baru tentang cara melihat bisnis. Pada 2015, ia kembali ke sektor finansial lewat PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. Itu jalan menuju BMoney.
BMoney lahir dari kolaborasi PT Bukalapak.com Tbk dan Ashmore. Angganata ikut membangunnya sejak awal, mempertemukan pengalaman panjangnya di perbankan dan manajemen investasi dengan teknologi digital.
Kini, BMoney tidak hanya menawarkan reksa dana, tetapi juga obligasi negara, obligasi korporasi, dan saham, bahkan dikembangkan sebagai wealth management platform.
Jejak karier Angganata Sebastian menorehkan sebuah pertanyaan besar: Apakah seseorang harus menemukan minat atau gairah (passion) dulu sebelum bekerja, atau bekerja dulu sampai menemukan apa yang disukai?
Jawaban Angganata singkat: "Kalau saya nyemplung dulu."
Angga memang tidak pernah menunggu jawaban sempurna soal pekerjaan yang ingin dijalani. Ia masuk, bekerja, belajar, lalu menemukan kecocokan di tengah jalan.
Angga beranggapan, passion kerap kali tumbuh setelah pekerjaan dijalani secara sungguh-sungguh. Sebab, jalan hidup seseorang terkadang baru terlihat setelah ia melangkah. Yang lebih penting adalah berani memulai, mau belajar, dan bersedia keluar dari zona nyaman (comfort zone) ketika kesempatan datang.
BMoney, yang berdiri pada 2021, tidak tumbuh dalam semalam. Pada tahap awal, perusahaan menerima investasi sekitar Rp50 miliar dari Ashmore. Pada tahun pertama, BMoney berhasil menghimpun dana kelolaan (asset under management/AUM) sekitar Rp130 miliar.
Setelah itu butuh waktu untuk menemukan bentuk bisnis dan mencapai profitabilitas. Kini, BMoney membukukan AUM sekitar Rp6 triliun, yang sebagian besar berupa reksa dana, dengan jumlah nasabah hampir 1 juta.
Di luar kantor, Angganata adalah pelari maraton. Dalam sepekan ia bisa menempuh 80–90 km.
Tentu saja jarak puluhan kilometer tidak bisa ditaklukkan dengan memacu kecepatan sejak langkah pertama.
Ada ritme yang harus dijaga,
rasa lelah yang harus dilawan,
dan kesabaran yang harus dipelihara.
Cara berpikir itu terbawa ke pandangannya tentang karier: keberhasilan tidak bisa diraih dengan cara-cara instan. Keberhasilan sejati harus dicapai dengan kerja keras dan jatuh bangun. Keberhasilan yang dicapai melalui perjuangan akan membuat seseorang lebih kokoh dan matang saat berada di puncak.
Mungkin karena itu pula Angga mengagumi Michael Jordan, legenda bola basket profesional asal Amerika Serikat (AS).
Angga mengagumi Michael Jordan bukan hanya karena ia menyandang status pemain terhebat sepanjang masa (greatest of all time/GOAT), tetapi juga karena banyak kegagalan yang harus dilaluinya: tembakan yang meleset, bola yang direbut lawan, dan blok yang gagal.
Intinya, siapa pun tidak selalu tahu hasil akhirnya saat sedang bekerja keras. Yang bisa dilakukan adalah memberikan yang terbaik. "Kalau kita kerja keras, hasil akan datang dengan sendirinya," ucap dia.
Berikut petikan lengkap wawancara Angganata Sebastian dengan jurnalis investortrust.id, Farhan Nugraha, Elsid Arendra, dan Abdul Aziz di studio investortrust.id, Jakarta, baru-baru ini:
Anda mengawali karier di Citibank pada 2004, sempat bergabung dengan SCTV, Ashmore, hingga akhirnya memimpin BMoney. Bagaimana perjalanan tersebut membentuk diri Anda sebagai profesional?
Saya lulus dari University of Sydney pada 2004 berlatar keuangan dan akuntansi. Awalnya, saya ingin bekerja di salah satu perusahaan akuntansi besar, seperti KPMG, Ernst & Young, Deloitte, atau PricewaterhouseCoopers (PwC). Lamaran saya tidak diterima, lalu saya mencoba Citibank.
Saya memulai karier sebagai personal banker, tenaga perbankan yang menangani nasabah dan memberi saran produk keuangan. Setelah sekitar 10,5 tahun, posisi terakhir saya adalah Vice Branch Manager atau Wakil Kepala Cabang. Saya kemudian bergabung dengan Grup Emtek dan ditempatkan di SCTV.
Apa yang mendorong Anda bergabung dengan perusahaan media?
Saya merasa sudah cukup memahami pekerjaan di Citibank dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Kesempatan di SCTV membawa saya ke industri berbeda dan memberi perspektif baru tentang bisnis.
Setelah itu?
Saya akhirnya kembali ke sektor keuangan melalui Ashmore dan Bukalapak.com untuk mengembangkan BMoney.
Pekerjaan Anda awalnya tidak sesuai passion?
Saya memilih terjun terlebih dahulu. Kalau saya istilahnya nyemplung dulu. Saat baru lulus, saya belum benar-benar tahu ingin menjadi apa. Saya hanya ingin bekerja di perusahaan besar yang dikenal luas. Setelah masuk, saya belajar memahami pekerjaan, proses, dan hal-hal yang saya sukai.
Awal mula BMoney didirikan?
BMoney merupakan perusahaan patungan PT Bukalapak.com Tbk dan PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. PT Buka Investasi Bersama didirikan pada 2019, sedangkan kerja sama patungan berjalan pada 2020.
Pada awalnya, 80% saham dimiliki Bukalapak dan 20% oleh Ashmore, perusahaan manajer investasi asal London. BMoney menjadi salah satu langkah untuk memperluas kehadiran digital Ashmore. Dana yang dihimpun dari penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham perseroan digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis digital BMoney.
Apa sebenarnya bisnis BMoney?
BMoney adalah platform pengelolaan kekayaan yang membantu nasabah mengakses berbagai instrumen investasi melalui satu layanan. Awalnya, produk kami didominasi reksa dana.
Kami bukan manajer investasi yang mengelola seluruh dana nasabah secara langsung. Kami merupakan platform distribusi yang membantu nasabah mengakses produk dari manajer investasi dan perusahaan efek.
BMoney sekarang tidak hanya menawarkan reksa dana, tetapi juga obligasi negara, obligasi korporasi, dan saham, bahkan dikembangkan sebagai wealth management platform.
Berapa dana kelolaan BMoney saat ini dan bagaimana komposisinya?
Pada akhir 2021, dana kelolaan atau assets under management (AUM) kami sekitar Rp130 miliar. Kami mulai beroperasi saat pandemi Covid-19 masih berlangsung, ketika kanal digital menjadi sarana penting untuk memperluas akses investasi.
Kami kemudian mengembangkan bisnis untuk nasabah ritel dan segmen berkemampuan investasi lebih besar (affluent). Segmen affluent ternyata berkembang cukup baik sehingga kami memberi perhatian lebih besar pada kebutuhan mereka.
Sekarang AUM kami sekitar Rp6 triliun, sebagian besar berasal dari reksa dana, sisanya dari obligasi dan saham.
Apa tantangan terbesar Anda ketika pertama kali membangun BMoney?
Ada tiga tantangan. Pertama, pendanaan pemasaran. Kampanye besar diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ritel, tetapi nasabah yang diperoleh melalui promosi belum tentu loyal.
Kedua, membangun merek. Saat baru berdiri, BMoney belum dikenal luas. Ketika menawarkan produk serupa dengan platform lain, kami harus bekerja lebih keras meyakinkan nasabah.
Ketiga, mencari tim yang tepat. Kami membutuhkan orang yang kompeten, sekaligus mampu bekerja sama membangun bisnis jangka panjang.
Cara Anda menarik minat investasi kalangan muda, terutama Gen Z?
Berdasarkan data internal, sekitar 70–80% basis nasabah ritel kami berasal dari Generasi Z. Produk harus sesuai kebutuhan mereka, tetapi pengalaman pengguna juga sangat penting, termasuk antarmuka pengguna atau user interface (UI) dan pengalaman pengguna atau user experience (UX).
Kami pernah menggunakan indikator kinerja utama (key performance indicator/KPI) untuk mengukur jumlah langkah dari mengunduh aplikasi, mendaftar, hingga transaksi pertama. Kami berupaya menghilangkan langkah yang tidak perlu.
Strategi Anda menghadapi para kompetitor?
Model bisnis kami memiliki sejumlah kesamaan dengan platform lain, tetapi setiap perusahaan mempunyai fokus berbeda. Sejumlah platform berhasil menjangkau pasar ritel dengan jumlah nasabah besar, sementara BMoney lebih memusatkan perhatian pada segmen affluent.
Tidak semua platform harus menggunakan strategi sama. Kami perlu memahami keunggulan sendiri, mengenali kebutuhan segmen yang dilayani, dan membangun layanan yang sesuai.
Nilai tambah yang ditawarkan BMoney sebagai platform investasi?
Salah satu pembeda BMoney adalah pendekatan kurasi produk. Kami tidak memasukkan semua produk pasar. Setiap produk dinilai berdasarkan kredibilitas pengelola, dana kelolaan, dan keberlanjutan kinerjanya.
Keputusan investasi tetap berada di tangan nasabah, sesuai kebutuhan, tujuan, dan profil risikonya. Kami ingin membantu mereka memahami produk, bukan sekadar mendorong transaksi.
Pada akhirnya, kerja keras memperoleh uang harus diikuti kemampuan mengelolanya. Masa depan keuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga oleh cara seseorang merencanakan, melindungi, dan mengembangkan uangnya.
Ambisi terbesar Anda untuk BMoney?
Kami ingin meningkatkan keuntungan. Namun, di luar profitabilitas, saya ingin BMoney menjadi wealth management platform (platform pengelolaan kekayaan) yang menyediakan berbagai produk investasi secara pruden, kredibel, dan transparan. Kami ingin masyarakat berinvestasi dengan benar serta mendapat saran yang sesuai kebutuhan dan profil risiko mereka.
Setelah lebih dari 20 tahun Anda bekerja, apa pelajaran terpenting untuk menghadapi tantangan karier?
Ada dua hal. Pertama, integritas. Jika kita bekerja dengan benar dan mampu mempertanggungjawabkan keputusan, kita tidak perlu terlalu takut menghadapi persoalan. Kedua, pekerjaan selalu memiliki pasang surut.
Menurut saya, pekerjaan di industri keuangan pada akhirnya berurusan dengan manusia, kepercayaan, dan kemampuan memberi nasihat yang tepat. Ujung-ujungnya selama saya bekerja, titel saya cuma satu, yaitu tenaga penjual. Sampai sekarang pun saya masih jualan, ha, ha, ha...
Yang saya jual sebetulnya bukan sekadar produk. Ada harapan dan rencana masa depan nasabah. Maka saya harus membantu mereka untuk mewujudkannya.
Pengalaman paling berat yang pernah Anda hadapi di dunia karier?
Salah satu hal paling berat adalah menghadapi keluhan nasabah. Pengalaman yang paling membekas terjadi saat krisis finansial global pada 2008, ketika saya masih bekerja di Citibank.
Saat itu, saya menjual produk investasi yang dirancang untuk melindungi modal atau capital protected. Produk tersebut diterbitkan oleh Lehman Brothers. Waktu itu, Lehman Brothers memiliki peringkat kredit AA- atau double A minus, sehingga dari sisi risiko kredit produk tersebut dipandang cukup aman. Struktur produknya pun dirancang untuk memberikan perlindungan modal.
Namun, pada September 2008, Lehman Brothers kolaps di tengah krisis keuangan global yang berkaitan dengan krisis subprime mortgage, yaitu kredit perumahan berisiko tinggi di Amerika Serikat (AS).
Saya masih ingat, itu tanggal 15 September 2008. Produk yang semula dirancang untuk melindungi modal nasabah menghadapi risiko kehilangan nilai karena penerbitnya mengalami kebangkrutan.
Bayangkan, kita sebelumnya menjelaskan kepada nasabah bahwa produk tersebut memiliki perlindungan modal. Kemudian, kita harus mendatangi mereka satu per satu dan menjelaskan bahwa modal yang mereka investasikan ternyata bisa hilang.
Itu pengalaman yang sangat berat. Ada nasabah yang marah, ada yang mengancam hendak memukul saya, ada yang menangis di depan saya. Keluhan datang dari berbagai arah.
Pada saat itu, saya sempat berpikir bahwa pekerjaan tersebut mungkin bukan untuk saya. Saya benar-benar merasa terpuruk. Wah, itu berat sekali.
Bagaimana Anda melewati masa sulit tersebut?
Situasinya tidak langsung membaik. Kami membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk melihat keadaan kembali lebih normal. Selama masa itu, kami tetap harus berupaya memberikan informasi dan perkembangan terbaru kepada nasabah.
Lima tahun kemudian, ada pengembalian sekitar 70% kepada nasabah melalui penyelesaian yang dilakukan Citibank. Jadi, persoalan yang awalnya terasa seperti jalan buntu ternyata masih memiliki penyelesaian.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa semuanya sudah berakhir ketika menghadapi masalah besar.
Kita tetap harus menjalankan tanggung jawab, berkomunikasi dengan pihak-pihak yang terdampak, dan berusaha mencari jalan keluar. Masalah tidak selalu selesai sesuai harapan atau secepat yang kita inginkan, tetapi bukan berarti tidak ada solusi. Jadi, masalah seberat apa pun harus dihadapi. Solusi pasti ada.
Pengalaman itu memperkuat keyakinan saya bahwa dunia kerja memang tidak selalu indah. Ada saatnya kita merasa sangat berat, tetapi kita harus belajar bertahan dan menyelesaikan persoalan dengan integritas.
Prinsip itu juga Anda terapkan ketika membangun BMoney?
Tentu. BMoney mulai berbisnis pada 2021 dan baru mencatatkan keuntungan untuk satu tahun penuh pada 2025. Tahun-tahun awal masih diwarnai kerugian.
Ketika melihat proyeksi laba-rugi pertama kali, saya sempat berpikir mencapai titik impas dalam empat tahun bukan perkara mudah. Namun, bisnis membutuhkan kesabaran, strategi, dan upaya terus-menerus agar tumbuh berkelanjutan.
Filosofi hidup Anda?
Saya selalu mengatakan kepada tim bahwa jika kita bekerja keras, hasil akan datang dengan sendirinya. Di industri kami, angka dan target pendapatan penting, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana pekerjaan dijalankan secara sungguh-sungguh, dengan hati dan passion. Jika bekerja sepenuh hati, rasa memiliki terhadap perusahaan akan tumbuh. Kalau kita kerja keras, hasil akan datang dengan sendirinya.
Bagaimana Anda mengukur kesuksesan, baik sebagai pribadi maupun pemimpin perusahaan?
Saya membaginya menjadi tujuan jangka panjang dan target jangka pendek. Dalam jangka panjang, saya ingin hidup sejahtera dan tenang: kebutuhan keuangan tercukupi, tidak terbebani utang, dan dapat menjalani masa pensiun dengan nyaman.
Di luar keluarga, perusahaan merupakan salah satu prioritas saya. Saya ingin tim memiliki rasa kepemilikan terhadap BMoney. Meski bukan milik pribadi, keberhasilan perusahaan menjadi salah satu ukuran keberhasilan saya.
Anda sudah merasa sukses?
Belum, masih jauh.
Bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi?
Saya senang membangun networking, bukan hanya dengan rekan bisnis, tetapi juga dengan teman dan orang-orang yang saya temui sehari-hari. Jaringan membantu ketika membangun BMoney. Teman-teman menjadi salah satu kelompok nasabah awal. Percakapan yang awalnya tidak berkaitan dengan pekerjaan bisa membuka peluang di kemudian hari. Namun, waktu untuk keluarga tetap penting.
Kegiatan Anda di luar pekerjaan?
Saya suka berlari dan mengikuti maraton. Biasanya saya bangun pukul 04.00 atau 04.30 dan mulai berlari sekitar pukul 05.30. Jarak lari mingguan bisa mencapai 80–90 km. Jarak terjauh dalam satu perlombaan adalah 42 km, yakni maraton penuh.
Siapa tokoh yang menjadi panutan Anda dalam membangun karier?
Saya banyak belajar dari Michael Jordan, salah satu pemain basket terbaik sepanjang masa. Saya menyukai basket, meskipun sekarang tidak terlalu berani bermain karena usia. Jordan bukan pemain hebat karena tidak pernah gagal.
Bagi saya, pelajarannya adalah kita tidak selalu mengetahui hasil akhir dari kerja keras. Kita hanya bisa terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan yang terbaik. Saya tidak merasa harus sejak awal menetapkan diri menjadi yang terbaik sepanjang masa.
Menurut Anda, seberapa penting literasi keuangan bagi masyarakat, khususnya kalangan anak muda?
Investasi penting untuk membantu masyarakat menghadapi inflasi. Jika uang hanya disimpan tanpa memperhatikan penurunan daya beli, nilainya secara riil dapat tergerus kenaikan harga.
Saya masih sering menemukan orang tertipu investasi bodong karena tergiur keuntungan tinggi, jaminan hasil, dan waktu yang singkat. Padahal, prinsip dasar investasi adalah high risk, high return (risiko tinggi, potensi imbal hasil tinggi) dan low risk, low return (risiko rendah, potensi imbal hasil rendah). Potensi keuntungan yang tinggi umumnya diikuti risiko lebih besar. Di sinilah pentingnya literasi.
Apa indikator paling sederhana untuk mengenali tawaran investasi mencurigakan?
Waspadai investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi, pasti, dan diperoleh dalam waktu singkat. Tanyakan dana diinvestasikan ke mana, bagaimana mekanisme bisnisnya, dari mana keuntungan berasal, siapa pengelolanya, dan apa risikonya.
Jangan mengambil keputusan hanya karena melihat orang lain untung. Kondisi keuangan, tujuan investasi, dan kemampuan menanggung risiko setiap orang berbeda.
Bagaimana kecenderungan investasi Generasi Z dibandingkan generasi-generasi sebelumnya?
Generasi sebelumnya cenderung berinvestasi bertahap, mulai dari instrumen relatif aman seperti reksa dana pasar uang, kemudian mengenal reksa dana saham, lalu membeli saham langsung setelah lebih berpengalaman. Generasi Z cenderung ingin melompat lebih cepat dan langsung masuk ke saham demi mengejar potensi hasil lebih tinggi.
Sebagian menganggap reksa dana saham kurang menarik karena hasilnya tidak setinggi saham tertentu yang sedang naik. Padahal, kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Pesan Anda kepada para investor muda agar tidak terjebak investasi bodong?
Pesan saya ada dua. Pertama, jangan takut berinvestasi, karena investasi dapat membantu mengembangkan aset dan melawan inflasi. Jika dilakukan secara konsisten dan sesuai tujuan, investasi bisa menjadi bagian dari upaya mencapai kebebasan finansial.
Uang yang kita investasikan diperoleh melalui kerja keras, jadi harus diperlakukan dengan hati-hati. Periksa legalitas dan mekanismenya, jangan hanya tergiur angka keuntungan. ***
BIODATA
Nama: Angganata Sebastian.
Tempat/tanggal lahir: -
Pendidikan:
Bachelor of Commerce (B.Com.), Accounting and Finance - University of Sydney, Australia (2001 – 2004).
Karier:
* CEO BMoney.id (Juli 2024 – sekarang).
* President BMoney.id (September 2023 - Juli 2024).
* Director of Business Development BMoney.id (Januari 2021 - September 2023).
* Head of Retail Business Ashmore (Oktober 2018 - Januari 2021).
* Sales Marketing Ashmore (Mei 2015 – Oktober 2018).
* Sales Manager SCTV (November 2014 – April 2015).
* Citigold Head - Assistant Vice President Citibank Indonesia (Juli 2012 - November 2014).
* Investment Consultant Citibank Indonesia (Juli 2008 - Juli 2012).
* Relationship Manager Citibank Indonesia (September 2006 – Juli 2008).
