Lebih Baik Melangkah daripada Menyesal Seumur Hidup
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Hidup, pada akhirnya, bukan tentang seberapa sering seseorang meraih keberhasilan, melainkan seberapa jauh ia berani melangkah ketika belum tahu apa yang menunggunya di depan.
Mencoba melangkah, tapi gagal, mungkin mendatangkan penyesalan. Tapi tak pernah mencoba, saat ada kesempatan, jauh lebih menyakitkan. Penyesalan karena tak berani mencoba bisa menghantui seseorang sepanjang hayatnya.
Maka Niki Santo Luhur lebih memilih berani melangkah, alih-alih diam.
Alasannya sederhana:
Kegagalan masih memberikan pelajaran.
Sebaliknya, ketakutan untuk mencoba hanya meninggalkan pertanyaan yang tak pernah terjawab, mendatangkan rasa penasaran dan penyesalan tiada akhir.
Perjalanan Niki Luhur mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari keputusan yang paling aman. Kadang-kadang, keberhasilan justru lahir dari keberanian mengambil jalan yang belum jelas ujungnya, kesediaan jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi dengan pemahaman yang lebih matang.
“Kalau gagal tetapi sudah berani mencoba, setidaknya saya tidak penasaran dengan apa yang sebenarnya bisa saya lakukan,” kata Founder & Group Chief Executive Officer (CEO) VIDA Digital Identity itu kepada jurnalis investortrust.id, Saliki Dwi Saputra, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di kantornya, kawasan Sudirman, Jakarta, belum lama ini.
Bagi Niki Luhur, keberanian bukan berarti yakin akan selalu menang. Keberanian adalah kesediaan berjalan meski kemungkinan gagal tetap terbuka.
Ia tidak mengejar kepastian.
Ia memilih hidup yang tidak dipenuhi penyesalan karena pernah membiarkan sebuah kesempatan berlalu.
Filosofi itu pula yang menjelaskan mengapa perjalanan kariernya tidak pernah benar-benar mengikuti garis lurus.
Setelah menamatkan Bachelor of Arts (BA) di Tufts University, Amerika Serikat (AS) pada 2005, Niki Luhur sempat mengambil program Master Business Administration (MBA) di negara yang sama, sambil mengejar mimpinya untuk berkarier di Silicon Valley. Namun, Niki akhirnya memilih pulang ke Indonesia dan meninggalkan program MBA-nya.
Dalam setiap persimpangan, ia seolah selalu mengajukan pertanyaan yang sama: apakah pilihan ini sekadar aman, atau memang layak diperjuangkan?
Ketika bergabung dengan Kartuku pada usia 22 tahun, Niki langsung dihadapkan pada kenyataan yang jauh dari ideal. Perusahaan itu sedang terseok-seok secara finansial dan membutuhkan proses penyehatan (turnaround).
Niki, perlahan-lahan, membawa Kartuku bangkit, hingga akhirnya diakuisisi Gojek pada 2018 dan infrastrukturnya menjadi salah satu fondasi GoPay.
Di atas kertas, itu merupakan kisah sukses (success story) Niki Luhur. Tetapi Niki tidak berhenti pada angka transaksi ataupun keberhasilan menjual perusahaan (exit).
Setelah Kartuku, Niki sebenarnya dapat memilih jalan yang lebih aman. Kebebasan finansial memberinya banyak pilihan. Ia bisa bergabung dengan perusahaan besar, masuk ke modal ventura, atau mengambil peran lain yang relatif nyaman.
Namun, kenyamanan justru memunculkan pertanyaan yang lebih sulit. “Sekarang mau melakukan apa?”
Dari pertanyaan itulah VIDA lahir.
Niki menyadari bahwa kesempatan untuk membangun bisnis yang dapat berdampak konkret kepada ratusan juta orang mungkin hanya datang sekali dalam hidup. Itu sebabnya, ia memilih untuk mengambil kesempatan tersebut, dengan mendirikan VIDA, perusahaan keamanan identitas digital.
Tetapi keberanian tidak membuat Niki Luhur menganggap dirinya selalu benar.
Ia percaya, pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah salah. Pemimpin yang baik adalah orang yang mampu mengubah kesalahan menjadi kebijaksanaan.
Berikut petikan lengkap wawacara tersebut:
Industri teknologi informasi (TI) memang passion Anda sejak awal?
Dari dulu saya tertarik pada dunia teknologi. Saya punya aspirasi membangun bisnis digital yang bisa memberikan dampak besar, terutama dari sisi infrastruktur.
Saat saya lulus kuliah, internet juga mulai booming. Saya melihat banyak peluang untuk melakukan digitalisasi dan membangun infrastruktur yang bisa memberikan dampak sosial.
Anda langsung berkarier di bidang TI setamat kuliah?
Setelah lulus dari Tufts University di Boston pada 2005, saya sebenarnya ingin ke Silicon Valley. Saya kemudian pindah ke San Francisco dan sempat melanjutkan pendidikan di University of California, Berkeley.
Saat itu saya dihadapkan pada pilihan apakah langsung mengambil program magister atau Master of Business Administration (MBA), atau bekerja terlebih dahulu. Setelah menjalani semester pertama program MBA di Haas School of Business, Berkeley, saya memutuskan untuk mencari pengalaman di real world terlebih dahulu.
Ide pertama saya sebenarnya adalah membangun infrastruktur internet untuk memperluas akses masyarakat terhadap internet, termasuk untuk pendidikan dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk pulang ke Indonesia dan bekerja di bawah manajemen Kartuku, salah satu perusahaan sistem pembayaran.
Awalnya saya diminta membantu melakukan turnaround karena kondisi perusahaan saat itu sedang tidak sehat. Dari situ, saya mendapat kesempatan untuk mengambil alih dan memimpin Kartuku.
Itu menjadi awal karier saya yang benar-benar thrown in the deep end (dilempar ke situasi sulit), langsung berada dalam situasi yang menuntut saya untuk sink or swim (tenggelam atau berenang). Kesempatannya cukup unik karena pada usia 22 tahun saya sudah dipercaya membantu memimpin perusahaan, meskipun kondisi keuangannya saat itu kurang sehat.
Pada 2018, kami melepas dan menjual Kartuku ke Gojek, yang kemudian menjadi salah satu fondasi untuk GoPay. Saya juga mendapat kesempatan membangun GoPay dan sempat diajak masuk ke perusahaan modal ventura sebagai entrepreneur-in-residence.
Selain itu, saya aktif terlibat di Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech). Saat proses exit ke Gojek, industri fintech mulai booming, terutama sekitar 2015. Kami mendapat kepercayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membantu merangkul industri fintech di bawah satu payung asosiasi.
Awalnya hanya ada enam founding members. Di puncaknya, Aftech memiliki sekitar 350 anggota dan mendapat kepercayaan dari OJK untuk menjadi Self-Regulatory Organization (SRO), seperti PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di pasar modal.
Yang terjadi setelah Kartuku exit?
Saya kembali bertanya kepada diri sendiri, apa yang sebenarnya ingin saya lakukan dalam hidup? Kalau awalnya orang mengejar kebebasan finansial, setelah exit saya merasa sudah berada di posisi tersebut. Lalu pertanyaannya menjadi jauh lebih sulit: sekarang mau melakukan apa?
Apa saja pilihannya saat itu?
Saat itu sebenarnya ada banyak pilihan yang aman. Saya bisa bergabung dengan perusahaan teknologi besar atau masuk ke modal ventura. Apalagi pada 2018, industri startup, modal ventura, Gojek, dan GoPay sedang booming. Tetapi saya kemudian berpikir, apa yang sebenarnya paling saya banggakan dari Kartuku?
Kami pernah membangun shared infrastructure di Carrefour, Matahari, dan Alfamart. Pada puncaknya, jaringan Kartuku memproses hampir 30% volume transaksi sistem pembayaran di Indonesia, sekitar US$12 miliar.
Itu tentu menjadi pencapaian yang saya banggakan. Tetapi yang paling menyentuh saya justru beberapa proyek yang berkaitan dengan bantuan sosial. Dari pengalaman tersebut, saya merasa visi branchless banking belum benar-benar selesai.
Saat itu teknologi sedang bergerak ke mobile money, e-money, QR, dan online payment. Namun, belum banyak yang benar-benar fokus membangun infrastruktur untuk retail banking secara lebih luas.
Itulah sebenarnya alasan saya mendirikan VIDA pada 2018.
VIDA adalah perusahaan pertama yang Anda dirikan?
Ini yang pertama dalam arti saya benar-benar membangun dari nol.
Inspirasinya dari mana?
Inspirasi VIDA justru datang dari Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech). Ketika kami berkumpul, kami sadar bahwa kami tidak mungkin menyelesaikan semua masalah sekaligus. Kami harus fokus. Kalau pemerintah mendengar 100 suara dengan 100 agenda, tentu akan sulit. Kami memilih maksimal lima agenda, dan idealnya tiga, berdasarkan mana yang memberikan dampak terbesar.
Berdasarkan survei anggota Aftech, kebutuhan nomor satu adalah regulasi yang memungkinkan know your customer (KYC) dilakukan tanpa tatap muka melalui electronic know your customer (E-KYC). Sekitar 72% anggota menempatkannya sebagai masalah utama.
Mayoritas bisnis fintech berbasis online. Kalau proses pemasaran digital sudah berhasil tetapi konsumen akhirnya tetap diminta datang ke cabang untuk melakukan KYC, pengalaman digitalnya menjadi tidak efektif.
Agenda kedua adalah kebutuhan untuk menghilangkan kewajiban tanda tangan basah. Orang bisa melakukan apply online, tetapi kalau akhirnya harus mencetak dokumen, menandatangani, lalu mengirimkannya lewat kurir, prosesnya menjadi tidak nyaman.
Agenda ketiga yaitu dukungan pemerintah terhadap penggunaan cloud. Pada akhirnya, cloud bisa dibangun secara onshore di Indonesia dan penggunaannya diizinkan.
Langkah Anda selanjutnya?
Kami kemudian melakukan studi banding ke India, Estonia, Norwegia, dan negara lain yang sudah memiliki sistem E-KYC dan biometrik. Kami juga melibatkan konsultan dan law firm untuk melakukan research serta menyusun rancangan kebijakan.
Dari situ saya mendapat kesempatan dari mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Rudiantara, untuk membantu agenda keuangan inklusif melalui strategi fintech.
Di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika saat itu sudah ada payung hukum mengenai penyelenggara sertifikat elektronik yang memungkinkan tanda tangan elektronik. Salah satu bentuk paling kuat adalah tanda tangan elektronik tersertifikasi.
Prosesnya bukan hanya memastikan siapa yang menandatangani, tetapi juga melakukan verifikasi identitas dengan standar tinggi, termasuk melalui biometrik dan basis data pemerintah seperti Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) melalui Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP).
Dari situlah kemudian terbuka peluang untuk mengembangkan E-KYC dan identitas digital di Indonesia, melalui kerja sama dengan Dukcapil Kementerian Dalam Negeri. Kami juga mendapat dukungan dari World Bank dan Gates Foundation yang memiliki keahlian di bidang identitas digital.
Setelah beberapa waktu, saya menyadari bahwa teknologi dalam sistem pembayaran sebenarnya bukan terutama soal pembayarannya. Kalau kita lihat, pembayaran debit atau kredit secara teknologi relatif sederhana.
Teknologi yang lebih kompleks justru berkaitan dengan autentikasi. Bagaimana kita memastikan bahwa orang yang melakukan transaksi memang orang yang memiliki hak atas rekening tersebut?
Dulu kita menggunakan tanda tangan. Sekarang menggunakan PIN (personal identification number). Kalau ditarik ke belakang, E-KYC, biometrik, tanda tangan digital, tanda tangan elektronik, dan sistem pembayaran sebenarnya berada dalam satu konsep yang sama: verifikasi dan autentikasi identitas.
Tantangannya di mana?
Ini tentang verifikasi dan autentikasi identitas seseorang. Masalahnya, sistem-sistem ini masih terpisah. Untuk masuk ke sistem keuangan saja belum mudah. Dulu orang harus datang ke cabang untuk melakukan verifikasi, dan bagi masyarakat di daerah, itu bisa berarti kehilangan satu hari kerja dan mengeluarkan biaya perjalanan.
Selain akses, sistem yang terpisah juga menciptakan masalah keamanan. Masing-masing sistem dibangun dan diinvestasikan sendiri-sendiri sehingga kualitas, stabilitas, dan keamanannya tidak optimal.
Kalau semuanya bisa disatukan, kita bisa membangun infrastruktur yang memudahkan masyarakat mengakses berbagai layanan keuangan, mulai dari perbankan, pinjaman, pembayaran, rekening pasar modal, hingga investasi. Temanya 100% sama dengan Kartuku, hanya skalanya lebih besar.
Berapa kali kita mendapat kesempatan untuk membangun bisnis yang bisa berdampak kepada ratusan juta orang dengan dampak yang konkret? Beberapa negara sudah membangun digital public infrastructure sendiri, seperti Singapura dengan SingPass. Tetapi tidak banyak negara yang mampu membangun infrastruktur identitas digital secara nasional.
Bahkan di AS, pemerintah mengakui kompleksitas membangun identitas digital nasional terlalu tinggi untuk dilakukan pemerintah sendiri. Karena itu, muncul konsep federasi dan public-private partnership.
Dalam sistem pembayaran juga begitu. QRIS dan clearing antarbank bisa berada di Bank Indonesia (BI), tetapi payment gateway yang menghubungkan konsumen dengan merchant melibatkan pihak swasta.
Alasannya, ancaman siber berkembang sangat cepat. Kecepatan perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kecepatan pengamanan. Kalau tidak, kita tidak akan mampu mengimbanginya.
Positioning VIDA?
VIDA didirikan untuk memberikan keamanan identitas di dunia digital dengan menyediakan metode layanan verifikasi identitas digital yang nyaman bagi pelanggan bisnis dan individu.
VIDA melindungi dari penipuan identitas dengan memberikan jaminan kepada bisnis online bahwa pelanggan mereka adalah yang mereka klaim dan bahwa pelanggan ini terus dapat dipercaya.
VIDA beroperasi sebagai Certificate Authority (CA), berlisensi, bersertifikat, dan berakar di Indonesia oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menerbitkan ID Digital dan tanda tangan digital yang mengikat secara hukum kepada individu dan lembaga, yang divalidasi secara biometrik terhadap sumber yang berwenang, seperti sebagai Database Identitas Nasional Indonesia atau Dukcapil eKTP.
Produk kami telah digunakan oleh jutaan pengguna di Indonesia, termasuk perusahaan teknologi digital dari berbagai industri seperti layanan finansial, e-commerce, transportasi, telekomunikasi, dan bidang kesehatan.
Kami memanfaatkan keahlian kami dalam keamanan informasi untuk memungkinkan perusahaan-perusahaan mengurangi kasus penipuan, meningkatkan kepercayaan dalam transaksi online, dan pada akhirnya, memberi mereka lingkungan digital yang aman dan terlindungi untuk menjalankan bisnis.
Bagaimana Anda melihat lanskap industri identitas digital ke depan?
Memang membutuhkan waktu karena perubahan perilaku konsumen tidak terjadi dalam semalam. Tetapi kita juga jangan lupa bahwa 20 tahun lalu belum ada WhatsApp.
Sekarang hampir semua orang menggunakannya. Instagram baru muncul sekitar 15 tahun lalu, TikTok di Indonesia juga masih relatif baru tetapi sekarang sudah memiliki sekitar 125 juta pengguna bulanan. QRIS pun dulu hampir tidak digunakan, sekarang menjadi bagian dari keseharian.
Sekitar 20 tahun lalu, orang membawa uang tunai ke mana-mana. Sekarang banyak orang cukup membawa ponsel. Jadi, perubahan itu membutuhkan waktu, tetapi ketika sudah mencapai tipping point, adopsinya bisa sangat cepat.
Anda yakin ini adalah bisnis masa depan?
Ya, tetapi infrastrukturnya harus dibangun terlebih dahulu. Dulu e-commerce belum sebesar sekarang, Gojek juga belum ada. Sekarang orang bisa membeli barang dan memesan makanan dari banyak tempat hanya melalui ponsel.
E-commerce tidak bisa berkembang tanpa infrastruktur pembayaran dan logistik. Infrastruktur tersebut harus dibangun lebih dahulu. Bahkan jika dibandingkan dengan negara maju, Indonesia punya beberapa terobosan digital yang sangat maju. Pengiriman barang dan makanan, misalnya, bisa dihitung dalam hitungan jam, bukan hari.
Ada beberapa aspek digital Indonesia yang justru lebih maju dibanding negara-negara yang secara ekonomi lebih maju.
Seberapa cerah prospek bisnisnya?
Berdasarkan survei Aftech, kebutuhan itu memang terlihat. Awalnya manfaat terbesar identitas digital mungkin untuk industri keuangan, tetapi potensinya jauh lebih luas.
Salah satunya adalah sektor kesehatan. Rekam medis kita sering kali tersebar di rumah sakit yang berbeda. Dalam kondisi kecelakaan, misalnya, informasi seperti alergi obat sangat penting. Kalau informasi tersebut tidak tersedia, ada risiko pasien mendapat obat yang bisa berakibat fatal.
Selain kesehatan, ada juga pendidikan dan akses terhadap berbagai layanan pemerintah, termasuk program sosial seperti bantuan sosial.
Karena itu, VIDA tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri. Kami ingin menjadi salah satu pemain yang membantu membangun industri baru ini agar memberikan dampak nasional, bahkan regional.
Kami juga melihat peluang di Asia Tenggara. ASEAN memiliki populasi lebih dari 640 juta orang dan merupakan emerging market yang besar.
Kalau negara-negara ASEAN bisa terhubung secara regional, kita bisa memfasilitasi kemampuan masyarakat untuk bertransaksi, termasuk mendukung e-commerce dan lalu lintas ekonomi antarnegara.
Jadi memang mimpinya cukup besar. Tetapi berapa kali kita mendapatkan kesempatan sebesar itu? Belum tentu langsung berhasil dan pasti akan ada kegagalan. Tetapi kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu.
Industri identitas digital sangat erat dengan AI. Pandangan Anda tentang AI dari sisi etika dan humanisme?
Masalah etika memang semakin penting. Bagaimana teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dibangun? Apakah AI akan memiliki batas moral atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin besar seiring perkembangan AI.
AI memang merupakan revolusi besar yang memengaruhi hampir semua industri dan bisnis. Karena itu, code of conduct, etika, dan roadmap etik sangat penting. Apalagi ancaman siber bukan lagi sekadar teori.
Di VIDA, kami sudah menghadapi berbagai serangan deepfake, ketika identitas seseorang diambil dan disalahgunakan untuk tujuan yang merugikan secara finansial. Ini sudah menjadi ancaman terhadap konsumen, stabilitas, dan keamanan sistem. Karena itu, standar keamanan harus terus dinaikkan. Standar lima tahun lalu tidak bisa digunakan untuk menghadapi ancaman hari ini.
Kita harus berlari lebih cepat. Kami mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang berusaha bergerak cepat. Tapi kanpenipu juga akan berlari lebih cepat. Kita harus bisa keep up dengan mereka.
Tidak banyak entrepreneur yang sudah nyaman kemudian mengambil risiko lagi. Berapa kali Anda mengalami jatuh bangun dan seperti apa prosesnya?
Banyak sekali. Mungkin yang pertama, seorang entrepreneur memang harus sedikit “gila”. Kita harus benar-benar percaya dan optimistis. Kalau kita sendiri tidak percaya, bagaimana orang lain mau percaya?
Kalau kita ingin membuat terobosan besar, pasti sulit. Tetapi kalau kita tidak pernah mencoba, kita pasti gagal dan tidak akan ada kemajuan.
Perspektif saya sederhana. Kita hanya hidup sekali. Apa yang lebih penting dibanding waktu kita? Banyak orang baru mengubah perspektif ketika sudah sakit atau berada di ujung kehidupan. Mereka kemudian berpikir, “Seharusnya saya melakukan ini, seharusnya saya melakukan itu.”
Saya ingin memastikan bahwa suatu saat saya tidak menyesal dengan apa yang saya lakukan dalam hidup, meskipun gagal. Kalau gagal tetapi sudah berani mencoba, setidaknya saya tidak penasaran dengan apa yang sebenarnya bisa saya lakukan. Daripada terus ragu, lebih baik mencoba. Kalau benar-benar gagal, bukan berarti hidup selesai. Saya masih bisa mencari pekerjaan atau jalan lain.
Tetapi tentu bukan berarti nekat tanpa perhitungan. Perhitungannya lebih kepada nilai dan prinsip yang saya pegang. Kalau saya percaya ingin memberikan dampak sosial, bagaimana saya bisa membuktikannya secara konkret, bukan sekadar konsep atau omongan?
Salah satu inspirasi saya adalah konsep Ikigai (filosofi hidup Jepang). Secara sederhana, ada empat hal yang perlu terhubung: what you're good at, what you can be paid for, what you love, dan what the world needs (apa yang Anda kuasai, apa yang bisa Anda bayar, apa yang Anda sukai, dan apa yang dibutuhkan dunia).
Dua yang pertama berkaitan dengan pekerjaan atau vocation, yang ketiga adalah passion (gairah atau hasrat), sedangkan yang terakhir adalah mission. Bagi saya, keempatnya harus terhubung. Akhirnya saya sadar, VIDA adalah Ikigai saya.
Saya punya pengalaman dalam sistem pembayaran, termasuk aspek autentikasi, keamanan siber, kriptografi, dan pembangunan infrastruktur digital yang mission critical. Saya juga menyukai bidang tersebut dan melihat dunia membutuhkan infrastruktur baru untuk identitas digital.
Saya pun melihat ada model bisnis yang bisa dibangun melalui konsep shared infrastructure, seperti pelajaran saya dari Kartuku. Jadi, saya bisa membangun bisnis yang profitable sekaligus menjawab kebutuhan nyata.
Pengalaman jatuh yang paling berkesan dan menjadi value Anda saat ini?
Salah satu kegagalan terbesar saya terjadi ketika kami sedang fokus membangun inovasi infrastruktur dan shared infrastructure EDC di Carrefour (saat di Kartuku). Saat itu saya berpikir bahwa kami harus berlari cepat, membangun teknologi dan produk terbaik, membuat customer happy, dan menunjukkan value proposition yang jelas. Kami bisa menghemat biaya bank dan merchant serta memberikan layanan yang lebih baik kepada konsumen.
Kami memang berhasil membangun solusinya. Namun, kesalahan terbesar saya saat itu adalah menganggap urusan regulasi bisa diserahkan kepada pihak lain. Saya berpikir saya harus fokus kepada teknologi dan produk.
Ternyata itu salah. Kami juga harus menginvestasikan waktu untuk seluruh stakeholder, khususnya regulator. Karena dalam bisnis infrastruktur, bukan hanya teknologi dan value proposition yang penting, tetapi juga kepastian bahwa model bisnis dan cara pengamanan datanya mendapat dukungan regulasi.
Di dunia startup, kita sering fokus pada MVP atau minimum viable product (MVP). Pelajaran saya adalah kita harus berpikir lebih luas: minimum viable ecosystem (MVE).
Apa sebetulnya yang membuat Anda mampu bertahan saat menghadapi tekanan?
Benang merahnya selalu values, nilai. Salah satu mentor favorit saya adalah ayah saya. Saya pernah bertanya ketika kami ingin merekrut orang, apa yang paling penting untuk dicari? Jawabannya sangat sederhana: values.
Awalnya saya berpikir values itu mudah, bahkan saya membayangkan hanya seperti poster yang ditempel di kantor. Ternyata values menjadi benang merah bagaimana seseorang membentuk budaya perusahaan. Yang penting bukan posternya, tetapi perilakunya. Dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh values.
Bukan berarti kita merekrut orang untuk kemudian mengubah nilai mereka. Mengubah karakter seseorang sangat sulit. Karena itu, yang kami cari adalah orang yang sejak awal memiliki nilai dan kepercayaan yang sama.
Di VIDA, nilai utamanya adalah trust atau kepercayaan. Trust starts with us. Kalau kita ingin membangun infrastruktur digital trust, kita harus terlebih dahulu bisa mempercayai orang-orang yang membangunnya. Dan teamwork juga penting. Tetapi tanpa trust, tidak mungkin ada teamwork.
Ada beberapa aspek dalam kepercayaan. Kita lebih percaya kepada orang yang autentik, ketika apa yang dikatakan, dipikirkan, dan dilakukan konsisten. Kedua, logikanya jelas dan komunikasinya mudah dipahami. Ketiga, ada empati, sehingga kita merasa orang tersebut benar-benar memperhatikan kepentingan kita.
Satu kata, trust, memang terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada banyak lapisan yang tidak mudah untuk dijalankan secara sempurna.
Jadi, benang merahnya adalah values. Dalam bisnis keamanan siber dan infrastruktur digital yang memiliki dampak nasional, apalagi ketika kita mengelola banyak data sensitif dan data pribadi, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat fundamental.
Filosofi hidup Anda?
Saya selalu bertanya, apa yang bisa saya tambahkan dari sisi value kepada dunia ini? Saya ingin sesuatu yang memberikan dampak besar dalam jangka panjang.
Pesan Anda untuk generasi muda?
Kita sering terlalu percaya diri dengan apa yang bisa kita capai dalam satu tahun, tapi terlalu meremehkan apa yang bisa kita bangun dalam 10 tahun. Jadi, pertanyaannya bukan apa target kamu tahun ini, tapi apa yang layak kamu korbankan dalam 10 tahun hidupmu untuk itu.
Menumbuhkannya butuh keberanian, menjalaninya butuh disiplin, terutama disipilin untuk belajar dari kegagalan. Karena kegagalan itulah yang justru akan membawamu ke sana. Dan pada akhirnya, satu-satunya cara menghasilkan karya yang benar-benar hebat adalah dengan mencintai apa yang kita kerjakan.
Jangan mencari jawaban dari orang lain. Beranilah bertanya hal-hal yang lebih sulit ke diri sendiri, karena kamu cuma satu, tidak ada duanya. ***
BIODATA
Nama: Niki Santo Luhur.
Pendidikan: Bachelor of Arts (BA) Tufts University, AS (2001 – 2005).
Karier:
* Founder & Group CEO VIDA Digital Identity (September 2018 – sekarang).
* High-Impact Entrepreneur Endeavor (Oktober 2012 – sekarang).
* Operating Advisor Monk’s Hill Ventures (Agustus 2016 – Juni 2023).
* Chairman/Presiden Komisaris Kartuku (April 2016 – Januari 2018).
* CEO Kartuku (2006–April 2016).
Lain-Lain:
* Anggota Dewan Pengawas Asosiasi FinTech Indonesia/Aftech (Juni 2021 – sekarang).
* Ketua Aftech (Maret 2016 – Juni 2021).
* Special Advisor Financial Technology Kementerian Komunikasi dan Informatika (Januari 2018 – Oktober 2019).
