Barito Renewables (BREN) Listing Besok, Simak Prospek Bisnisnya hingga Peran Prajogo Pangestu
JAKARTA, Investortrust.id – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan mencatatkan perdana saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (9/10/2023)setelah berhasil menuntaskan pawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dengan perolehan dana Rp 3,13 triliun.
Perseroan melepas sebanyak 4,01 miliar saham atau (3,35%) dengan harga pelaksanaan Rp 780, sehingga total dana yang bakal diraup Rp 3,13 triliun. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi adalah BNI Sekuritas.
Saat pencaatatan saham di BEI, BREN nantinya menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) senilai Rp 104,73 triliun. Perseroan akan menempati urutan ke-13 untuk kategori market cap paling bbesar di BEI atau berada di atas PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Baca Juga
Jelang Listing BREN, Tiga Saham Emiten Prajogo Pangestu Ini Melesat
Lalu, bagaimana sesusungguhnya prospek Barito Renewables hingga mendorong banyak investor berbondong-bondong mengantri membeli sahamnya? Berdasarkan data selama masa penawaran saham tecatat saham BRENmengalami kelebihan (oversubscribed) lebih dari 135 kali dari total porsiminimum pooling. Angka tersebut tergolong sangat besar.
Perseroan dalam prospectus menyebutkan bahwa segmen bisnis BREN didukung kebijakan energi nasional 2014 dengan target 23% pembangkitan listrik berasal dari energi terbarukan pada 2025. Hal ini diharapkan membuat kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di Indonesia bertumbuh pesat dari 2,6 GW pada 2023 menjadi 6,7 GW pada 2030 atau CAGR sebesar 14,6%.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata CAGR global sebesar 5,8% pada jangka waktu yang sama. Bahkan, tahun 2030, Indonesia diharapkan menyumbang sebanyak 35% terhadap total kapasitas panas bumi global.
Baca Juga
Barito Renewables (BREN) Masuk Masa Penawaran IPO, Rp 780 Dianggap Premium
Pertumbuhan ini didukung oleh potensi sumber daya panas bumi Indonesia yang signifikan, pertumbuhan permintaan pasar yang pesat, dan dukungan kebijakan sebagai bagian utama rencana masa depan pemerintah untuk meningkatkan energi terbarukan dalam bauran energi.
Sedangkan dari sisi permintaan pasar, manajemen BREN menyebutkan, laju pertumbuhan tahunan energi listrik dalam negeri sebesar 4,8% pada 2023-2030. Prakiraan ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan proyeksi pra-Covid-19, yaitu 6,5%, dalam RUPTL 2019-2028 (sebelumnya).
Terkait dividen, manajemen BREN menyebutkan bahwa, perseroan merencanakan rasio pembayaran dividen sampai dengan 60% dari laba bersih tahun berjalan setiap tahun mulai tahun buku 31 Desember 2023. Perseroan juga mengungkap bahwa tidak ada negative covenant yang dapat menghambat Perseroan untuk melakukan pembagian dividen kepada pemegang saham.
Baca Juga
Valuasi IPO Saham Barito Renewables (BREN) di Atas PGEO, Pilih PGEO atau BREN?
Berdasarkan data kinerja keuangan Barito Renewables tercatat laba periode berjalan perseroan melesat dari US$ 158,76 juta pada 2021 menjadi US$ 172,56 juta pada 2022. Sedangkan Pendapatan bertumbuh dari US$ 537,36 juta menjadi US$ 569,78 juta.
Adapun hingga kuartal I-2023 tercatat laba bersih perseroan turun dari US$ 40,91 juta menjadi US$ 39,66 juta. Penurunan dipengaruhi atas kenaikan beban keuangan dan beban pajak penghasilan. Sedangkan pendapatan berhasil naik dari US$ 133,65 juta menjadi US$ 147,08 juta.
Bidik 1.032 MW
Barito Renewables Energy merupakan pengembang dan pemilik pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dan nomor lima di dunia. Perseroan dan melalui anak usahanya menguasai kapasitas pembangkit listrik sebanyak 886 MW. Sedangkan kapasitas pembangkit perseroan ditargetkan bertumbuh menjadi 1.032 MW pada 2027.
Perseroan merupakan pemilik dan operator pembangkit listrik tenaga panas bumi Wayang Windu, Salak, dan Darajat, dengan total kapasitas sebanyak 886 MW. Di antaranya, perseroan bertindak sebagai pemegang 90% saham Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd (SEGWWP) yang mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi.
Baca Juga
Harga Melesat, Prajogo Tetap Lanjut Tambah Saham di Barito (BRPT)
Perseroan juga bertindak sebagai pemegang masing-masing 76,11% saham Star Energy Geothermal Darajat I dan II. Perseroan juga tercatat sebagai pemeang Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGSL) dengan kepemilikan sebanyak 76,11% saham. Perseroan juga bertindak sebagai pemegang Star Energy Geothermal Darajat II.
Perusahaan Prajogo Pangestu ini juga bertindak sebagai pemegang 76,11% saham pembangkit energi panas bumi dan pembangkit listrik Star Energy Geothermal Salak Pratama, Ltd (SEGSPL).
Berdasarkan prospektus perseroan, pembangkitan listrik tenaga panas bumi Wayang Windu terdiri atas dua unit dengan kapasitas pembangkit terpasang bruto gabungan sebesar 230,5 MW.
Baca Juga
Begini Hitungan Valuasi Saham Barito Renewables (BREN) Milik Prajogo Pangestu
Sedangkan operasi pembangkit listrik tenaga panas bumi Darajat dan Salak memiliki kapasitas pembangkit terpasang bruto masing-masing 274,5 MW dan 381 MW, termasuk didalamnya secara berturut-turut, kapasitas penjualan uap sebesar 55 MW dan 180 MW.
Dengan demikian total kapasitas terpasang bruto pembangkit listrik perseroan hingga tahun 2022 mencapai 886 MW dan diharapkan bertambah sebanyak 146 MW menjadi 1.032 MW pada 2027.
Prajogo Pangestu
BREN juga didukung pengendali yang kuat yang memiliki beberapa emiten yang kuat di sektornya. Prajogo Pangestu melalui PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tercatat sebagai pengendali utama dengan kepemilikan sebanyak 64,67% saham dan GE menguata 23,61% saham BREN. Sisanya dimiliki Jupoter Tiger Holdinsg 4,36%, Prime Hill Fund 4,36%, dan investor public 3%.
Sebagaimana diketahui Prajogo Pangestu merupakan pengendali 71,17% saham BRPT, sehingga secara tidak langsung dirinya menjadi pemegang saham utama BREN. Prajogo juga pengendali saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Baca Juga
Saham Emiten Prajogo Pangestu Terbang, Nilai Kekayaannya Melonjak
Sebagaimana diketahui TPIA merupakan perusahaan petrokimia besar di Indonesia dan perseroan tercatat sebagai emiten yang masuk top 10 market cap di BEI. BRPT juga didukung kapitalisasi pasar yang besar dengan peringkat masuk top 15.
Sedangkan Prajogo Pangestu sendiri merupakan orang paling kaya nomor empat di Indonesia setelah Low Tuck Kwong, R Budi Hartono, dan Michael Hartono. Forbes real time menyebutkan nilai kekayaannya mencapai US$ 9,8 miliar. Dirinya juga tercatat sebagai orang kaya peringkat 200 di dunia.

