Menjaga Napas Bumi di Tengah Derasnya Hilirisasi Mineral
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pengalaman berkendara tanpa suara mesin dan tanpa harus mengisi bahan bakar di SPBU menjadi salah satu manfaat yang paling terasa bagi pengguna kendaraan listrik (electrical vehicle/EV). Namun, di balik kemudahan itu, ada asal-usul material yang membuat kendaraan listrik dapat bergerak.
"Kalau pakai kendaraan listrik, memang terasa lebih praktis dan lebih ramah lingkungan. Bicara soal ramah lingkungan, bukan hanya kendaraannya yang harus diperhatikan, tetapi bahan bakunya diproduksi," ujar seorang pengguna kendaraan listrik, Violin kepada Investortrust, Rabu (16/9/2026).
Violin menikmati manfaat produk yang lebih rendah emisi, tetapi pada saat yang sama mulai menelusuri bahan baku produk tersebut dan dampaknya terhadap lingkungan.
Baca Juga
MIND ID Dorong Hilirisasi Tambang untuk Perkuat Ekonomi Indonesia
Hal serupa berlaku pada produk berbahan aluminium, baja, maupun berbagai perangkat elektronik yang digunakan sehari-hari. Mineral hasil pertambangan telah menjadi bagian dari kehidupan modern, mulai peralatan rumah tangga hingga jaringan listrik dan infrastruktur energi.
Keberlanjutan tidak cukup dinilai dari produk akhir yang bersih. Proses pengambilan bahan baku, pengolahan mineral, hingga pengelolaan limbah menjadi bagian penting dalam menentukan tanggung jawab industri.
Di tengah kebutuhan tersebut, Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID memperkuat strategi keberlanjutan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, pemanfaatan energi lebih bersih, penerapan ekonomi sirkular, serta reklamasi lahan.
Hilirisasi Meningkat, Tantangan Emisi Mengikuti
MIND ID menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 15,5% atau setara sekitar 2 juta ton karbon dioksida ekuivalen atau CO2e pada 2030. Target tersebut dipasang di tengah pengembangan berbagai proyek hilirisasi mineral nasional yang berpotensi meningkatkan kebutuhan energi grup secara signifikan.
Berdasarkan proyeksi perusahaan, kebutuhan energi Grup MIND ID diperkirakan meningkat dari sekitar 149.000 terajoule pada 2026 menjadi 293.000 terajoule pada 2030. Artinya, kebutuhan energi diproyeksikan meningkat lebih dari 90% dalam lima tahun.
“Tanpa intervensi dekarbonisasi, emisi gas rumah kaca diperkirakan meningkat dari sekitar 6.100 kiloton CO2e menjadi 12.900 kiloton CO2e pada periode yang sama,” kata Division Head of Sustainability MIND ID Binahidra Logiardi dalam sebuah kesempatan.
International Council on Mining and Metals (ICMM) mencatat sektor pertambangan menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi karena sebagian kegiatan masih mengandalkan alat berat dan proses produksi yang sulit dialihkan sepenuhnya ke listrik.
Persoalan menjadi semakin kompleks karena kebutuhan mineral justru meningkat seiring dengan percepatan transisi energi. Nikel, aluminium, tembaga, dan berbagai mineral lainnya dibutuhkan untuk kendaraan listrik, baterai, jaringan listrik, serta infrastruktur energi bersih.
Untuk itu, pengurangan intensitas karbon menjadi semakin penting. Perusahaan perlu meningkatkan produksi dengan penggunaan energi yang lebih efisien dan sumber energi yang lebih rendah emisi, sehingga pertumbuhan volume produksi tidak otomatis menghasilkan kenaikan emisi dalam besaran yang sama.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pengelolaan pertambangan harus menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari tata kelola.
"Dalam mengelola pertambangan, kita harus berwawasan lingkungan. Jangan lagi kita meninggalkan sejarah kelam bagi anak cucu kita," ujar Bahlil saat Musyawarah Daerah III DPD Partai Golkar Kalimantan Utara pada Minggu (30/11/2025).
Bahlil menilai manfaat ekonomi dari sumber daya alam tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan kelestarian lingkungan. Perbaikan tata kelola pertambangan perlu berjalan bersama dengan upaya pemulihan dan perlindungan lingkungan.
"Ekonomi boleh kita dapatkan, tetapi lingkungan juga harus kita jaga. Semua ini adalah bagian dari usaha kita untuk mewariskan sesuatu yang lebih baik kepada anak cucu kita," imbuhnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, MIND ID menjalankan sejumlah strategi dekarbonisasi. Salah satu fokusnya adalah mengubah sumber energi yang digunakan dalam kegiatan operasional sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar.
Strategi tersebut mencakup peningkatan penggunaan biodiesel dari B35 menuju B4, penggantian high speed diesel (HSD) dengan liquefied natural gas (LNG), serta optimalisasi pemanfaatan listrik dari jaringan PT PLN.
Selain mengubah jenis bahan bakar, pengurangan emisi juga dilakukan melalui perubahan peralatan dan proses operasional. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah menggunakan bucket wheel excavator (BWE) pada kegiatan coal handling di Unit Pertambangan Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Alat tersebut menggantikan penggunaan dump truck berbahan bakar fosil dalam kegiatan pemindahan material. Penggunaan BWE mampu menurunkan emisi sekitar 5.200 ton CO2e per tahun.
Langkah serupa dilakukan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) melalui konversi bahan bakar dari HSD ke LNG pada fasilitas baking plant. Perubahan tersebut menghasilkan penurunan emisi sekitar 3.700 ton CO2e sekaligus meningkatkan efisiensi energi operasional.
Sementara itu, PT Indonesia Chemical Alumina menerapkan co-firing biomassa cangkang kelapa sawit sebagai pengganti sebagian batu bara. Co-firing merupakan penggunaan dua jenis bahan bakar secara bersamaan dalam proses pembakaran. Inisiatif tersebut mampu menurunkan emisi sekitar 560 ton CO2e.
PT Timah Tbk (TINS) juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 300 kilowatt peak (kWp). Pembangkit tersebut mampu mengurangi emisi sekitar 300 ton CO2e sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi bersih di kawasan industri.
MIND ID juga mengembangkan skema carbon offset melalui proyek berbasis alam nature-based solutions, pemanfaatan Renewable Energy Certificate (REC), serta partisipasi dalam perdagangan karbon.
Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno menilai langkah dekarbonisasi MIND ID dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai penguatan bauran energi terbarukan hingga peningkatan efisiensi operasional.
"Apa yang dilakukan oleh MIND ID menurut saya perlu diapresiasi dalam tiga konteks, yaitu mitigasi, adaptasi, dan efisiensi. Mereka meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari mitigasi. Selain itu, mereka juga mendorong efisiensi," kata Eddy dikutip Kamis (2/7/2026).
Menurut Eddy, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi semakin penting bagi industri pengolahan dan pemurnian mineral yang memiliki tingkat emisi tinggi. "Smelter termasuk kategori hard-to-abate industries, yaitu industri yang memang sulit menurunkan emisi karbonnya," ujarnya.
Dari Emisi ke Limbah, Ekonomi Sirkular Diperkuat
Tantangan keberlanjutan industri pertambangan tidak berhenti pada emisi. Proses produksi juga menghasilkan berbagai material sisa yang membutuhkan pengelolaan agar tidak menimbulkan risiko terhadap lingkungan.
Untuk itu, ekonomi sirkular menjadi penting. Pendekatan tersebut mengubah cara pandang terhadap material sisa. Material yang sebelumnya hanya dianggap sebagai limbah untuk dibuang mulai dilihat sebagai sumber daya yang masih dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dipulihkan nilainya.
Sepanjang 2025, Grup MIND ID memanfaatkan lebih dari 1 juta ton material sisa melalui skema reuse, recycle, dan recovery. Langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan timbulan limbah padat sebesar 11,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan MIND ID 2025, Grup MIND ID memanfaatkan 82.876 ton limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) serta 946.733 ton limbah padat non-B3 melalui skema reuse, recycle, dan recovery. Upaya tersebut turut menurunkan total timbulan limbah padat dari 1.306.835,91 ton pada 2024 menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Penurunan terjadi pada dua kategori utama. Limbah padat B3 berkurang dari 270.478,08 ton menjadi 208.441,10 ton. Sementara itu, limbah padat non-B3 turun dari 1.036.357,83 ton menjadi 950.608,06 ton.
Tren tersebut juga menunjukkan perbaikan dalam tiga tahun terakhir. Total timbulan limbah padat MIND ID tercatat sebesar 1.396.034,05 ton pada 2023, kemudian turun menjadi 1.306.835,91 ton pada 2024, dan kembali turun menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Selain limbah padat, laporan tersebut mencatat timbulan limbah cair B3 sebesar 4.764,52 ton sepanjang 2025. Limbah tersebut, meliputi oli bekas, minyak bekas, oil sludge, solar bekas, grease bekas, hingga bahan kimia kedaluwarsa.
Pakar energi Departemen Teknik Sistem Energi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Eko Adhi Setiawan menilai sistem pengelolaan limbah yang terstruktur merupakan fondasi penting dalam penerapan praktik pertambangan yang baik atau good mining practice.
Menurut Eko, setiap jenis limbah membutuhkan sistem penelusuran yang jelas, mulai dari sumber limbah, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, hingga bukti penyelesaian akhir. "Limbah tidak hanya dilihat sebagai isu toksisitas yang harus diamankan, tetapi juga sebagai material stream yang perlu diklasifikasi," ujar Eko saat dihubungi, Selasa (1/7/2026).
Baca Juga
Tegaskan Tanggung Jawab Keberlanjutan, MIND ID Perkuat Penanganan Dampak Karhutla
Dengan sistem tersebut, perusahaan tidak hanya dapat mengurangi risiko lingkungan, tetapi juga berpotensi mengurangi kebutuhan bahan baku baru dan biaya pengelolaan limbah. Pada saat yang sama, material sisa dapat diolah menjadi produk atau bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.
Material Sisa Diolah Menjadi Produk Bernilai
Penerapan ekonomi sirkular telah dilakukan oleh sejumlah anggota Grup MIND ID dengan menyesuaikan karakteristik material yang dihasilkan dari setiap proses produksi. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, misalnya, memanfaatkan slag nikel hasil proses pyrometallurgy atau peleburan bersuhu tinggi sebagai bahan konstruksi Pomalaa Beton atau Poton.
Material tersebut digunakan untuk kebutuhan road base, yard base, dan konstruksi internal perusahaan. Pemanfaatan slag nikel membantu mengurangi kebutuhan material konstruksi baru sekaligus memberikan nilai tambah terhadap sisa proses produksi. Antam juga mengolah tailing emas menjadi green fine aggregate (GFA).
Selain itu, fly ash and bottom ash (FABA) dimanfaatkan bersama slag nikel sebagai bahan baku Pomalaa Beton. FABA merupakan material sisa dari proses pembakaran batu bara yang dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu setelah memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.
Di Inalum, internal scrap dari proses peleburan dan pengecoran aluminium dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses produksi. Langkah tersebut mengurangi kebutuhan bahan baku primer berupa alumina.
Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) mengelola sisa hasil pengolahan (SHP) menggunakan metode fisik, seperti gravitasi, kemagnetan, dan konduktivitas listrik. Pada 2025, volume SHP tercatat mencapai 1.506,06 ton ore dan masih memiliki potensi dipulihkan melalui proses lanjutan atau tin gain. Tin gain merupakan upaya memperoleh kembali kandungan timah dari material sisa pengolahan.
Dengan demikian, ekonomi sirkular tidak hanya menjadi strategi untuk mengurangi volume limbah. Pendekatan tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi sumber daya, pengurangan penggunaan bahan baku primer, dan penciptaan nilai ekonomi baru.
Good Mining Practice
Pengurangan emisi dan pemanfaatan material sisa merupakan dua bagian dari agenda keberlanjutan. Namun, pengelolaan lingkungan dalam industri pertambangan memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk cara perusahaan mengelola lahan sejak awal kegiatan hingga setelah operasi berakhir.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menilai transformasi industri pertambangan harus tetap memberikan manfaat bagi pekerja, daerah penghasil, masyarakat, serta generasi mendatang.
"Inovasi memberikan kemampuan untuk bersaing, dan keberlanjutan memberikan legitimasi bagi industri pertambangan untuk terus tumbuh," ujar Tri saat menjawab pertanyaan Investortrust.id dalam seminar pertambangan dalam rangka HUT ke-36 Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) September 2026.
Menurut Tri, perkembangan industri mineral Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi. Penguasaan bahan baku, teknologi, rantai pasok, industri pengolahan, serta tata kelola juga semakin menentukan posisi Indonesia dalam industri mineral global.
Keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari jumlah kendaraan listrik yang digunakan atau kapasitas energi terbarukan yang dibangun. Keberlanjutan juga perlu dilihat dari bahan baku energi bersih diproduksi, limbah dikelola, dan lahan tambang dipulihkan. Tantangan ke depan adalah memastikan setiap proyek baru memperhitungkan dampak lingkungan sejak tahap perencanaan.
Baca Juga
MIND ID Perkuat Tata Kelola Timah di Belitung Pasca-Kantor PT Timah (TINS) Dibakar
Industri pertambangan dan lingkungan bukan dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban tambahan.
Seperti pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Setiap langkah MIND ID menuju hilirisasi dan peningkatan produksi mineral perlu sekaligus menjadi langkah untuk menekan emisi, dan memulihkan lingkungan. Sebab, kekayaan bumi yang digali hari ini akan memiliki arti lebih panjang apabila alam yang ditinggalkan tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
