35 Tahun Berkarier, Bos Astra Infra Beri 5 ‘Tips’ Sukses ke Generasi Muda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Group Chief Executive Officer (CEO) Astra Infra, Firman Yosafat Siregar membagikan sejumlah tips kepada generasi muda untuk membangun karier berdasarkan pengalaman profesionalnya selama 35 tahun. Setidaknya ada lima tips sukses yang dibagikan Firman.
Hal itu disampaikannya dalam Seminar & Career Advice Day di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, Sabtu (29/8/2026).
Firman menggarisbawahi, salah satu hal penting dalam membangun karier adalah networking atau membangun jejaring. Namun, networking harus diimbangi dengan kompetensi. Sebab, jejaring tanpa kemampuan tidak memiliki arti dalam perjalanan karier.
"Networking tanpa adanya kompetensi itu bullshit. First rules: Networking. Tapi tanpa kompetensi itu nggak ada artinya," ujar Firman.
Menurut Firman, perjalanan karier selama 35 tahun membuatnya terus belajar dari orang-orang yang lebih ahli. Ia mengaku tidak pernah puas dan selalu mencari ilmu baru dalam setiap pekerjaan yang dijalaninya. "Saya tidak pernah puas dan selalu bosan," jelas dia.
Ia menuturkan, dirinya sempat berpindah dari Price Waterhouse, Lippobank, Bakrie Group, EY Indonesia, hingga kemudian Astra Infra group. Dari sejumlah tempat tersebut, Firman mengaku mendapatkan pengalaman berbeda, mulai dari audit, corporate banking, financial analysis, properti, treasury, business process, tax, hingga corporate finance.
Baca Juga
Hadir di TADEA 2026 Surabaya, Susi Pudjiastuti Ungkap Rahasia Sukses bagi Agen Asuransi
"Saya bisa mendapatkan banyak ilmu, terutama satu hal adalah ilmu managing your boss," imbuh Firman.
Sementara itu, Ketua Tim Career Advice & Mentorship dan Scholarship Panitia Reuni Alumni FEB UI-86, Sylvia M Siregar mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian reuni 40 tahun FE UI angkatan 1986.
Career Advice Day merupakan salah satu bentuk kontribusi alumni kepada almamater dan mahasiswa FEB UI untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan dunia kerja.
"Seminar and Career Advice Day, yang merupakan rangkaian reuni 40 tahun FE UI 86, menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi kami kepada almamater dan generasi mahasiswa FEB UI saat ini, sekaligus mencoba menjembatani tantangan education-to-employment gap agar adik-adik mahasiswa lebih matang mempersiapkan diri memasuki dunia profesional," papar Sylvia.
Sylvia mengungkapkan, kontribusi tersebut menjadi bagian dari warisan lintas generasi berupa ilmu, pengalaman, jejaring, dan kesempatan yang diterima satu generasi untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.
"Kegiatan Career Advice ini akan dilanjutkan dengan program Career Mentorship pada September hingga Desember 2026 yang akan dibawakan oleh rekan-rekan kami, para pembicara yang hadir pada hari ini," tutur Sylvia.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum FEB UI, Kiki Verico menjelaskan, pengalaman alumni FEB UI angkatan 1986 penting bagi mahasiswa karena mereka dapat melihat perjalanan perubahan dunia dan dunia kerja dari masa ke masa.
Menurut Kiki, para alumni yang hadir dalam kegiatan tersebut memiliki pengalaman panjang sejak era 1980-an hingga saat ini. "Cuma tadi bos-bos saya yang di C-level, CEO-CEO ini, pasti punya pengalaman yang luar biasa membina dan melihat itu semua, balcony view-nya, helicopter view-nya, mulai dari tahun 80-an itu ketika kuliah sampai sekarang perubahannya seperti apa," kata dia.
Ia menilai pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan gambaran mengenai perubahan dunia dan perkembangan karier.
"Jadi sayang sekali menurut saya kalau mahasiswa nggak datang. Karena nggak ada angkatan yang seperti ini, karena dia bisa melihat proses perubahan ini. Pengalaman yang luar biasa," ucap Kiki.
Bangun Networking dan Kompetensi
Firman Siregar memaparkan, networking menjadi salah satu dasar dalam membangun karier. Namun, kemampuan tersebut harus berjalan bersama kompetensi.
"Tapi networking tanpa adanya kompetensi itu bullshit. First rules: Networking. Tapi tanpa kompetensi itu nggak ada artinya," terang dia.
Firman mencontohkan perjalanan awal kariernya ketika diterima di Price Waterhouse setelah memanfaatkan jejaring yang dimilikinya. Dari pengalaman tersebut, ia menilai jaringan dapat membuka kesempatan, tetapi kompetensi tetap diperlukan untuk mempertahankan dan mengembangkan karier.
Terus Belajar dari Orang yang Lebih Ahli
Firman menekankan, generasi muda perlu terus menimba ilmu dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Ia sendiri mengaku berpindah pekerjaan karena ingin mendapatkan pengetahuan baru.
Perjalanan tersebut membuatnya mempelajari berbagai bidang, mulai dari audit, corporate banking, financial analysis, properti, treasury, business process, tax, hingga corporate finance.
"Perjalanan saya selama 35 tahun, seperti halnya seorang pendekar, dari awal harus menimba ilmu dari orang-orang yang jauh lebih expert dari saya," ungkap Firman.
Firman juga menyebut pengalaman menghadapi krisis moneter 1998 sebagai salah satu pembelajaran penting dalam kariernya. Saat itu ia terlibat dalam tim restrukturisasi utang Astra. "Itu memberikan ilmu yang luar biasa buat saya. Valuation, bagaimana bisa dispose company, divestment," kata Firman.
Kenali Diri dan Jadilah Diri Sendiri
Firman Siregar pun mengingatkan generasi muda untuk mengetahui tujuan yang ingin dicapai dalam perjalanan karier dan tidak kehilangan jati diri. "Jadi, harus mengetahui be yourself dan harus tahu apa yang kalian mau," tutur dia.
Firman mengatakan, bekerja merupakan bagian dari perjalanan hidup. Ihwal itu, ia meminta anak muda tidak menyerahkan dirinya untuk mengejar sesuatu yang berada di luar apa yang seharusnya diperoleh.
"Bekerja itu hanya perjalanan aja. At the end of the day, apa yang kita miliki hanya diri kita aja," kata dia.
Jangan Puas Jadi Rata-Rata dan Miliki Soft Skill
Firman kemudian mengutip prinsip mantan CEO General Electric, Jack Welch yang membagi pekerja menjadi tiga kelompok, yakni 20% kelompok terbaik, 70% rata-rata, dan 10% yang tidak produktif. "Kalau mau sukses, jangan puas jadi 70%. Jangan pernah jadi 10%. Harus berusaha jadi 20%," tegas dia.
Baca Juga
Menurut dia, pekerja juga harus memiliki kemampuan yang membuat dirinya berbeda serta tidak melakukan overselling terhadap kemampuan yang dimiliki. "Kenapa saya milih kamu? Kenapa kamu istimewa? Kemudian kita juga harus menunjukkan diri jangan terlalu overselling," kata dia.
Firman menambahkan, kemampuan intelektual atau IQ memang penting. Namun, kemampuan soft skill juga diperlukan, seperti networking, mengelola atasan, mengelola orang, serta menciptakan suasana kerja yang positif.
"Menjadi pintar penting. Tapi menjadi orang yang punya soft skill yang luar biasa, networking, bisa managing boss, bisa managing people, bisa membuat suasana menjadi positif, itu jauh lebih penting," ujarnya.
Go Extra Mile dan Pentingnya Kejujuran
Firman menegaskan, generasi muda juga harus memberikan usaha lebih dalam pekerjaan atau go extra mile. Kerja keras dan fokus diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam karier. "Mereka yang malas nggak dapat apa-apa. Mereka yang cepat nggak dapat apa-apa. Kemudian ya harus fokus," tandas dia.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta menjadikan kejujuran sebagai prinsip. "Dan terakhir adalah masalah tadi udah disinggung juga ya, kejujuran. Itu nggak bohong. Buat siapa kejujuran? Buat diri kita sendiri, bukan buat orang lain," kata Firman.
