Tantangan Hari Ini Adalah Kekuatan Masa Depan
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Tak semua orang mampu bertahan ketika tekanan datang bertubi-tubi. Sebagian memilih mundur. Sebagian lagi mencari jalan paling aman. Namun ada orang yang justru menemukan versi terbaik dirinya saat berada di titik paling sulit.
Edhi Tjahja Negara adalah salah satunya.
Selama lebih dari tiga dekade meniti karier, Country Manager & Chief Executive Officer (CEO) PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (ZAI) ini memegang teguh sebuah filosofi yang telah teruji dalam hidupnya.
Today’s challenge is tomorrow’s strength.
Tantangan hari ini adalah kekuatan masa depan.
Bagi Edhi, kalimat itu bukan sekadar slogan penyemangat. Filosofi tersebut lahir dari pengalaman nyata yang menguji batas fisik, mental, sekaligus kepemimpinannya.
Ia pernah ditodong pistol oleh nasabah.
Pernah pula “disandera” hampir 13 jam dalam sebuah pertemuan dengan nasabah yang murka lantaran dana investasinya macet.
Bahkan, ia harus berjalan menggunakan kruk hampir selama setahun setelah telapak kaki kirinya patah akibat tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Ujian datang silih berganti. Ketika dipercaya memimpin Zurich Indonesia, industri asuransi justru sedang menghadapi periode yang tidak baik-baik saja. Malah banyak perusahaan memilih keluar dari bisnis asuransi kesehatan karena terus merugi.
Edhi Tjahja Negara mengambil jalan yang berbeda.
Ia memilih bertahan.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Reputasinya sebagai CEO ikut dipertaruhkan. Jika gagal, kursinya bisa saja hilang.
Namun justru di situlah tantangannya. Edhi ingin membuktikan bahwa keyakinan, jika diikuti eksekusi yang tepat, bakal mampu mengalahkan rasa takut.
Empat tahun kemudian, keputusan yang semula dianggap berisiko itu berbuah hasil. Bisnis yang pernah dipandang sebagai beban berubah menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama Zurich Asuransi Indonesia—perusahaan yang sebelumnya bernama PT Asuransi Adira Dinamika Tbk (Adira Insurance) sebelum diakuisisi Zurich Insurance Group dan menjadi perusahaan terbuka dengan saham yang tidak tercatat di bursa.
Edhi merasakan pola yang selalu berulang. Semakin besar tekanan yang dihadapi, semakin besar pula kapasitas yang terbentuk.
“Masa depan tidak dibentuk ketika hidup sedang nyaman, melainkan ketika seseorang mampu melewati masa-masa paling sulit tanpa kehilangan keyakinan,” ujar pria kelahiran Kediri, 19 Agustus 1969, tersebut.
Hampir tiga dekade pertama perjalanan karier Edhi Tjahja Negara dihabiskan di industri perbankan. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Jember itu memulai langkah sebagai management trainee, lalu menjalani penugasan dari Surabaya, Pontianak, Balikpapan, hingga Manado.
Edhi tidak menganggap mutasi sebagai hukuman.
Sebaliknya, setiap perpindahan adalah sekolah kepemimpinan.
Saat banyak orang berusaha bertahan di kota-kota besar, ia justru menerima setiap penugasan di berbagai daerah. Belakangan ia menyadari bahwa semua perpindahan itu sesungguhnya sedang membangun kapasitasnya untuk memimpin organisasi yang jauh lebih besar.
“Kalau melihat ke belakang, saya bersyukur dulu mau dipindah-pindah. Ketika akhirnya memimpin distribusi nasional, saya sudah mengenal karakter hampir semua daerah karena pernah hidup di sana,” tutur dia.
Karier Edhi Tjahja Negara berkembang di Danamon, ABN AMRO, Maybank Indonesia, hingga HSBC Indonesia. Di bank terakhir itulah ia memperoleh pengalaman yang paling membentuk cara pandangnya sebagai pemimpin, yakni ketika memimpin proses integrasi pasca-akuisisi Bank Ekonomi.
Di sana ia belajar bahwa menyatukan dua perusahaan tidak cukup hanya dengan menggabungkan sistem atau mengganti logo. Yang jauh lebih sulit adalah menyatukan budaya kerja, cara berpikir, dan cara mengambil keputusan.
Pengalaman itu juga menyadarkannya bahwa perusahaan global memang memiliki tata kelola dan disiplin manajemen risiko yang kuat, tetapi belum tentu memahami karakter pasar Indonesia.
“Indonesia itu berbeda. Banyak kebijakan global sebenarnya baik, tetapi tidak selalu bisa diterapkan begitu saja di sini,” tegas Edhi.
Masuk ke industri asuransi sejatinya tidak pernah masuk dalam rencana hidup Edhi.
“Tawaran itu benar-benar datang begitu saja,” kenangnya.
Bagi banyak orang, berpindah industri setelah hampir tiga dekade berkarier di perbankan mungkin terdengar sebagai langkah yang terlalu berani. Terlebih harus memasuki bidang yang sama sekali baru.
Saat itu, Edhi belum benar-benar memahami seluk-beluk industri asuransi. Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia menyadari bahwa perbankan dan asuransi sebenarnya berdiri di atas fondasi yang sama.
People. Trust. Service.
Yang dijual bukanlah produk, melainkan kepercayaan.
“Sekitar 80–90% persoalannya sama. Sama-sama people business,” ujar Edhi.
Kesadaran itu perlahan mengubah rasa ragu menjadi rasa ingin tahu. Ia tak lagi memandang Zurich sebagai lompatan ke industri baru, melainkan sebagai kelanjutan dari perjalanan yang selama ini ia jalani: membangun manusia dan merawat kepercayaan.
Banyak yang mengira perpindahannya didorong oleh jabatan yang lebih tinggi. Padahal, alasan sebenarnya bukan itu.
Sebelum menerima tawaran tersebut, Edhi hanya mengajukan satu pertanyaan.
Bukan soal gaji.
Bukan soal fasilitas.
Bukan pula soal jabatan.
“Apakah saya akan diberi ruang memimpin Indonesia dengan perspektif Indonesia?”
Pertanyaan itu lahir dari pengalaman panjangnya memimpin proses integrasi HSBC dan Bank Ekonomi. Dari sanalah ia belajar bahwa Indonesia bukanlah pasar yang bisa dipahami hanya lewat laporan angka.
“Kalau di Indonesia, kita harus believe dulu, baru nanti kita bisa melihat hasilnya,” kata dia.
Di mata Edhi, Indonesia adalah pasar yang besar, kompleks, sekaligus penuh ketidakpastian. Karena itu, selain modal, dibutuhkan satu hal lain yang tak kalah penting: kesabaran.
Itulah sebabnya ia hanya meminta satu hal kepada Zurich.
Kepercayaan!
Kepercayaan untuk mengambil keputusan.
Kepercayaan untuk menjalankan bisnis sesuai realitas Indonesia.
Kepercayaan bahwa pemimpin lokal mampu menentukan arah perusahaan.
“Kalau saya diberi otonomi, saya yakin local strength dan global expertise bisa dipadukan,” tegas dia.
Keyakinan itulah yang akhirnya membuat Edhi menerima tawaran Zurich. Ia ingin membuktikan bahwa perusahaan global justru bisa tumbuh lebih kuat ketika memberi ruang kepada kepemimpinan lokal.
Namun, ia belum menyadari bahwa kepercayaan tersebut akan segera diuji.
Belum genap dua tahun memimpin Zurich Indonesia, hampir seluruh industri mulai meninggalkan bisnis asuransi kesehatan yang terus merugi.
Edhi mengambil keputusan yang berlawanan.
Keputusan itulah yang kemudian menjadi pertaruhan terbesar dalam perjalanan kariernya.
Ia menghadapi ujian yang mungkin paling berat sepanjang memimpin Zurich.
Bukan datang dari kompetitor.
Bukan pula dari regulator.
Ujian berat datang dari lini bisnis yang mulai ditinggalkan banyak perusahaan: asuransi kesehatan.
Pandemi Covid-19 membuat frekuensi klaim melonjak tajam. Biaya perawatan terus membengkak, sementara inflasi medis melesat jauh lebih cepat dibanding kenaikan premi. Di berbagai negara, banyak perusahaan memilih untuk mengurangi eksposur, menghentikan produk, bahkan keluar sepenuhnya dari bisnis kesehatan.
Zurich Indonesia menghadapi tekanan yang sama. Kerugian yang ditanggung mencapai US$4–5 juta. Dari sudut pandang bisnis, menutup lini usaha tersebut merupakan pilihan yang paling masuk akal.
Toh Edhi melihat persoalannya dari sudut yang berbeda.
“Saya lahir dari keluarga sederhana. Saya tahu kalau kepala keluarga sakit, dampaknya bukan hanya dirasakan satu orang. Seluruh keluarga ikut terkena,” tutur dia.
Atas dasar itu, ia sulit menerima jika bisnis kesehatan hanya diukur dari untung dan rugi. Indonesia masih sangat membutuhkan perlindungan kesehatan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan penetrasi asuransi yang masih rendah, kebutuhan tersebut justru akan terus meningkat.
“Saya bilang, Indonesia berbeda. Hari ini mungkin rugi. Tapi kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan kesehatan tidak akan hilang,” kata Edhi Tjahja Negara.
Keputusan itu tentu saja penuh risiko. Jika gagal, yang dipertaruhkan bukan hanya uang perusahaan, melainkan juga kredibilitasnya sebagai pemimpin.
“Saya sadar, kalau gagal ya saya harus siap dianggap gagal,” ucap dia.
Namun keyakinan saja tidak cukup.
Setelah memperoleh dukungan dari grup, ia mulai membangun fondasi baru. Seluruh organisasi disatukan, kemampuan analisis risiko diperkuat, proses penilaian dan seleksi risiko (underwriting) dibenahi, penetapan premi dievaluasi, kapasitas aktuaria ditingkatkan, ekosistem layanan kesehatan diperluas.
Ironisnya, ketika transformasi sedang berjalan, kondisi industri malah terus memburuk. Tekanan pada 2023 bahkan lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Tekanan datang dari berbagai arah, sementara kerugian belum juga berbalik menjadi keuntungan.
Di tengah situasi tersebut, Edhi mengajak seluruh tim untuk terus melangkah.
Tim underwriting, pemasaran, klaim, hingga operasional bergerak sebagai satu kesatuan. Bukan sekadar mengejar target bisnis, mereka juga ingin membuktikan bahwa keputusan mempertahankan bisnis kesehatan adalah pilihan yang tepat.
“Kalau ini gagal, orang akan bilang orang Indonesia tidak bisa mengambil keputusan sendiri,” tutur dia.
Kalimat itu kemudian menjadi energi yang menyatukan seluruh organisasi.
Edhi menyebut proses tersebut sebagai turning pressure into power (mengubah tekanan menjadi kekuatan).
Perlahan namun pasti, hasilnya mulai terlihat. Memasuki 2025, bisnis kesehatan yang semula dianggap sebagai beban justru berubah menjadi salah satu pilar utama Zurich Indonesia dengan kontribusi sekitar sepertiga dari total portofolio perusahaan. Pengalaman Indonesia bahkan mulai dipelajari oleh Zurich di kawasan Asia Pasifik.
Kesimpulan Edhi, pelajaran terbesar dari perjalanan itu bukan semata-mata keberhasilan bisnis.
“Ketika diberi kepercayaan, kita harus benar-benar menjaganya,” tandas dia.
Ada satu pengalaman yang hingga kini masih membekas dalam ingatan Edhi. Suatu hari ia terjatuh saat menuruni tangga hingga telapak kaki kirinya patah.
“Saking stresnya, saya turun tangga secara tidak sadar,” kenangnya.
Akibat cedera itu, Edhi harus berjalan menggunakan kruk hampir selama setahun.
Peristiwa itu terjadi tak lama setelah Indonesia dilanda krisis moneter 1998. Saat itu, bank tempatnya bekerja memasarkan produk investasi yang kemudian bermasalah ketika pasar keuangan runtuh. Dana nasabah senilai sekitar Rp1,3 triliun pun tertahan.
Secara teknis, persoalan itu bukan sepenuhnya kesalahan bank. Namun di mata nasabah, bank tetap harus bertanggung jawab.
Sebagai pemimpin, Edhi Tjahja Negara memilih berada di barisan paling depan.
Selama hampir satu setengah tahun, ia berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk bertemu para nasabah, menjelaskan situasi yang sebenarnya, sekaligus berusaha menjaga sisa-sisa kepercayaan yang masih ada.
Perjalanan itu jauh dari mudah.
Di Medan, ia pernah ditodong pistol.
Di Surabaya, sebuah meja dibalikkan nasabah yang mengamuk, tepat di hadapannya.
Di Jakarta, ia dipaksa mengikuti pertemuan dengan nasabah yang berlangsung hampir 13 jam, sejak pagi hingga menjelang tengah malam.
“Buat saya, yang paling berat bukan dimarahi. Yang paling berat adalah melihat orang kehilangan kepercayaan,” ujar dia.
Dari pengalaman itulah Edhi memahami bahwa dalam industri jasa, kepercayaan adalah aset yang paling berharga.
Uang bisa dihitung.
Kerugian bisa dicatat.
Namun ketika kepercayaan hilang, membangunnya kembali bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Setelah badai itu berlalu, ia menyadari satu hal yang mengubah cara pandangnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika harus menghadapi persoalan investasi lain senilai Rp300 miliar, ia bisa menghadapinya dengan lebih tenang.
“Dulu saya pernah menghadapi persoalan Rp1,3 triliun. Jadi, ketika menghadapi Rp300 miliar, saya tahu ini masih bisa diselesaikan,” katanya.
Di situlah ia menemukan makna sebenarnya dari enlarge capacity (memperbesar kapasitas diri).
Kesulitan bukan membuat persoalan menjadi lebih kecil.
Sebaliknya, kesulitan memperbesar kapasitas seseorang sehingga persoalan yang sama tidak lagi terasa sebesar sebelumnya.
Karena itulah, menurut Edhi, banyak orang keliru ketika berharap hidup menjadi lebih mudah.
Yang sebenarnya mereka butuhkan bukan tantangan yang lebih kecil, melainkan kapasitas yang lebih besar.
Today’s challenge is tomorrow’s strength.
Setiap tantangan yang dijalani dengan benar sesungguhnya sedang membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih kuat.
Setelah lebih dari tiga dekade meniti karier, Edhi Tjahja Negara sampai pada sebuah keyakinan bahwa kesuksesan tidak lahir dari satu keputusan besar, tetapi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijalani secara konsisten.
Dalam banyak hal, ia percaya keberhasilan memang bisa dipengaruhi keberuntungan. Namun keberuntungan tidak pernah datang kepada mereka yang tidak siap.
Fortune favors the prepared mind.
Keberuntungan berpihak kepada pikiran yang siap.
“Saya tidak lahir dengan banyak modal. Jadi, satu-satunya yang bisa saya persiapkan adalah cara berpikir,” ujarnya.
Dari keyakinan itulah lahir lima prinsip hidup yang hingga kini terus ia pegang, yaitu See It Clearly, Hopeful, Inspire Yourself, Never Give Up, dan Enlarge Capacity.
Edhi Tjahja Negara percaya, yang membatasi karier seseorang bukanlah kurangnya peluang, melainkan kapasitas dirinya sendiri.
Setiap perpindahan kota, setiap krisis, setiap tekanan, sesungguhnya sedang memperbesar kemampuan seseorang untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.
“Ternyata Tuhan mempersiapkan saya lewat hal-hal yang dulu saya anggap menyusahkan,” kata dia.
Bagi Edhi, jabatan hanyalah konsekuensi dari proses bertumbuh. Yang jauh lebih penting adalah terus berkembang sebagai manusia.
Karena itu, ambisi terbesarnya hari ini bukan sekadar menjadikan Zurich Indonesia sebagai perusahaan asuransi terbesar atau paling menguntungkan.
Ia ingin membangun sebuah leadership factory.
Organisasi yang terus melahirkan pemimpin-pemimpin baru.
Dalam pandangan Edhi, tugas seorang CEO bukan lagi memimpin semua orang secara langsung. Perannya adalah leading through leaders— memimpin melalui para pemimpin.
“Kalau semua keputusan selalu diambil CEO, kapan para pemimpin baru akan belajar?!” kata dia.
Karena alasan itulah, ia lebih memilih memberi ruang kepada anggota timnya untuk mencoba, meski tak jarang harus menghadapi kegagalan.
Edhi mafhum bahwa kepercayaan akan melahirkan rasa tanggung jawab.
Dan dari tanggung jawab itulah lahir para pemimpin.
Cara pandang ini berangkat dari keyakinannya bahwa everything rises and falls because of leadership.
Segala sesuatu naik dan turun karena kepemimpinan.
Produk bisa ditiru.
Strategi bisa disalin.
Teknologi bisa dibeli.
Namun organisasi hanya akan bertahan jika memiliki kepemimpinan yang sehat.
Edhi paham betul bahwa organisasi yang sehat dibangun di atas kepercayaan. Orang-orang di dalamnya berani menyampaikan pendapat, tidak takut mengakui kesalahan, dan terus belajar.
Organisasi yang sehat akan selalu menjadi lebih cerdas.
“Healthy organization always gets smarter.”
Bagi Edhi, warisan terbesar seorang CEO bukanlah gedung, bukan pula laba perusahaan.
Warisan sesungguhnya adalah manusia.
Ia ingin suatu hari nanti Zurich dipimpin oleh orang-orang yang bahkan lebih baik daripada dirinya.
“Itulah yang masih saya kejar sampai sekarang,” ujarnya.
Di tengah dunia korporasi yang kerap disibukkan oleh target pertumbuhan dan keuntungan, Edhi justru lebih sering berbicara tentang sesuatu yang berbeda.
Meaning.
Makna.
Tugas seorang CEO bukan hanya menciptakan uang (create money), tetapi juga menciptakan makna (create meaning).
“Kalau sebagian besar hidup seseorang dihabiskan di kantor, tetapi pekerjaannya tidak punya makna, berarti sebagian besar hidupnya juga kehilangan makna,” tutur dia.
Barangkali karena itulah ia memiliki cara pandang yang berbeda tentang kesuksesan.
“Success is not a destination. Success is a journey.”
Kesuksesan bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Selama seseorang masih diberi kesempatan untuk belajar, membantu orang lain bertumbuh, dan memperbaiki organisasi, selama itu pula perjalanan tersebut masih terus berlangsung.
Ia juga percaya bahwa hidup yang utuh adalah hidup yang mampu mempertemukan tiga hal sekaligus.
Keluarga.
Karier.
Kontribusi bagi masyarakat.
Karena itu, Edhi tidak pernah memandang work-life balance sebagai pembagian waktu yang kaku antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Baginya, keseimbangan lebih menyerupai jungkat-jungkit yang terus bergerak mengikuti kebutuhan.
Keseimbangan itulah yang menjadi kekuatan hidup.
“Balance is the strength of life,” tegasnya.
Di luar kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan, Edhi menikmati hal-hal yang sederhana.
Berlari.
Membaca.
Cedera lama membuatnya tak lagi mampu mengikuti maraton penuh. Namun, half marathon sudah lebih dari cukup untuk memberinya ruang berpikir sekaligus menikmati proses.
Sementara itu, buku-buku sejarah dan psikologi menjadi teman yang membantunya memahami pola-pola yang terus berulang dalam kehidupan.
“History always repeats itself.”
Namun, menurut Edhi, pelajaran terpenting tetaplah tentang manusia.
Produk akan terus berubah.
Teknologi akan terus berkembang.
Tetapi kebutuhan manusia untuk dipercaya, dihargai, dan didengar tidak pernah berubah.
Itulah sebabnya, setelah lebih dari tiga puluh tahun berkarier, ia menyadari bahwa sejak awal, ia sesungguhnya menggeluti pekerjaan yang selalu sama.
Bukan mengelola produk.
Bukan mengejar angka.
“Yang saya kerjakan adalah membangun kepercayaan dan mengembangkan manusia,” tuturnya.
Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjalanan karier Edhi Tjahja Negara.
Dari perbankan hingga asuransi.
Dari krisis moneter hingga pandemi.
Dari ancaman pistol hingga keputusan mempertahankan bisnis kesehatan.
Semua pengalaman itu membentuk satu keyakinan yang tak pernah berubah.
Bahwa setiap tekanan selalu menyimpan kesempatan untuk bertumbuh.
Bahwa setiap kesulitan sedang memperbesar kapasitas diri.
Dan bahwa tantangan hari ini, pada akhirnya, akan menjadi kekuatan untuk menghadapi hari esok.
Today’s challenge is tomorrow’s strength.
Berikut petikan lengkap wawancara Edhi Tjahja Negara dengan jurnalis investortrust.id, Bagus Kasanjanu, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di kantornya, belum lama ini:
Bagaimana perjalanan karier Anda hingga akhirnya memimpin Zurich Indonesia?
Saya mengawali karier di dunia perbankan dan menghabiskan hampir 28 tahun di industri itu. Setelah lulus dari Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Jember, saya bergabung sebagai management trainee. Waktu itu saya masih membawa idealisme sebagai aktivis kampus, tetapi pada saat yang sama saya sadar harus segera mandiri.
Perjalanan karier kemudian membawa saya berpindah-pindah, baik antarperusahaan maupun antarkota. Delapan tahun terakhir sebelum bergabung dengan Zurich saya berkarier di HSBC Indonesia, terutama memimpin proses integrasi setelah akuisisi Bank Ekonomi.
Kalau dipikir lagi, masuk ke industri asuransi benar-benar tidak pernah ada dalam rencana saya. Kesempatan itu datang begitu saja, out of the blue. Zurich menjadi pengalaman pertama saya bekerja di luar industri perbankan.
Apa yang membuat Anda menerima tawaran Zurich?
Jawabannya sangat personal.
Pengalaman memimpin integrasi di perbankan membuat saya melihat bahwa perusahaan global umumnya memiliki sistem yang sangat kuat. Namun, belum tentu mereka memahami karakter pasar Indonesia secara utuh.
Karena itu, ketika Zurich datang, pertanyaan pertama saya bukan soal jabatan ataupun kompensasi.
Saya hanya ingin tahu satu hal: Apakah Indonesia diberi ruang untuk mengambil keputusan sendiri?
Saya percaya Indonesia adalah pasar yang unik. Cara berpikir I see, I believe tidak selalu berlaku di sini. Justru kita harus percaya lebih dulu terhadap potensinya, baru kemudian melihat hasilnya.
Saya masih memegang idealisme bahwa perusahaan global dan kepemimpinan lokal seharusnya saling melengkapi. Itulah alasan utama saya menerima tawaran tersebut.
Menurut Anda, apa kesamaan industri perbankan dan asuransi?
Banyak orang menganggap keduanya sangat berbeda. Setelah hampir lima tahun berada di industri asuransi, saya justru melihat sekitar 80–90% tantangannya sama.
Keduanya adalah people business.
Yang kita jual bukan barang, melainkan jasa dan kepercayaan.
Kalau kita mampu memahami manusia, saya yakin kita juga akan lebih mudah memahami bisnisnya.
Keputusan paling berat yang pernah Anda ambil selama memimpin Zurich?
Mempertahankan bisnis asuransi kesehatan.
Setelah pandemi, lini bisnis ini mengalami tekanan yang sangat besar. Banyak perusahaan memilih keluar karena dinilai sudah tidak lagi menguntungkan.
Kami pun mengalami kerugian sekitar US$4–5 juta.
Namun saya tetap percaya Indonesia membutuhkan perlindungan kesehatan. Jumlah penduduk kita sangat besar, sementara penetrasi asuransi masih rendah. Karena itu, saya meminta kesempatan kepada grup untuk tetap mempertahankan bisnis ini.
Syukurlah, saya diberi kepercayaan.
Apa yang pertama kali Anda lakukan setelah perusahaan memutuskan untuk mempertahankan bisnis kesehatan?
Pertama adalah memperkuat keyakinan.
Saya lahir dari keluarga sederhana di Kediri. Saya tahu betul bagaimana dampaknya ketika ada anggota keluarga yang sakit. Bukan hanya satu orang yang terdampak, tetapi seluruh keluarga.
Makanya saya yakin bisnis ini harus dipertahankan.
Setelah keyakinannya kuat, barulah kami bekerja sangat detail. Kami memperbaiki underwriting, memperkuat analisis risiko, meningkatkan kapasitas organisasi, hingga membangun ekosistem kesehatan yang lebih kokoh.
Keyakinan harus berjalan bersama eksekusi.
Pernah merasa bahwa keputusan itu akan gagal?
Tentu pernah.
Bahkan tahun 2023 jauh lebih berat dibandingkan 2022. Tekanan yang kami hadapi luar biasa besar.
Kalau pada akhirnya saya dianggap gagal sebagai CEO, saya sudah siap menerima konsekuensinya.
Tetapi saya tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa keputusan tersebut benar.
Menariknya, tekanan itu justru menyatukan seluruh tim. Semua bergerak dengan tujuan yang sama.
Hari ini bisnis kesehatan menjadi salah satu pilar utama Zurich Indonesia, bahkan mulai menjadi perhatian kawasan Asia Pasifik.
Filosofi Anda ketika menghadapi tekanan?
Ada satu kalimat yang selalu saya ulang, baik kepada tim, keluarga, maupun kepada diri sendiri.
Today’s challenge is tomorrow’s strength.
Tantangan hari ini adalah kekuatan masa depan.
Saya percaya tidak ada masa depan yang kuat tanpa tantangan yang juga besar. Justru melalui tantangan itulah kapasitas kita dibentuk. Semakin berat ujian yang dihadapi hari ini, semakin besar bekal yang kita miliki untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Kalimat itu selalu saya pegang setiap kali berada dalam masa-masa sulit.
Tantangan terbesar yang pernah Anda hadapi sepanjang karier?
Saat masih bekerja di perbankan, saya pernah menghadapi persoalan investasi yang melibatkan dana nasabah sekitar Rp1,3 triliun.
Itu mungkin tekanan terbesar dalam perjalanan karier saya.
Selama berbulan-bulan saya berkeliling menemui nasabah di berbagai kota. Di Medan saya pernah ditodong pistol. Di Surabaya meja dibalik tepat di depan saya. Di Jakarta saya harus bertahan hampir seharian menghadapi nasabah yang marah.
Tekanan itu begitu besar hingga tanpa saya sadari memengaruhi kondisi fisik. Suatu hari saya terjatuh saat menuruni tangga dan telapak kaki kiri saya patah.
Saya harus menggunakan kruk hampir selama satu tahun.
Namun dari pengalaman itu saya belajar bahwa dalam bisnis jasa, kepercayaan adalah segalanya.
Saya juga semakin yakin bahwa risk management tidak pernah boleh ditawar.
Pelajaran paling berharga yang Anda petik?
Saya belajar bahwa ketakutan terbesar sering kali justru menjadi sumber kekuatan terbesar.
Setelah pernah menghadapi persoalan senilai Rp1,3 triliun, ketika beberapa tahun kemudian saya harus menangani persoalan yang nilainya jauh lebih kecil, saya bisa menghadapinya dengan lebih tenang.
Bukan karena masalahnya menjadi ringan.
Tetapi karena kapasitas saya sudah bertambah.
Dari situlah saya memahami bahwa setiap kesulitan sebenarnya sedang memperbesar kapasitas seseorang.
Itulah alasan mengapa saya selalu mengatakan bahwa tantangan hari ini akan menjadi kekuatan di masa depan.
Anda percaya pada keberuntungan?
Saya selalu memegang kalimat: Fortune favors the prepared mind.
Bagi saya, keberuntungan berpihak kepada mereka yang mempersiapkan cara berpikirnya.
Saya bukan berasal dari keluarga yang memiliki banyak modal. Saya lahir dan besar di Kediri, kota yang sederhana.
Karena itu, saya merasa satu-satunya hal yang benar-benar bisa saya persiapkan adalah pola pikir saya.
Dari keyakinan itulah kemudian lahir lima prinsip hidup yang sampai hari ini masih saya pegang.
Bisa dijelaskan kelima prinsip tersebut?
Prinsip pertama yaitu See It Clearly.
Segalanya dimulai dari kemampuan melihat kenyataan dengan jernih.
Bagi saya, bukan tindakan yang paling menentukan, melainkan cara kita memahami persoalan.
Contohnya ketika hendak kuliah. Saya sadar kemampuan saya biasa saja. Persaingan masuk universitas favorit sangat ketat, sementara biaya kuliah di perguruan tinggi swasta yang bagus juga tidak murah.
Saya menerima realitas itu, lalu mencari pilihan terbaik yang sesuai dengan kondisi saya.
Prinsip kedua adalah Be Hopeful.
Saya percaya manusia pada dasarnya hanya terbagi menjadi dua kelompok: mereka yang masih memiliki harapan dan mereka yang sudah kehilangan harapan.
Saya sering memberi contoh yang sederhana.
Kalau melihat donat, orang yang penuh harapan akan berkata, “Wah, enak.”
Sebaliknya, orang yang pesimistis justru sibuk mengomentari lubang di tengahnya.
Donatnya sama.
Yang berbeda hanyalah cara melihatnya.
Jadi, optimisme itu bukan berarti mengabaikan kenyataan, tetapi memilih melihat peluang ketika orang lain hanya melihat hambatan.
Prinsip ketiga yaitu Inspire Yourself.
Motivasi dari luar tentu penting, tetapi biasanya tidak bertahan lama.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menemukan alasan untuk terus bergerak dari dalam diri sendiri.
Saya anak pertama dari empat bersaudara.
Sejak muda saya merasa memiliki tanggung jawab terhadap keluarga.
Kesadaran itu sudah cukup menjadi sumber energi yang terus mendorong saya sampai hari ini.
Prinsip keempat adalah Never Give Up.
Selama kita belum menyerah, kesempatan selalu ada.
Saya berkali-kali gagal.
Saya juga berkali-kali melakukan kesalahan.
Tetapi saya percaya kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
Yang penting jangan mengulang kesalahan yang sama, apalagi kesalahan yang mendasar.
Prinsip kelima yaitu Enlarge Capacity.
Perbesar kapasitas diri.
Ketika masih muda saya sering dipindahkan ke berbagai kota. Saat itu rasanya berat. Namun sekarang, ketika melihat ke belakang, saya baru menyadari bahwa semua pengalaman itu sebenarnya sedang mempersiapkan saya untuk memimpin organisasi yang jauh lebih besar.
Arti sukses bagi Anda?
Saya tidak pernah memandang sukses sebagai garis akhir.
Bagi saya, sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan.
Success is not a destination. Success is a journey.
Selama saya masih bisa bangun pagi, masih diberi kesempatan bekerja, dan masih bisa belajar, berarti perjalanan itu belum selesai.
Karena itu, saya tidak pernah merasa sudah sampai.
Saya hanya sedang melangkah.
Kalau begitu, bagaimana Anda mendefinisikan kesuksesan?
Saya percaya hidup yang baik adalah hidup yang mampu mempertemukan tiga hal sekaligus.
Keluarga.
Karier.
Kontribusi kepada masyarakat.
Ketiganya tidak boleh saling meniadakan.
Itulah sebabnya, saya percaya bahwa keseimbangan adalah kekuatan hidup.
Saya tidak mengatakan semuanya harus mendapat porsi yang sama setiap hari. Dalam kenyataannya, ada masa ketika pekerjaan menuntut lebih banyak perhatian, ada juga saat keluarga harus menjadi prioritas.
Yang penting, jangan sampai salah satunya hilang.
Legasi yang ingin Anda bangun di Zurich?
Saya ingin membangun organisasi yang sehat.
Banyak orang bertanya bagaimana menjadi perusahaan terbaik.
Saya justru lebih tertarik bertanya bagaimana membangun organisasi yang sehat.
Karena organisasi yang sehat akan selalu memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Ketika ada kepercayaan, orang berani belajar.
Kalau orang terus belajar, organisasi akan ikut bertumbuh.
Hari ini tugas saya bukan lagi memimpin semua orang secara langsung.
Saya memimpin melalui para pemimpin.
Makanya saya ingin Zurich menjadi leadership factory.
Saya ingin organisasi ini terus melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang suatu hari nanti bahkan lebih baik dari saya.
Kalau itu bisa terjadi, saya merasa telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekadar angka-angka kinerja.
Obsesi yang masih ingin Anda wujudkan?
Masih sama.
Membangun leadership factory.
Saya ingin meninggalkan organisasi yang dipenuhi pemimpin-pemimpin baru.
Kalau suatu hari Zurich dipimpin oleh orang-orang yang lebih hebat daripada saya, saya justru akan merasa berhasil.
Bagi saya, itulah warisan seorang pemimpin.
Bagaimana Anda memaknai work-life balance?
Saya tidak pernah melihat work-life balance sebagai sesuatu yang statis.
Saya lebih suka mengibaratkannya sebagai permainan jungkat-jungkit.
Ketika pekerjaan sedang membutuhkan saya, tentu saya harus lebih banyak berada di kantor.
Sebaliknya, ketika keluarga membutuhkan saya, saya juga harus hadir sepenuhnya.
Semuanya bergerak secara dinamis.
Yang penting, keseimbangannya tetap terjaga.
Karena saya percaya, balance is the strength of life.
Kegiatan Anda pada akhir pekan?
Sederhana.
Saya berlari.
Cukup memakai sepatu, lalu mulai berlari.
Saya menikmati aktivitas itu karena di sanalah saya bisa benar-benar berdialog dengan diri sendiri.
Selain itu, saya juga senang membaca.
Jenis buku yang paling sering Anda baca?
Belakangan ini saya lebih banyak membaca buku sejarah dan psikologi.
Menurut saya, sejarah penting karena mengajarkan bahwa banyak peristiwa sebenarnya terus berulang.
Sementara psikologi membantu saya memahami manusia.
Pada akhirnya, apa pun bisnisnya, yang kita hadapi setiap hari adalah manusia.
Kalau kita memahami manusia, kita akan lebih mudah memimpin organisasi, melayani pelanggan, maupun membangun sebuah perusahaan.
Jika seluruh perjalanan hidup Anda harus dirangkum dalam satu kalimat, kalimat apa yang Anda pilih?
Saya rasa saya akan kembali pada kalimat yang sudah saya pegang selama lebih dari tiga puluh tahun bekerja.
Today’s challenge is tomorrow’s strength.
Saya selalu menemukan pola yang sama dalam hidup.
Setiap tantangan yang saya hadapi pada akhirnya menjadi bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Karena itu, saya tidak pernah terlalu takut pada kesulitan.
Justru saya percaya, setiap tantangan hari ini sedang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat untuk hari esok. ***
BIODATA
Nama: Edhi Tjahja Negara.
Tempat/tanggal lahir: Kediri, 19 Agustus 1969.
Pendidikan:
Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan - Universitas Negeri Jember.
Karier:
* 2022 – sekarang: Country Manager & CEO PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk.
* 2020–2022: Director of Wealth & Personal Banking PT Bank HSBC Indonesia.
* 2016–2020: Head of Network PT Bank HSBC Indonesia.
* 2013–2016: Sales & Distribution Head PT Bank Maybank Indonesia Tbk.
* 2010–2013: Head of Region Jakarta PT Bank Permata Tbk.
* 2008–2010: National Sales Head ABN AMRO Bank.
* 2007–2010: Region Head Up Country & Direct Sales Acquisition, Branch Banking Management ABN AMRO Bank.
* 2005–2007: Branch Manager Surabaya ABN AMRO Bank.
* 2003–2005: Branch Manager Manado ABN AMRO Bank.
* 2000–2003: Commercial Relationship Manager Surabaya ABN AMRO Bank.
* 1994–1999: Account Officer (AO) – Senior AO – Assistant Senior Credit Officer PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Surabaya, Pontianak, Balikpapan).
