“Bang Rizal, Tugasmu Sudah Selesai”
JAKARTA, Investortrust.id — “Sudahlah, Zal. Tugasmu sudah selesai! Indonesia akan baik-baik saja. Karena rakyat sudah kuat. Jadi, kamu tenang saja,” kata Dhitta Puti Sarasvati, putri sulung Dr Rizal Ramli menirukan kata-kata seorang sahabat yang berkunjung ke RS Cipto sebelum Almarhum mengembuskan nafas yang terakhir.“Kata-kata sahabatnya itu mungkin cukup mengena, sehingga sekitar dua jam kemudian, Bapak pergi untuk selamanya,” sambung Dhitta saat menyampaikan kata sambutan usai acara penguburan almarhum ayahnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Kamis (04/01/2024).
Diiringi rintik hujan, ratusan orang datang ke lokasi pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Usai Dhitta, tokoh Malari, Hariman Siregar memberikan testimoni tentang Rizal. Tidak ada satu pun pejabat aktif yang tertangkap mata Investortrust.id. SelainHariman Siregar dan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang didaulat untuk memimpin doa, tampak sejumlah aktivis seperti Rocky Gerung, Refly Harun, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki, para wartawan senior, dan masyarakat umum.
Meski ia pernah menjadi pejabat negara —di antaranya Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya (kini Menko Kemaritiman dan Investasi— Red), Rizal lebih menampilkan diri sebagai seorang aktivis. Salah satu ciri khas seorang aktivis adalah selalu menyuarakan aspirasi wong cilik dan kepentingan umum tanpa tedeng aling-aling. Aspirasi rakyat itu disampaikan dengan lugas, lempang, tanpa filter dengan tujuan agar pesan bisa dipahami apa adanya.
Namun, pandangan yang disampaikan secara straight forward tidak selamanya bagus di dunia politik. Dalam politik pandangan seseorang tidak boleh disampaikan secara hitam-putih. Kadang, sikap dan padangan seorang politisi harus abu-abu agar tidak mudah terbaca. Rizal tak pernah bersedia untuk ikut di salah satu partai walau pada tahun 2018, ia pernah mencanangkan tekad untuk ikut pemilihan presiden.
“Saya ingin bergerak bersama rakyat saja,” katanya kepada Investortrust.id pada suatu kesempatan. Rizal paham, niatnya untuk menjadi calon presiden (capres) akan tetap menjadi capres selama ada ketentuan presidential threshold (PT). Capres dan cawapres hanya bisa diusung oleh partai dan gabungan partai. Partai manakah yang bersedia mengusung mantan aktivis mahasiswa ITB itu?
Baca Juga
Rizal Ramli, sang Lokomotif Perubahan yang Dicintai Semua Kalangan
Rizal mengembuskan nafas terakhir di RS Cipto Mangunkusumo, Selasa (02/01/2024), pukul 19.30 WIB pada usia 69 tahun. Tak banyak yang mengetahui keberadaan pria kelahiran Padang, 10 Desember 1954 itu. “Berita kematian ayah saya menimbulkan pertengkaran di antara sahabatnya. Penyebab utama adalah karena mereka tidak pernah mendengar ayah saya sakit,” jelas Dhitta.
Pertemuan terakhir Investortrust.id dan Rizal terjadi pada 28 September 2023 saat peluncuran buku biografi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Waktu itu, fisiknya sudah jauh menurun. Dari keluarga dekatnya diketahui, Rizal mengidap penyakit diabetes dan pankreas. Tapi, semangat aktivis ITB tahun 1976-1977 itu jauh melampaui kekuatan fisiknya. Sebelum masuk rumah sakit, ia masih menghadiri diskusi di sejumlah podcast.
Jelang masuk rumah sakit, kata Dhitta, ayahnya sedang merampungkan sebuah buku berjudul “Memilih Indonesia”. Kecintaan terhadap Indonesia itulah yang mendorong Rizal memilih RS Cipto. “Saya akhirnya lebih memahami mengapa ayah saya memilih RS Cipto, bukan rumah sakit di Singapura,” jelas Dhitta.
Sepanjang Rabu (03/01/2024), demikian Dhitta, banyak tamu yang melayat Pak Rizal. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan paling kanan dalam keagamaan hingga paling kiri,pejabat tinggi selevel menteri hingga rakyat jelata, kalangan pengusaha sukses hingga masyarakat miskin. “Yang membuat saya gembira adalah peristiwa Rabu malam. Karena yang datang melayat adalah rakyat biasa. Mereka yang selama ini merasa dibantu oleh Bapak. Itu yang membuat saya sangat senang,” jelas Dhitta.
Dhitta mengaku, kepergian ayahnya membuat dirinya sangat terpukul. Tapi, pada saat yang sama dirinya juga bersyukur karena melihat begitu banyak orang dari berbagai kalangan datang memberikan penghormatan terakhir. Meski memiliki prinsip yang kokoh, pergaulan ayahnya menembus batas. Ia berteman dengan semua kalangan. Perbedaan prinsip tidak boleh mengorbankan persahabatan.
Baca Juga
Sri Mulyani Apresiasi Kontribusi Rizal Ramli, Kenang Kelakar Soal Sepatu Hijau
Sosok sang ayah, kata Dhitta, sering disalahpahami oleh orang lain. Ayahnya dikesankan sebagai figur yang tidak sabar. “Kalau dari penampilan luar orang menilai ayah saya tidak sabar. Tapi, kami menilai ayah orang yang sangat sabar, khususnya dalam perjuangan,” ujarnya.
Selama hidupnya, obsesi Rizal hanya satu. Ia ingin melihat Indonesia ke depan lebih baik. Itu sebabnya, ia mencermati penyelenggaraan negara dan mengkritik tanpa ampun kepada setiap pejabat yang melanggar konstitusi, antidemokrasi, melakukan tindak pidana korupsi, mengembangkan nepotisme, dan membuat kebijakan yang merugikan rakyat.
Saat menjadi anggota Kabinet Kerja sebagai Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, 12 Agustus 2015 hingga 27 Juli 2016, mantan mahasiswa Jurusan Fisika ITB itu tetap memberikan kritik kepada pemerintah. Meski ia adalah bagian dari pemerintahan, ia tetap melancarkan kritik kepada pejabat negara yang merangkap menjadi pengusaha.
“Yang paling berbahaya adalah ‘peng-peng’, penguasa yang juga merangkap pengusaha. Kebijakan yang diambil pengepeng pasti merugikan rakyat,” kata Rizal kepada Investortrust.id. Salah satu kebijakan yang dikritik keras oleh Rizal adalah proyek pembangunan listrik 35.000 MW yang kemudian terbukti menimbulkan oversupply dan itu merugikan negara. Karena PLN harus membeli listrik yang dibangun swasta pada harga yang sudah disepakati.
Dhitta mengaku sedih bercampur gembira. Karena ayahnya sudah memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara. Hingga akhir hayat, ayahnya masih memikirkan masa depan bangsa. “Saya senang dengan doa Pak Din Syamsuddin (mantan ketua umum PP Muhammadiyah - Red) yang tidak saja mendoakan ayah saya, tapi juga mendoakan bangsa dan negara Indonesia agar ke depan lebih baik. Doa itu benar-benar sesuai dengan perjuangan ayah saya selama hidupnya,” jelas Dhitta.
Generasi Emas
Hariman Siregar menilai Rizal dan rekan-rekan aktivis dari ITB pada tahun 1976-1978 adalah generasi emas pada masanya. Mereka berani mengambil risiko dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan perjuangan mereka tetap konsisten hingga akhir hayat.
Pada Januari 1978, kata Hariman, dirinya pernah diminta oleh Rizal dan rekan-rekan untuk berorasi di ITB. “Selain Rizal, ada Herry Achmadi, Indro Tjahjono, dan Hilal. Mereka minta saya bicara di ITB,” kenang tokoh Malari itu.
“Saya mau bercampur ragu karena saya baru saja keluar dari penjara. Saya tantang mereka. Oke, saya bersedia ke ITB asalkan ada spanduk besar yang tegas: Turunkan Soeharto. Mereka menyanggupi dan saya pun datang. Saya menyebut mereka adalah generasi emas di zamannya,” jelas Hariman.
Hariman menilai Rizal dan rekan-rekan bukan pribadi yang cengeng. Mereka tetap tegar dalam perjuangan hingga Soeharto jatuh tahun Mei 1998. “Saya bersaksi, meski diberikan jabatan menteri, Rizal dan rekan-rekannya tidak menilai jabatan itu segalanya. Yang terpenting bagi mereka adalah Indonesia berada di atas rel demokrasi dan yang menjunjung tinggi rule of law menuju Indonesia sejahtera,” papar Hariman.
Setelah aksi demo menentang Soeharto, Rizal dan teman-teman ditangkap dan dipenjara di LP Sukamiskin, Bandung. Rizal kemudian ke AS, studi ekonomi di Boston University hingga selesai tahun 1990. Bersama sejumlah rekan, ia mendirikan ECONIT Advisory Group, sebuah lembaga pengkajian masalah ekonomi, khususnya dampak kebijakan pemerintah terhadap sektor-sektor ekonomi, bisnis, dan keuangan. Ia kemudian mendirikan Komite Bangkit Indonesia.
Meski pernah menduduki jabatan di sejumlah pos penting di pemerintah, lembaga pemerintah, dan BUMN, Rizal adalah sosok yang bertumbuh dari keluarga jelata yang menderita kesulitan ekonomi. Setelah ditinggalkan ibu di usia 6 tahun, ia kehilangan ayah pada usia 8. Pada usia kelas III SD, Rizal sudah menyandang predikat yatim-piatu dan ia harus hidup dengan kakek-neneknya di Bogor. Ayah Rizal seorang pegawai pemerintah keturunan Padang, sedang ibu adalah seorang guru keturunan Sunda.
Kesulitan ekonomi justru membentuk seorang Rizal yang tangguh. Jauh dari sikap manja apalagi cengeng. Rizal adalah petarung sejati! Ketika diterima di Jurusan Fisika ITB, Rizal meminta izin kepada Rektor Kampus Ganesha itu agar dirinya bekerja sambil kuliah. Dengan kemahirannya dalam berbahasa Inggris, ia menjadi penerjemah di sebuah penerbitan. “Saya minta agar saya bisa diikutkan dalam setiap ujian walau saya tidak kuliah setiap hari. Rektor mengabulkan permohonan dan saya lulus di setiap ujian,” kata Rizal pada suatu hari kepada Investortrus.id.
Rizal bukan saja kuliah sambil bekerja, tapi juga sambil berdemo. Kegiatan belajar, bekerja, berdiskusi tentang masa depan bangsa, dan berdemo menentang kezaliman penguasa membentuk Rizal menjadi sosok yang paripurna dalam penguasaan ilmu pengetahuan, sosok yang kokoh-kuat dalam prinsip dan kecintaan terhadap NKRI.
Hingga akhir hayat, Rizal memilih Indonesia. Ia memilih dirawat dan mati di RS Cipto dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, pemakaman para jelata.
Tak ada yang bisa dibawa pergi ke alam baka selain perbuatan baik kepada sesama. Dan Bung “RR”, Rizal Ramli, sudah menunjukkannya.
Perjuangan RR sudah selesai, tapi tidak demikian dengan perjuangan bangsa. Indonesia tidak sedang baik-baik saja, apalagi dilihat darı perjuangan mewujudkan generasi emas 2045. Banyak “PR” harus diselesaikan, baik di bidang ekonomi maupun di bidang politik.
Kiranya Allah YME menerima Bang Rizal dalam Firdaus Abadi. Amin.

