Alan Greenspan, sang Maestro yang Mengubah Dunia dengan Kata-Kata
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Ada orang yang dikenang karena kebijakan yang dibuatnya. Ada pula yang diingat karena keberaniannya mengambil keputusan. Alan Greenspan dicatat sejarah karena sesuatu yang jauh lebih langka, yaitu kemampuannya membuat pasar keuangan dunia terguncang, hanya dengan kata-kata!
Ya, kalimat yang dilontarkan Grenspan saat ia menjabat sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) bisa membuat pasar langsung gonjang-ganjing. Sebaliknya, kata-katanya juga bisa membuat pasar yang sedang bergolak, reda seketika.
Tak berlebihan jika banyak yang menyebut pada puncak kariernya, setiap jeda, intonasi, hingga pilihan kata-kata Greenspan menjadi komoditas paling mahal di pasar keuangan global. Para investor, bankir, hingga kepala negara membaca pidato Alan Greenspan tak ubahnya menerka arah kompas ekonomi dunia.
Sang Maestro telah berpulang. Mantan nakhoda Bank Sentral Amerika Serikat (AS) itu meninggal dunia pada usia 100 tahun akibat komplikasi penyakit Parkinson. Greenspan mengembuskan napas terakhir di kediamannya, Senin (22/6/2026). Kabar duka disampaikan istrinya, Andrea Mitchell, jurnalis senior NBC News yang telah mendampinginya selama hampir tiga dekade.
Baca Juga
Rupiah Lanjutkan Pelemahan, Investor Soroti Sinyal Hawkish The Fed
"Dia adalah sosok raksasa yang membantu membentuk ekonomi Amerika selama beberapa dekade di bawah presiden dari kedua partai, tetapi selalu jujur mengakui kesalahannya," ujar Mitchell.
Kalimat itu seolah merangkum perjalanan seorang ekonom yang selama hampir dua dekade menjadi wajah kebijakan moneter AS.
Alan Geenspan menakhodai The Fed setelah ditunjuk Presiden Ronald Reagan pada 1987. Selama 19 tahun (1987-2006), pria kelahiran 6 Maret 1926 itu bertahan melewati empat pemerintahan: Ronald Reagan, George HW Bush, Bill Clinton, hingga George W Bush. Alhasil, Greenspan menjadi salah satu ketua Fed dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah.
Di balik meja kerjanya, ia menghadapi berbagai episode ekonomi paling menentukan: gejolak pasar saham, ledakan ekonomi era teknologi, hingga berbagai tekanan yang menguji stabilitas sistem keuangan Amerika.
Namun, di atas semua itu, Greenspan membangun reputasi yang hampir menyerupai mitos. Ia dikenal berbicara panjang, berbelit, bahkan kerap membingungkan. Banyak anggota Kongres, ekonom, maupun wartawan mengaku harus membaca ulang pidatonya berkali-kali untuk memahami maksud sesungguhnya.
Baca Juga
Sinyal The Fed Guncang Pasar, Ini 5 Pesan Penting dari Rapat Perdana Era Kevin Warsh
Ternyata, itu memang disengaja. Setelah pensiun, Greenspan mengakui bahwa diksi dan gaya bicara yang rumit merupakan strategi untuk menghindari memberikan sinyal yang terlalu jelas kepada pasar.
"Bahasa yang sengaja dibuat kabur adalah cara untuk menghindari pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa dijawab. Mengatakan 'tidak berkomentar' justru merupakan sebuah jawaban," tutur Greenspan dalam wawancara dengan CNBC pada 2007.
Ironisnya, semakin sulit dipahami ucapannya, semakin besar perhatian dunia terhadap setiap kata yang keluar dari mulutnya. Fenomena itu digambarkan dengan sangat tepat oleh Washington Post pada 1997.
"Setelah presiden, Alan Greenspan bisa dibilang orang paling berkuasa di negara ini. Dengan beberapa kata pilihan, ia dapat seketika mengirim pasar saham ke surga atau neraka.”
Julukan sang "Maestro" pun lahir bukan tanpa alasan. Salah satu momen paling legendaris terjadi pada 5 Desember 1996. Dalam pidato mengenai tantangan kebijakan moneter, Greenspan melontarkan istilah yang kemudian menjadi bagian dari sejarah ekonomi dunia: irrational exuberance atau "euforia irasional".
Greenspan mempertanyakan apakah harga aset telah terdorong terlalu tinggi akibat optimisme yang berlebihan. Hanya dengan satu frasa itu, Bursa Efek Tokyo langsung anjlok sekitar 3%. Kepanikan menyebar ke berbagai pasar global.
Namun, yang terjadi setelahnya justru menjadi ironi sejarah. Pasar kembali bangkit dan terus melesat selama beberapa tahun berikutnya sebelum akhirnya gelembung saham teknologi pecah pada 2001. Peringatan Greenspan terbukti datang terlalu dini, tetapi tidak salah.
Di sisi lain, warisan Greenspan juga tidak luput dari kritik. Kebijakan moneter longgar yang diterapkannya selama bertahun-tahun kerap disebut sebagai salah satu faktor yang ikut membuka jalan menuju krisis keuangan global 2008.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Tekanan Jual Altcoin Capai Level Tertinggi 5 Tahun
Toh penerusnya di Federal Reserve, Ben Bernanke, tetap menempatkan Greenspan sebagai salah satu bankir sentral terbesar dalam sejarah.
"Ia membantu memimpin negaranya melewati hampir dua dekade kemakmuran. Saya selalu menganggapnya murah hati dalam berbagi waktu dan wawasan. Kita masih belajar darinya, meskipun dia tidak lagi bersama kita," kata Bernanke.
The Fed menyatakan kepergian Greenspan meninggalkan "kesedihan yang mendalam". Bagi Bank Sentral AS, kontribusi Greenspan terhadap kebijakan moneter dan pemikiran ekonomi telah meninggalkan jejak yang akan terus dikenang, bukan hanya oleh institusi tersebut, tetapi juga oleh dunia ekonomi secara keseluruhan.
Bagi generasi sekarang, mungkin sulit membayangkan ada seorang bankir sentral yang diperlakukan layaknya bintang rock. Namun, pada era Alan Greenspan, itulah kenyataannya.
Alan Greenspan bukan sekadar pengambil keputusan suku bunga. Ia adalah simbol kepercayaan pasar. Di zaman ketika miliaran dolar AS dapat berpindah dalam sekejap hanya karena satu kalimat, Alan Greenspan adalah orang yang paling didengarkan di dunia. (CNBC/sumber lain)
