Badai Pasti Berlalu
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Tidak semua orang merasa nyaman berada di zona yang serba pasti. Sebagian justru menemukan energi ketika harus menghadapi sesuatu yang baru, belum teruji, masih meraba-raba, bahkan penuh risiko. Purbaja Pantja termasuk dalam kelompok ini.
Dalam perjalanan kariernya, Chief Executive Officer (CEO) PT Ilectra Motor Group (IMG) itu tidak pernah bertahan terlalu lama di zona nyaman. Ketika sebagian orang memilih jalur yang stabil, ia justru tertarik menjelajahi tantangan baru yang memaksanya terus belajar.
Purbaja Pantja banyak menghabiskan karier di dunia finansial. Ia malang melintang selama lebih dari dua dekade di bidang investasi, private equity, investment banking, dan perbankan global. Ia juga pernah merambah sektor properti.
Berbekal pengalamannya di lintas sektor, Purbaja belajar melihat bisnis dari sudut pandang yang berbeda: bukan sekadar menjalankan perusahaan, tetapi juga menilai peluang dan membangun nilai dari sebuah investasi.
Itu pula yang mendorongnya bergabung dengan PT Indika Energy Tbk, sampai akhirnya ia menakhodai PT IMG, anak perusahan Indika yang memproduksi sepeda motor listrik dengan brand Alva. Di bawah kepemimpinan Purbaja, Alva berhasil menghadirkan berbagai model motor listrik ber-TKDN (tingkat komponen dalam negeri) di atas 60%.
Alva juga sukses membangun fasilitas manufaktur modern di Cikarang yang telah mengantongi berbagai sertifikasi internasional, termasuk ISO 9001 (quality management system) dan ISO 14001 (environmental management system). Selain itu, Alva menjadi merek motor listrik premium pertama di Indonesia yang meraih Sertifikat Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) dari Kementerian Perindustrian.
Di luar itu, Alva Cervo X dan Alva Cervo Q memperoleh sertifikasi Uni Eropa (EU Certification) dan diganjar penghargaan sebagai salah satu penyedia stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKLU) roda dua terbaik oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Bagi Purbaja Pantja, membangun sesuatu dari nol selalu memiliki daya tarik tersendiri. Tidak ada cetak biru yang bisa ditiru. Tidak ada jaminan berhasil. “Justru di situlah letak tantangannya,” tutur ayah dua anak itu.
Ketika ide membangun motor listrik lokal muncul, Purbaja melihat peluang yang lebih besar dari sekadar bisnis. Itulah kesempatan bagi Indonesia untuk memiliki merek otomotif nasional yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan masyarakatnya sendiri.
Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia. “Namun hingga kini belum banyak merek otomotif nasional yang mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Purbaja.
Perjalanan karier Purbaja tidak selalu berjalan mulus. Ia berkali-kali tersandung, jatuh, gagal. Ada target yang meleset, ada peluang yang hilang. Purbaja sempat berada pada titik di mana ia harus menerima kenyataan dirinya terkena dampak restrukturisasi perusahaan.
Pengalaman-pengalaman itu sempat membuatnya mempertanyakan banyak hal. Namun, seiring berjalannya waktu, Purbaja sadar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Masalah bisa diatasi jika ia menghadapinya dengan kegigihan, keuletan, kesabaran, dan optimisme.
Purbaja menjadikan setiap masalah sebagai wahana pembelajaran. “Badai pasti datang, tetapi badai juga pasti berlalu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar dari setiap kesalahan dan tidak mengulang kesalahan yang sama,” tegas dia.
Pandangan itu pula yang membentuk gaya kepemimpinannya. Purbaja tidak percaya pada konsep satu orang hebat yang menyelamatkan organisasi. “Kesuksesan selalu lahir dari kerja sama banyak orang,” kata Purbaja.
Tak mengherankan jika Purbaja punya definisi sendiri tentang kesuksesan. Definisi sukses, bagi eksekutif ini, bukan soal jabatan atau pencapaian pribadi. Bukan pula soal materi.
“Kesuksesan adalah ketika pengetahuan, pengalaman, dan semangat yang dimiliki bisa ditularkan kepada orang lain sehingga organisasi tetap tumbuh dan berkembang,” tandas dia.
Filosofi hidup yang dipegang Purbaja sungguh sederhana, yaitu bersyukur dan berbagi. Bersyukur membuat seseorang mampu melihat hidup dengan perspektif yang lebih jernih. “Berbagi membuat manfaat yang dirasakan tidak berhenti pada diri sendiri,” ucap dia.
Sebagai CEO, Purbaja berusaha membawa filosofi itu ke dalam perusahaan. Ia ingin membangun organisasi yang tidak bergantung pada satu figur, melainkan dihuni oleh banyak orang yang tumbuh, berkembang, dan bergerak bersama menuju masa depan yang lebih besar.
Berikut penjelasan lengkap Purbaja Pantja kepada jurnalis investortrust.id, Saliki Dwi Saputra, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di kantornya, kawasan SCBD Jakarta, baru-baru ini:
Bisa diceritakan bagaimana awal mula PT IMG (Alva) didirikan?
Alva memang bisa disebut startup, tetapi sedikit berbeda dari kebanyakan startup yang identik dengan sosok founder individual. Alva lahir dari inisiatif PT Indika Energy Tbk sebagai bagian dari upaya perusahaan membangun bisnis-bisnis baru yang berkelanjutan.
Kalau publik mengenal Alva sejak peluncuran produk pada Agustus 2022, sebenarnya prosesnya sudah dimulai jauh sebelumnya. Perseroan sendiri berdiri pada 2021, sementara berbagai kajian dan persiapan sudah dilakukan sekitar lima tahun sebelumnya.
Saat itu kami melihat dua hal. Pertama, Indika ingin memperluas portofolio bisnis ke sektor yang lebih berkelanjutan. Kedua, kami merasa Indonesia membutuhkan pemain lokal yang kuat di industri sepeda motor listrik yang saat itu masih sangat baru.
Kenapa memilih motor listrik?
Kami melihat kebutuhan masyarakat Indonesia sangat spesifik. Motor di Indonesia bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang pergi bekerja menggunakan motor, mengantar anak sekolah menggunakan motor, bahkan bepergian jarak jauh pun banyak yang menggunakan motor.
Karena itu, kami merasa motor listrik yang sukses di Indonesia harus benar-benar memahami perilaku pengguna Indonesia. Kalau hanya mengambil produk yang sudah jadi dari negara lain, belum tentu cocok dengan kebutuhan masyarakat di sini.
Jadi, sejak awal memang ingin membangun produk yang dirancang khusus untuk Indonesia?
Betul. Kami banyak melakukan riset mengenai perilaku berkendara masyarakat Indonesia, dari mulai jarak tempuh harian, kondisi jalan, pola penggunaan kendaraan, sampai kebutuhan pengisian baterai.
Dari situ kami menyimpulkan bahwa Indonesia membutuhkan motor listrik yang berbeda. Karena itu, kami membangun produk sendiri dengan intellectual property yang sepenuhnya dimiliki Alva.
Alasan memilih nama Alva sebagai merek?
Sederhana sebenarnya. Nama itu diambil dari nama tengah Thomas Edison, yaitu Alva (Thomas Alva Edison adalah penemu lampu pijar, fonograf, sistem distribusi listrik, teknologi awal film bergerak, serta berbagai inovasi di bidang telekomunikasi dan energi listrik).
Kami melihat Thomas Edison sebagai simbol inovasi dan semangat menciptakan sesuatu yang baru. Nilai itu yang ingin kami bawa ketika membangun perusahaan ini.
Apa yang membedakan Alva dengan pemain lain?
Kalau saya harus memilih satu kata, jawabannya adalah relevansi. Kami selalu berusaha memastikan produk yang kami buat benar-benar relevan dengan kebutuhan pengguna. Kadang ada fitur yang terlihat canggih, tetapi belum tentu dibutuhkan konsumen.
Sebaliknya, ada solusi sederhana yang justru sangat membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kami selalu menempatkan konsumen sebagai titik awal dalam setiap pengembangan produk.
Solusi sederhana, maksud Anda?
Ketika seseorang berpindah dari motor bensin ke motor listrik, seharusnya hidupnya menjadi lebih mudah. Kalau setelah berpindah justru muncul lebih banyak kerepotan, berarti ada yang belum selesai dari solusi yang kami tawarkan.
Itu sebabnya, kami tidak hanya berpikir soal kendaraan, tetapi juga ekosistemnya. Bagaimana proses pengisian baterainya, bagaimana kenyamanan penggunaannya, bagaimana akses terhadap layanan pendukungnya. Semua itu harus dipikirkan secara menyeluruh.
Mengapa Alva sejak awal fokus pada teknologi fast charging?
Karena kami ingin motor listrik menjadi kendaraan utama, bukan kendaraan kedua. Kalau pengguna harus menunggu empat sampai enam jam untuk mengisi baterai, tentu ada keterbatasan dalam penggunaannya. Kami mengambil langkah yang saat itu cukup berani, yaitu mengembangkan motor listrik dengan kemampuan fast charging.
Saat ini pengguna bisa mengisi sekitar 50% baterai dalam waktu kurang lebih 30 menit. Dengan kapasitas tersebut, motor sudah bisa digunakan kembali untuk menempuh jarak sekitar 70 km.
Bagaimana dengan infrastruktur charging station?
Kami membangun itu secara paralel. Saat ini kami memiliki lebih dari 300 konektor charging station yang tersebar terutama di wilayah Jawa dan Bali. Jumlahnya terus bertambah setiap tahun.
Kami percaya ekosistem merupakan bagian penting dari pengalaman pengguna kendaraan listrik. Produk yang baik harus didukung oleh infrastruktur yang memadai.
Alva membangun bisnis secara mandiri?
Sejak awal kami memilih model bisnis end-to-end. Kami memiliki tim riset dan pengembangan sendiri, fasilitas manufaktur sendiri, jaringan distribusi sendiri, hingga dealer yang juga dibangun atas nama Alva. Dengan model seperti itu kami bisa mengontrol kualitas produk secara lebih baik dan melakukan perbaikan dengan lebih cepat.
Seberapa kuat tim R&D Alva?
Kami punya tim R&D yang mumpuni. Saat ini jumlahnya mendekati 50 orang, termasuk tim pengembangan produk. Mereka yang selama ini berperan dalam melahirkan berbagai produk Alva, termasuk model-model unggulan yang menjadi tulang punggung perusahaan.
Apakah Alva bisa disebut sebagai motor listrik Indonesia?
Ya, karena intellectual property seluruh produknya ada di Alva. Memang masih ada komponen tertentu yang belum bisa diproduksi sepenuhnya di dalam negeri karena industri motor listrik nasional masih berkembang. Namun dari sisi desain, pengembangan produk, hingga kepemilikan teknologi, semuanya berada di bawah Alva.
Indonesia merupakan salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia. Namun hingga kini belum banyak merek otomotif nasional yang mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Bagaimana Anda melihat masa depan industri motor listrik Indonesia?
Saya optimistis. Memang saat ini tingkat adopsi motor listrik masih relatif kecil dibandingkan total pasar sepeda motor nasional. Namun tren pertumbuhannya positif. Kesadaran masyarakat semakin baik, edukasi semakin luas, dan teknologi juga berkembang semakin cepat.
Apa yang dibutuhkan agar industri kendaraan listrik tumbuh lebih cepat?
Menurut saya, salah satunya adalah kebijakan yang lebih berjangka panjang. Kalau kita melihat negara-negara yang lebih dulu mengembangkan kendaraan listrik, mereka biasanya memiliki arah kebijakan yang konsisten dalam jangka menengah hingga panjang. Hal seperti itu akan membantu industri untuk melakukan perencanaan dan investasi secara lebih baik.
Target Alva dalam tiga sampai lima tahun ke depan?
Kami ingin terus meningkatkan pengalaman pengguna. Kalau hari ini pengisian baterai 50% membutuhkan waktu sekitar 30 menit, mungkin beberapa tahun lagi teknologi sudah memungkinkan pengisian yang jauh lebih cepat. Begitu juga dengan jarak tempuh. Kami berharap kemampuan kendaraan akan terus meningkat seiring perkembangan teknologi.
Punya mimpi menembus pasar ekspor?
Tentu ada. Indonesia adalah salah satu pasar motor terbesar di dunia. Kami memiliki pemahaman yang sangat baik mengenai perilaku pengguna motor. Kalau kemampuan tersebut terus berkembang, bukan tidak mungkin suatu hari nanti produk yang lahir di Indonesia juga bisa diterima di pasar internasional.
Perjalanan karier Anda seperti apa?
Saya memulai karier di industri perbankan dan bertahan hampir 20 tahun. Setelah itu saya mencoba berbagai sektor lain, mulai dari properti hingga private equity. Saya memang termasuk orang yang senang mempelajari hal-hal baru. Kalau bercanda, dulu saya menjual produk perbankan, sekarang saya menjual motor listrik.
Apa yang mendorong Anda berpindah-pindah industri?
Mungkin karena saya mudah bosan. Saya selalu tertarik melihat bagaimana sebuah industri bekerja, apa tantangannya, dan bagaimana menciptakan sesuatu yang baru di dalamnya. Ketika merasa sudah memahami satu bidang, biasanya saya mulai tertarik melihat tantangan berikutnya. Memang tidak ada jaminan berhasil. Justru di situlah letak tantangannya.
Definisi dan arti kesuksesan menurut Anda?
Bagi saya, sukses bukan tentang menjadi Superman. Kesuksesan adalah ketika kita bisa menciptakan banyak Superman dan Supergirl di dalam organisasi. Kalau sebuah organisasi hanya bergantung pada satu orang, itu bukan organisasi yang sehat. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu melahirkan banyak pemimpin.
Kesuksesan selalu lahir dari kerja sama banyak orang. Kesuksesan adalah ketika pengetahuan, pengalaman, dan semangat yang dimiliki bisa ditularkan kepada orang lain sehingga organisasi tetap tumbuh dan berkembang.
Pernah jatuh ke titik terendah?
Sering. Saya rasa, hampir semua profesional pernah mengalaminya. Ada masa ketika target tidak tercapai. Ada transaksi besar yang gagal didapat. Bahkan saya juga pernah mengalami situasi ketika posisi saya terdampak restrukturisasi perusahaan.
Cara Anda bangkit?
Awalnya tentu tidak mudah. Biasanya ada fase kecewa, ada fase menyangkal, lalu ada fase refleksi. Namun seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa setiap pengalaman, termasuk yang tidak menyenangkan sekalipun, selalu membawa pelajaran. Yang penting adalah jangan berhenti bergerak dan jangan kehilangan harapan.
Badai pasti datang, tetapi badai juga pasti berlalu. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar dari setiap kesalahan dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Filosofi hidup Anda?
Bersyukur dan berbagi. Saya percaya kita harus selalu melihat hidup dari perspektif yang lebih luas. Jangan hanya melihat ke atas, tetapi juga melihat ke bawah. Dari situ muncul rasa syukur.
Dari rasa syukur itu muncul keinginan untuk berbagi. Bersyukur membuat seseorang mampu melihat hidup dengan perspektif yang lebih jernih. Berbagi membuat manfaat yang dirasakan tidak berhenti pada diri sendiri.
Nilai-nilai itu juga diterapkan di perusahaan?
Sangat. Saya selalu ingin apa yang kami bangun di Alva bisa terus berjalan meskipun suatu hari saya tidak lagi berada di sini. Karena itu yang harus dibangun bukan hanya bisnisnya, tetapi juga manusianya.
Budaya seperti apa yang Anda bangun di Alva?
Kami memiliki nilai perusahaan yang kami sebut CHANGE. CHANGE itu singkatan. C-nya adalah Collaboration (Kolaborasi), H-nya adalah Honesty (Kejujuran) atau Integritas, A-nya yaitu Agility (Kelincahan), N-nya adalah No exclusion atau Inklusi, G-nya yaitu Growth (Pertumbuhan) atau Performa, dan E-nya itu Environment (Lingkungan).
Nah, itu adalah yang mengikat kami semua di Alva. Prinsip ini terus kami gaungkan sebagai values Alva secara keseluruhan. Saya selalu sampaikan kepada teman-teman tentang pentingnya keterbukaan dan kebersamaan. Bahwa kami masing-masing punya akuntabilitas, tapi secara bersamaan harus memastikan keterbukaan ini ada supaya bisa saling membantu.
Keterbukaan ini kami lakukan sedemikian rupa sehingga kami bekerja tidak hanya untuk masing-masing departemen atau divisi, tapi untuk Alva secara keseluruhan. Dalam nilai-nilai yang kami anut ada kolaborasi, integritas, kelincahan, inklusivitas, pertumbuhan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai itu menjadi fondasi bagaimana kami bekerja dan mengambil keputusan setiap hari.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya percaya pada keterbukaan. Saya ingin setiap orang merasa aman untuk menyampaikan pendapat, memberikan masukan, bahkan mengakui kesalahan. Kalau orang takut salah, organisasi akan sulit berkembang.
Pandangan Anda tentang work-life balance?
Work-life balance itu harus dicari dan diupayakan. Saya pernah menjalani periode ketika keluarga berada di Singapura sementara saya bekerja di Indonesia dan berbagai negara lain. Dari situ saya belajar bahwa kualitas interaksi sering kali lebih penting daripada sekadar jumlah waktu.
Cara Anda menjaga kebugaran?
Saya bermain tenis. Selain menjaga kesehatan, olahraga juga membantu saya menjaga fokus dan keseimbangan pikiran.
Hobi Anda?
Saya kolektor komik. Saya mengoleksi komik Amerika sejak awal tahun 1990-an. Bahkan pernah menjadi dealer komik ketika tinggal di Amerika Serikat (AS). Sampai sekarang koleksi itu masih saya simpan.
Superhero favorit Anda?
Spiderman. Dia bukan sosok yang sempurna. Dia manusia biasa yang harus menghadapi banyak persoalan hidup, tetapi tetap berusaha menjalankan tanggung jawabnya. Karakter seperti itu terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Pelajaran terbaik yang Anda petik dari Spiderman?
Kalimat yang paling terkenal: with great power comes great responsibility. Menurut saya, semakin besar kesempatan yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijalankan. Itu berlaku dalam kehidupan, pekerjaan, maupun kepemimpinan. ***
Biodata
Nama: Purbaja Pantja.
Pendidikan:
* Bachelor of Science (BSc) bidang Ekonomi dan Statistik - University of California (AS).
* Master of Business Administration (MBA) bidang Keuangan - Carnegie Mellon University (AS).
Karier:
* CEO Alva/PT Ilectra Motor Group (Jakarta): April 2021 – sekarang.
* Direktur PT Solusi Mobilitas Indonesia (Jakarta): April 2022 – Desember 2025.
* CIO PT Indika Energy Tbk (Jakarta): November 2017 -Mei 2025.
* Senior Director Capital Group Private Markets (Singapura): April 2016 - Agustus 2017.
* CEO PT Alam Sutera Realty Tbk (Jakarta): Januari 2015 - Januari 2016.
* Managing Director Standard Chartered Bank (Singapura): Juni 2010 – Desember 2013.
* Managing Director Deutsche Bank (Singapura): Januari 2008 – Maret 2010
* Director Rothschild (Singapura): Januari 2003 – Desember 2007.
* Vice President JPMorgan Chase & Co (Singapura): Januari 1998 – Desember 2002.

