Marilah Kita Mencintai Keadilan dan Damai!
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Teknologi yang memudahkan komunikasi dan akses terhadap sumber daya yang sama juga dapat menopang model-model yang mengeksploitasi mereka yang paling rentan, menciptakan bentuk-bentuk baru perbudakan dan memperoleh keuntungan dari konflik. Setiap keputusan teknis atau ekonomi seharusnya mencakup discernment rohani dan menjadi kesempatan untuk menilai apakah perkembangan AI memajukan keadilan dan partisipasi, atau justru memusatkan kekayaan dan kekuasaan di tangan segelintir orang.
“Saya mendorong penelaahan serius atas rantai pasok produksi digital, kondisi kerja yang tersembunyi di balik perangkat kita, serta mekanisme yang memperoleh keuntungan dari manipulasi dan perang,” tulis Paus Leo XIV dalam salah satu kesimpulan Surat Ensiklik Magnifica Humanitas tentang Menjaga Martabat Manusia di Era Kecerdasan Artifisial yang diterbitkan di Roma, 15 Mei 2026. Ensiklik ini teridiri atas lima bab dan 400 halaman.
Pada saat yang sama, demikian Paus, perlu dicari cara-cara konkret untuk mendorong keadilan, partisipasi dan kepedulian terhadap ciptaan. Kita mewartakan harapan yang berakar pada Dia yang turun dari surga untuk “menciptakan sejarah baru di bumi ini.”
Karena itu, mereka yang beriman berkomitmen agar keadilan yang lebih besar menggantikan ketimpangan, dan industri perang digantikan oleh karya perdamaian. Ketika memandang masa depan, saya ingin mengingat kembali gambaran Nehemia yang kita pilih sebagai sahabat dan penuntun sejak awal.
Nehemia mendengar jeritan sebuah kota yang hancur, membawa penderitaan itu ke dalam doa, melakukan discernment di hadapan Allah, memohon pertolongan, memperoleh izin untuk kembali, mengorganisasi pekerjaan, menghadapi perlawanan dari dalam maupun luar, dan membangun kembali tembok Yerusalem bersama rakyat, batu demi batu.
“Di era transformasi digital ini, saya melihat dalam dirinya suatu perumpamaan yang kuat tentang panggilan kita sendiri,” tulis Paus. Kita tidak dipanggil menjadi penonton pasif atas retakan sosial dan budaya, ataupun sekadar komentator atas apa yang runtuh.
Sebaliknya, kata Paus, kita dipanggil menjadi laki-laki dan perempuan yang siap memasuki “lokasi pembangunan” sejarah —laboratorium penelitian, perusahaan teknologi, sekolah, media, lembaga dan komunitas lokal —untuk membangun kembali apa yang roboh dan melindungi apa yang terancam.
Seperti Nehemia, lanjut Paus, kita pun dipanggil mempersatukan sikap mendengarkan dan keberanian, doa dan tanggung jawab, sehingga bahkan ketika mentalitas teknokratis atau kepentingan partisan tampak mendominasi, kota manusia tetap dapat menjadi tempat hidup yang lebih layak.
Gambaran pembangunan kembali Yerusalem membangkitkan janji Perjanjian Baru tentang kota kudus, yang pertama-tama diberikan kepada kita sebagai anugerah. Dalam Kitab Wahyu, Yerusalem baru turun sebagai karunia bagi seluruh umat Allah, “berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” (Why 21:2).
Tembok-tembok Yerusalem tidak lagi menjadi benteng pertahanan, melainkan perhiasan indah Mempelai Anak Domba. Pintu-pintu gerbangnya, yang dijaga begitu tekun oleh Nehemia, tetap terbuka bagi segala bangsa. Kehadiran Allah menghadirkan terang dan kehidupan bagi semua.
Kota itu adalah Eden baru, dengan air kehidupan yang diberikan kepada siapa pun yang haus, dan pohon kehidupan yang daun-daunnya “menjadi obat bagi bangsa-bangsa” (Why 22:2). Sambil menantikan kepenuhannya, visi ini dihadirkan kepada kita sebagai dorongan —panggilan untuk melampaui perpecahan dan bekerja bersama —sebab inilah jalan Yesus Kristus, dahulu, sekarang dan selama-lamanya.
Baca Juga
Presiden Trump Serang Paus Leo, Unggah Gambar “AI Yesus” Picu Kontroversi Global
Nyanyian Harapan: Magnificat
Sesudah merenungkan iman yang memandang rencana kasih Bapa; kasih yang mempersatukan kita dalam satu tubuh Gereja; dan harapan yang menopang tindakan kita di dunia, pilar keempat dari program hidup Kristiani ini adalah doa.
“Nyanyian Maria menyertai komitmen kita. Di hadapan Elisabet yang mengumumkan kepadanya bahwa ia telah menjadi ibu Tuhan, Maria meluapkan kidung pujian dan sukacita,” demikian Paus.
Jiwanya memuliakan Tuhan dan rohnya bersukacita karena Allah, Penyelamatnya, sebab Ia telah memilih seorang gadis muda yang miskin dan rendah hati untuk rencana keselamatan-Nya. Maria tiba-tiba memandang seluruh sejarah melalui terang pewahyuan ini. Tidak ada yang berubah di sekelilingnya; situasi sosial-politik zamannya tetap sama.
Bangsa Romawi masih menguasai tanahnya, dan bangsanya sendiri tetap tertindas dan dipermalukan. Namun, segala sesuatu berubah di dalam dirinya, dan hal itu memungkinkannya melihat apa yang tak terlihat.
Allah telah menunjukkan kekuatan lengan-Nya; Ia telah mencerai-beraikan orang congkak, meruntuhkan yang berkuasa, meninggikan yang rendah, memenuhi orang lapar dengan kebaikan dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan kosong. Ia telah menolong Israel, hamba-Nya.
Allah “memihak kaum kecil. Rencana-Nya sering tersembunyi di balik konteks peristiwa manusia yang buram, yang membuat ‘orang congkak, berkuasa dan kaya’ tampak menang. Namun kekuatan rahasia-Nya pada akhirnya akan dinyatakan.”
Santa Perawan Maria tidak hanya mengajar kita mengenali karya Allah yang tak terlihat, tetapi juga mengarahkan pandangan kita kepada “titik-titik di mana kemanusiaan terluka dan dunia menjadi terdistorsi: kontras antara yang rendah dan yang berkuasa, yang miskin dan yang kaya, yang kenyang dan yang lapar,” sambil mengajar kita “memandang dunia dari posisi yang lebih rendah: melalui mata mereka yang menderita dan bukan yang berkuasa; melihat sejarah melalui mata kaum kecil dan bukan dari perspektif para pemegang kuasa; menafsirkan peristiwa sejarah dari sudut pandang janda, yatim piatu, orang asing, anak yang terluka, mereka yang terusir dan para pengungsi.” [223]
Dengan demikian, Santa Perawan menjadi “penyair dan nabi Penebusan,” sebab dari bibirnyalah dikumandangkan “himne yang paling kuat dan paling revolusioner yang pernah diucapkan, Magnificat; dialah yang menyingkapkan visi transformatif ekonomi Kristiani, hasil historis dan sosial yang hingga kini tetap memperoleh asal-usul dan kekuatannya dari Kekristenan.”
Dengan iman yang sama seperti Maria, marilah kita menjadi “penenun harapan” di dunia kita, dengan membagikan siapa diri kita dan apa yang kita miliki, agar kehadiran Yesus bertumbuh di antara kita dan Kerajaan-Nya mengambil bentuk.
Dalam kesetiaan rendah hati pada kehidupan sehari-hari, bahkan era AI pun dapat menjadi masa ketika Roh Kudus menghadirkan peradaban kasih dalam hidup kita. Sesungguhnya, Tuhan terus menjadikan segala sesuatu baru dan menawarkan kepada setiap zaman kemungkinan untuk menjadi bagian dari sejarah keselamatan dalam terang Inkarnasi.
“Saya mempercayakan kerinduan kita kepada Bunda Kristus, Perempuan Magnificat, agar ia menuntun langkah kita melalui masa perubahan ini dan menjaga dalam diri kita iman sejati kepada Injil, sehingga kita dapat memberi kesaksian tentang keluhuran kemanusiaan, tempat Allah berdiam,” demikian Paus. (PD)

