Cerahnya Medco Energi (MEDC) di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Dukungan Amman Mineral
JAKARTA, investortrust.id – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menunjukkan performa yang kuat sepanjang semester II-2023 setelah paruh pertama memperlihatkan penurunan. Pencapaian kinerja keuangan perseroan akan didukung faktor peningkatan kontribusi laba dari perusahaan asosiasi dan kecenderungan penguatan rata-rata harga minyak dan gas (migas).
Analis Ciptadana Sekuritas Arief Budiman mengatakan, tren kenaikan rata-rata harga minyak menjadi US$ 86 per barel pada kuartal III-2023 atau menguat 15% dari rata-rata semester I-2023 telah menjadi bukti bahwa paruh kedua akan mencatatkan raihan kuat.
“Berdasarkan hasil analisis sensitif kami menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 5%, laba bersih perseroan berpotensi naik 11%,” kata Arief Budiman dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, awal bulan ini.
Selain faktor kenaikan harga minyak dan gas (migas), Arief mengatakan, Medco akan didukung peningkatan pesat kontribusi laba dari perusahaan afiliasi, yakni PT Amman Mineral International Tbk (AMMN). Sebagaimana diketahui Medco melalui PT Medco Energi mengempit sebanyak 21,09% saham AMMN.
Peningkatan kontribusi Amman juga terlihat pada penjelasan bahwa produksi perusahaan emas dan tembaga tersebut bertumbuh lebih pesat, dibandingkan perkiraan pada semester II tahun ini. Bahkan, manajemen Amman mengindikasikan bahwa volume produksi tembaga bisa mencapai 337 juta lbs atau melesat 52% tahun ini. Produksi emas juga diprediksi sebanyak 529 ribu oz atau melonjak 109% tahun ini.
“Amman Mineral juga menyebutkan telah berhasil menjual seluruh cadangan hasil produksi selama empat bulan atas penundaan izin ekspor sepanjang empat bulan tersebut. Dengan demikian inventori perseroan kembali normal ke level tujuh minggu,” tulisnya.
Pertumbuhan kinerja operasional diikuti dengan peningkatan harga jual minyak mendorong Ciptadana Sekuritas merevisi naik target harga saham MEDC menjadi Rp 2.100 dengan rekomendasi beli. Target saham tersebut juga merefleksikan penjualan working interest sebanyak 31,88% di Block 12 W (ChimSao) paling lambat akhir tahun ini.
Target harga MEDC di level Rp 2.100 terkait pula adanya perjanjian penjualan minyak mentah ke Glencore Singapore Pte. Ltd. (Glencore) dengan uang muka yang sudah diterima sekitar US$ 100 juta. Selain itu, perseroan juga berencana mengakuisisi 20% interest asset migas di Timur Tengah. Di lain sisi, harga saham AMMN telah menguat hampir empat kali lipat menjadi Rp 6.700.
Bukan hanya itu. Target harga juga mengacu pada proyeksi laba bersih MEDC bakal mencapai US$ 321 juta tahun ini dan pendapatan senilai US$ 2,25 miliar. Sedangkan laba bersih tahun depan diprediksi naik menjadi US$ 344 juta dengan pendapatan diharapkan mencapai US$ 2,24 miliar.
Dukungan positif terhadap prospek saham MEDC juga diberikan analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan dengan merevisi naik target harga saham MEDC ke level Rp 1.900 dengan rekomendasi beli.
Dia mengatakan, revisi naik target harga tersebut menggambarkan operasional perseroan yang solid pada semester I-2023. Penguatan target harga tersebut juga menggambarkan pertumbuhan kuat peforma Medco pada paruh kedua tahun ini. Apalagi diharapkan kontribusi perusahaan asosiasi, Amman Mineral, akan kembali melesat hingga melampaui target ditetapkan tahun ini.
Revisi naik target harga tersebut juga mempertimbangkan ekspektasi produksi migas Medco bakal mencapai 160 mboepd tahun ini. Sedangkan rata-rata harga jual minyak diperkirakan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Outlook saham tersebut juga didukung atas penandatanganan CSPA akuisisi non operating participating interest pada aset migas di Timur Tengah pada Agustus 2023. Transaksi tersebut diharapkan tuntas pada akhir tahun ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi saham MEDC dengan target harga direvisi naik ke Rp 1.900. Target tersebut juga merefleksikan peningkatan target PER AMMN menjadi 11,7 kali.
Pilihan Teratas
Sementara itu, analis CGS CIMB Sekuritas Wisnu Trihatmojo, Genie Purnamasari, dan Bob Setiadi mengatakan, saham Medco Energi (MEDC) merupakan pilihan teratas untuk emiten migas, seiring dengan proyeksi berlanjutnya kenaikan harga minyak hingga akhir tahun, apalagi setelah terjadi konflik Israel dengan Hamas.
CGS CIMB Sekuritas memperkirakan konflik tersebut dapat memicu rata-rata harga minyak tahun ini mencapai US$ 85 per barel atau lebih tinggi dari perkiraan semula. Dengan kenaikan rata-rata harga jual minyak sebesar US$ 5 per barel bisa berdampak terhadap kenaikan laba per saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencapai 9%.
Hal ini mendorong CIMB Sekuritas untuk menetapkan saham MEDC sebagai pilihan teratas untuk saham emiten sektor migas, dengan dengan rekomendasi add dan target harga Rp 1.650. Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan harga jual produksi migas perseroan dari Corridor Block dalam negosiasi yang tengah berjalan dengan pemerintah.
Terkait pasar minyak, CIMB Sekuritas menyebutkan, harga minyak dunia diprediksi sulit turun dalam jangka waktu lama. Hal itu tidak saja dipicu atas memanasnya konflik Israel dengan Hamas, tetapi adanya peluang embargo ekspor migas Iran.
Para trader migas dunia mengkhawatirkan terganggunya pasokan minyak dari negara-negara sekitar kawasan Israel, khususnya Iran, setelah adanya isu yang menyebutkan negara tersebut mendukung Hamas untuk menyerang Israel. Sebagaimana diketahui, Iran berkontribusi sebanyak 3% terhadap total produksi minyak dunia atau setara dengan 3,1 juta barel per hari pada September 2023.
“Kami mengkhawatirkan konflik Israel-Hamas dapat memicu Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada Iran terkait pelarangan ekspor minyak. Sedangkan Iran kemungkinan membalas sanksi tersebut dengan pelarangan pelayaran di selat Hormuz,” tulis riset tersebut.
Prospek Saham MEDC
Ciptadana Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 2.100
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.900
CGS CIMB Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.650
Performa Keuangan Kuat
Sementara itu, kinerja keuangan semester I-2023 Medco Energi yang diumumkan 2 Oktober lalu cukup menggembirakan. MEDC meraih laba bersih sebesarUS$119 juta, EBITDA US$634 juta, serta posisi kas dan setara kas US$604 juta.
CEO Medco Energi, Roberto Lorato menyatakan, kinerja semester I-2023 sangat kuat dengan peningkatan volume gas dan platform Natuna Bronang yang mulai beroperasi. Harga minyak yang turun sebesar 30% tahun-ke-tahun telah kembali pulih. “IPO AMMN pada Juli 2023 sukses besar dan percepatan ekspor sedang dilakukan untuk mengejar penundaan di semester pertama,” kata dia.
Roberto mengakui, hasil semester pertama lebih rendah dari tahun sebelumnya karena turunnya kontribusi dari AMMN, serta harga realisasi minyak & gas yang lebih rendah. Rendahnya kontribusi AMMN terjadi karena penundaan penjualan tembaga dan emas selama empat bulan dikarenakan perolehan izin ekspor yang tertunda. AMMN terus beroperasi selama menunggu perizinan dan memulai kembali ekspor pada bulan Juli.
Setelah IPO, kapitalisasi pasar AMMN mencapai sekitar US$26 miliar, dengan kepemilikan MedcoEnergi sebanyak 21%. Produksi dilanjutkan lebih cepat dari ekspektasi setelah hujan berkepanjangan dan AMMN berharap dapat mencapai atau melampaui panduan produksi tahun 2023.Pembangunan smelter berjalan sesuai jadwal dengan target penyelesaian di atas 70% pada Desember 2023
Sedangkan penjualan ketenagalistrikan tercatat sebesar 2.003 GWh, meningkat 8% yoy, dengan tambahan kontribusi dari fasilitas IPP Riau 275MW dan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya Sumbawa 26 MWp.
Roberto melanjutkan, MedcoEnergi mendistribusikan dividen tahun 2022 sebesar Rp 39 per saham dan sesuai jadwal untuk pelunasan utang akuisisi Corridor sebesar US$850 juta pada kuartal I-2024.
Medco melalui anak usahanya Power Global bersama dengan mitra konsorsiumnya PacificLight Renewables Pte Ltd dan Gallant Venture Ltd meraih persetujuan untuk memasok tenaga listrik ramah lingkungan sebesar 600 MW dari proyek PLTS ke Singapura.
Selain itu, Medco tengah menuntaskan penjualan kepemilikan efektif working interest sebanyak 31,88% di Blok 12W (ChimSao), yaitu ladang produksi minyak di Vietnam yang dioperasikan oleh Harbour Energy.
Medco Energi Internasional telah menerima sejumlah penghargaan dari SKK Migas untuk bidang Project Performance, Assurance dan Consulting Excellence pada International Convention on Indonesia Upstream Oil & Gas ke-4. Selain itu, perseroan menyabet Subroto Award dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk untuk PSC Corridor.
Tiga Lini Bisnis
Direktur Utama MedcoEnergi, Hilmi Panigoro sebelumnya menegaskan, pengembangan MEDC ke depan adalah fokus pada tiga lini bisnis utama, yaitu minyak dan gas (migas), ketenagalistrikan yang berkelanjutan, serta pertambangan tembaga dan emas.
Di lini bisnis migas, MEDC melanjutkan sejumlah proyekandalan, antara lain lapangan Forel dan Bronang di PSC South Natuna Sea Block B, lapangan Suban di PSC Corridor, dan pengembangan fase 2 PSC Senoro-Toili. Proyek lainnya lapangan di Blok Natuna dan Blok Corridor, yang kontrak jual beli gasnya baru saja diperpanjang.
Di sektor ketenagalistrikan, lewat anak perusahaan PT Medco Power Indonesia, MEDC menawarkan energi bersih dan terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga gas, geothermal, surya, dan mini hidro. Perseroan tahun lalu telah merampungkan proyek PLTGU Riau 275 MW dan PLTS Sumbawa 26MWp.
Berikutnya adalah mengembangkan proyek geothermal 34 MW fase 1 di Blawan-Ijen, Jawa Timur dan pengembangan PLTS 2x25 MWp di Bali. Dengan sejumlah proyek pembangkit tersebut, MEDC menargetkan kapasitas terpasang energi terbarukan mencapai 26% pada 2025 dan 30% pada 2030.
Adapun di lini bisnis pertambangan tembaga dan emas, melalui Amman Mineral Nusa Tenggara, MEDC berkomitmen membangun bisnis yang berkelanjutan dengan mengonversi energi dari pembangkit listrik tenaga batu bara 112 MW dan diesel 45 MW menjadi PLTGU berkapasitas 450 MW dengan terminal penyimpanan dan regasifikasi LNG di Teluk Benete. (Hari Gunarto)

