Ekonomi Dunia Jangan Tersandra Selat Hormuz
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu
“Jika satu selat bisa mengguncang dunia, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar geopolitik, melainkan akal sehat peradaban.”
JAKARTA, Investortrust.id — Tidak ada satu pun bangsa di dunia yang menginginkan perang. Dalam seluruh sejarah peradaban manusia, cita-cita paling mendasar selalu sama, hidup damai, bekerja, berdagang, dan membangun masa depan tanpa ancaman senjata. Namun, realitas geopolitik kerap bergerak ke arah sebaliknya. Ketika konflik meletus, yang paling pertama dan paling dalam merasakan dampaknya bukanlah para pengambil keputusan, melainkan rakyat sipil yang tidak bersalah.
Karena itu, bahkan dalam situasi perang sekalipun, ada prinsip-prinsip yang tidak boleh dilanggar. Rakyat sipil tidak boleh menjadi korban. Fasilitas umum —rumah sakit, sekolah, jaringan listrik, pelabuhan, dan infrastruktur ekonomi— tidak boleh dihancurkan. Dan yang tidak kalah penting, jalur pelayaran internasional yang menjadi nadi perdagangan global tidak boleh dijadikan alat tekanan.
Baca Juga
Iran Buka Selat Hormuz untuk Internasional, Harga Minyak Langsung Turun 10%
Dalam konteks ini, apa yang terjadi di Selat Hormuz adalah peringatan keras bagi dunia. Selat ini bukan sekadar perairan regional. Ia adalah salah satu titik paling strategis dalam sistem ekonomi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur sempit ini. Setiap gangguan, sekecil apa pun, langsung beresonansi ke harga energi, inflasi, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi global.
Bayangkan jika Selat Hormuz tidak dibuka. Dunia bukan hanya menghadapi kenaikan harga minyak. Dunia berisiko terjungkal ke jurang resesi ekonomi global. Rantai pasok akan terganggu. Biaya produksi melonjak. Inflasi akan menghantam hampir semua negara, baik maju maupun berkembang. Konsumsi melemah, investasi tertahan, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi global bisa terhenti.
Yang membuatnya lebih memprihatinkan: ini bukan krisis yang disebabkan oleh bencana alam, bukan pula pandemi global, seperti Covid-19. Ini adalah krisis yang sepenuhnya diciptakan manusia, oleh keputusan politik dan militer dari pihak-pihak yang mengaku sebagai bagian dari peradaban modern. Ini adalah ironi besar. Dunia yang telah mencapai kemajuan teknologi luar biasa justru bisa tersandera oleh keputusan yang, dalam banyak hal, terasa konyol dan tidak rasional.
Karena itu, langkah Iran yang sempat membatasi bahkan menyandera akses Selat Hormuz sama sekali tidak dapat dibenarkan. Menjadikan jalur vital dunia sebagai alat tawar-menawar adalah preseden yang sangat berbahaya. Jika praktik ini dibiarkan, maka tidak ada jaminan bahwa chokepoint strategis lain di dunia tidak akan mengalami hal serupa. Ekonomi global akan selalu berada dalam ketidakpastian ekstrem.
Namun di sisi lain, dunia juga harus jujur melihat bahwa eskalasi ini tidak terjadi dalam ruang kosong. Sangat mungkin, pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran merupakan respons terhadap tekanan yang juga sangat kuat, termasuk blokade yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran. Ketika tekanan ekonomi dan militer meningkat, respons yang muncul pun menjadi semakin ekstrem.
Dalam situasi seperti ini, negara-negara besar, seperti China dan India berada di garis depan dampak ekonomi. Ketergantungan mereka terhadap energi dari kawasan Teluk membuat gangguan di Selat Hormuz langsung memukul perekonomian domestik. Tidak mengherankan jika kemudian muncul tekanan kuat dari negara-negara tersebut agar jalur ini segera dibuka. Bahkan, terdapat indikasi bahwa China menggunakan leverage strategisnya —termasuk ancaman penghentian bantuan persenjataan— untuk mendorong Iran membuka kembali jalur tersebut.
Fakta ini menunjukkan bahwa dunia tidak bisa lagi membiarkan satu atau dua negara mengendalikan nasib ekonomi global melalui jalur strategis, seperti Selat Hormuz. Jalur ini harus ditempatkan sebagai kepentingan bersama umat manusia, bukan sebagai instrumen konflik.
Baca Juga
Trump: Perang Iran “Hampir Berakhir”, Blokade Hormuz AS Masuk Hari Kedua
Dunia hari ini membutuhkan lebih dari sekadar gencatan senjata sementara. Dunia membutuhkan komitmen permanen bahwa Selat Hormuz akan selalu terbuka. Tanpa pungutan. Tanpa diskriminasi. Tanpa ancaman. Seperti halnya Selat Malaka, Hormuz harus menjadi jalur bebas yang dijaga bersama oleh komunitas internasional.
Karena jika tidak, dunia akan terus hidup di bawah bayang-bayang krisis yang sebenarnya bisa dihindari. Krisis yang bukan lahir dari takdir, melainkan dari pilihan. Dan tidak ada yang lebih berbahaya daripada krisis global yang sengaja diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Pada akhirnya, satu pesan harus ditegaskan, perang mungkin sulit dihindari dalam dinamika politik global, tetapi menyandera ekonomi dunia adalah tindakan yang tidak bisa diterima dalam peradaban mana pun.
Jika ekonomi dunia bisa runtuh hanya karena satu selat, maka yang harus dibuka bukan hanya jalurnya, tetapi juga kesadaran para pemimpinnya. (PD)

