Gen Z di AS Bergantung pada Orang Tua di Tengah Inflasi, Bagaimana Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Generasi Z di AS menghadapi tantangan keuangan yang semakin besar karena inflasi dan kenaikan biaya hidup, dengan 46% bergantung pada bantuan keuangan dari orang tua dan keluarga mereka. Demikian dilaporkan Bank of America seperti dilansir Reuters, Rabu (10/7/2024).
Terdapat separuh dari 1.091 orang berusia 18 hingga 27 tahun yang disurvei oleh Bank of America tidak berada dalam jalur yang tepat untuk membeli rumah dalam lima tahun ke depan. Survei menunjukkan 46% generasi muda tidak siap menabung untuk masa pensiun dan 40% belum siap untuk mulai berinvestasi dalam lima tahun ke depan.
“Saat saya berbicara dengan generasi muda, khususnya Gen Z, saya meminta mereka untuk menetapkan anggaran dan menaatinya,” kata presiden perbankan ritel Bank of America, Holly O'Neill dikutip dari reuters.com, Jumat (12/7/2024).
Baca Juga
Survei Populix: Tiga Bank Digital Ini Paling Banyak Dipilih Gen Z
Dari responden yang disurvei, 67% melakukan perubahan gaya hidup untuk mengimbangi kenaikan biaya hidup. Pergeseran tersebut mencakup penganggaran, mengurangi makan di restoran, tinggal di rumah daripada menghadiri acara, dan berbelanja di toko kelontong yang lebih murah.
Tabungan darurat juga menjadi kendala lainnya, dimana 57% responden Gen Z kekurangan uang untuk menutupi pengeluaran selama tiga bulan.
Menanggapi hal tersebut, Financial Planner dan Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan bahwa salah satu tantangan bagi Gen Z saat ini adalah inflasi dan susahnya mencari pekerjaan.
“Susahnya mendapat pekerjaan menjadi challenge tersendiri untuk gen Z, termasuk di Indonesia kurang lebih 10 juta gen Z menganggur,” ujar Melvin kepada investortrust.id, Rabu (10/7/2024).
Baca Juga
Walaupun demikian, Melvin mengatakan bahwa saat ini mayoritas gen Z telah teredukasi untuk melakukan investasi. Namun, cara investasi gen Z berbeda dengan cara berinvestasi gen Y atau X. Menurutnya, salah satu instrumen yang diminati Gen Z untuk berinvestasi adalah aset kripto.
“Sebanyak 57,04% dari total 11,54 juta investor di pasar modal adalah generasi (gen) Z, dengan aset Rp 50,51 triliun per Agustus 2023,” jelasnya.
Ia mengatakan, kenaikan biaya hidup perlu disikapi dengan kemampuan untuk meningkatkan penghasilan. Menurutnya, beberapa hal yang harus dilakukan oleh gen Z adalah melakukan investasi kepada diri sendiri atau meningkatkan value agar dapat menghasilkan penghasilan yang lebih.
Kedua, ia mengimbau gen Z untuk berinvestasi di produk pasar modal yang sudah legal di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kemudian, Gen Z juga perlu merencanakan keuangan untuk masa depan,” pungkasnya.

