Bahana TCW dan Manulife Aset bersaing Ketat, Berikut Daftar Top 20 Dana Kelolaan MI
JAKARTA, Investortrust.id – Industri reksa dana Indonesia perlahan-lahan mulai bangkit setelah asset under management (AUM) atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana turun ke level Rp 504,86 triliun penghujung 2022. Sedangkan sampai akhir Agustus 2023, NAB Kembali menjulang ke level Rp 521,73 triliun.
Tren peningkatan NAB reksa dana telah terlihat sejak Mei 2023 dengan kenaikan NAB dari Rp 497 triliun pada April menjadi Rp 504,69 triliun pada Mei 2023. Peningkatan kembali berlanjut pada Juni 2023 menjadi Rp 507,06 triliun. Kenaikan tersebut kembali berlanjut menjadi Rp 516,66 triliun pada Juli dan terakhir mencapai Rp 521,73 triliun pada Agustus 2023.
Baca Juga
Meski NAB bulanan menunjukkan tren peningkatan, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, nilai tersebut masih di bawah raihan tahun 2019-2021. Data OJK mengungkap NAB reksa dana tahun 2019 mencapai Rp 542,19 triliun, tahun 2020 meningkat menjadi Rp 573,43 triliun, dan tertinggi tahun 2021 senilai Rp 578,43 triliun. Sedangkan tahun 2022, NAB reksa dana turun dalam ke level Rp 504,86 triliun.
Penurunan NAB reksa dana tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti jumlah produk reksa dana yang ditawarkan. Tahun 2019 tercatat 2.181 produk reksa dana, kemudian meningkat menjadi 2.219 reksa dana pada 2020, turun menjadi 2.198 pada 2021, sebanyak 2.120 produk pada 2022, dan hingga Agustus 2023 hanya menyisakan sebanyak 1.952 produk reksa dana.
Begitu juga dengan jumlah unit penyertaan (UP) yang beredar, tahun 2019 tercatat 424,79 miliar UP, tahun 2020 menjadi 435,14 miliar UP, tahun 2021 turun menjadi 420,66 miliar UP, tahun 2022 turun drastic menjadi 376,25 miliar UP, dan terakhir Agustustus 2023 menjadi 386,13 miliar UP.
Baca Juga
Terkait penyumbang terbesar NAB reksa dana, data OJK menyebutkan, reksa dana pendapatan tetap masih menjadi nonor wahid. Tahun 2022, reksa dana pendapatan tetap menyumbang senilai Rp 133,39 triliun. Disusul reksa dana saham Rp 105,01 triliun, reksa dana terproteksi Rp 96,67 triliun, reksa dana pasar uang Rp 80,73 triliun, reksa dana campuran Rp 21,70 triliun, ETF senilai Rp 13,72 triliun, dan terakhir reksa dana indeks Rp 13,03 triliun.
Peringkat NAB tersebut tak jauh berbeda dengan kondisi hingga Agustus 2023, yaitu reksa dana pendapatanan tetap tetap memimpin dengan nilai Rp 149,28 triliun. Kemudian peringkat kedua berganti menjadi reksa dana terproteksi Rp 102,43 triliun mengalahkan reksa dana saham Rp 95,80 triliun.
Sisanya disumbangkan NAB reksa dana pasar uang senilai Rp 74,67 triliun, reksa dana campuran bernilai Rp 27,58 triliun, ETF dengan NAB Rp 15,96 triliun, dan terakhir reksa dana indeks senilai Rp 12,74 triliun.
Baca Juga
Investasi Reksa Dana: Kenali Risikonya dan Nikmati Manfaatnya
Terkait tren pertumbuhan industri reksa dana, Mandiri Sekuritas dalam riset terbarunya terkait dengan PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk (AMOR) menyebutkan, POJK Nomor 5 Tahun 2023 yang merupakan revisi atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 71/POJK.05/2016 Tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi diprediksi menghambat aliran dana asuransi ke reksa dana. Aturan tersebut kemudian akan berimbas terhadap peningkatan dana kelolaan discretionary fund.
“Kami menilai bahwa aturan baru ini akan membuat pertumbuhan dana kelolaan reksa dana bertumbuh melambat dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini menjadikan adanya peralihan dana perusahaan asuransi dari reksa dana,” tulisnya analis Mandiri Sekuritas Adrian Joezer dan Boby Kristano Chandra dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu.
Dana Kelolaan Terbesar
Sementara itu, berdasarkan data OJK, dana kelolaan reksa dana terpusat di 20 manajer investasi hingga Agustus 2023. Data tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 88,8% dari total dana kelolaan reksa dana sampai Agustus 2023 dipegang 20 MI dari total 95 MI yang terdaftar.
Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan posisi tahun 2019 bahwa sebanyak 86.5% dana kelolaan reksa dana berada di kantor 20 MI. Sebagaimana diketahui NAB reksa dana tahun 2021 mencapai Rp 580,1 triliun. Dari angka tersebut sebanyak Rp 501,8 triliun dikelola 20 MI dari total sekitar 96 MI yang terdaftar di OJK.
Baca Juga
Ini Dia 20 MI Terbesar di Kancah Global, Blackrock Paling Jumbo!
Berdasarkan data tersebut, PT Bahana TCW Investment Management menjadi MI dengan dana kelolaan terbesar senilai Rp 46,5 triliun atau hampir sama dengan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dengan dana kelolaan Rp 46,5 triliun. Masing-masing emiten tersebut mengontribusi sekitar 9% terhadap total NAB hingga Agustus 2023.
MI dengan dana kelolaan tersebut berbeda jauh dengan data per akhir 2019 atau sebelum pandemic Covid-19, yaitu Manulife menduduki peringkat paling buncit senilai Rp 62,9 triliun dan disusul Bahana TCW sebanyak Rp 43,7 triliun.
Berdasarkan data tersebut, NAB reksa dana Manulife belum sepenuhnya pulih. Sedangkan NAB Bahana TCW telah pulih yang terlihat dari kenaikan NAB dari Rp 43,7 triliun pada akhir 2023 menjadi Rp 46,5 triliun pada akhir Agustus 2023.
Baca Juga
20 Reksa Dana Paling Moncer 2023, Ada yang Cetak Return 18,16%
Sedangkan peringkat ketiga NAB terbesar dicatatkan PT Syalendra Capital dengan mengantongi Rp 32,8 trilliun atau berkontribusi 6,3% terhadap total NAB industri. Peringkat keempat dicatat PT Trimegah Asset Management senilai Rp 32,6 triliun atau berkontribusi Rp 6,3%. Terakhir peringkat kelima disumbangkan PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen senilai Rp 30,9 triliun atau 6% dari total NAB industri.
Daftar Top 20 MI hingga Agustus 2023:
|
No |
Manajer Investasi |
Nilai AUM (Rp triliun) |
Kontribusi Terhadap Total AUM |
|
1 |
PT Bahana TCW Investment Management |
46,5 |
9,0% |
|
2 |
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia |
46,5 |
9,0% |
|
3 |
PT Syailendra Capital |
32,8 |
6,3% |
|
4 |
PT Trimegah Asset Management |
32,6 |
6,3% |
|
5 |
PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen |
30,9 |
6,0% |
|
6 |
PT BNI Asset Management |
28,5 |
5,5% |
|
7 |
PT Sucorinvest Asset Management |
28,1 |
5,4% |
|
8 |
PT Danareksa Investment Management |
27,5 |
5,3% |
|
9 |
PT Mandiri Manajemen Investasi |
27,1 |
5,3% |
|
10 |
PT BNP Paribas Asset Management |
25,7 |
5,0% |
|
11 |
PT Sinarmas Asset Management |
24,6 |
4,8% |
|
12 |
PT Schroder Investment Management Indonesia |
22,9 |
4,4% |
|
13 |
PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk |
18,0 |
3,5% |
|
14 |
PT Panin Asset Management |
15,3 |
3,0% |
|
15 |
PT Insight Investments Management |
13,5 |
2,6% |
|
16 |
PT Eastspring Investments Indonesia |
10,2 |
2,0% |
|
17 |
PT Surya Timur Alam Raya Asset Management |
7,2 |
1,4% |
|
18 |
PT Indo Premier Investment Management |
7,1 |
1,4% |
|
19 |
PT Henan Putihrai Asset Management |
7,1 |
1,4% |
|
20 |
PT Samuel Aset Manajemen |
6,7 |
1,3% |
|
Total AUM top 20 |
458,7 |
||
|
Total AUM Reksa Dana |
516,7 |
||
|
Kontribusi Top 20 Terhadap Total AUM Reksa Dana |
88,8% |
||
